“Perang itu mengerikan kan?”
Itu adalah ucapan yang pertama kali muncul dari mulut Mika Jonathan saat ia kembali dari UKS. Saat ini ia sudah berada di dalam kamar asrama bersama tiga temannya.
Baik Jojo, Budi, maupun Dimas langsung saling pandang. Berbeda dengan reaksi dua orang lainnya, pemuda bernama Dimas Fajar itu lebih menunjukkan ekspresi tenang. Bagaimana pun, ia seolah mengerti apa maksud perkataan Mika.
Dimas Fajar adalah pihak yang terlibat dalam hal ini. Mantan ayahnya yang berasa dari Cina meregang nyawa saat menjalankan tugas diplomatik di negara ini bersama perwakilan dari Amerika.
Mungkin saja, perang mengerikan itu tak bisa dihindari bila tak ditemukan jalan keluar.
Dimas menatap datar ke arah Mika yang terbaring di atas tempat tidur asrama. Di lain sisi, Mika tampak menampilkan mimik wajah tenang seraya memejamkan mata.
“Bro, mengawali percakapan dengan teman-teman barumu menggunakan topik perang itu tidak keren. Lagian kenapa juga tiba-tiba membahas perang sih?” Jojo, si pemuda tanpa alis, langsung menyahut dengan nada sinis.
Setali tiga uang dengannya, Budi, si pemuda berkacamata yang terkenal pintar ini memandang Mika dengan raut wajah tak suka. Untuk kali ini, ia setuju dengan Jojo. Anak bernama Mika yang sekarang menjadi teman seasrama mereka ini terlalu aneh.
“Kau juga mengkhawatirkan perang itu ya? Dirimu peka juga.”
Akan tetapi, reaksi tenang dari Dimas Fajar itu membuat Budi dan Jojo tercengang. Dua orang pemuda ini tahu kalau beberapa hari terakhir Dimas disibukkan dengan kasus ayahnya. Apakah mungkin kata perang yang diucapkan oleh Mika tadi berhubungan dengan kecelakaan kereta itu?
“Aku sama sekali tak mengerti dengan isi otak kalian berdua,” ujar Budi dengan ekspresi marah. Ia duduk di atas tempa tidurnya. “Kenapa membahas suatu hal yang belum tentu terjadi seperti perang itu?”
Jojo mengangguk setuju. Ia tampak sibuk merapikan barang bawaan Mika karena rasa bersalah yang menyebabkan punggung pemuda tadi terkilir.
Pemuda itu buka suara, “Bagaimana pun, kata perang itu hanyalah suatu hiperbola yang dibuat-buat oleh media. Mana mungkin akan terjadi perang di zaman serba damai seperti sekarang? Pasti Indonesia lebih memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan masalah ini.”
“Tapi bagaimana kalau kemungkinan buruk itu terjadi?”
“Apa katamu?” Saat itu Jojo menoleh dengan alis menukik tajam. Ia memandang Mika tak suka.
Sebodoh-bodohnya dan sekonyol-konyolnya sosok Jojo Sulistyo, ia cukup ahli dalam mengerti sejarah. Baik ia, Budi, dan Dimas adalah trio penyuka sejarah. Perang adalah sebuah mimpi buruk dalam sejarah manusia. Semua orang tahu hal itu.
Entah kenapa mendengar Mika dengan mudahnya mengatakan kalau perang akan terjadi membuat hatinya mendidih. Jojo memandang Budi dan Dimas. Sepertinya kedua temannya itu juga terkejut dengan reaksi Mika tadi.
“Apa yang membuatmu yakin?” tanya Budi tak mengerti.
Saat itu, Mika terdengar mengucapkan kata-kata aneh yang tak pernah didengar oleh mereka bertiga. Sedetik kemudian, pemuda yang awalnya tak bisa bangun sendiri ini tampak duduk dengan begitu santai tanpa kelihatan sakit.
“Keberadaanku di sekolah ini untuk mencegah perang itu terjadi. Setahun dari sekarang, kalau apa yang kita lakukan hari ini salah, maka perang itu akan benar-benar meletus.”
Itu adalah kenangan yang berputar dalam kepala Budi saat dirinya duduk bersama Mika dan Jojo dalam kamar asrama ini.
Hari sudah menjelang malam, namun sosok Dimas Fajar tak kunjung terlihat. Baik Jojo maupun Budi saat ini masih mengenakan seragam sekolah yang sama seperti tadi.
Pemuda berkacamata dengan raut wajahnya yang selalu terlihat kaku ini memperhatikan Mika yang sedang menikmati coklat panas. Entah kenapa, ada sesuatu dari diri Mika yang membuat Jojo, Budi, maupun Dimas merasa tertarik.
Berbeda dengan kebanyakan orang, Mika memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik. Budi kira Mika itu tipe orang kaku yang suka mengomel atau tuan muda yang maunya ini dan itu, mengingat anak tersebut adalah cucu kepala sekolah.
Namun, Mika beda. Ia bisa mengimbangi sifat konyol Jojo, Dimas ataupun dirinya. Meskipun begitu, aura serius dan emosional juga masih terpancar dari dalam diri Mika. Masih jelas teringat dalam otak Budi bagaimana Mika mengatakan secara gamblang tujuannya bersekolah di sini secara tiba-tiba.
Pemuda itu bilang jika ia memiliki tujuan untuk menghentikan perang yang akan terjadi dalam waktu setahun lagi. Terdengar aneh pada awalnya, namun penjelasan yang diutarakan oleh pemuda ini semalam membuat mereka bertiga mengerti.
Entah ini sebuah kebetulan yang istimewa atau bukan, namun Mika dan Dimas berhubungan. Jika Mika bisa menghentikan perang yang akan terjadi itu melalui perantara Dimas, semuanya pasti akan menjadi mudah.
Saat itu, suara pintu yang tiba-tiba dibuka membuat seluruh orang memperhatikan sosok Dimas yang berjalan masuk asrama dengan wajah lelahnya. Alis Budi mengernyit.
“Apa yang membuat OSIS tadi menahanmu sampai selama ini?” tanya Budi.
Jojo pun mengangguk setuju. Ia melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh. “Ya, OSIS itu sudah gila. Mereka menahanmu selama ini. Untung tidak ada lelembut yang mengikutimu.”
Mendengar sambutan kedua temannya yang seperti itu, Dimas terlihat menghela nafas. Mimik wajah pemuda ini memperlihatkan rasa lelah yang begitu nyata. Ia mendudukkan diri bersama Mika, Budi, dan Jojo yang sejak tadi lesehan di lantai.
“OSIS menahanku, terlebih ada kepala sekolah di sana tadi. Mereka membahas—“
“Tunggu, kepala sekolahku? Maksudmu nenekku?” potong Mika yang langsung dibalas anggukan.
“Ceritanya begitu panjang. Yang pasti, mereka memintaku untuk fokus pada salah satu hal. Situasi politik dan hubungan luar negeri bangsa ini sedang memanas sekarang. Kepala sekolah memberiku satu pilihan, aku harus fokus sekolah dan mengabaikan segala hal soal kasus kecelakaan ayahku atau aku fokus membereskan masalah itu sampai kelar, setidaknya hingga situasi yang ada sekarang tak begitu memanas.”
Ketegangan jelas terlihat di wajah Budi, Mika, dan Jojo saat mendengar perkataan Dimas. Hanya diam yang bisa mereka berikan sebagai respons. Suara detikan jam pun mengisi keheningan ini.
“Lalu, apa jawabanmu?” Budi memastikan hal ini seraya memandang serius ke arah Dimas.
Butuh waktu yang lama bagi pemuda ini untuk menjawab. Ia terdiam lalu menjawab dengan nada menggantung. “Aku ... tak tahu.”
“Ayolah, Bro. Memutuskan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah,” keluh Jojo seraya menarik nafas panjang.
Mereka bertiga yang saat ini termenung jadi ingat dengan perkataan Mika semalam.
“Keberadaanku di sekolah ini untuk mencegah perang itu terjadi. Setahun dari sekarang, kalau apa yang kita lakukan hari ini salah, maka perang itu akan benar-benar meletus.”
Tak salah lagi. Ucapannya semalam adalah sebuah kebenaran. Kalau apa yang kita lakukan dan putuskan hari ini salah, ini memberikan dampak yang cukup besar di masa depan. Tampaknya Dimas memikirkan hal itu sehingga ia masih belum berani memutuskan.
“Sampai kapan nenekku memberikanmu waktu untuk memutuskan jawabannya?”
Dimas langsung menoleh ke arah Mika. “Hanya 1×24 jam.”
“Gila!”
Jojo, Budi, dan Mika mengucapkan kata tadi dengan serempak. Mereka terlalu kaget dengan pernyataan tadi. Memutuskan masalah segenting ini dalam waktu 1×24 jam pun rasanya masih belum cukup yakin.
Budi bingung sekarang. Semalam Mika bilang kalau neneknya tahu akan masalah perang yang akan muncul ini, namun kenapa Kepala Sekolah justru memberikan pilihan aneh macam itu pada Dimas?
“Sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengan ayahku yang sudah tewas karena dia pun mengabaikan kami. Aku ingin sekolah normal seperti biasa dan tak dibebani oleh semua ini.”
Perkataan Dimas yang dipenuhi nada kelelahan itu membuat Jojo dan Budi memandangnya prihatin. Namun berbeda dengan mereka, Mika terlihat berpikir keras.
“Tapi kalau aku tidak segera membereskan hal ini, kehidupan normalku tak bisa kunjung selesai. Aku sudah lelah dan ingin mengakhirinya secepat mungkin. Namun, aku takut kalau tindakanku salah. Sama seperti ucapan Mika semalam, aku takut perang yang digembor-gemborkan media itu benar-benar meletus.”
“Itu adalah kemungkinan terburuk. Pasti ada cara untuk menyelesaikannya,” hibur Jojo dengan nada prihatin.
Mika menghela nafas begitu panjang. “Jojo benar. Pasti ada cara untuk menyelesaikan hal ini meskipun aku juga tak tahu. Tapi ....”
Sebelah alis Budi terangkat ke atas. “Tapi?”
Saat itu, senyum Mika merekah. “Aku sepertinya tahu siapa yang bisa membantu kita dalam hal ini.”
Saat itu, mereka bertiga langsung tercengang dan tak bisa berkata apa pun. Namun Jojo yang berada di samping Mika langsung menghela nafas panjang dan menyikut perut pemuda itu.
“Bodoh! Kenapa kau tidak mengatakannya saja dari tadi, Mika? Kalau tahu kau punya solusi, kami bertiga tidak akan pusing memikirkan ini dan itu,” keluh Jojo tak habis pikir.
Meskipun meringis menahan sakit dan amarah yang rasanya ingin meledak, Mika hanya bisa tersenyum. “Masalahnya aku baru saja ingat, woi!”
“Sudahlah, apa ini waktunya untuk berdebat lagi?” Mata Budi berkedut karena menahan marah. Ia benar-benar tak habis pikir dengan dua orang ini.
Dimas tertawa melihat reaksi itu. Entah kenapa Mika dan Jojo kalau berdebat seperti menampilkan dinamika yang membuat siapa saja tertawa. Setelah itu, Budi akan mengambil tugas seperti ibu yang memarahi anaknya. Ini semua sangat menghibur.
Dimas bersyukur memiliki teman-teman yang peduli seperti mereka. Apa pun yang terjadi, semua masalah yang ada sekarang berpusat dalam dirinya. Kalau ia bisa menangani ini, tak akan ada masalah lagi.
“Pertama-tama, bagaimana aku bisa melarikan diri dari asrama ini?”
Namun, pertanyaan Mika kali ini menarik perhatian ketiga temannya yang lain. Dimas langsung mengerutkan kening tak mengerti. Ia memandang Mika dengan heran.
“Mungkinkah kau akan meminta bantuan dari orang luar dan berniat kabur dari asrama malam ini?”
Saat itu, Mika langsung tersenyum lebar ke arah Dimas. “Tepat sekali. Lebih cepat lebih baik. Kalau aku bisa menemui orang itu malam ini, besok kita bisa memulai rencana baru dan kau bisa memutuskan jawaban dari masalahmu.”
Saat itu, Budi, Jojo, dan Dimas langsung saling pandang. Keamanan asrama sekolah ini adalah suatu hal yang mutlak, terlebih lagi tak diberlakukan jam malam di sini. Kalau Mika izin keluar, ia pasti tak diizinkan oleh petugas keamanan.
Tapi, beda ceritanya kalau Mika bukan teman dari trio nyentrik SMA Unggulan Esa ini. Saat itu, Jojo langsung menyeringai. “Aku tahu jalan pintas untuk kabur dan tak bisa dilihat di CCTV.”
Mika balas tersenyum lebar. “Tunjukkan padaku!”
Beberapa waktu telah berlalu setelah perbincangan tadi. Jauh dari lokasi gedung SMA Unggulan Esa, derap langkah kaki terlihat begitu cepat melintasi hutan kecil ini. Nafas pemuda itu tersengal. Ia berlari sekuat tenaga.
Tak salah lagi, pemuda yang tengah berlari sekuat tenaga ini adalah Mika Jonathan. Ia berhasil kabur dari asrama lewat jalan pintas yang diberi tahu oleh Jojo. Namun, mereka berempat tak bisa pergi bersama. Mika keluar sendiri malam itu.
Satu hal yang pasti, ia harus menemui mantan bosnya dulu. Ya, Udin adalah satu-satunya orang yang bisa membantu Mika dalam menangani masalah ini. Ia harus menemui orang itu secepat mungkin.