Chapter 42 - Hukuman

1838 Kata
Perang adalah suatu hal yang konyol dan penuh emosional. Itu adalah opini pribadi dari Mika. Ia telah banyak mempelajari sejarah dunia ini, sehingga tahu mengenai perang dunia satu dan dua. Setahu Mika, zaman sekarang disebut zaman kedamaian karena hampir seluruh negara tak lagi menginginkan perluasan wilayah. Meskipun begitu, yang namanya perang dingin tetap terjadi. Suatu kondisi dimana beberapa negara bersitegang namun tak melibatkan aksi militer. “Dan salah satu pelaku perang dingin itu sekarang adalah Cina dan Amerika. Mulai dari persaingan teknologi, ekonomi, dan industri mereka lakukan,” ujar Budi seraya menghelakan nafasnya. Pemuda berwajah datar dengan kacamata itu sekarang berjalan santai bersama Mika dan Jojo menuju kelas. Hari telah berganti dan kini mereka harus bersekolah seperti biasa. Saat Mika pulang dari pertemuannya dengan Udin dan Farel semalam, ia langsung menceritakan semua hal pada Budi dan Jojo. Mereka berdua pun sekarang sudah tahu kalau Dimas dijebak. Jojo tampak menoleh ke arah Budi. “Aku setuju. Negara kita yang berada di kubu netral antara dua ketegangan ini pun jadi lokasi empuk untuk diperebutkan.” Mika yang sudah berjalan di antara mereka berdua hanya bisa menghela nafas. “Untuk sekarang, aku hanya bisa percaya pada Pak Udin dan Farel, orang yang kuceritakan pada kalian kemarin. Mereka berusaha untuk terus menghubungi Dimas di sana.” “Keluarganya Dimas itu gila. Maksudku ... aku tidak mengira kalau mereka adalah orang politik semua!” Budi mengatakan hal itu dengan kesal. Mika tetap diam. Dia berjalan terus sambil matanya menatap kosong ke depan. Entah kenapa, pikiran pemuda ini sudah ke mana-mana. Perang itu memang konyol, tapi di balik kekonyolan tadi biasanya tersimpan siasat licik. Ia jadi teringat dengan penyebab kenapa perang dunia pertama meletus. Banyak disebutkan dalam buku-buku sejarah, bahwa perang dunia satu meletus karena terbunuhnya seorang bangsawan. Padahal kalau dipikir dan ditelaah lagi, mungkin saja rencana perang telah ada sebelum kematian bangsawan tersebut. Kalau pun si bangsawan tadi tidak tewas, mungkin saja tetap akan ada pemicu-pemicu lain yang menyebabkan perang yang direncanakan itu tetap terjadi. “Kalau dipikir-pikir lagi, andaikan setelah ini terjadi perang, bukankah motifnya hampir sama seperti latar belakang perang dunia pertama?” Mika mengucapkan hal itu secara tiba-tiba. Ia menoleh ke belakang. “Apa maksudmu?” tanya Jojo dengan dahi mengerut. “Begini, alasan kenapa perang dunia pertama terjadi karena terbunuhnya seorang bangsawan di masa itu padahal aslinya rencana perang mungkin saja telah ada sebelum kejadian tadi” Budi langsung melebarkan mata tak percaya saat mendengar teori dari Mika. “M-mungkinkah ...?” “Sama seperti sekarang, mungkin saja perang ini sudah direncanakan sejak lama. Pihak-pihak yang menyebabkan perang itu pasti menggunakan momentum tewasnya kedua perwakilan negara kemarin sebagai pemicu!” lanjut Mika dengan ekspresi wajahnya yang menegas. “Ini gila ....” Hanya itu reaksi yang keluar dari mulut Jojo. Bagaimana pun, apa yang dikatakan Mika tadi ada benarnya. Mungkin saja hal ini memang telah direncanakan sejak lama dan tinggal menunggu momentum yang pas saja untuk dijadikan kambing hitam dari meletusnya perang nanti. Saat itu, mereka bertiga yang berhenti melangkah ini hanya bisa saling pandang. Situasi yang ada sekarang semakin kompleks dengan tidak adanya Dimas di sini. Mereka hanya berharap kalau anak itu tidak apa-apa bersama keluarga dari pihak ayahnya sekarang. Budi menghela nafas panjang. “Membicarakan hal mengerikan seperti perang di pagi hari adalah pilihan yang buruk. Mana jam pertama nanti adalah fisika lagi. Astaga, kepalaku mau pecah!” Tatapan penuh hina pun sontak dilemparkan oleh Jojo. “Kau kan maniak fisika! Kenapa kau mengeluh seperti itu? Dasar profesor jadi-jadian!” “Jaga ucapanmu itu ya! Dasar, dukun jadi-jadian!” balas Budi dengan nada tak kalah sengit. Mika yang melihat dua orang ini ribut tanpa sebab pun sontak memegang kepalanya yang berdenyut. Ia memandang emosi ke arah dua orang itu. “Kenapa sekarang justru kalian yang ribut?” keluh pemuda ini. “Tunggu dulu!” seru Jojo secara tiba-tiba. Ia tampak menyadari suatu hal dengan gelagat ketakutan. Budi yang melihat itu sontak mengernyitkan alisnya. “Apa lagi sekarang?” “Tidakkah kalian menyadari kalau lorong ini begitu sepi?” Pertanyaan dari Jojo tadi membuat detak jantung Mika seolah berhenti berdetak. Peluh menetes dari dahinya. Ia menatap sekeliling dengan teliti. Meskipun begitu, atmosfer senyap yang ada di sini membuat pemuda itu sedikit khawatir. Dengan tatapan tak mengerti, Mika memandang bingung ke arah Jojo. “A-aku sama sekali tak paham. Memangnya kenapa kalau lorong ini sepi?” “Aku juga sama bingungnya dengan Mika,” sahut Budi. Saat itu, Jojo langsung memejamkan mata seraya menggerakkan tangannya seolah merasakan sesuatu. Melihat tingkah aneh ini, Mika semakin tak paham. Ia menoleh ke arah Budi untuk meminta penjelasan, tapi tampaknya pemuda itu juga sama tak mengerti. “Ada apa sih?” Mika sama sekali tak bisa menahan emosinya. “Jawab, sialan!” “Tenang dulu astaga.” Keluh Jojo dengan suara lesu. Ia melanjutkan, “Aku bisa merasakan ada suatu entitas yang kini berjalan mendekati kita dengan aura negatif!” Saat itu, wajah Budi menjadi datar. Ia memandang Jojo dengan pandangan yang seolah mengatakan ‘here we go again.’ Di lain sisi, Mika mengernyit bingung. Apakah anak ini waras? “Dia semakin dekat!” Mika mencoba memandang sekeliling tapi tak bisa menemukan apa-apa. “Sebenarnya apa sih maksud anak ini?” “Astaga, dia semakin dekat!” “Kataka apa yang semakin dekat itu, sialan!” Mika memaki dengan kesal. Sifat aslinya muncul lagi tanpa sadar. Bukannya Jojo yang menjawab, namun Mika tiba-tiba merasakan ada seseorang yang berada di belakang tubuhnya. Orang itu menyentuh bahunya dan kepalanya menyembul dari sana. Dengan senyum psikopat, orang itu berujar, “Yang semakin dekat itu adalah ... kematianmu!” Saat itu Mika yang kaget sontak memelintir tangan dari sosok yang memegang bahunya tadi. Insting dari seorang pangeran ini langsung menjerit. Ia bisa merasakan kondisi terancam dan dengan lihai melawan orang tadi. Suara jeritan pun terdengar keras di lorong yang sepi ini. “Arghhh! Sakit! Sakit! Sakit sekali astaga!” “Eh? Suara wanita?” Mata Mika mengerjap beberapa kali. Ia menoleh ke belakang dan menemukan gadis dengan rambut diikat satu yang mengibas-kibaskan lengannya karena ngilu. “Loh, Dina?” Celetuk Mika dengan spontan. “Astaga, Dini!” Budi mengatakan hal tadi dengan ekspresi terkejut. Ia menolong gadis dengan kain berwarna merah yang tertali di lengan kirinya itu. “Buset, ternyata aura negatif yang kurasakan tadi adalah kamu ya!” ujar Jojo dengan kesal. Mika tak paham dengan situasinya. Ia bertanya pada Jojo, “Kenapa kau memanggilnya Dini? Bukankah orang ini adalah Dina?” “Dia ini kembaran Dina, namanya Dini. Cewek ini adalah Ketua OSIS.” Pantas saja wajah gadis yang tangannya dipelintir oleh Mika tadi sangat mirip dengan Dina yang kemarin ditemuinya di kelas. Hanya saja, kalau diperhatikan gadis bernama Dini ini memang lebih terlihat galak. Meskipun begitu, Mika tetap bingung dengan perkataan Jojo tadi. Wajah bodoh Mika yang tak paham apa-apa langsung muncul. “Apa itu OSIS?” “Astaga, aku tak ada waktu untuk menjelaskannya padamu! Sekarang kita kabur dulu!” Jojo mengucapkan hal tadi sambil menggeret tangan Mika untuk lari. Pemuda yang percaya pada takhayul ini memang paham soal keanehan Mika yang terkadang tak bisa mengerti apa-apa. Jadi, dia bisa maklum kalau anak ini tak paham apa itu OSIS. Namun yang terpenting sekarang, Jojo harus mengajak Mika lari sebelum Dini murka. “Budi, ayo cepat kabur! Kayaknya kita udah telat deh! Bisa gawat kalau kena hukuman Dini! Manfaatkan situasi yang ada sekarang!” seru Jojo dari kejauhan. Ia menggeret Mika yang kebingungan. Budi yang bingung pun langsung menuruti perkataan Jojo tadi. Ia tak mau kena hukuman dari OSIS gara-gara telat. Bagaimana pun, mereka tak sadar sudah terlambat ke kelas karena sibuk membicarakan perang. Setelah membantu Dini berdiri, Budi berkata dengan cepat, “Jaga dirimu baik-baik! Aku mau kabur!” Dengan langkah kaki cepat, Budi langsung berlari meninggalkan Dini seorang diri di lorong yang sepi ini. Diam-diam, gadis yang sejak tadi meringis kesakitan ini langsung tersenyum. “Dasar, Budi. Kenapa anak kaku dan rajin sepertinya bisa berteman dengan komplotan urakan seperti Jojo dan Dimas sih?” Gadis yang berbeda kelas dengan gengnya Budi tadi pun sontak menggelengkan kepala tak habis pikir. Sesaat kemudian, raut wajahnya tampak berpikir. “Kukira orang yang kukejutkan tadi adalah Dimas, ternyata orang lain ya?” Pandangan Dini langsung tertuju pada tiga pemuda yang berlari menuju kelas tadi. Tatapan matanya memperhatikan pemuda yang diseret oleh Jojo tadi. “Apakah anak itu adalah cucu kepala sekolah yang dirumorkan selama beberapa hari ini? Astaga, geng pembuat masalah itu ketambahan satu orang lagi. Mana pelintirannya tadi sakit banget!” keluh gadis ini dengan raut kesakitan. Sudahlah, ia jadi tak mood mencari gara-gara dengan tiga berandal tadi. Untuk sekarang, Ketua OSIS ini harus mencari pengobatan di UKS. *** “Kecuali Budi, kalian berdua harus berdiri di depan kelas karena terlambat masuk ke jam pelajaranku!” Suasana di kelas Mika kali ini cukup tegang saat trio pemuda tadi sampai. Benar saja, mereka terlambat. Sialnya lagi, jam pertama yang merupakan kelas fisika ini diisi oleh guru paling galak di sekolah yang tak lain dan tak bukan adalah Bu Indah. “Astaga, kenapa Bu Indah pilih kasih? Mentang-mentang Budi pintar, jadi dia dikasih privilese seperti ini. Ini tak adil!” Jojo langsung protes. Sementara itu, Mika yang ada di samping pemuda tanpa alis tadi hanya diam sebab tak terlalu paham dengan situasinya sekarang. Memangnya apa yang salah dengan berdiri di depan kelas coba? Kan hanya berdiri saja. Itu bukan hal susah tapi sepertinya Jojo ogah-ogahan sekali untuk melakukannya. “Jangan banyak protes!” tukas Bu Indah dengan sinis. “Aku tahu Budi itu anak baik, kalian saja yang memberi pengaruh buruk padanya. Jadi, dia ikutan telat deh.” Sementara itu, Budi yang sejak tadi sudah duduk di meja pun langsung tersenyum penuh bangga ke arah Jojo dan Mika. Ia terlihat seperti sedang meledek pemuda tanpa alis itu. “Sialan, dasar privilese orang pintar,” desis Jojo tak terima. Ia mengucapkan hal tadi dengan pelan tanpa disadari Bu Indah. “Tunggu apa lagi? Ayo cepat! Berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai!” Mika yang tak banyak bicara langsung menuruti perintah guru yang satu ini. Di sisi lain, Jojo tampak lesu dan tak semangat. “Memangnya apa yang salah dengan berdiri di depan kelas sih?” bisik cucu gadungan dari kepala sekolah ini. Saat itu, Jojo langsung melirik ke arah Mika dengan jengah. Ia berbisik, “Kita ini dihukum, Bodoh. Jadi ini memalukan saat seluruh teman-temanmu memperhatikan dirimu.” “Menurutkan hukuman ini tak memalukan.” Mika tetap menggunakan nada pelan. “Hah?” “Di sekolahku dulu, siswa yang telat itu wajib melayani seluruh siswa. Namanya adalah Unit Pembantu Siswa Kurang Ajar atau ULAR. Kami wajib melayani seluruh orang apa pun itu, meskipun permintaannya aneh-aneh.” Wajah Jojo langsung cengo. Ia berbisik pada pemuda itu, “Sebenarnya di dunia mana kau sekolah dulu? Itu sih namanya jadi babu astaga.” Belum sempat Mika menjawab, Bu Indah langsung membentak dua orang ini. “Bisakah kalian diam?!” “Bisa, Bu!” Dan seluruh isi kelas langsung tertawa melihat tingkah dua orang pemuda yang ada di depan kelas itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN