Chapter 45 - Ayah Mertua

2117 Kata
“Aku sudah mendapatkan laporan jelasnya. Beberapa hari lagi, akan diadakan perundingan rahasia di OBB terkait masalah ini.” “Apa itu ... OBB?” Udin langsung memandang Mika dengan tatapan datar dan jengah. Untuk suatu alasan, dia mengerti kenapa bocah ini bertanya seperti tadi. Kalau saat ini Udin masih belum tahu kalau Mika berasal dari dunia antah berantah, ia pasti mengira anak yang duduk di depannya ini adalah orang bodoh. “Sulit menjelaskannya. Itu seperti organisasi yang menangani seluruh permasalahan di dunia ini. Mereka ada untuk menjaga kedamaian.” Mata Mika sedikit menyipit. “Mungkinkah seperti dewan penasihat alias tetua kerajaan?” “Kalau kau berkata demikian, mungkin saja itu tadi sebutan OBB di duniamu sana.” Udin terdiam beberapa saat. Ia mengamati ruang tengah. Tak ada tanda-tanda kemunculan istri maupun anaknya dari sana. Dua wanita itu pasti masih sibuk di dapur. Mereka kalau memasak akan lupa dengan keadaan sekitar. Lebih baik membahas masalah ‘perang’ itu sekalian dengan Mika di sini. “Dengarkan aku, kau sudah paham kalau misiku yang baru itu adalah menuntaskan masalah konflik Indonesia dengan dua negara tadi agar situasi tetap kondusif kan?” Mika mengangguk. “Tentu saja. Kau sudah menjelaskannya padaku dan karena alasan itulah, aku mengajakmu bekerja sama.” Saat Mika berkata seperti tadi, Udin tiba-tiba teringat dengan pertemuannya dengan anak ini di malam hari, ketika Mika dengan terang-terangan mengakui tindak kejahatan dan latar belakang dirinya yang mempunyai kekuatan magis yang tidak sama dengan manusia normal biasa. Udin menyesap kopinya lagi. Ia melirik ke arah anak itu. “Kau ... masih bisa menggunakan kekuatanmu?” Mata Mika tampak menelisik ke sekitar, ia memastikan tak ada siapa pun di sini selain Udin dan dirinya. Tanpa berkata apa pun, pemuda itu dengan mudah mengambil cangkir kopi di meja tanpa menyentuh benda itu. Kekuatan telekinesis anak ini nyata, itu adalah pikiran Udin sekarang. Hal yang dilihatnya saat ini sama persis dengan apa yang dilihat pria itu ketika Mika menunjukkan dirinya. Udin pun menghela nafas. “Kalau kau punya hal seperti ini, kenapa kau tak mengatakan apa pun padaku sejak awal?” “Memangnya manusia normal mana yang akan mempercayai manusia lain yang punya sihir di dunia normal ini? Yang ada kalau dirimu bukanlah orang tepat, mungkin saja aku akan kena masalah. Seperti dijadikan objek percobaan, misalnya,” tukas Mika dengan ketus. Udin tertegun. Apa yang dikatakan anak ini ada benarnya. Ia saja sebenarnya masih tak percaya dengan kekuatan anak itu. Pantas saja Mika terlihat sangat bodoh dan tak mengerti apa-apa dahulu karena sebenarnya ia tak lahir dan dibesarkan di dunia ini. Untuk sekarang, agen intel itu bisa merahasiakan masalah Mika untuk dirinya sendiri. Ia sudah berjanji pada pemuda itu untuk merahasiakan soal ini dari siapa pun atau Mika mengancam akan menyakiti lebih banyak orang dengan kekuatan anehnya itu. Meskipun licik, trik anak ini untuk melindungi keselamatan dirinya boleh juga. Dasar si pangeran kerajaan ini. Semuanya terasa seperti film saja bagi Udin. “Bukankah malam itu kau bilang jika keponakanmu bisa mengetahui masa depan?” Pertanyaan Udin ini menarik perhatian Mika. Memang benar jika malam itu dirinya menyebut nama Riko dalam proses negosiasi dengan pria ini. Dia sengaja menjual nama Riko yang bisa melihat masa depan agar Udin semakin mempercayainya dan mau kerja sama. “Kau benar. Dia adalah anak tunggal dari kakakku kemarin.” Udin terdiam. Ia tak langsung merespons. Masih teringat dalam benaknya bagaimana kakak perempuan Mika yang terkesan jahat. Ia tak menyangka jika pemuda ini masih baik dengan keponakannya meskipun sifat sang kakak seperti itu. “Aku masih tidak terlalu mengerti. Kau berasal dari dunia lain. Tapi di lain sisi, kau punya kakak perempuan dan keponakan yang memiliki kekuatan magis sepertimu. Bagaimana ini mungkin? Kupikir kau hanyalah orang asing atau istilahnya keluarga angkat.” Perbincangan ini melebar ke mana-mana. Mika masih hafal dengan tabiat Udin yang selalu lunak dan berhati lembut kalau diajak membahas keluarga. Tapi kali ini Mika tak ada keinginan untuk membahas masalah ini. “Ceritanya panjang. Aku berakhir bersama mereka karena kakak perempuanku mengetahui masalah duniaku dulu. Pokoknya rumit. Terlalu malas bagiku menjelaskannya,” ujar Mika dengan ekspresi lelah yang dibuat-buat. Pria bernama Burhanudin ini merasa bersalah untuk sesaat. Ia jadi tak enak karena membicarakan masalah pribadi dengan Mika. Setelah lama terdiam dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing, Udin berdehem. Ia mencoba untuk mencairkan suasana. “Dulu saat kita masih merahasiakan semua hal, rasanya tidak secanggung ini ya?” celetuk agen intel ini tiba-tiba. Mika mendengus. Ia tersenyum simpul ke arah ayah Asa itu. “Kau benar. Entah kenapa, saat kita saling mengetahui rahasia masing-masing rasanya justru aneh. Aku bingung harus berkata seperti apa.” “Maaf karena tak bilang dari awal kalau Asa adalah anakku. Identitasku sebagai anggota intel dirahasiakan, kau tahu itu.” Mika tersenyum miring. “Tentu saja aku tahu. Aku juga minta maaf karena telah merahasiakan banyak hal dan membuatmu kerepotan sejak dulu.” Udin membalas perkataan itu lewat senyum simpulnya. “Kita berbaikan lagi?” “Tentu saja. Aku sangat mengharapkan hubungan kita kembali seperti dulu, Pak Bos.” Dua laki-laki ini lalu tertawa. Suasana dan atmosfer tegang tadi serasa sedikit mencair. Meskipun demikian, mereka kembali membahas masalah perang yang semakin rumit itu. Keduanya menampilkan mimik serius. “Aku sudah mengerahkan banyak bawahan untuk menyelidiki masalah kecelakaan itu. Kalau dipikir-pikir, ini tetap kesalahan pengendara mobil dan bukan kereta. Masalahnya hari itu palang pintu kereta dalam perbaikan dan tak berfungsi. Ini membuat tuntutan dari negara luar.” Mata Mika terlihat menerawang. Ia jadi teringat akan pemandangan mengerikan dari mobil ringsek dan organ yang berceceran hari itu. “Sejujurnya aku terlibat dalam kecelakaan kemarin. Aku menjadi salah satu penumpang kereta itu, tapi tak banyak yang bisa kutemukan sebagai penambah informasi jadi—“ “Kenapa kau tak bilang dari awal?!” “Hah? Apa maksudmu?” “Kau seharusnya bilang kalau terlibat dalam kejadian itu. Aku bisa menjadikanmu sebagai salah satu saksi palsu yang meringankan pandangan buruk dari negara luar soal bangsa kita!” “Saksi palsu? Memang ada yang seperti itu?” “Tentu saja ada. Tapi, itu sudah lewat. Kami dari pihak intelijen telah menggunakan saksi palsu lain. Untuk sekarang, hal yang menjadi kecurigaanku adalah pihak Travel yang menaungi dua delegasi itu!” Udin mengucapkannya dengan serius. “Aku sama sekali tak paham ..., apa itu Travel?” “Singkatnya mereka adalah pihak yang menjadi tanggung jawab dari segala perjalanan dua utusan negara itu. Ada kemungkinan kalau mereka juga adalah pihak yang menyopiri mobil yang menjadi korban kecelakaan itu.” Ini wawasan baru. Mika baru mengetahui hal seputar Travel ini. Kenapa ia tak menyadarinya dari awal? “Kau sendiri ..., kenapa bisa dirimu menjadi cucu kepala sekolah secara tiba-tiba?” Udin bertanya dengan dahi mengerut. Mika tentu saja langsung kaget saat ditanyai seperti itu. Pemuda ini berbisik, “Jangan bilang siapa-siapa. Ini semua palsu. Kepala sekolah itu kenalannya Kakakku. Karena Kakakku tahu permasalahan ini, dia meminta Kepala Sekolah untuk ikut serta menghentikan perang itu.” “Wow, aku tidak mengira kakakmu peduli seperti ini. Kukira dia—“ “Wah, kalian asyik sekali mengobrolnya!” Asa menyeru dari ruang tengah secara tiba-tiba. Gadis itu tersenyum ceria. Mika dan Udin langsung memelototkan mata karena kaget. Dua orang laki-laki yang awalnya menganggap hubungan mereka sebagai kakak-adik namun sekarang sudah seperti ayah-anak itu terkejut bukan main. “ASA?!” pekik dua orang tadi secara bersamaan. “Heee?” Asa terkikik. “Kenapa kalian terkejut sampai seperti itu? Seperti aku hantu saja!” Mika langsung menatap gadis yang suka iseng ini dengan pandangan tajam. “Salah siapa yang datang secara tiba-tiba hah?! Kenapa kau ini hobi sekali iseng denganku?” Asa berjalan dan duduk di dekat Mika. Ia tersenyum aneh sambil memangku wajah dengan kedua tangannya. “Habisnya wajahmu lucu saat kukerjai.” “A-apa?!” “Ehem! Ehem!” Udin memasang wajah masam saat melihat dua orang anak muda ini. Bukannya malu atau apa, Asa justru tertawa melihat reaksi aneh dari Mika dan Udin tadi. Ekspresi ayahnya saat melihat Asa yang menggoda Mika tadi tampak lucu. Setali tiga uang, Mika juga tampak lucu dengan wajahnya yang bersemu merah. Mereka ini benar-benar lucu dan Asa suka mengerjai dua orang itu. “Kau mau mencoba masakanku?” tanya Asa pada Mika dengan wajah semringah. “Kalau kau tak keberatan, aku mau-mau saja sih.” “Oke, aku ambil bakso buatanku dulu ya. Setelah ini kau juga harus makan siang dengan keluargaku, kami harus menunggu adik laki-lakiku soalnya.” “Oke!” Mika menjawab dengan santai. Ia memandang kepergian Asa yang menghilang di balik dinding ruang tengah. Namun, setetes keringat tiba-tiba muncul di dahi pemuda itu. Ia melirik sebentar ke arah Udin yang memelototinya tajam. Ada apa ini? Mika pikir ia dan Udin tadi berbaikan. Kenapa pria itu menatapnya tajam coba? “A-apa ada yang salah?” tanya Mika dengan wajah tak mengerti. Udin justru tersenyum lebar dengan aneh. “Tidak! Tidak ada yang salah kok, Mika! Santai saja! AHAHAHA!” Ini mengerikan. Udin yang tertawa seperti itu mengerikan. Padahal sejak tadi ia tak melakukan kesalahan apa pun dan hanya mengobrol sesaat dengan Asa. Apa yang salah di sini coba? “Mika!” teriak Asa yang muncul dari ruang tengah. “Aku ambilkan sedikit bakso untukmu. Kau harus mencicipi ini dulu sebelum makan siang dengan kami, oke?” “Oke, ini aman kan?” Mika mengambil mangkok itu dengan ragu. Asa yang berdiri di depan pemuda itu langsung tersenyum bangga. “Tenang saja. Ini sama enaknya dengan bakso di warungmu dulu! Dijamin lebih enak!” Mika yang mendengar itu langsung melirik ke arah Udin yang notabenenya adalah pemilik warung bakso itu. Karena sejak pagi tadi ia belum sarapan, Mika pun memakan pentol bakso itu tanpa pikir panjang. “Ah! Sialan! Ini panas sekali. Aduh aduh, lidahku ... rasanya asdfgjkl!” Asa tertawa melihat tindakan ceroboh anak ini. Dia duduk di samping Mika dan meraih mangkok bakso itu dengan paksa. “Hei, apa yang kau lakukan? Kau tidak jadi memberikannya padaku?” tanya Mika tak mengerti. “Tidak, Bodoh.” Asa memotong pentol bakso kecil itu jadi dua agar lebih mudah dimakan. Gadis ini meniup pentol tersebut. Matanya yang tampak sayu membuat Mika tertegun untuk sesaat. Entah kenapa, melihat Asa yang seperti ini rasanya beda dengan Asa yang suka menjahilinya setiap hari. “Sekarang buka mulutmu!” “Hah? Apa kau gila?!” “Aku sudah peduli padamu! Jadi, ayo cepat!” “Kau mau menyuapiku? Tidak mau! Aku ini bukan anak kecil! Sini mangkoknya!” Mika membalas dengan sengit. Harga dirinya sebagai laki-laki dipertaruhkan. “Tidak! Aku akan menyuapimu karena kau terlalu bodoh untuk makan bakso seperti ini! Sekarang ayo buka mulutmu!” Mata kiri Mika berkedut beberapa kali karena menahan emosi. Berapa kali pun mencoba, ia selalu kalah saat adu argumen dengan anak ini. Mika tampak membuka sedikit mulutnya dengan malu-malu. Asa yang melihat itu tersenyum. Ia suka saat melihat Mika yang kalah argumen seperti sekarang. Gadis itu segera menyuapi Mika dengan potongan pentol tadi dan pemuda itu langsung memakannya. Tak berhenti di sana, Mika langsung merebut mangkok bakso itu. “Kita harus impas. Aku akan menyuapimu sekarang! Kau pikir hanya dirimu saja yang bisa seperti ini? Aku juga bisa!” Gadis dengan rambut diikat dua ini tertegun saat Mika menatapnya serius dan tajam seperti ini. Rona merah tampak menghiasi pipi Asa dengan samar. Tanpa sadar, garpu yang ada di tangan kanannya telah direbut oleh Mika dengan mudah. “Sekarang buka mulutmu!” perintah Mika absolut. Otak Asa seperti berhenti bekerja. Jantungnya berdegup kencang sekarang. “A-apa katamu, Mika?” “Buka mulutmu! Itu perintahku!” Asa semakin merona. Perkataan Mika dengan nada suara berat itu membuatnya malu sendiri. Sosok Mika yang serius dan dingin ini selalu saja membuat Asa tak berkutik sejak pertama kali mereka bertemu dulu. Asa kalah. Ia menuruti permintaan Mika tadi. Semuanya berjalan lambat. Untuk sesaat, wajah serius Mika hilang saat Asa membuka mulut dan memejamkan mata dengan wajah yang merona. Pikiran pemuda bersurai hitam ini langsung ke mana-mana. Ia merona. Meskipun begitu, aksi menyuapi Asa tadi sukses dikerjakan oleh Mika. Suasana menjadi canggung di antara dua bocah SMA ini sekarang. Mereka terdiam dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing saat ini. Keduanya sama-sama merona. Saat Mika tak sengaja melirik ke belakang, ia menyadari Udin sedang memelototinya saat ini. Astaga, pangeran mahkota dari Kerajaan Mimika ini langsung memasang wajah syok. Ia melupakan keberadaan Pak Bosnya ini di ruang tamu. Melihat wajahnya yang tersenyum dengan mata melotot itu membuat Mika bergidik ngeri. Apa ini? Apakah ini rasanya tatapan mata bengis dari seorang mertua? ‘Sialan! Kenapa aku malah berpikir kalau Pak Udin itu mertuaku?! Pikiran ini menjadi gila! Ini semua salahmu, Asa! Pokoknya salahmu gadis sialan! Kenapa kau selalu iseng denganku sih?! ARGHHHHHH!’ Mika menjerit dalam hati. Situasinya sekarang sangat dramatis. Tatapan Udin seperti mau membunuhnya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN