Chapter 39 - Pengakuan

1689 Kata
Suara nafas yang tersengal-sengal kini terdengar jelas. Pemuda itu membungkuk dengan ekspresi wajah lelah yang nyata. Ia menyeka peluh yang terus menetes di dagunya. “Berlari malam-malam adalah hal yang merepotkan,” keluh Mika sambil menghela nafas panjang. Untuk sesaat, ia jadi ingat dengan kejadian dimana ponselnya dicuri dulu. Pemuda itu tampak celingak-celinguk. Ia memperhatikan sekitar. Sepertinya sekarang baru jam delapan sehingga lokasi pusat kuliner yang menjadi tempat Mika bekerja dulu masih ramai. Pemuda itu berjalan pelan menuju warung bakso Udin. “Kalau tidak salah, tempatnya ada di sekitar sini,” ujar Mika seraya mengingat-ingat lokasi warung bakso yang menjadi tempat kerjanya dulu. Namun, warung bakso itu tak kunjung ditemukan olehnya. Dia masih ingat betul kalau warung itu adalah kedai berwarna biru yang ada di hadapannya sekarang. Namun, bukannya ada warung bakso di sana tapi justru warung sate. “Kenapa warung bakso punya Udin tiba-tiba jadi warung sate?” Mika benar-benar tak paham. Ia bukanlah orang tua sehingga mustahil dirinya pikun. Pemuda ini masih ingat dengan jelas kalau lokasi warung bakso Udin memang di sini. Masa iya bosnya itu bangkrut dan tidak berjualan bakso lagi sekarang? Namun, sedetik kemudian mata Mika melebar. “Tunggu, tidak mungkin Pak Udin bangkrut. Warung bakso itu hanyalah pekerjaan sampingannya, ada kemungkinan ia tak lagi membuka warung bakso karena misinya di lokasi ini sudah selesai.” Benar, Mika baru ingat suatu fakta kalau Udin bukanlah seorang warga sipil biasa. Dia adalah anggota organisasi rahasia, yang pernah Putri sebut sebagai intel. Pekerjaan Udin pun berpindah-pindah. Jadi, ada kemungkinan kalau sekarang Udin diberi tugas penting dari organisasinya dan tak ada hubungannya lagi dengan warung bakso ini. Pria itu pasti menyamar lagi. Ini adalah suatu kebenaran yang mutlak. “Pertama-tama, aku harus memastikan dulu kebenarannya.” Pemuda itu merapikan baju. Ia tak mau disangka sebagai gembel atau gelandangan karena penampilannya yang acak-acakan. Mika berjalan santai memasuki warung sate itu. Meskipun demikian, kedatangan pemuda yang dikenal sebagai artis dunia maya tanpa disadarinya itu langsung menarik perhatian. “Dia tampan sekali!” “Astaga, bukankah itu Mas PK yang terkenal di media sosial?” “Wow, tak kusangka aku bisa melihatnya sedekat ini.” Mika langsung berekspresi canggung. Ia malu setiap kali orang memandangnya secara terus-terusan saat pergi ke suatu tempat. Meskipun begitu, Mika berusaha mengabaikannya. Ia berjalan mendekati seorang pria paruh baya yang sibuk membakar sate. “Permisi, Tuan. Bisa minta waktunya sebentar?” Tukang sate itu langsung tersenyum ke arah Mika. “Iya, apakah Anda ingin memesan makanan?” Mika menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya ingin bertanya. Bukankah dulunya tempat ini adalah warung bakso milik Pak Udin? Sejak kapan Anda membuka kios sate di sini?” Pria tadi langsung menunjukkan reaksi terkejut. “Sejujurnya sudah hampir tiga minggu, kios sateku buka di sini. Pak Udin yang kau maksud tadi menyewakan lokasi warung baksonya padaku. Dia bilang ada kesibukan penting sehingga usahanya tak bisa dilakukan.” “Kesibukan ya ...?” Mika tampak berpikir keras. Wajahnya menunjukkan keraguan sekarang. Melihat tukang sate tadi yang sibuk menyajikan makanan-makanan, Mika jadi merasa sungkan karena mengganggu waktunya. Pemuda itu pun memutuskan untuk pamit saja karena sudah mendapat jawaban. “Sebenarnya, ... orang yang kau cari itu ada di sini sekarang.” Perkataan yang tiba-tiba muncul dari tukang sate itu membuat Mika melebarkan mata. Ucapannya yang pelan tadi terdengar jelas di telinga Mika karena lokasi mereka yang berdekatan. “A-apa katamu?” Pemuda itu langsung terbata-bata. “Meja nomor 17. Seorang pria berkacamata dengan kemeja berwarna hitam. Aku sedang membuatkan pesanan untuknya. Dia tadi datang ke sini untuk makan sate,” ujar tukang sate itu sambil melirik orang yang dimaksud. Saat itu, pandangan Mika langsung tertuju pada lokasi meja nomor 17. Benar saja, di sana ada seorang pria dengan ekspresi datar yang sedang menunggu makanan. Raut mukanya tak bisa dilihat dengan jelas karena ia mengenakan kacamata dan topi sekarang. Tapi entah kenapa, gaya rambut orang itu terasa seperti Udin. Mika pun langsung tersenyum lebar. “Terima kasih banyak. Informasinya sangat membantu.” Pria paruh baya yang tak tahu apa-apa ini hanya bisa tersenyum. “Sama-sama. Apa kau juga ingin menyewa lokasi usaha padanya? Pria itu cukup terkenal dalam urusan real estat. Anak muda sekarang sudah sukses-sukses ya.” Ditanya seperti itu, Mika langsung tersenyum ramah. “Tidak, saya tidak akan menyewa tempat usaha darinya. Tapi saya ingin mengajak orang itu berbisnis.” Setelah itu, Mika justru pamit pada tukang sate tadi. Pria paruh baya itu tampak heran karena ia pikir Mika akan langsung menemui Udin yang kebetulan sedang makan di sini. Namun ia tak mau ambil pusing, setelah satenya siap, pria tadi langsung mengantarkannya ke meja Udin. “Selamat malam, Pak. Ini seporsi satenya.” Udin tampak tersenyum. “Terima kasih ya, Pak Slamet.” “Sama-sama. Ngomong-ngomong, tadi ada anak muda yang mencari Anda dan bertanya pada saya. Katanya dia ingin mengajakmu berbisnis. Tapi sayangnya bocah itu malah berpamitan pergi,” cerita tukang sate itu. Ada sedikit reaksi terkejut di wajah Udin. Pasalnya sangat jarang ada orang yang mencarinya seperti ini, terlebih orang itu mencarinya dengan nama samaran ‘Udin’ tadi. Bagaimana pun, Udin kan bukan nama aslinya. Siapa kira-kira pemuda itu? Beberapa saat pun telah berlalu. Udin telah selesai memakan sate di warung Pak Slamet tadi. Sejujurnya ia tak berniat datang ke lokasi warung baksonya ini dulu. Pria itu hanya lelah dengan urusan pekerjaan. Tanpa sadar dia berjalan ke sini dan akhirnya memutuskan untuk makan sate. Setelah membayar, Udin berjalan keluar dari lokasi pusat kuliner yang berada di Jakarta Utara ini. Gemerlap lampu yang ada di lokasi tadi perlahan-lahan sirna karena Udin semakin menjauh. Langkah kakinya membawa pria itu pergi. Dia hanya ingin menuju ke halte bis yang ada di sana dan pergi melanjutkan misi lagi. Udin berjalan dengan begitu tenang. Ia mengambil lokasi yang jarang dilewati oleh banyak orang kecuali bus. Bagaimana pun, pria ini tak ingin mencari perhatian. Ia harus cepat pergi dari sini dan melanjutkan misi kembali. Namun secara tiba-tiba, pria itu menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas panjang seraya melirik ke belakang yang tak ada siapa pun. Hanya ada Udin seorang di sana. “Aku tidak tahu apakah makan sate di sela-sela jam kerja tadi adalah suatu kesalahan atau bukan. Tapi satu hal yang pasti, aku merasakanmu terus mengikutiku sejak tadi.” Saat itu, Udin mengatakan kebenaran sambil melirik ke sekitar. Ia tak mau basa-basi, terlebih pada seorang penguntit. Jadi, Udin ingin mengakhiri ini sekarang juga. Pria itu tampak mengerutkan kening. Ia tak tahu di mana lokasi penguntit tadi namun keberadaannya masih bisa dirasakan oleh insting Udin yang sudah terlatih selama beberapa tahun. “Bagaimana pun, aku sudah tahu kalau kau mengikutiku dari lokasi pusat kuliner tadi. Apa yang kau inginkan?” Saat itu, gelak tawa langsung terdengar. Udin sontak mempertajam matanya dan mengintai lokasi sekitar. Tiba-tiba, anggota intel ini mendengar suara bising dari pohon besar yang ada di sampingnya. Sosok penguntit yang sejak tadi mengawasi Udin dari atas pohon itu sontak turun. Ia menimbulkan suara gedebuk yang keras saat kakinya menyentuh trotoar. Sosok itu masih tertawa. Ia kemudian mendongakkan wajah dan bertatapan langsung dengan Udin. “Mika ...?” Senyum pemuda itu langsung merekah lebar. “Ya, ini adalah aku. Lama tak berjumpa, Pak Udin.” “Mungkinkah kau adalah sosok pemuda yang mencariku kata tukang sate tadi?” “Eh? Apakah tukang sate itu memberitahumu? Sayang sekali, kejutanku tak berjalan mulus.” Bukannya bereaksi santai ataupun tersenyum seperti Mika, Udin justru menunjukkan reaksi serius. Atmosfer di sini terasa tegang karena respons tak ramah dari pria yang bekerja sebagai anggota intel negara itu. Bagaimana pun, Udin masih ingat bagaimana Mika yang dulu mengundurkan diri sebagai bawahannya gara-gara ia mencurigai anak ini sebagai pelaku kejahatan yang mengelupas kulit korbannya. Sejujurnya, kasus itu belum ditutup namun Udin sengaja mengesampingkan hal tersebut karena ada kasus yang lebih gawat saat ini. Jadi, penyelidikannya soal pelaku kejahatan pengelupasan kulit itu dihentikan sementara. Meskipun Udin tahu kalau Mika sudah berada di Jakarta karena ia bertemu anak ini saat menjemput Asa kemarin, tapi ia masih tak mengira Mika akan menemuinya malam ini. Pria dengan rambut dibelah tengah ini pun langsung memasang sikap waspada. “Apa yang kau inginkan?” Melihat reaksi Udin yang sejak tadi tak bersahabat, Mika langsung menunjukkan raut sedihnya. “Kenapa responsmu seperti tak suka saat melihatku? Aku tak mengira kalau kau masih mencurigaiku soal kasus kemarin.” “A-apa?” Udin kaget dengan ekspresi Mika yang seperti tadi. “Tidak, bukan seperti itu. Sikapmu yang membuntutiku seperti sekarang justru mencurigakan, Mika.” “Tapi, kau masih jelas mencurigaiku. Sebenarnya aku bertanya-tanya sejak saat itu, apa yang membuatmu yakin kalau aku terlibat dengan semua kasus penganiayaan itu?” “Intuisi. Hanya itu. Berapa kali kau mengelak, aku akan tetap yakin kalau kau berhubungan dengan semua itu. Coba saja dulu kau mau kuajak bekerja sama dan kita bisa berkomunikasi dengan baik, kau tak akan kucurigai seperti sekarang.” Mika terdengar menghela nafas. Ia tak mau basa-basi seperti sekarang. “Sejujurnya, aku ingin menemuimu karena masalah penting.” “Maksudmu?” Mika tersenyum penuh makna. “Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan mengaku kalau aku memang pelaku kejahatan itu.” Saat itu, peluh langsung membanjiri wajah Udin. Apa sebenarnya tujuan Mika menemuinya sekarang? Kenapa ia tiba-tiba mengaku seperti ini? Saat itu, Udin bisa melihat bagaimana Mika mengucapkan hal aneh. Ada kabut berwarna hitam yang tiba-tiba muncul dari tangan pemuda itu. Kabut tadi menyentuh batu dan membuat batu-batu kecil itu melayang. Semuanya terasa tak masuk akal. Udin melebarkan matanya lebar-lebar. Apa yang dilihatnya sekarang seperti mimpi saja. “Apa yang sebenarnya kulihat?” Saat itu Mika langsung tersenyum. “Aku sudah tidak peduli bagaimana sikapmu padaku karena kita tak memiliki hubungan penting seperti bos dan karyawan lagi. Jadi, aku memberitahumu soal hal ini. Tapi, ada satu hal yang pasti. Aku ingin meminta bantuan darimu.” “A-apa?” Udin benar-benar tak paham dengan semua yang terjadi sekarang. “Kau adalah anggota penting dalam organisasi rahasia itu kan? Jadi, kau pasti bisa membantuku mengatasi masalah ini. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menghentikan perang!” “Perang? Sebenarnya ... apa yang kau katakan sejak tadi, Mika?!” Mika masih tersenyum penuh arti. “Ini akan menjadi sebuah kisah yang panjang untuk diceritakan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN