Chapter 35 - Pertemuan Kembali

1821 Kata
Kalau dipikir-pikir, Mika merasa ada banyak perubahan dalam dirinya. Selama beberapa hari terakhir, pemuda ini menyadari bahwa ia tak lagi sering termakan oleh emosi. Mika bisa mengontrolnya dengan sempurna. Begitu juga hari ini, ia masih bisa untuk tetap kalem di hadapan kepala sekolah meskipun Putri secara terang-terangan menceritakan keburukannya. Wanita tersebut dengan santainya menjelaskan kebodohan-kebodohan Mika pada sang kepala sekolah. Bagaimana pun, pemuda berusia 17 tahun ini hanya bisa pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena Putri adalah kakaknya di dunia ini. Wanita itu berkata jika ia perlu menceritakan segala hal pada kepala sekolah karena kepala sekolah akan menjadi wali Mika mulai sekarang. Pemuda berambut hitam ini pun menghela nafas panjang. Segala proses mengenai pendaftaran sekolah tadi berjalan sukses. Mulai sekarang Mika ditetapkan secara resmi sebagai siswa dari sekolah ini. Ia bisa ikut proses belajar besok. Meskipun cara masuk sekolah ini terkesan seperti aksi nepotisme, tapi Mika tak terlalu memedulikannya. Yang penting, ia bisa menjalankan misi dengan sukses dan perang itu tak akan terjadi di dunia ini. “Kalau begitu, sepertinya aku dan Ahmad akan kembali pulang. Kau tidak apa-apa, Mika?” tanya Putri saat mereka berada di halaman sekolah. Ia berhadapan langsung dengan Mika. Mika pun mengangguk pelan. Ia sudah berdiri bersama koper bajunya dan sang kepala sekolah berada di samping pemuda itu sejak tadi. Wanita tua itu mengantarkan Mika dan Putri ke luar. Di sisi lain, Ahmad dan Riko sudah berada di dalam mobil. Karena jam sudah menunjukkan pukul dua siang, mereka harus cepat kembali sebelum malam. Kedua laki-laki itu menunggu Putri untuk masuk ke dalam. “Jaga dirimu baik-baik, Kak Mika,” ujar Riko sambil menahan tangis. “Kau tidak perlu pulang sesering mungkin, dirimu bisa meneleponku. Aku takut kalau kau pulang, kecelakaan lain akan terjadi.” Tanpa sadar, Mika mendengus geli. Ia mengacak-acak rambut bocah itu. Kepalanya yang menyembul di balik jendela mobil bagian belakang langsung jadi bahan serangan Mika. Riko pun langsung merengut kesal karena rambutnya berantakan. “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kecelakaan seperti kemarin itu bukan apa-apa. Lagian itu tak akan terjadi lagi. Jadi, kau tak perlu khawatir.” Mika mengutarakan hal tadi seraya tersenyum lebar. Melihat interaksi antara Mika dan buah hatinya, Ahmad pun ikut tersenyum. Pria itu memandang Mika dengan tatapan senang. Menyadari dipandang sejak tadi, Mika menatap suami dari Putri tersebut. “Hm? Ada apa?” tanyanya tak mengerti. Ahmad yang duduk di kursi pengemudi itu menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya saja, aku senang melihatmu bahagia. Kalau ada apa-apa, kau tak perlu sungkan menceritakan keluh kesahmu padaku, Mika. Terkadang hanya lelaki yang bisa mengerti masalah lelaki lain kan? Jika Putri tak bisa mengerti masalahmu, aku akan selalu ada saat kau meneleponku.” Senyum simpul Mika terukir. Semua orang yang berada di keluarga Putri begitu peduli padanya. Ahmad bahkan berperilaku seperti mendiang kakaknya yang begitu rendah hati. Kalau kakaknya yang bernama Jordan itu masih hidup, pasti ia akan seusia Ahmad. “Terima kasih banyak,” balas Mika dengan perasaan tulus. Putri yang memandang itu semua langsung tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia berjalan mendekati Mika lalu memeluk pemuda itu secara tiba-tiba. Anak ini terlalu menggemaskan untuk dijadikan adiknya. “Jaga dirimu baik-baik. Aku juga akan selalu ada setiap kau meminta bantuan di telepon. Ingat, kau ini tetaplah adikku meskipun walimu di sini adalah Ibu Kepala Sekolah. Dia bisa menjadi sosok nenek yang baik untukmu,” ujar Putri pelan namun masih bisa didengar semua orang. Mika masih tersentak kaget akibat pelukan yang tiba-tiba ini. Bahunya menegang karena terkejut. Namun, ia langsung mematung saat mendengar isak tangis dari kakaknya. Mata Putri tampak berkaca-kaca. “Setahun mulai sekarang mungkin akan terasa begitu sulit. Kau adalah satu-satunya harapan kami jadi aku sangat berharap semua masalah ini bisa selesai dan kau bisa pulang dengan aman. Saat semua ini selesai, aku jamin hadiahmu juga selesai.” Suasana perpisahan yang penuh haru ini membuat Mika terdiam. Halaman sekolah yang masih sepi karena kebanyakan siswa masih berada di dalam kelas membuat keadaan menjadi lebih sunyi. Mika bisa mendengar dengan jelas kalau kakaknya menangis. Bahu pemuda bersurai hitam yang semula menegang itu menjadi lemas. Ia membalas pelukan Putri dan menganggapnya seperti kakak sendiri. “Terima kasih, aku akan menjaga diriku sendiri. Kalian semua tak perlu khawatir.” “Aku akan menjaga Mika seperti aku menjagamu dulu, Putri. Dia akan tetap aman bersamaku,” sahut sang Kepala Sekolah yang juga ikut tersenyum. Pada akhirnya, perpisahan itu berakhir. Putri melepaskan pelukannya pada Mika dan masuk ke dalam mobil. Riko tampak menangis keras karena sadar kalau kakaknya akan berjuang seorang diri mulai sekarang. Mika tetaplah menjadi yang terhebat baginya karena pemuda itu akan menjadi pahlawan yang menghentikan perang. Sambil terus melambai-lambaikan tangan sebagai bentuk perpisahan, mobil itu melaju dengan pelan meninggalkan halaman sekolah. Suasana haru yang ada beberapa saat lalu kini mulai sirna. Angin bertiup pelan dan menggoyangkan beberapa helai rambut Mika. Mulai sekarang, tujuan hidupnya berubah lagi. Mika harus memprioritaskan masalah perang ini terlebih dahulu. Meskipun begitu, sejujurnya ia cukup terkejut karena lokasi sekolah ini berada di Jakarta Utara yang notabenenya adalah tempat tinggal Mika dulu. Jaraknya pun tak terlalu jauh dari Warung Bakso Udin. Semoga saja tak terjadi hal yang merepotkan di sini. Ia harus tetap fokus menjalankan misinya untuk mencari anak bernama Dimas Fajar itu. “Kalau ada apa-apa, aku akan selalu ada di ruangan kepala sekolah, Mika. Kau bisa menemuiku kapan pun dan aku akan membantumu,” ujar Kepala Sekolah secara tiba-tiba. Mika pun menatap wanita tersebut. Putri menyuruhnya menganggap Kepala Sekolah sebagai neneknya sendiri. Meskipun begitu, Mika merasa kalau hubungan Putri dan Kepala Sekolah begitu dekat. Mereka pasti punya kenangan berharga di masa lalu sehingga menjadi dekat seperti keluarga. “Ngomong-ngomong, mulai sekarang Anda akan menjadi waliku bukan?” Sang kepala sekolah mengangguk. “Rencananya seperti itu. Aku akan bertanggung jawab untuk dirimu selama setahun ke depan. Jadi, kau akan kuanggap sebagai cucuku.” “Kalau begitu, aku harus memanggilmu dengan siapa?” Mendengar itu, kepala sekolah langsung tersenyum. “Namaku Siti Laila. Kau bisa memanggilku Nenek Siti. Bagaimana pun juga, kau adalah cucuku bukan?” Mika tak bisa menahan senyum tulusnya. Ada banyak sekali orang-orang baik di dunia ini yang selalu membantunya. “Iya, kau adalah nenekku. Terima kasih atas bantuanmu.” Percakapan yang terjadi di halaman sekolah itu tak berlangsung begitu lama karena suara bel pulang tiba-tiba berbunyi. Kepala sekolah segera undur diri dari hadapan Mika dan menyerahkan denah sekolah pada pemuda itu. “Kau bisa menggunakan benda ini untuk mencari kamar asramamu dan menata barang. Di sini nanti, kau akan berbagi kamar dengan tiga siswa lain. Aku kurang tahu siapa mereka karena lupa. Kalau tidak salah, Dimas Fajar juga ada di kamar ini.” Mika mengangguk paham. Ia menerima denah dan kunci kamar itu dengan senang hati. Mereka berdua pun berpisah karena Kepala Sekolah masih punya urusan lain. Namun, Mika diminta menemuinya besok pagi sebelum berangkat ke kelas untuk menyusun alur skenario dulu. “Kalau dipikir-pikir, hidupku berubah menjadi drama. Ada kebohongan di mana-mana. Besok saja aku harus menyusun skenario dengan kepala sekolah,” keluh pemuda itu dengan lesu. Ia menggeret kopernya masuk menuju lokasi asrama siswa putra berada. Meskipun tadinya gedung sekolah ini tampak sepi karena siswanya sibuk belajar di kelas, Mika sekarang bisa melihat banyak anak seusianya yang berseliweran di sana-sini karena jam pulang sudah tiba. Untuk sesaat, pemuda ini berpikir. “Apakah mungkin Asa sekolah di sini ya?” Namun, kalau dipikir-pikir itu tak mungkin. Seragam yang dipakai oleh para siswa itu berbeda dengan baju Asa waktu datang ke warung baksonya dulu. Lagi pula, ia sudah lupa apa nama sekolah gadis itu saat Asa menceritakannya pada Mika dulu. “Apakah itu Mas PK?” “Wow, dia terlihat mirip dengan Mas PK yang di media sosial itu bukan?” Bisik-bisik seperti tadi mulai terdengar di telinga Mika saat ia berjalan di antara siswa-siswa sekolah ini. Sontak saja pemuda ini menundukkan kepala. Ia malu ketika banyak orang yang melihatnya sekarang. Apa-apaan coba mereka ini? Sebenarnya apa arti dari nama Mas PK itu? Entah kenapa, Mika merasa kalau dirinya telah terkenal di dunia ini dengan cara lain. Buktinya, rata-rata remaja yang ia temui di Jakarta selalu memanggilnya dengan nama Mas PK itu. Tak jarang, mereka bahkan meminta foto dengannya. Tentu saja ini terasa aneh. Karena terus menunduk, tanpa sadar Mika telah menabrak orang. Ia pun langsung terjatuh dan orang yang ditabraknya tadi juga berakhir sama. Saat Mika menengadahkan kepala, ia bisa melihat sosok Asa ada di hadapannya. Mata Mika langsung membulat tak percaya, begitu juga dengan Asa. Melihat reaksi gadis itu yang terkejut, tampaknya memang benar jika itu adalah Asa yang dikenal oleh Mika. Sebelum Mika bisa mengeluarkan sepatah kata, tangannya langsung ditarik oleh Asa dan ia mengajaknya lari dari koridor itu. Mika yang tak mengerti apa-apa pun langsung berlari sambil menarik kopernya. “T-tunggu, Asa! Kenapa kau tiba-tiba menarikku seperti ini?!” “Apa yang kau lakukan di tempat ini, astaga?” Asa langsung berhenti berlari setelah dirasa lokasinya cukup jauh dari para siswa lain. Ia membungkuk dan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Gadis itu segera berbalik dan menatap Mika yang sama-sama capek juga. ‘Astaga, orang ini sudah seperti model saja,’ batin Asa tak bisa berkata-kata. Berbeda dengan penampilan gadis itu yang acak-acakan setelah berlari, Mika hanya berkeringat dan ia terlihat semakin keren sekarang. Asa tak mau mengakuinya, tapi orang bodoh ini memanglah tampan. Gadis itu langsung terbatuk-batuk. Ia berusaha memusatkan fokusnya. “Jadi, apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah menghilang selama sebulan dan tiba-tiba ada di sekolahku. Jangan bilang kau jadi sekolah di sini?” “Aku bahkan tak tahu kalau ini sekolahmu,” jawab Mika apa adanya. “Lalu?” “Ceritanya panjang. Aku tak mungkin menceritakan semuanya padamu. Tapi, aku memang akan sekolah di sini mulai sekarang.” Mendengar itu, senyum simpul langsung terukir di wajah Asa. “Astaga, kau ini. Kenapa pada akhirnya kita selalu bertemu?” Mika tertawa pelan mendengar itu. Ia juga tidak mengira kalau ternyata sekolah ini adalah sekolah Asa. Takdir mereka cukup lucu karena sering bertemu di tempat-tempat tak terduga. Keduanya pun mengobrol ringan bersama. Meskipun demikian, Mika tak bisa menjelaskan alasannya pindah ke sekolah ini sekarang. Dia tak bisa mengatakan pada Asa kalau akan ada perang. Untuk saat ini, sepertinya lebih baik kalau hanya ia dan kepala sekolah saja yang tahu. Karena posisi kedua remaja itu berada di halaman sekolah, orang-orang dari luar bisa melihat mereka. Dari kejauhan, seorang laki-laki tampak mematung melihat putrinya mengobrol dengan siswa laki-laki lain. Masalahnya, laki-laki yang mengobrol dengan putrinya itu adalah sosok yang ia kenal. Tak salah lagi, orang dengan jas hitam itu adalah ayah Asa yang tak lain merupakan Udin, bos di warung bakso Mika dulu. Hanya saja, penampilannya berbeda drastis saat bekerja di warung bakso. Dia terlihat lebih muda dengan rambutnya yang diponi, tidak dibelah tengah. Pria yang aslinya adalah seorang intel negara itu memandang syok ke arah Mika. ‘Kenapa Mika dan Asa ada di sini? Tunggu, aku tahu mereka berteman dan ini memang sekolah Asa. Tapi sejak kapan Mika ada di sekolah ini?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN