Chapter 43 - Kunjungan

1621 Kata
Tanpa sadar, waktu yang dikira berjalan lambat telah berlalu begitu cepat. Sejak kejadian Mika dihukum kemarin, seminggu telah berlalu. Setiap harinya, Asa dan Mika selalu menghabiskan waktu bersama di sekolah mengingat mereka duduk sebangku. Mumpung hari ini adalah hari Minggu, Asa berencana keluar dari asrama. Dia bosan sekali jika menghabiskan waktu hanya untuk berdiam dalam kamar. Lebih baik Asa pulang ke rumah, jalan-jalan, dan memakan masakan ibunya. Gadis yang tengah sibuk mengikat rambutnya menjadi dua itu tampak manis dengan beberapa helai rambutnya basah terkena air setelah mandi. Di belakang Asa, ada Ayu, Dina, dan Dini yang notabenenya adalah teman seasrama gadis itu. Mereka bertiga yang sama-sama bosan di hari Minggu ini hanya bisa selonjoran di lantai dengan muka bengong. Mau bagaimana lagi, cuaca hari ini lumayan panas. Jadi mereka bertiga pun malas keluar. “Hari ini kau pergi sendiri ya?” tanya Ayu secara tiba-tiba. Asa yang cengengesan di depan cermin karena merasa begitu percaya diri ini hanya bisa mengangguk. “Iya, habisnya kalian tidak mau kuajak datang ke rumahku sih.” Dina, gadis dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas itu langsung tersenyum penuh arti. “Hehe, kenapa tidak mengajak gebetanmu?” “Hah?!” Asa yang mendengar itu pun sontak menoleh cepat-cepat ke belakang dengan senyum tak percaya. “Apa yang kau katakan tadi? Baik Dina dan Ayu langsung tertawa. Dini, si ketua OSIS, yang memang tak sekelas dengan mereka bertiga di tahun terakhir ini hanya bisa mengerutkan kening tak mengerti. “Sejak kapan Asa punya gebetan di sekolah ini? Dia kan baru masuk sekolah selama beberapa bulan,” komentar gadis dengan rambut panjang yang diikat satu itu. Ayu dan Dina pun sontak menceritakan cerita antara kedekatan Asa dan Mika pada ketua OSIS yang sama-sama lagi rebahan bersama kedua orang itu. Di sisi lain, objek yang dari tadi sibuk diceritakan hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir. “Jadi, anak baru yang menjadi cucu kepala sekolah itu benar-benar gebetan Asa?” Dini yang mengerti situasinya pun jadi langsung bisa menarik kesimpulan. “Astaga, kalian bertiga itu kalau bergosip jangan di depan orangnya dong. Aku yang dengar kan jadi malu. Apalagi itu gak benar semua. Hubunganku dan Mika tak seperti itu,” keluh Asa dengan wajah lesu karena terus menjelaskan perkara ini pada teman-temannya. “Anak-anak di kelas sudah tahu bagaimana kalian dekat dan selalu ribut di kelas, Asa. Lagian kau kan suka iseng dengan Mika. Pokoknya kalian kelihatan cocok deh.” Dina langsung mengucapkan hal tadi dengan semangat. Asa yang mendengar teman-temannya yang keras kepala ini hanya bisa menghela nafas. Mau dijelaskan berapa kali pun, mereka selalu menjodoh-jodohkannya dengan pemuda yang tak tahu apa-apa itu. Meskipun Asa mengakui kalau dulu ia sempat terpesona dengan Mika saat di stasiun, tapi aneh rasanya membayangkan ia dan Mika sedekat itu sampai disebut pacar. Dini langsung menatap Asa dengan pandangan menggoda. “Aku masih kesal dengan mas gebetanmu yang seenaknya memelintir tangan orang itu. Tolong beri pelajaran padanya ya, Asa ahahaha.” Mereka langsung tertawa bersama. Insiden yang terjadi antara Dini dan Mika kemarin sangat lucu. Pasalnya teman-teman seasramanya ini tak mengira jika Ketua OSIS yang terkenal hebat dalam hal bela diri karate ternyata bisa dipelintir tangannya oleh orang seperti Mika. Asa tersenyum miring seraya tertawa. “Ahahaha, aku akan memberi pelajaran pada anak itu. Sudahlah, aku akan pergi sekarang. Kupingku jadi panas dengan ledekan kalian sejak tadi.” Ayu sejatinya tak begitu paham dengan urusan percintaan ini pun tiba-tiba berujar, “Hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi Mika kalau kau merasa bosan!” “Astaga kalian ini!” Mereka tertawa bersama lagi. Menggoda Asa ternyata semenyenangkan ini. Gadis itu tampak merengut dengan wajahnya yang lelah. Meskipun begitu, dia tersenyum lagi karena suasana hatinya cukup bagus. Asa pun melambaikan tangan ke arah tiga temannya tadi. Ia dengan cepat keluar dari kamar asrama. Bagaimana pun, sosok Asa yang baru menempuh pendidikan di sekolah ini selama beberapa bulan langsung diterima dengan baik oleh semua siswa hingga ia pun dikenal oleh seluruh orang. Kepribadian Asa yang santai dan menyenangkan membuat banyak teman seangkatan mereka di sekolah ini menjalin hubungan pertemanan dengannya. Baik Ayu, Dina, dan Dini yang menjadi teman seasrama gadis itu merasa senang karena Asa melengkapi mereka. “Aku harap hal-hal baik terjadi di hidup anak itu. Semua orang suka dengan kepribadiannya.” Dini mengucapkan hal tadi dengan senyum simpul yang penuh akan kebanggaan. Ayu dan Dina pun sontak mengangguk. “Kami juga berharap begitu.” Beralih dari teman-teman seasrama Asa yang masih ngerumpi tadi, gadis dengan rambut panjang diikat dua ini tampak berjalan ceria saat menyusuri koridor sekolah. Bagaimana pun, ada jam bebas di SMA ini saat hari libur sehingga para siswanya bisa main dan bersantai di luar selama siang hari. Jadi tak aneh bila Asa melihat banyak siswa sepertinya yang sama-sama pergi menuju keluar. Kebetulan sekali, pintu keluar SMA ini melewati ruangan kepala sekolah. Saat Asa hendak melewati lorong di samping ruangan itu, Mika tiba-tiba muncul dari balik pintu dan mereka pun bertubrukan. Untung pemuda itu bisa menjaga keseimbangannya dan ia tak jatuh saat Asa menubruknya. “Kalau jalan lihat-lihat dong, astaga!” desis Mika dengan nada emosi. Saat-saat seperti ini, Mika ingin mengumpat. Tapi semenjak ia menempuh pendidikan di sini dengan gelar cucu kepala sekolah, pangeran tersebut jadi sungkan untuk berkata kasar bin kotor di sembarang tempat. Pemuda itu berusaha mengontrol emosinya. Asa yang mendengar bentakan tadi langsung merasa bersalah. “Maafkan aku. Aku sama sekali tak sengaja— hah?! Mika?” “Loh? Asa ...?” Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Mereka berdua hanya bisa saling bertatapan dengan mata kaget. Asa sama sekali tak mengira kalau ternyata Mika bisa merasa sekesal tadi. Sudah seperti bukan Mika yang biasa ia kenal saja. “Mika, kalau kau keluar tolong biasakan menutup pintu ruanganku dulu daripada berdiri di sini dalam kondisi pintu terbuka.” Suara tegas dari seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari dalam ruangan tadi membuat Asa terperanjat. Dia langsung memberi salam pada kepala sekolah itu. “Kamu ... Rika Angkasa kan?” Asa tersenyum. “Benar. Suatu kehormatan saat Anda bisa mengetahui nama saya ehehe.” Kepala sekolah itu tersenyum juga. Ia melirik ke arah Mika yang masih bengong dengan wajah datarnya. “Kenapa wajahmu masih masam seperti itu terus sih, Mika?” Pemuda itu langsung terperanjat. “Apaan sih? Wajahku biasa-biasa saja kok.” Kepala sekolah menghela nafas berat. “Kau ini kelelahan. Serius menangani masalah ini boleh saja, tapi perhatikan dirimu juga.” Mika terdiam dalam beberapa saat sebelum ia memijit pelipisnya yang sejak tadi berdenyut. “Aku tahu, terima kasih telah mencemaskanku. Hanya saja, aku merasa sia-sia masuk ke sekolah ini kalau semua berjalan seperti sekarang.” “Yang penting kita tahu kalau semua itu telah direncanakan. Aku juga sudah melaporkan ini ke Kepala Dinas Pendidikan, jadi kita tunggu hasilnya saja. Apakah mereka tetap kukuh menyandera anak itu atau ia justru dibebaskan. Jadi, bersantailah sebentar saja.” Sejujurnya Asa merasa salah tempat sekarang. Ia tak tahu apakah mendengar perbincangan kepala sekolah dan Mika di sini adalah tindakan benar atau salah. Raut mereka tampak kaku, sehingga Asa menyimpulkan kalau masalah yang dibahas keduanya termasuk serius. Namun kalau dirinya pergi dari hadapan mereka berdua apalagi kepala sekolah dengan begitu saja, pasti gadis berkucir dua ini akan dianggap sebagai siswa tak sopan. Tanpa sadar, ia terus menggerutu dalam hati karenaa tak tahu harus apa. “Nak, apakah kau tak keberatan jika mengajak Mika pergi bersamamu ke luar?” “Hah?!” Baik Asa dan Mika langsung berseru tak percaya pada sang kepala sekolah. “Kenapa tiba-tiba menyuruh Asa untuk mengajakku keluar coba? Aku tidak mau!” Mika melayangkan protes dengan nyata. Asa sendiri bingung harus menjawab seperti apa. Ia tak mungkin membantah perintah dari orang terhormat seperti kepala sekolah. Nyatanya ia memang jalan-jalan sih nanti, tapi masa iya dirinya akan mengajak Mika pulang ke rumahnya juga? Saat Asa melihat kepala sekolah, wanita berumur itu mengedipkan sebelah mata ke arahnya. Ia sama sekali tak mengerti dengan kode tadi. Asa pun menoleh ke arah Mika. Namun saat itu, ia langsung menyadari apa yang terjadi. Pemuda yang saat ini tampak menggerutu dan tak terima ini kelihatan sangat lelah. Wajahnya kusam dan lesu. Kantung mata pun terlihat jelas di wajah Mika dari jarak sedekat ini. Asa pun membulatkan tekad. Ia juga penasaran dengan hal apa yang tampak membebani Mika selama beberapa hari belakangan. “Aku ... aku akan membawanya!” Asa mengucapkan hal tadi sambil menggaet tangan pemuda itu. “A-apa katamu? Kau bercanda ya Asa?!” Kepala sekolah yang melihat ini langsung tersenyum. “Bagus, kalau begitu hati-hati di jalan ya?” Wanita itu tak berkata apa-apa lagi. Dia langsung berlalu dan masuk ke dalam ruangannya seraya menutup pintu. Asa dengan cepat menggeret Mika keluar. Pemuda yang menggunakan kaos putih longgar dengan celana olahraga biasa ini tampak kelabakan. “T-tunggu, Asa! Kenapa kau mau membawaku astaga?!” “Sudahlah, jangan protes! Aku sudah memesan mobil ojek online tadi. Dia sudah menunggu jadi kita harus cepat.” Saat itu keduanya langsung berlari keluar. Mereka pun memasuki mobil putih yang sudah di pesan Asa sejak tadi. Di sisi lain, Mika memandang gadis ini dengan bingung. “Sebenarnya kita akan ke mana sih? Kau niat jalan-jalan ke mana saat membawaku yang tanpa persiapan ini?” tanya Mika bertubi-tubi. Mobil pun mulai berjalan. Saat itu Asa tersenyum miring ke arah Mika sambil menyipitkan matanya. “Ke mana lagi? Aku akan mengajakmu ke rumah orang tuaku!” “Hah?!” Mika sama sekali tak mengerti, tapi pikirannya berkecamuk sekarang. Kenapa Asa membawa dirinya ke rumah? Di kerajaannya dulu, saat laki-laki mengunjungi rumah perempuan maka berarti ini adalah pertanda jika mereka akan serius menjalin hubungan. Dengan kata lain, bukankah Asa mengajaknya menjalin hubungan suami istri? Astaga, Mika benar-benar tak paham dengan perbedaan budaya ini. Semoga saja tak ada hal buruk setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN