“Aku mendapatkan pandangan baru. Dalam mimpiku tadi, aku berdiri di suatu tanah lapang yang begitu luas dan damai. Ada kubangan air di sana dan aku bisa melihat wajahku yang sudah lebih besar dari sekarang."
Mika yang melangkahkan kaki sontak berhenti. Ia sejak tadi sibuk menelepon.
"Kau tahu, Kak Mika? Di sana ... terasa begitu damai. Ada Ayah, Ibu, dan seluruh warga desa yang berbahagia. Apakah ini ada hubungannya dengan perang itu? Apakah mungkin perang ini bisa dibatalkan, Kak?”
Lidah Mika kelu. Pemuda yang saat ini berada di pinggir jalan ini hanya bisa tertegun dengan tatapan matanya yang membulat sempurna.
“Kapan ... kapan dirimu mendapatkan mimpi itu, Riko?”
“Beberapa saat yang lalu. Karena mimpi ini terjadi saat aku tidur siang, mungkin saja ini kenyataannya! Perang itu ... pasti bisa dibatalkan!”
Mika yang masih mengenakan seragam hitam khas milik SMA Unggulan Esa ini benar-benar tak bisa menahan rasa terkejutnya. Sore ini ia cepat-cepat minta izin ke pihak keamanan agar bisa keluar dari sekolah untuk bertemu Udin dan Dimas. Tapi, ia sama sekali tak mengira kalau Riko akan memberi kabar seperti ini.
Kabar ini adalah angin segar untuknya. Meskipun Mika masih tak paham makna dari mimpi tadi, tapi sepertinya kedamaian yang dijabarkan oleh Riko itu adalah petunjuk kalau perang ini mungkin bisa dibatalkan.
Dengan senyum lebar, Mika berujar, “Ya, percayalah padaku jika perang ini pasti tak akan terjadi. Aku akan selalu melindungimu. Jadi, terima kasih karena mengabarkan hal ini padaku.”
“Kak Mika ....”
Sepertinya, giliran Riko yang tak bisa berkata-kata kali ini. Anak itu cukup terharu dengan ucapan Mika tadi.
“Jangan lupa untuk terus memberitahuku tentang seluruh mimpimu yang berkaitan dengan perang itu. Oh ya, kau juga wajib memberitahu ibumu karena dia sudah tahu dengan kemampuanmu, Riko.”
Di seberang telepon, Mika bisa mendengar suara Riko yang bergumam seolah dia mengangguk-anggukkan kepala dengan paham.
“Kalau begitu, telepon ini aku tutup dulu ya? Kakakmu yang keren ini punya urusan sebentar lagi,” ucap Mika sambil mendengus bangga.
Riko tertawa di seberang telepon ini. “Wkwk, oke. Semangat terus, Kak Mika. Saat liburan nanti, kau harus pulang ke desa! Titik!”
Mika tertawa. Ia hanya membalas permintaan anak itu dengan kata oke lalu menutup telepon. Saat itu, pemuda dengan rambut hitam acak-acakan ini mendongakkan kepala guna memandang langit biru di jam 4 sore ini.
Apa pun yang terjadi nanti, Mika sudah bertekad menghentikan perang ini sebelum ia kembali ke Kerajaan Mimika kelak. Mika akan memastikan kalau Riko dan lainnya selalu aman saat ia tak ada nanti.
Dengan wajah semringahnya, Mika menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menyeberang dengan mudah di dekat lokasi lahan terbuka hijau yang dulunya menjadi area rumah Putri. Beberapa meter dari sini ada lokasi warung bakso Udin. Itu adalah tempat tujuannya sekarang. Mika akan menemui Udin di sana.
Namun saat menyeberangi jalan raya itu bersama banyak orang, Mika merasa kalau ada orang asing yang menepuk pundaknya secara tiba-tiba. Peluh dingin langsung membanjiri tubuh pemuda itu. Ia melirik ke samping dengan waspada.
“Kecap berkorban, sambal pun merana. Kalau mau jawaban, ikut aku ke sana.”
Saat itu, orang yang menepuk pundak Mika tadi langsung berjalan melewatinya begitu saja. Pemuda dari dunia lain ini terbengong. Ia menatap heran ke arah punggung pria berjaket coklat dan memakai topi tadi.
“Kalau dilihat dari postur tubuhnya, itu tadi seperti Pak Udin. Tapi, kenapa dia bisa ada di sini?” Mika benar-benar tak paham dengan situasinya sekarang.
Bukankah ia dan Udin berjanji bertemu di depan warung bakso? Kenapa orang itu justru menyuruh Mika untuk mengikutinya?
Saat sudah sampai di seberang jalan, Mika langsung mempercepat langkah kaki. Ia melewati banyak orang dengan gesit untuk memburu orang itu. Fokusnya tertuju pada pria berjaket coklat tadi. Ia mengikuti orang tersebut dari jarak lima meter di belakang.
Mika berdesis, “Posisi Udin yang merupakan anggota suatu organisasi mungkin dirahasiakan dari banyak orang, jadi dia menyamar dengan penampilan seperti itu. Untuk sekarang, lebih baik kalau aku ambil jarak.”
Keduanya terus berjalan dengan jarak lima meter. Tak terasa, kerumunan orang yang tadi berjalan bersama Mika di sepanjang jalan raya mulai sirna. Sekarang hanya tinggal kedua Udin dan Mika saja.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki Udin berhenti. Di balik topinya, ia melirik ke kanan dan ke kiri guna memastikan jika tak ada orang di sini selain Mika dan dirinya. Pria itu masuk ke dalam suatu rumah tua.
Mika bukan orang tua yang gampang lupa. Ia masih ingat betul kalau lokasi ini adalah markas penyelundup bandar narkoba yang dihajarnya dulu. Tatapan mata pemuda ini bingung. Ia menukikkan alis tak mengerti ke arah Udin.
Meskipun begitu, ia masih tetap diam dan mengikuti Udin. Mika pun masuk ke dalam rumah tua tadi dan Udin menatapnya datar dari sana.
Saat itu, Mika hanya bisa menatap pria itu dengan datar. “Kau tahu ..., aku punya banyak pertanyaan untukmu, Pak.”
“Ya, aku tahu. Untuk sekarang ikuti aku.”
Udin membuka bagian lantai yang terbuat dari papan kayu besar ini. Mata Mika mengernyit heran saat mengetahui ada ruang bawah tanah di sana. Ia mulai sedikit paham dengan situasi di sini dan segera masuk ke dalam.
Ruang bawah tanah ini begitu luas. Apakah mungkin tempat ini memiliki luas seperti lapangan sepak bola?
Mika bertanya-tanya dalam hatinya. Ia memasuki ruangan ini terlebih dahulu dan Udin ada di belakangnya. Saat mulai masuk lebih dalam, mata pemuda ini melebar ketika melihat Farel ada di sini. Ya, dia adalah Farel yang pernah ditolongnya dari Satpol PP dulu.
Suara Mika tercekat. “K-kau! Apa ... apa yang kau lakukan di tempat ini?!”
Senyum Farel langsung terukir. “Halo, Mika. Hehehe aku sama sekali tak mengerti kalau kita benar-benar akan bertemu.”
Mika mengacak rambutnya. “Siapa yang peduli dengan itu? Maksudku ... apa yang kau lakukan di sini? Astaga, kupikir ini semacam tempat rahasia untuk membahas suatu hal atau bagaimana.”
“Ya, ini memang tempat rahasia seperti yang kau pikirkan itu,” sahut Udin dengan nada serius dari arah belakang Mika.
Pemuda itu menoleh ke belakang dengan kaget. “Lalu, kenapa kau membiarkan orang yang tidak kau kenali juga ada di sini?”
“Ceritanya panjang, Mika.” Udin mendudukkan diri di sofa bersama Farel. Pria itu melanjutkan, “Yang jelas kita bisa meminta bantuan Farel untuk membebaskan Dimas.”
“Hah?!” Mika semakin tak paham dengan situasi yang ada.
Pemuda yang masih mengenakan seragam lengkap dari SMA Unggulan Esa itu segera berjalan menuju sofa tempat mereka berdua duduk.
“Aku benar-benar tak percaya! Maksudku apa yang sebenarnya terjadi di sini? Memangnya apa yang terjadi dengan Dimas?” tanya Mika bertubi-tubi.
Saat itu, pandangan mata Udin tampak menggelap. “Aku kecolongan. Setelah kami berdua mengobrol banyak hal selama tiga jam, Dimas memutuskan untuk pulang. Tapi pihak keluarga dari ayahnya yang juga politikus di negaranya sana, diam-diam ada di sini dan membawa Dimas.”
Mata Mika membulat tak percaya. Jadi, alasan Dimas tak ada di sini karena anak itu berada bersama keluarga dari ayahnya? Dengan kata lain, Dimas Fajar diculik.
“Tak hanya itu saja, bahkan mereka telah membuat pengakuan palsu ke kepala sekolahmu kalau Dimas lebih memilih fokus menyelesaikan kasus ini terlebih dahulu daripada sekolah. Dengan ini, dia dibebaskan dari segala tanggung jawabnya sebagai murid.”
Mika langsung mendecih tak percaya. Ia kesal sekarang. “Bukankah ini semua hanya alibi? Pihak keluarga Dimas ... mungkin saja mereka membawanya dan membuat pernyataan seperti tadi semata untuk membuat anak itu agar tak mendapat pengaruh dari Indonesia. Dengan begitu, mungkin saja perang ini sudah direncanakan dari awal!”
Pernyataan Mika tak salah. Udin justru membenarkannya. Untuk seorang bocah, ia mengakui Mika cukup lihai juga dalam memandang masalah ini. Ia menduga kalau ini adalah efek dari status pangeran Mika. Jadi, dia pasti sedikit mengerti politik.
Bagaimana pun juga, Udin telah diceritakan semua hal oleh Mika soal latar belakangnya. Jadi, ia sudah tahu akan hal ini. Memang tak masuk akal, tapi melihat anak ini yang lihai memakai sihir justru lebih tak masuk akal.
Udin pun menghela nafas. Ia mulai menjelaskan rencananya.
“Alasan kenapa Farel ada di sini karena dia bekerja di kantor kedutaan. Aku bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu secara kebetulan. Dia bersedia membantu kita dalam menangani masalah ini.”
Saat itu, Farel tersenyum kecil ke arah Mika. “Aku mendapat kesempatan untuk bekerja lebih layak di kantor kedutaan, meskipun jadi OB. Saat mendengar Pak Udin menyebut nama Mika tanpa sengaja, kupikir aku bisa membalas budi padamu atas insiden dengan Satpol PP kemarin.”
Mika tak bisa berkata-kata. Ia tertegun saat Farel mengatakan hal tadi. Bagaimana pun juga, pemuda ini juga telah membantunya dulu. Sedikit canggung ketika mereka berdua harus bertemu dalam keadaan seperti ini.
“Kau telah bekerja keras hingga di posisi ini.” Hanya itu yang bisa Mika katakan. Ia tersenyum tulus.
Menyadari ada drama emosional di saat-saat seperti ini, Udin langsung membuat ekspresi serius. “Jadi, begini. Farel tadi menyusup ke ruangan di mana Dimas berada. Dia memberikan alat komunikasi rahasia yang kuberikan padanya saat bekerja sebagai OB.”
Mika berdecap kagum. “Gila, kau bertindak dengan cepat sekali!”
“Ini adalah kerja seorang ahli,” sahut Udin dengan senyum penuh kebanggaan.
Meskipun tersenyum, raut wajah Mika tampak lesu. “Pada akhirnya kasus ini semakin panjang. Kupikir kita bisa menemukan titik terang secepat mungkin dan beban ini hilang dari pundakku.”
Udin mengeluarkan telepon dari saku jaketnya. “Di saat-saat seperti ini, orang yang menyerah lebih dulu adalah orang yang kalah. Jadi, jangan bersikap seperti tadi, Mika. Kita masih punya harapan.”
Mika terdiam. Bagaimana pun, konflik politik adalah masalah yang paling ia benci di dunia ini. Terlebih, politik di dunia modern sangat rumit. Ia telah mempelajari sejarah di dunia ini dari buku-buku yang ada di ruangan Ahmad dulu.
Udin menatap Farel dan Mika secara bergantian. “Untuk sekarang, kita bisa mendengar penjelasan dari Dimas soal apa yang terjadi!”
“Halo ... halo? Apakah Pak Udin bisa mendengar suaraku?”
“Dimas!” Mika langsung berseru dengan nada kaget.
“Mika?! Kau ada di sana?”
“Ya! Aku di sini!”
“Hahaha, gawat. Dugaanmu benar. Situasi politik yang ada sekarang ternyata lebih rumit dari perkiraanku. Selama aku ada di sini, aku jadi tahu kalau ... perang ini telah direncanakan. Kemungkinan terburuk itu bisa saja terjadi.”
Detak jantung Mika seolah terhenti saat Dimas berkata demikian. Ia bertanya-tanya dalam hati. Kalau memang suasananya sekacau ini, lantas kenapa Riko memimpikan soal keadaan damai itu? Apakah prediksi masa depannya salah kali ini?
Dengan nada menggebu, Mika berkata, “Jelaskan! Jelaskan padaku sejelas-jelasnya soal apa yang terjadi padamu!”