Chapter 40 - Teman Baru

2139 Kata
“Apakah Ayah tak bisa tidur?” Hal yang pertama didengar oleh Udin pagi ini hanyalah pertanyaan polos dari anak bungsunya yang sekarang sedang sarapan bersama. Di hadapannya, seorang wanita anggun dengan rambut seleher tampak menikmati santapan dengan tenang. Saat itu, Udin langsung tersenyum. Tebakan anak laki-lakinya ini terlalu benar. Udin benar-benar tak bisa tidur semalam gara-gara pertemuan mendadaknya dengan sosok Mika Jonathan. Kantung mata hitam di wajahnya sangat jelas menggambarkan hal itu. “Sayang, apakah kau yakin kalau dirimu baik-baik saja?” tanya istrinya dengan nada prihatin. Udin tertawa garing. “Aku tidak apa-apa ... serius. Aku baik-baik saja.” “Kau tampak menyedihkan. Jangan membohongiku dengan bicara seperti itu.” Tentu saja, bualan Udin yang seperti tadi langsung tak dipercayai oleh istrinya. Putra bungsu Udin yang sekarang berada di kelas 6 SD ini hanya menghela nafas panjang melihat aksi ayah dan ibunya yang sudah seperti drama cinta di meja makan. Anak itu merindukan sosok kakaknya yang semakin jarang pulang ke rumah semenjak mereka pindah ke kota ini. “Kakak kapan pulang ya, Bu?” tanya anak laki-laki itu dengan lesu. Ibunya langsung menoleh ke arah bocah berusia 12 tahun yang ada di sampingnya. “Hei, Adam. Pahamlah kalau kakakmu itu tinggal di asrama sekolah. Dia tak bisa pulang seenaknya saja.” Anak itu mengerucutkan bibir karena kesal. Udin yang melihat reaksi kecewa anak laki-lakinya pun hanya bisa mendengus geli. Ia tersenyum pada bocah bernama Adam itu. “Tenang saja. Saat Ayah bertemu dengan kakakmu kemarin, dia bilang akan pulang ke rumah beberapa minggu lagi setelah ujian tengah semester.” Mata Adam pun langsung cerah. “Benarkah itu?!” Udin mengangguk dengan semangat seolah menunjukkan pada putranya kalau ia juga ikut bahagia. Pria dengan gaya rambut jabrik ini melirik ke arah jam. Menyadari kalau ia akan terlambat, Udin segera berpamitan pada putra dan istrinya. Haari ini, anggota intel dengan nama samaran Udin itu memiliki tugas penting. Sejak kasus kecelakaan kereta kemarin, hampir 75% unit dari organisasi intel negara ini dikerahkan untuk menyelidiki biang keladi kecelakaan itu. Apa pun yang terjadi, seluruh anggota intel kali ini bertanggung jawab penuh dalam memastikan perang antar bangsa tak akan terjadi, termasuk Udin. Pria dengan mata sipit ini memasuki mobil hitamnya. Raut wajah Udin terlihat begitu serius. Ia segera tancap[ gas setelah berhasil keluar dari rumah. “Sekarang yang terpenting, aku harus segera menemui teman Mika yang bernama Dimas Fajar itu. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhirku untuk mencegah seluruh kemungkinan terburuk yang bisa terjadi!” Gigi Udin bergemeletuk. Dengan penampilan yang cukup kacau karena ia tak bisa tidur semalam, Udin melaju dan membelah jalan yang masih lengang. Bodo amat dengan fakta soal Mika kemarin malam, ia harus menyelesaikan kasus ini terlebih dahulu. Berpindah dari jalanan lenggang tadi, koridor utama dari lorong sekolah ini juga terlihat begitu sepi. Tempat ini adalah sekolah swasta berasrama yang bernama SMA Unggulan Esa. Di sinilah, Mika akan menghabiskan waktunya mulai dari sekarang. Pemuda dengan nama lengkap Mika Jonathan itu saat ini sedang berjalan mengikuti sosok guru di depannya. Hari ini adalah hari pertama Mika masuk sekolah setelah kejadian ‘sakit punggungnya’ dua hari yang lalu. Sejauh mata memandang, Mika tak bisa menemukan satu pun siswa berkeliaran di luar kelas saat ini. Maklum saja, pelajaran sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu jadi semua murid pasti sudah mulai belajar. “Ini adalah kelasmu,” ujar guru tadi secara tiba-tiba. Ia dan Mika kini berhenti di depan pintu dengan nama Kelas 3-A. Melihat Mika yang hanya bengong, guru itu tersenyum. Ia berujar, “Kalau begitu ayo kita masuk. Yang lainnya pasti sudah menungguku.” Mika hanya bisa mengangguk. Dalam hatinya, pemuda ini berkecamuk. Dulu saat di Kerajaan Mimika, ia tak bisa begitu akrab dengan teman-teman sekelasnya karena Mika dikenal dengan sikap temperamental. Jadi, sebagian orang menganggap jika pangeran ini adalah orang sombong. Padahal kenyataannya tak seperti itu. Apakah kali ini ia bisa akrab dengan anak-anak ini? Mika meragukannya. Ia pun menghela nafas begitu panjang. Sudahlah, memikirkan hal seperti tadi sangat tak berguna. Biasanya dia juga cuek. Kenapa kali ini harus gugup? Saat Mika melangkahkan kaki masuk, seluruh mata memandangnya. Pemuda ini mengabaikan itu dan tetap berjalan mengikuti wali kelasnya dengan wajah datar. Guru itu menyapa seluruh kelas. “Selamat pagi. Maaf ya karena sedikit terlambat. Seperti yang kalian tahu, hari ini kita kedatangan teman baru.” Mika yang saat ini merasa dipandang oleh gurunya langsung memperkenalkan diri. “Saya adalah Mika Jonathan, biasa dipanggil Mika. Mohon bantuannya.” Seluruh kelas langsung riuh tanpa sebab. Mika yang sedikit menundukkan kepala tadi langsung menatap semua orang dengan heran. Sepertinya, ia diterima dengan baik dan tangan terbuka. Pemuda ini menemukan sosok Jojo dan Budi di barisan kedua yang bersorak ke arahnya. Di lain sisi, Asa juga terlihat di kursi belakang. Gadis itu tersenyum simpul ke arah Mika. Sedangkan alasan kenapa Dimas tak terlihat karena hari ini anak itu izin tidak masuk. Sepertinya, berada di kelas ini tak buruk juga. Mika pun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merekahkan senyumnya. “Apa ada hal yang ingin kalian tanyakan?” Guru itu memandang seluruh isi kelas. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh murid kelas ini. Namun mereka takut kalau pertanyaannya akan menyinggung sosok pemuda itu, terlebih ini adalah urusan pribadi. Tapi, sebagian besar dari mereka bertanya-tanya. Mika yang awalnya terkenal di media sosial karena memulung sampah dengan paras tampannya itu kenapa tiba-tiba jadi cucu kepala sekolah yang kaya? Apakah dia cucu yang hilang atau semacamnya? “Kalau tak ada yang ditanyakan, kau bisa duduk sekarang Mika. Ada kursi kosong di belakang,” ujar sang guru pada pemuda itu. Mika pun mengangguk paham. Sesi perkenalan ini ternyata lebih mudah dari yang ia bayangkan. Mika pun berjalan menuju meja kosong. Saat sudah di depan mata, pemuda ini tak mengira kalau meja kosong tadi adalah meja di samping Asa. “A-aku sebangku denganmu?” desis Mika dengan nada kaget. Asa yang mendengar itu tersenyum miring. “Aku juga siswa baru, jadi duduk sendiri. Kedatanganmu di sini berarti kau menjadi teman sebangkuku.” Saat itu, Mika tak bisa bereaksi apa pun selain mengukirkan senyum tak percaya. Kenapa dunia ini sesempit daun kelor? Ia sama sekali tak mengira kalau akan sebangku dengan Asa. Dengan terpaksa, pemuda ini pun duduk di sana. Guru wali kelas itu pun langsung melanjutkan pelajaran. Pada akhirnya, semua berjalan begitu cepat. Bel istirahat telah berbunyi dan guru tadi berjalan keluar meninggalkan isi kelas yang mulai riuh. Mika menghela nafas panjang. Kepalanya berdenyut sekarang. Ia sama sekali tak paham dengan pelajaran bernama kimia tadi. Kalau terus begini, Mika pasti akan menjadi siswa dengan peringkat terakhir. Ternyata sekolah di zaman ini sangat mengerikan. “Kenapa wajahmu seperti orang yang menahan BAB seperti itu?” Asa menggoda Mika karena merasa lucu dengan ekspresi anak itu. “A-apa katamu?” Tentu saja Mika tak terima. “Kau ini bisanya cuma komentar dan meledekku dari dulu, aku sedang stres. Jadi, jangan membuatku kesal.” “Yah, kimia memang susah sih. Tapi—“ “Asaaaaa!” Suara yang melengking keras tadi langsung menghentikan niat bicara gadis ini. Asa menoleh dan menemukan teman-teman perempuannya datang menghampiri. Mika mengabaikan kedatangan mereka. Ia membenamkan kepala di meja karena merasa pening. “Asa, ayo kita pergi ke kantin!” Gadis dengan rambut sebahu yang berteriak tadi langsung mengajak Asa dengan senyum cerahnya. Di samping gadis tadi, ada siswi lain dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Kacamata yang membingkai wajahnya tampak bersinar terkena cahaya matahari. Anak ini tersenyum menggoda ke arah Asa. “Hehe, Asa kayaknya bahagia banget sebangku sama Mas Crush,” celetuk anak itu seenak jidatnya. Perkataan anak ini langsung dibalas gelak tawa oleh gadis berambut sebahu tadi. Mereka menertawai Asa bersama. Bagaimana pun juga, Asa sudah menjalin hubungan persahabatan dengan seluruh isi kelas ini sejak ia baru pertama kali datang dulu. Jadi, tak heran kalau seluruh anak di sini akrab dengannya. Asa pun langsung mengerucutkan mulut kesal dengan ledekan tadi. Ia memandang Mika dengan tatapan jijik dibuat-buat. “Sejak kapan aku menjadikan Mika sebagai Mas Crush coba? Kalian ini aneh-aneh saja.” Merasa namanya disebut, Mika langsung memandang Asa dengan tatapan tajam. “Aku sama sekali tak mengerti bahasamu tadi. Tapi saat kau menyebut namaku, aku merasa dalam bahaya.” Senyum menantang ditunjukkan oleh Asa. “Oh ya? Apakah kau merasa aku akan mendorongmu ke dalam lautan terdalam?” Pandangan mata sengit langsung ditunjukkan pemuda ini. “Tidak, lebih dari itu!” Kedua gadis yang sekarang berada di samping meja Asa tadi pun tertawa keras. Mereka gemas melihat interaksi dua anak ini. Bagaimana pun, dua orang siswi ini pernah diajak Asa untuk makan bakso di tempat Mika bekerja dulu. Jadi, mereka sudah tahu Mika dari sana. Dua anak ini juga tahu bagaimana Mika yang kaget melihat sosok Asa dulu sampai ia tak sengaja menjatuhkan semangkok bakso. Tapi mungkin, Mika yang tak ingat dengan mereka berdua. Ini bisa dilihat jelas dari tatapan Mika yang melihat keduanya sebagai orang asing. Gadis berambut panjang dengan kacamata tadi langsung tersenyum. “Halo, Mika. Perkenalkan aku adalah Dina Saputri. Aku penyuka cowok keren dan tampan.” Setetes keringat langsung muncul di dahi Mika mendengar perkenalan aneh ini tadi. Ia memandang gadis bernama Dina ini dengan tatapan tak percaya. Perkenalan macam apa itu? Apakah anak ini sahabatnya Asa? “S-salam kenal. Aku Mika.” Hanya itu yang bisa Mika katakan karena ia terlalu bingung harus merespons seperti apa. Melihat reaksi aneh dari Mika, Asa pun langsung tertawa. “Anak ini memang sudah gila. Abaikan saja dia.” “Hei, Asa. Kenyataan kalau aku menyukai cowok tampan dan keren tidak bisa dipungkiri. Meskipun begitu, aku tidak akan mengambil Mas-Mas yang menjadi gebetanmu ini ahahaha.” Muka Asa langsung merah dalam sesaat. Meskipun begitu ia berpura-pura kesal, “Kau ini apa-apaan? Siapa juga yang akan menjadikan bocah nggak jelas ini sebagai gebetan?” Baik Dina dan teman berambut sebahu yang ada di sampingnya langsung tertawa keras mendengar itu. Asa benar-benar tak jago membohongi orang lain. Anak ini kelihatan sekali tertarik dengan Mika. Di samping Dina, seorang gadis berambut sebahu dengan matanya yang ditutup satu seperti bajak laut langsung tersenyum. “Kalau aku adalah Putri Rahayu. Kau bisa memanggilku Ayu.” “K-kenapa kau menggunakan tutup mata seperti itu? Apakah dirimu sakit?” Mika bertanya dengan ekspresi aneh. Gadis bernama Ayu ini pun tertawa. “Wkwk tentu saja tidak. Ini hanyalah hiasan semata.” “Dia ini chunibyou. Biasa, orang halu,” sahut Asa yang langsung membuat Dina, si gadis berambut panjang tadi tertawa keras. Mika menoleh ke arah Asa dengan tatapan tak mengerti. “Chuni ... chuni apa?” Pemuda ini cukup kebingungan saat bocah-bocah seusianya saling mengobrol. Bagaimana pun juga, mereka sering menggunakan bahasa gaul yang sama sekali tak dipahami olehnya. Dulu Putri hanya memberikan kemampuan berbahasa Indonesia yang dasar pada Mika, jadi pemuda ini sedikit tak paham. Dina langsung tertawa. “ Singkatnya, Ayu ini gila.” “Hei, jangan meledekku seperti itu. Aku ini hanya menyukai hal-hal berbau sihir dan dunia fantasi.” Ayu langsung mengajukan pembelaan atas ledekan teman-temannya tadi. Saat itu, pandangan Mika langsung tertarik. “Sihir katamu?” “Waahh! Apakah kau juga paham dengan hal-hal seperti itu, Mika?” Gadis berambut sebahu ini langsung bertanya dengan nada girang. “Tidak hanya paham, aku juga .... ah!” Mata Mika langsung melebar sempurna karena menyadari kesalahannya. Saat itu Mika langsung menghentikan ucapannya tadi. Hampir saja ia mengatakan pada orang-orang ini kalau dirinya bisa menggunakan sihir. Untung Mika langsung sadar akan ucapannya tadi dan berhenti bicara. “Heee? Bagaimana maksudmu?” tanya Ayu tak mengerti. Mika tampak kesusahan merangkai kata untuk mencari alasan. Namun, di saat yang tepat, Jojo tiba-tiba datang menghampirinya dengan raut ceria. Pemuda tanpa alis ini tersenyum lebar. “Hey yoo, lagi ngrumpi apa nih? Aku ikutan dong!” “Astaga, kau ini selalu membuatku kaget!” Gadis berkacamata bernama Dina tadi langsung menjewer Jojo karena kaget. Pemuda yang suka dengan hal-hal takhayul dan horor itu langsung merengut kesakitan. Di samping Jojo yang sedang dijewer oleh Dina tadi, ada Budi yang tampak santai berjalan ke arah Mika duduk sekarang. “Kalian kayaknya ribut terus sejak tadi, ada apa sih?” tanya Budi dengan wajah datar dan kakunya. “Oh iya, Mika ini teman seasrama kalian berdua sama Dimas kan ya?” tanya Ayu seolah baru mengingat sesuatu. Baik Jojo dan Budi saat itu langsung mengangguk. Mereka kemudian jadi mengobrol berbagai macam hal. Dalam hati, Mika bersyukur karena tak ada lagi yang penasaran dengan ucapannya tadi. Pemuda ini ikut mengobrol dengan anak-anak ini. Dalam hatinya, ia berharap kalau Dimas Fajar sekarang sudah bertemu dengan Udin. Semoga pertemuan dua orang yang telah direncanakan olehnya itu bisa berjalan mulus. Sepulang sekolah nanti, pokoknya Mika harus cepat-cepat minta izin keluar dan menghampiri Udin. Meskipun begitu, perkiraan Mika soal tak ada lagi orang yang penasaran dengan ucapannya tadi salah. Diam-diam, Asa memandang penasaran ke arah pemuda itu. Tatapan matanya tampak selidik. ‘Apa sih yang mau dikatakan Mika tadi?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN