Kabar mengenai cucu kepala sekolah yang menempuh pendidikan di sekolah ini langsung menyebar. Tidak ada asap tanpa api. Karena kecerobohan beberapa siswa, Mika yang dikenal sebagai cucu kepala sekolah itu, harus istirahat total dan tak bisa mengikuti pembelajaran.
SMA Unggulan Esa adalah salah satu sekolah swasta di Jakarta Utara yang telah dikenal sebagai pencetak siswa-siswa berprestasi. Meskipun begitu, jabatan kepala sekolah di sini telah dipegang oleh orang yang sama selama beberapa puluh tahun.
Banyak orang yang mengira kalau pemilik yayasan sekaligus kepala sekolah di sini tidak memiliki keturunan hingga ia harus menjadi kepala sekolah dalam jangka waktu yang panjang. Namun, kemunculan Mika kemarin membawa jawaban.
Sosok ibu kepala sekolah yang terkenal misterius itu ternyata memiliki seorang cucu. Kabarnya langsung meluas ke mana-mana sehingga seluruh sekolah tahu akan hal itu.
Dan di sinilah Asa berada, ia berdiri di depan pintu asrama laki-laki bernomor ruangan 304. Gadis itu tampak menautkan alis. Ia menoleh ke sana ke sini. Niatnya yang hendak bertanya pada orang-orang harus diurungkan. Sejujurnya, Asa cukup ragu apakah Mika ada di dalam kamar ini atau tidak.
“Aku takut salah masuk kamar, astaga,” keluhnya tak habis pikir.
Gadis itu mengerutkan kening. “Kenapa tak ada orang yang berlalu lalang di sekitar sini padahal bel pulang sudah berbunyi sejak tadi? Rumornya sih Mika memang ada di kamar ini.”
Asa menarik nafasnya dalam-dalam. Bagaimana pun juga, isu soal Mika yang menjadi cucu kepala sekolah sudah menyebar ke mana-mana. Keberadaan Asa di sini untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu kemarin. Ditinggal sebentar saja, sepertinya Mika sudah berbuat banyak onar.
“Apa aku langsung masuk kamar saja ya?” gumam Asa. Ia tampak bimbang.
Tangan gadis itu sudah memegang knop pintu sejak tadi. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk membuang keraguannya. Untuk sesaat, Asa berpikir jika pintu ini pasti dikunci. Namun saat gadis itu hendak membuka pintu, seseorang memegang bahunya dari belakang.
“Aaaaaaa!” Teriakan langsung terdengar nyaring di depan lorong asrama ini.
Saat Asa menoleh ke belakang, ia melihat Mika yang berdiri dengan gayung dan seperangkat alat mandi. Beberapa rambutnya yang basah membuat Asa berspekulasi jika pemuda ini baru mandi.
“Mika?! Apa yang kau lakukan di sini?”
Mika langsung tersenyum tak percaya. “Hah? Bukankah aku yang harusnya tanya begitu? Kau ini kan cewek, apa yang kau lakukan di sini?”
“A-aku....” Lidah Asa kelu. Ia bingung untuk merangkai kata. Namun, Mika tampak dengan sabar menunggu.
“Apa yang kau katakan? Bicara yang jelas, woi.”
Saat didesak seperti itu, Asa langsung membuang rasa malunya. “Aku ke sini untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Kutinggal sebentar saja, sepertinya kau langsung buat onar. Terlebih dari itu ... aku menjengukmu, Bodoh.”
Kalimat terakhir Asa tadi membuat Mika tertegun. Pemuda ini mengalihkan pandangan sebentar karena ia merasa malu. Untuk sesaat, suasana langsung hening di antara mereka berdua. Baik Asa maupun Mika sama-sama malu tanpa sebab.
“Seperti yang kau lihat, aku sudah tidak apa-apa. Jadi kau tak perlu khawatir,” balas Mika apa adanya.
Asa yang mendengar itu sontak membuang rasa malunya. Ia tersenyum penuh arti. “Syukurlah, tapi ....”
“Tapi?” Mika balas tersenyum.
Kali ini senyum Asa tampak berbeda, gadis itu memperlebar senyum dengan wajah liciknya yang terlihat jelas. “Bisakah Mika yang terkenal sebagai anak baik ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Kanjeng Ratu Rika Angkasa yang benar-benar tak tahu apa-apa?”
Saat itu, Mika tak bisa menyembunyikan tawanya. Pemuda itu tergelak hingga menitikkan air mata. Reaksi Asa kali ini benar-benar lucu.
“Ceritanya panjang sekali. Aku terlalu malas menjelaskannya padamu,” jawab Mika.
Asa langsung menunjukkan raut wajah tak suka. “Hah? Malas katamu? Aku benar-benar tak paham. Kenapa tiba-tiba kau bisa berakhir di UKS dengan kondisi punggung terkilir?”
“Apakah rumornya separah itu?” tanya Mika seraya menyenderkan diri ke dinding di sebelahnya. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”
‘... meskipun sebenarnya sakit ini tidak akan hilang kalau aku tidak menggunakan mantra sihir. Untung aku manusia ajaib ahahaha,’ sambung Mika dalam hatinya. Meskipun begitu, pemuda ini tak bisa menyembunyikan senyum bangganya.
Asa pun menjelaskan hal-hal yang ia dengar. Beberapa siswa ada yang mengatakan kalau Mika terlibat perkelahian karena mengajak duel senior. Ada juga yang mengatakan kalau Mika cedera gara-gara diburu oleh siswa perempuan yang mengagumi dirinya. Atau ada yang bilang kalau Mika jatuh karena terpeleset kulit pisang.
“Pokoknya beragam deh. Ini dan itu. Rumornya ke mana-mana,” jelas Asa panjang lebar.
Wajah Mika langsung melongo. Meskipun begitu, ia tak bisa menahan tawa. “Sebenarnya tak sekompleks itu. Aku jatuh karena bersender pada dinding, padahal aslinya itu pintu geser. Akhirnya terjungkal deh.”
“Astaga! Hanya itu saja?!” Tentu saja Asa syok. Beragam rumor yang beredar langsung terbantahkan oleh fakta konyol ini.
“Ya, tentu saja hanya karena itu.”
“Astaga, Mika. Aku tahu kalau dirimu agak ‘ndeso’, tapi kenapa separah ini sampai tidak tahu kalau dinding yang kau sandari adalah pintu?!” Asa menanyakan hal itu seraya memijit pelipisnya yang pening.
Mereka berdua tertawa bersama. Mika hanya cengengesan karena ia tak begitu paham arti ledekan Asa tadi. Kalau pemuda ini paham, pasti ia akan mengamuk setelah harga dirinya dihina seperti itu.
Di sela-sela tawanya tadi, Asa teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau menjadi cucu kepala sekolah? Maksudku, tentu ini tak masuk akal. Aku tahu siapa dirimu. Bagaimana mungkin kau punya hubungan dengan ibu kepala sekolah padahal dulu saat mendengar nama sekolahku saja kau tak tahu?”
Raut wajah Mika berubah drastis. Benar juga, ia belum menjelaskan apa pun soal tujuannya datang ke Jakarta pada gadis itu. Apakah mengajak Asa untuk membahas perang yang akan datang dalam kurun waktu setahun ini adalah pilihan yang tepat?
“Kalau soal itu, ... aku bingung harus menjelaskan bagaimana,” ujar Mika terus terang. Pemuda itu tampak mengalihkan pandangan. Ia tak berani menatap Asa.
Di lain sisi, gadis dengan rambut panjang yang diikat dua itu langsung mengernyit heran. Dilihat dari reaksinya, sudah jelas kalau Mika menyembunyikan suatu hal. Pemuda ini tak pandai berbohong.
Asa mengalami dilema. Ia tahu kalau mungkin saja Mika memiliki privasi dalam hidupnya. Ia tak ingin ikut campur atau bagaimana. Akan tetapi, ini semua terasa aneh. Bagaimana mungkin Mika dan kepala sekolahnya tiba-tiba memiliki hubungan keluarga? Gadis itu tak habis pikir.
Mika pun merasa canggung dengan situasi aneh antara dirinya dan Asa sekarang. Ia bisa menggosok rambut bagian belakangnya dengan kaku.
“Kau tahu, dirimu adalah satu-satunya orang yang mengenalku dengan baik di sini. Kau sudah kuceritakan berbagai hal, mulai dari ini dan itu. Jadi normal kalau kau merasa ini semua aneh. Tapi untuk masalah yang satu ini, aku bingung harus menjelaskan seperti apa padamu.”
Penjelasan Mika yang diutarakan dalam satu tarikan nafas itu membuat Asa terdiam. Ia bingung harus merespons seperti apa. Sepertinya kali ini Mika ingin menyimpan masalahnya sendiri. Dengan berat hati, Asa menghargai privasi itu.
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kalau dirimu tak ingin menjelaskannya padaku,” ujar gadis ini dengan senyum simpul, meskipun sorot matanya agak kecewa.
Takut kalau Asa salah paham, Mika pun dengan cepat ingin meralat ucapannya tadi. Namun saat pemuda itu hendak buka mulut, suara yang melengking keras dari koridor seberang langsung terdengar.
“Mikaaaaaaa!”
Mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Dari tempat keduanya berdiri, terlihat banyak siswa laki-laki lain mulai berjalan memasuki area asrama laki-laki ini.
Tepat di hadapan Asa sekarang, dua orang pemuda yang merupakan teman sekelasnya tampak berdiri dengan tatapan mata menggoda. Tak salah lagi, mereka adalah Jojo dan Budi.
Si pelaku yang menyerukan nama Mika dengan keras tadi pun tampak memandang Asa dengan senyum aneh. “Wah, coba lihat. Ibu bendahara kelas yang galak tampaknya sedang berbicara empat mata dengan siswa pindahan baru yang terkenal ini.”
Bibir Asa berkedut. Ia tersenyum menahan emosi. “Aku akan memberi pelajaran yang berharga untukmu besok, Tuan Jojo Sulistyo.”
Mendengar itu, pemuda tanpa alis ini langsung tertawa. “Dengan senang hati, Nyonya Rika Angkasa.”
Pemuda tanpa alis yang menjadi penyebab utama kenapa punggung Mika bisa terkilir kemarin ini adalah siswa bernama Jojo Sulistyo. Ia adalah penyuka hal-hal mistis dan takhayul. Namanya cukup dikenal seantero sekolah sebagai sepiker berjalan.
Di samping Jojo, ada pemuda lain yang berwajah tegas dan mengenakan kacamata. Dia adalah siswa laki-laki bernama Budi Hermansyah. Budi inilah yang telah memapah Mika menuju ruang UKS kemarin.
Berbeda dengan Jojo yang sedikit urakan, Budi lebih dikenal sebagai siswa yang berprestasi, serius, kaku, namun sedikit cerewet.
“Asa, apa yang kau lakukan di sini? Sejak kapan kau kenal dengan Mika?” tanya Budi dengan mata menyipit, seolah menyelidiki hubungan dua sejoli ini.
Asa yang ditanyai seperti itu hanya menghela nafas. “Ceritanya panjang. Aku tak mau menjelaskannya.”
“Wih, bakal ada rumor baru nih besok,” sahut Jojo dengan senyum menggoda.
Melihat reaksi teman seasramanya yang demikian, Mika tak bisa menahan senyum emosi. “Jangan mengada-ada. Kau ini suka cari gara-gara denganku ya?”
Mendengar itu, Jojo langsung tersenyum. Dia melangkahkan kaki untuk mendekati Mika. “Jangan marah seperti itu, Tuan Lelembut. Aku hanya bercanda ahahaha.”
“Apa? Lelembut?” tanya Asa tak mengerti.
Mika yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang. Mau dilarang seperti apa, sepertinya Jojo memang tipe orang yang seperti ini. Pangeran dari negeri antah berantah ini pun langsung memandang Asa seolah menjelaskan kalau panggilan tadi hanya lelucon saja.
Sebenarnya Mika bersyukur. Dalam waktu semalam saja, ia bisa akrab dengan teman-teman seasramanya. Baik Jojo maupun Budi adalah anak baik. Mereka memiliki sifat ramah dan menyenangkan. Mika bisa dikatakan cocok dengan mereka berdua.
Budi terdengar menghela nafas. “Kau ini seperti tak hafal dengan sikap Jojo saja, Asa. Dia kan memang seperti itu.”
Asa langsung menggeleng tak habis pikir. Gadis ini masih tak mengira kalau teman-teman seasrama Mika adalah orang-orang nyentrik dari kelasnya. Ada kemungkinan kalau Mika nanti diletakkan dalam kelas Asa kalau begini.
“Terserah kalian saja deh,” ujar Asa lelah. Dia memandang Mika, Jojo, dan Budi secara bergantian. “Aku harus pergi dulu. Tak baik juga lama-lama berada di asrama cowok. Bisa ketularan gila aku.”
Jojo langsung tertawa keras. Dia langsung berlagak mengusir Asa seperti menyuruh anak ayam pergi. Gadis itu mencak-mencak kesal namun diabaikan oleh pemuda yang hobi iseng ini. Mika dan Budi yang melihat itu tak bisa menahan tawanya.
Pada akhirnya, Asa pergi dari area asrama cowok itu. Beberapa siswa laki-laki lain tampak masih mondar-mandir di depan ruang asrama mereka. Mika yang melihat pemandangan ini pun bertanya pada dua teman barunya tadi.
“Hei, tadi aku mendengar bel pulang berbunyi sejak pukul tiga sore. Tapi, kenapa seluruh siswa laki-laki baru kembali ke asrama ini sekarang?”
Bagaimana pun, area asrama di sekolah ini berada di satu lokasi yang sama, namun gedungnya berbeda. Tempat ini dibentuk seperti rumah susun dengan lantai berjumlah enam. Karena gedung asrama putra dan putri berhadapan, Mika bisa tahu kalau kebanyakan siswi pulang lebih awal daripada siswa laki-laki.
Budi pun menjelaskan pada Mika kalau mereka baru saja menghadiri pertemuan terbuka di halaman sekolah. “Pertemuan khusus antara siswa laki-laki tadi menjadi penyebabnya.”
“Hah?” Dahi Mika mengernyit tak mengerti. “Kenapa kalian dikumpulkan secara khusus sementara murid perempuan tidak?”
Jojo langsung menoleh ke arah Mika. “Ini karena ada isu demo. Beberapa hari terakhir, ada banyak mahasiswa dan anak SMA unjuk rasa ke kantor kedutaan. Jadi, OSIS meminta kita agar tidak terpancing dan ikut dalam aksi itu.”
“Unjuk rasa? Di kantor kedutaan?” tanya Mika yang masih berusaha memahami situasinya.
“Benar sekali. Ini soal masalah yang kita bahas semalam. Itu lho, imbas dari kecelakaan yang menewaskan Ayah Dimas,” jawab Budi dengan wajah tenangnya.
Mika tertegun. Ia jadi mengerti situasinya sekarang.
Ngomong-ngomong soal Dimas, sejujurnya Mika tak mengira akan secepat ini bisa bertemu dengan anak yang dicarinya itu. Bagaimana pun juga, dalam aksi terjungkalnya kemarin, Mika bertemu dengan Budi, Jojo, dan Dimas.
Dimas Fajar adalah salah satu dari trio pelaku yang telah membuat punggung Mika terkilir kemarin. Lebih dari itu, bocah yang menjadi targetnya dalam misi ini ternyata satu ruang asrama dengannya. Jadi selain dirinya, Jojo dan Budi, ada Dimas Fajar yang menjadi pengisi asrama nomor 304 ini.
“Ngomong-ngomong, kenapa Dimas tadi tak ikut kembali bersama kita ya?” celetuk Jojo secara tiba-tiba.
Pertanyaannya kali ini menarik perhatian Mika. Benar juga, kenapa Dimas tak kelihatan sejak tadi?
Budi yang ditanyai pun tampak merenung. “Aku juga tidak tahu. Mungkin dia masih bersama OSIS.”
“Yah, benar juga sih.” Kepala Jojo langsung mangut-mangut mendengar hal itu.
Saat itu, Mika langsung menatap Budi dan Jojo dengan tatapan seriusnya. Sadar dengan arti tatapan Mika, kedua orang tadi langsung mengangguk paham. Mereka bertiga kelihatan saling menatap.
“Sepertinya kita harus melanjutkan perbincangan semalam,” ujar Mika yang langsung dibalas anggukan.
“Aku setuju.”
“Ya! Kita harus melanjutkan pembicaraan penting ini!”
Mika tersenyum simpul. “Kalau begitu, ayo masuk!”
Menjalin hubungan pertemanan dengan singkat mungkin mustahil bagi sebagian orang, namun kali ini Mika merasa cocok dengan anak-anak ini. Baik Jojo, Budi, dan Dimas adalah orang baik.
Entah kenapa, mereka adalah orang tepat yang bisa Mika ajak untuk menghentikan perang ini, apa pun caranya.