Chapter 44 - Pertemuan Tak Terduga

1463 Kata
Bagi Mika, Udin adalah seorang pria paruh baya yang terlihat seperti Putri. Maksudnya, mereka terlihat seusia dengan umur kepala tiga. Saat bekerja di warung baksonya dulu, Mika dan Udin sudah seperti saudara saja. Dia juga tak keberatan menganggap pria itu sebagai kakak karena kebaikannya. Namun, apa yang ada di depan matanya sekarang membuat Mika tak bisa berkata-kata. Seorang pria dengan gaya rambut dibelah tengah seperti Udin tiba-tiba muncul di balik pintu kamar mandi rumah Asa saat Mika duduk di ruang tamu seorang diri sekarang. Pemuda itu sudah ada di tempat ini sekitar lima menit yang lalu. Asa bilang jika ia harus mencari ibunya dulu di belakang karena tak ada seorang pun di rumah ini saat mereka tiba. Gadis itu meminta Mika untuk menunggu di ruang tamu. Ia pun menurutinya tanpa banyak bicara. Akan tetapi, kejadian yang tiba-tiba terjadi ini membuat Mika bingung harus bagaimana. Dilihat dari sisi mana pun juga, Udin sama-sama terkejutnya. Reaksi kaget pria itu menunjukkan bahwa ia juga mengenali Mika. “B-bagaimana mungkin ....” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut siswa kelas tiga SMA ini. Otaknya berkecamuk hingga ia tak bisa berpikir. Udin pun tampak berusaha menguasai dirinya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri seperti hendak menyangkal dugaan Mika yang tidak-tidak dengan kebohongan. Pria itu gugup setengah mati. Saat agen intel ini hendak buka suara, putrinya dari arah belakang langsung berteriak menyerukan namanya. Udin semakin gelagapan. “Ayahh! Aku punya kejutan untukmu! Hehehe, aku pulang hari ini!” Mika yang mendengar suara Asa tadi pun sontak menoleh ke arah sumber suara. Meskipun begitu, ia yang menyadari gelagat aneh Udin langsung memandang kembali ke arah mantan bosnya tadi. Dengak cepat, Udin mengacak-acak rambutnya. Ia langsung membuang tahi lalat palsu yang ada di bawah mata kirinya. Pria itu juga tak lupa memasang kacamata berwarna perak. Mika melongo melihat semua tindakan itu. Pria ini terlalu tak bisa ditebak. Saat itu, Asa muncul dari arah ruang tengah. Ia tersenyum lebar. “Astaga, Ayah! Dari mana saja kau? Aku sudah mencarimu sejak tadi!” “Salah sendiri. Kenapa kau tak bilang kalau hari ini akan berkunjung ke rumah? Katamu akan ke sini saat libur setelah ujian tengah semester nanti?” Mendengar perkataan ayahnya yang judes itu, Asa tampak biasa saja. Ia justru sedikit menyipitkan mata dengan senyum menggoda. “Dasar bapak-bapak tsundere. Bilang saja kalau dirimu bahagia melihat putrimu yang cantik di sini.” Bukan hanya Udin saja yang langsung memandang aneh ke arah Asa, melainkan Mika juga. Kepercayaan diri anak itu selalu saja tinggi seperti biasa. Saat menoleh ke arah Mika, Asa langsung berujar, “Oh iya, hari ini aku membawa teman. Anak ini belum pernah datang ke sini, tapi kalian sudah bertemu di halaman sekolah kemarin.” Ibu Asa yang sejak tadi berdiri santai di samping putrinya langsung menoleh ke arah Mika dengan senyum ramah. “Wah, tampan sekali temanmu ini.” Mendengar pujian tadi, Mika langsung malu. Ia melirik sebentar ke arah Udin yang sejak tadi tak berani menatapnya. Mengabaikan hal tadi, Mika langsung berdiri dan menjabat tangan kedua orang tua Asa. “Saya Mika Jonathan, biasanya dipanggil Mika. Saya ini teman sekelas Asa yang baru. Kami juga duduk sebangku hehehe,” ujar Mika dengan santai kepada ibu Asa. Saat Mika menoleh ke arah Udin yang sejak tadi mengalihkan pandangan dan tak mau menatapnya, pemuda itu hanya bisa tersenyum simpul. Pria ini kenapa justru terang-terangan seperti ini sih perilakunya? Mika tak habis pikir. “Saya Mika Jonathan. Kita sudah berkenalan hari itu, Pak Burhan,” ucap Mika dengan ada penekanan kata di nama ‘Pak Burhan’ tadi. Ia tersenyum dengan mata menyipit. Udin gugup. “I-iya. Kita sudah berkenalan. Aku juga sudah tahu namamu kok.” Awalnya Mika memang berpikir yang tidak-tidak saat perjalanan menuju ke rumah Asa ini tadi. Ia takut kalau orang tua gadis ini meminta perjodohan atau lamaran. Saat menunggu di ruang tamu sendirian tadi pun, Mika merasa sangat gugup. Tapi, saat melihat Udin yang ternyata ayah Asa dan sosok ibu gadis itu yang terlihat santai, pikiran Mika yang tidak-tidak soal lamaran langsung sirna. Lagi pula lamaran itu kan adat istiadat di kerajaannya. Mana mungkin itu berlaku juga di negara ini. Terlebih, bos Mika di warung bakso dulu alias Pak Udin yang selama ini ia kira berumur 30 tahunan ini ternyata adalah orang tua. Ia masih tak menyangka kalau pria ini adalah ayah Asa yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu di halaman sekolah. Mereka berempat tampak mengobrol santai di ruang tamu tadi. Meskipun begitu, obrolan yang terjadi hanya didominasi oleh Asa, ibunya, dan Mika. Udin hanya terdiam seribu bahasa. Mika tentu saja langsung menyadari hal itu. Dia pun tiba-tiba kepikiran untuk memancing agar ayah Asa ini mau bicara. “Ngomong-ngomong Asa, kenapa ayahmu berpakaian rapi saat hari libur seperti ini? Apakah mau pergi ke keluar? Aku jadi sungkan karena beliau tidak bisa keluar karena aku.” Mika mengucapkan hal tadi sambil memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat. Asa langsung memandang ke arahnya. “Benar juga ya, kau mau ke mana, Ayah? Pakaianmu rapi sekali.” Udin langsung melirik Mika dengan tatapan kesal. Bocah ini mau memancingnya. Meskipun begitu, yang menjawab pertanyaan dari dua anak SMA tadi bukanlah Udin melainkan istrinya. “Ayahmu tadi rencananya memang mau keluar.” “Oh ya? Dia mau ke mana, Bu?” Wanita dengan rambut seleher ini hanya bisa menggeleng. “Ibu juga tidak tahu. Mungkin bermain bersama rekan kerjanya di lapangan golf.” Mika kembali melirik ke arah Udin. Memang benar sih jika orang yang satu ini memakai setelah kaos olahraga seperti ingin olahraga. Tapi, yang benar saja. Meskipun Mika tak mengerti apa itu golf, masa olahraga di siang hari seperti ini? Pemuda kelas 3 SMA ini menduga jika Udin hendak keluar menemui Farel atau siapa pun itu yang berkaitan dengan penyelidikannya terkait kasus kecelakaan yang bisa memicu perang itu. Meskipun begitu, pria berkacamata dengan rambut acak-acakan itu tetap menutup mulut. Ia tidak ingin memberikan bocoran informasi apa pun. Dengan santai, Udin menyesap kopi yang dibuatkan oleh istrinya tadi. “Ngomong-ngomong, kenapa kau datang ke sini membawa bocah ini, Asa?” tanya Udin dengan suara yang begitu dalam seolah sedang menyudutkan Mika. Mika pun tersentak kaget. Apa-apaan orang ini? Dia pasti mau balas dendam soal apa yang baru saja ditanyakan olehnya tadi. Mika pun tak mau tinggal diam. Dia langsung buka suara sebelum Asa menjawab. “Tadi itu mendadak sekali. Aku dan Asa tak sengaja bertabrakan di depan ruang Kepala Sekolah. Kepala Sekolah yang tak tahu kalau Asa akan pulang, meminta dia untuk mengajakku main ke luar. Aku dipaksa.” “Eh? Masa iya Kepala Sekolah yang memaksamu untuk ikut Asa jalan-jalan? Kok bisa? Apakah kalian dekat?” tanya ibu Asa dengan nada heran. Soalnya yang wanita ini tahu, Kepala Sekolah itu adalah wanita tua yang begitu tegas. Dia tak terlihat akan memaksa seorang murid biasa untuk jalan-jalan seperti ini. Lagi pula, bukannya Kepala Sekolah tinggal masa bodoh saja? Kenapa ia justru peduli pada Mika? “Ibu tak tahu ya? Mika ini adalah cucu kepala sekolah,” jawab Asa dengan nada jengah. Bagaimana Asa tidak jengah? Soalnya sampai detik ini ia masih belum tahu apa motif Mika yang tiba-tiba menjadi cucu Kepala Sekolah sekarang. Padahal yang Asa tahu, Mika itu hanyalah pemuda antah berantah dari kota kecil tempat neneknya berada. Mereka tak sengaja bertemu di kereta dan menjadi teman saat di Jakarta Utara sebulan lalu. Padahal sebelumnya Mika sibuk mencari lokasi rumah kakaknya yang telah dirobohkan menjadi lapangan terbuka hijau. Lantas, kenapa bisa anak ini tiba-tiba jadi cucu kepala sekolah? Dia pasti punya drama baru di balik alasannya itu. Asa sangat penasaran. Melihat suasana tak berjalan seperti rencananya, Udin pun menghela nafas. Ia pikir Mika akan diinterogasi atau ditanyai yang tidak-tidak oleh istrinya karena anak gadis mereka mengajak laki-laki untuk main ke rumah. Kalau sudah begini, agen intel itu jadi tak ada niatan untuk bertanya-tanya lagi. Meskipun begitu, Udin baru menyadari jika Mika punya koneksi baru yang bisa dimanfaatkan untuk menangani kasus pertikaian Indonesia dengan dua negara adidaya. Tadi itu sungguh informasi yang sangat bagus, mengingat pria ini tak tahu kalau Mika membuat hubungan cucu-nenek dengan Kepala Sekolah di SMA terkenal seperti SMA Unggulan Esa. Pasti ada motifnya. Udin yakin itu. “Oh ya, Bu. Apakah Ibu sudah memasak untuk makan siang?” tanya Asa dengan antusias “Tadi ibu baru memotong-motong sayur, eh kau tiba-tiba datang. Mau masak bersama?” Senyum ibu Asa langsung terukir lebar. Asa pun mengangguk dengan penuh semangat. Ia berpamitan pada Mika dan menyuruh pemuda itu untuk menunggu di sini saja bersama ayahnya. Pada akhirnya, dua perempuan tadi meninggalkan Udin dan Mika di ruang tamu. Suasana langsung senyap. Baik Mika maupun Udin tak ada yang saling bicara. Keduanya sibuk menyesap minuman. Meskipun begitu, atmosfer di ruangan ini menjadi begitu berat. “Jadi, bisa kita bisa bicara sebentar Mika?” “Dengan senang hati, Pak Udin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN