Chapter 36 - Sakit Punggung

1757 Kata
“Asa, apa kau sudah lama menungguku?” Suara berat yang khas dimiliki oleh pria paruh baya itu menarik perhatian Asa. Ia yang semula asyik berbincang dengan Mika langsung mengalihkan perhatian. Gadis itu tersenyum simpul saat melihat sang ayah datang ke sini. Bagaimana pun, Asa memang sudah memiliki janji dengan ayahnya untuk diantar ke toko buku hari ini. Jadi tak aneh bila melihat sang ayah datang ke sekolah ketika jam pulang, meskipun ia juga tinggal di asrama. Gadis dengan rambut diikat dua ini menggeleng. “Tidak juga, aku baru saja di sini.” Berbeda dengan Asa yang bereaksi santai, Mika tampak menegang saat pria dewasa itu menatapnya. Meskipun begitu, pemuda ini tak mengendurkan nyalinya. Ia menatap pria tadi dengan mata tajam. Kalau dilihat dari reaksi Asa, ada kemungkinan kalau orang ini adalah bagian dari keluarganya. Mungkin dia adalah ayah Asa. Jadi, Mika harus tetap menjaga sikapnya. “Temanmu?” tanya pria tadi sambil menatap sang putri. Gadis itu mengangguk santai. Dia melirik ke arah Mika sebentar. “Iya, dia temanku. Tiba-tiba anak ini pindah sekolah ke sini dan aku lumayan kaget, jadi kami pun mengobrol banyak hal sejak tadi.” Kepala Udin tampak mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti. Dilihat dari reaksi Mika, tampaknya pemuda ini tak sadar jika ayah dari Asa adalah mantan bosnya di warung bakso dulu. Syukurlah, Udin merasa lega karena penyamarannya selama ini berarti sukses. “Salam kenal. Saya Mika Jonathan,” ujar Mika seraya mengacungkan tangan guna menyalami pria itu. Namun bukannya dibalas, tangan Mika justru diacuhkan. Pemuda itu tersenyum hambar. Matanya sedikit berkedut karena rasa kesal dan malu yang membuncah dalam hati. Dengan cepat, Mika menarik tangannya. Ia menatap orang itu heran. Untuk ukuran Asa yang baik hati, entah kenapa ayahnya judes sekali. “Aku adalah ayahnya Asa. Panggil aku Burhan.” Mendengar nada suara datar itu, Mika hanya bisa mengangguk kaku. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri jika insting pangeran dari Kerajaan Mimika ini terus menyala sejak tadi. Entah kenapa, Mika seperti pernah melihat ayah Asa di suatu tempat. Sayang sekali karena ia tak bisa mengingatnya. “Asa, cepatlah. Nanti keburu sore. Bisa gawat kalau kau terlambat masuk asrama!” ujar Udin seraya melangkahkan kaki pergi. Mereka tak lagi mengobrol banyak hal karena Asa didesak oleh ayahnya untuk cepat-cepat. Niat gadis itu yang ingin membantu Mika mencari ruang asrama pun sirna. Ia harus cepat pergi dari sekolah ini menuju toko buku sebelum emosi ayahnya meledak. Bisa gawat nanti kalau Asa kena omel. Gadis itu berpamitan pada Mika. “Kau sudah lihat bagaimana ayahku yang agak judes itu kan? Jadi, aku harus cepat-cepat pergi ke toko buku sebelum diamuk. Apakah kau bisa cari asrama sendiri?” Pemuda itu mengangguk. “Santai saja. Aku bukan bayi yang harus kau bimbing ini dan itu.” Asa tertawa. Ia melambaikan tangan ke arah Mika sambil berlari menjauh. Gadis itu segera menyusul sang ayah yang kini telah berada di tempat parkir mobil sekolah. Senyumnya yang terus terlempar ke arah Mika membuat pemuda ini tak bisa mengalihkan pandangannya sekarang. Ia mendengus geli melihat tingkah laku gadis itu. Sampai mobil ayah Asa menghilang, Mika tetap berdiri di sana dan memandangnya. Pemuda itu lalu menghela nafas panjang. Ia menggeret kopernya lagi menuju lokasi asrama berada. Pemuda itu kembali melangkah menuju area asrama. Karena mengingat reaksi para siswa yang heboh saat melihatnya tadi, Mika pun berinisiatif mengenakan kacamata hitam yang pernah dikasih oleh Ahmad. Pemuda itu bisa sukses ke sana ke mari tanpa menarik perhatian, meskipun banyak mata yang memandangnya. Jam yang semula menunjukkan pukul tiga sore kini telah memperlihatkan pukul lima. Astaga, tanpa sadar Mika telah mengelilingi gedung-gedung besar di sekolah ini tanpa menemukan di mana lokasi asrama itu. Ini menyebalkan. Kakinya terasa mati rasa. Dengan mata yang melotot tajam, pemuda itu menaikkan kacamata hitamnya di atas rambut. Ia meremas kuat kertas denah yang diberikan oleh kepala sekolah tadi. “Sialan, ini di mana letaknya asrama sih?!” Mika memelotot marah ke arah kertas ini. Kalau Mika pernah berkata mampu mengendalikan emosinya beberapa saat lalu, sepertinya ia harus menarik kata-kata itu. Sekarang ia memaki-maki dan mengucapkan sumpah serapah hanya karena tak kunjung menemukan letak asrama. Kaki Mika seperti akan patah saja mengelilingi sekolah yang luas ini. “Katanya dari koridor barat, belok ke kiri. Tapi tidak ada apa-apa di sini! Aku sudah mengelilinginya. Aku takut salah baca arah mata angin lalu pergi ke setiap koridor untuk menemukan asrama sialan ini! Tapi, kenapa tak bisa ketemu?!” Karena kesal telah menganut denah sesat itu, Mika meremas kertas tadi menjadi bulatan lalu membuangnya secara sembarang ke taman yang ada di hadapannya. Ia benar-benar muak. Sangat muak kalau boleh bilang. Pemuda yang kini berdiri di lokasi koridor sebelah barat itu pun menghela nafas panjang. Ia menyenderkan punggung di sebuah dinding berwarna coklat mencolok, mengingat seluruh dinding di sini berwarna hijau, karena tak ada kursi yang bisa diduduki untuk istirahat. Kalau tahu akan begini, Mika akan meminta bantuan Asa saja tadi. Saat bersandar itu, tiba-tiba Mika merasa ada seseorang yang menggeser dindingnya. Mata pemuda itu membulat kaget. Belum sempat ia bereaksi, Mika pun terjungkal dengan punggung yang langsung menghunjam lantai. Suara gedebuk yang keras langsung terdengar. “Atas nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Aku memohon perlindunganmu dari godaan setan yang terkutuk! Allahu akbar!” Suara teriakan yang terdengar keras itu membuat Mika mengerjapkan mata untuk sesaat. Ia bisa melihat ada tiga orang laki-laki seusia dengannya yang kini berdiri di atas pemuda yang meringis kesakitan itu. “Sialan, apa-apaan ini?” desis Mika tak paham. Saat mendengar Mika berkata begitu, pemuda tanpa alis yang terus berteriak dan mengaji sejak tadi langsung bungkam. Ia menatap Mika dengan pandangan tak percaya. Dua orang lainnya langsung saling pandang dan tertawa keras. “Bwahahaha! Lelucon macam apa ini, Jojo? Aku tak bisa menahan tawaku! Kau sudah salah mengira manusia ini sebagai setan?!” Pemuda dengan kaos biru dan alis tebal langsung tertawa keras. Di sampingnya, seorang pemuda jangkung berkacamata dengan pakaian kemeja rapi hanya bisa menahan tawa dengan menutupi mulutnya. “Sialan, aku jadi tak bisa menahan tawa.” Mika yang melihat interaksi di antara mereka pun hanya bisa memasang wajah bengong. Umbun-umbunnya terasa panas karena menahan emosi. Apa yang salah dengan manusia-manusia ini? Kenapa mereka justru menertawakannya daripada menolong pemuda itu yang kesusahan? “Ya aku mana tahu kalau orang ini manusia? Aku merasakan energi negatif di depan pintu tadi!” ujar pemuda tanpa alis itu dengan wajah menahan malu. Mika tak bisa menahan senyum masamnya untuk yang terakhir kali. “Energi negatif katamu?” “Astaga, kami lupa kalau kau masih terjatuh,” sahut pemuda berkaos biru tadi. Ia lalu jongkok dan membantu Mika berdiri. Aksinya itu diikuti oleh dua orang pemuda lain. Laki-laki berkacamata yang ada di sana bertanya pada Mika, “Apakah sakit sekali rasanya?” “Kau masih bisa bertanya begitu saat melihat wajahku yang meringis kesakitan ini?” tanya Mika dengan ekspresi tak percaya. Bukannya merasa bersalah, tiga orang tadi justru tertawa keras. Interaksi antara mereka berempat dilihat oleh anak-anak lain dan Mika merasa malu sendiri karena jadi pusat perhatian sekarang. “Ya itu sebenarnya salahmu sendiri, kenapa kau bersender di depan pintu?” tanya pemuda tanpa alis tadi dengan bingung. Mika pun langsung mengerjapkan mata tak mengerti. Ia memandang tak percaya ke arah dinding coklat tadi dan baru menyadari kalau itu adalah pintu geser, bukan tembok seperti yang dikira olehnya. Pantas saja warnanya berbeda dari dinding lain. “Meskipun begitu, aku minta maaf karena hal tadi. Aku kira kau jelmaan lelembut,” sambung pemuda itu. Ekspresi Mika pun langsung syok. “Lelembut?!” Mereka tertawa keras. Meskipun demikian, Mika dipapah menuju UKS oleh pemuda berkacamata tadi. Dua orang pemuda lain tampak berjalan di sampingnya. Sepertinya mereka tak tega membiarkan Mika, mengingat pemuda itu terjatuh keras tadi. Punggungnya pasti sakit sekali. “Apa kau siswa baru?” tanya pemuda berkaos biru. Mika mengangguk dengan kaku. Sejujurnya ia kesal dengan mereka bertiga. Manusia-manusia menyebalkan ini telah membuat badannya remuk. Setelah kakinya yang mati rasa, kini punggungnya yang terasa seperti mau patah. “Entah kenapa sepertinya aku pernah melihatmu,” ujar pemuda tanpa alis yang menjadi pelaku utama dari penderitaan Mika saat ini. “Ha? Kita baru saja bertemu—“ “Kau ini Mas PK yang terkenal di media sosial itu kan?” Bukannya pemuda tanpa alis tadi yang memotong ucapan Mika, melainkan laki-laki berkacamata yang memapahnya saat ini. Mika pun memandang orang di sampingnya ini dengan heran. Kenapa sebenarnya semua orang memanggil Mika dengan nama aneh itu? “Astaga, benar! Tak salah lagi! Orang ini adalah Mas PK yang itu! Maaf karena tadi mengiramu setan,” teriak pemuda tanpa alis tadi. Mika bingung dengan situasinya sekarang. Mau menjelaskan panjang lebar pun malas rasanya. Punggungnya terasa sakit sekali. Ia kini memasuki UKS bersama tiga manusia aneh tadi. Bukannya diletakkan dengan lembut di atas kasur UKS, laki-laki berkacamata tadi membantingnya seperti karung. “Sialan ...,” ujar Mika dengan mata berkedut. Punggungnya terasa sakit dua kali lipat saat ini. “Bisakah kau memperlakukanku seperti manusia?!” Pemuda berkacamata yang tengah bicara dengan dokter UKS ini pun langsung memandang Mika dengan kaget saat ia mengucapkan hal tadi. “Astaga, apakah aku membantingmu dengan keras?!” “Sialan, kau tidak menyadarinya?!” maki Mika dengan tatapan mata tak percaya. Pemuda berkaos biru dan pemuda tanpa alis yang ada di sana pun langsung tertawa keras melihat reaksi Mika. Di sisi lain, dokter penjaga UKS itu langsung memeriksa Mika. Ia mengecek apakah anak ini baik-baik saja atau tidak. “Dokter Lina, aku perlu bantuanmu di— loh? Mika? Apa yang kau lakukan di sini?!” Suara wanita yang tiba-tiba mendatangi ruang UKS ini pun langsung menarik perhatian. Mereka memandang wanita tua itu dengan mata melebar kaget. “Ibu kepala sekolah?!” seru orang-orang yang ada di ruang UKS ini secara bersamaan. “Kenapa cucuku bisa ada di sini?” Kepala sekolah bernama Siti itu masuk dan memandang Mika dengan cemas. Semua orang langsung memasang wajah syok ketika mendengar kata ‘cucu’ keluar dari mulut kepala sekolah. Mereka memandang Mika dan kepala sekolah secara bersamaan. “Kau ini cucunya kepala sekolah?!” seru pemuda tanpa alis tadi dengan nada tak percaya. Dua orang pemuda lain langsung tersenyum hambar. “Gawat, kita cari gara-gara dengan orang yang salah.” Astaga, Mika tak bisa lagi menangani situasi yang ada sekarang. Entah apa yang akan terjadi nanti, sekarang yang bisa rasakan hanyalah sakit di punggungnya. Mika memandang mereka semua dengan mata berkedut kesal. Ia menahan emosi sejak tadi. “Bisakah kalian simpan pertanyaan itu nanti dan sekarang beritahu aku bagaimana cara mengurangi rasa sakit ini?” “Ah, siap siap!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN