“Tak ada jalan lain, kau harus kembali ke Jakarta dan sekolah di sana.”
Perkataan Putri hari itu membuat Mika tak habis pikir. Ini menyebalkan. Pemuda itu sama sekali tak paham alasan kenapa kakak gadungannya meminta ia agar mau sekolah di dunia ini.
Bukannya apa-apa, Mika juga menjalani sekolah di dunianya yang dulu. Namun, tetap saja aneh rasanya kalau sekolah di sini. Ia sama sekali tak mengerti apa pun selain membaca, menulis, dan menghitung uang. Masa iya Mika harus sekolah di zaman memusingkan ini?
Semuanya berlalu begitu cepat. Saat Putri memutuskan hal itu, kepergian Mika untuk kembali ke Jakarta tak bisa dielak. Bahkan wanita berusia 30 tahunan ini akan mengantarkan Mika ke Jakarta naik mobil bersama Ahmad dan Riko.
“Ini tidak bercanda ... kan?” tanya Mika sekali lagi saat Putri memasukkan koper berisi baju-baju pemuda itu ke dalam bagasi mobil.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak. Kau harus masuk ke sekolah itu untuk mencegah semuanya agar tak terjadi!” balas Putri dengan sengit.
Mika dengan ogah-ogahan masuk ke dalam mobil. Ia duduk di samping Riko yang tampak kegirangan karena mau pergi ke kota besar seperti Jakarta. Sementara itu, Ahmad duduk di kursi pengemudi dan ada Putri di sampingnya. Pasangan suami istri tampak mengobrolkan suatu hal yang tak bisa dimengerti oleh Mika.
Ya, semua rencana ini bermula ketika Ahmad mengatakan soal perkembangan kasus kecelakaan kereta kemarin pada Putri. Pria yang bekerja di kantor desa itu mengungkapkan kalau ternyata anak dari salah satu delegasi yang tewas dalam insiden kemarin menempuh pendidikan SMA di Jakarta, mengingat mantan istri delegasi itu adalah seorang warga negara Indonesia.
Anak delegasi yang berasal dari Cina itu menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Ia bolak-balik ke kantor kepolisian dan diburu oleh paparazi. Meskipun demikian, anak itu tampaknya tak tertarik dengan situasi perang dingin dan dunia politik. Akan tetapi, fakta kalau dirinya masih memiliki hak sebagai seseorang putra kandung meskipun sang ayah telah bercerai dengan ibunya itu benar.
Hanya anak itulah yang menjadi satu-satunya harapan agar perang yang akan terjadi dalam jangka waktu setahun lagi ini tidak pecah.
Atas inisiatif itulah, Putri begadang dalam beberapa hari terakhir untuk mencari tahu latar belakang anak bernama Dimas Fajar tadi. Semuanya semakin rumit bagi Mika saat Putri tahu jika anak bernama Dimas itu bersekolah di SMA Putri semasa di Jakarta dulu.
Putri tampaknya berharap pada Mika karena hanya pemuda itu yang bisa menangani situasi ini. Ia memaksa, atau mungkin disebut bujukan dengan cara yang sedikit kasar agar Mika mau sekolah di sana.
Ahmad juga ikut-ikut mendesak Mika atas rasa kasihan. Pria itu bersimpati pada Mika karena ia sudah seperti pemuda yang baru betapa dari gua selama berabad-abad dan tak tahu apa-apa. Pria itu hanya ingin Mika menempuh pendidikan normal seperti anak pada usianya. Meskipun itu tak salah, tapi Mika kesal juga karena momentumnya tak tepat. Jadi, Putri malah merasa keputusannya didukung oleh sang suami.
Masa iya Mika harus sekolah? Apalagi di Kota Jakarta yang banyak memberikan kenangan buruk dan menyebalkan baginya? Apakah ini satu-satunya cara agar perang itu tak terjadi?
Perjalanan telah dimulai dari beberapa jam lalu tanpa disadari oleh Mika. Ia tak menyadarinya karena terus berpikir dan berpikir. Namun saat fokusnya teralihkan, tak sengaja Mika bertemu pandang dengan Riko. Bocah itu tersenyum lebar ke arahnya seraya menunjukkan pemandangan di sepanjang jalan.
Senyum Mika pun terukir. Ia tak bisa menahan itu. Untuk sesaat, kegundahan yang ada dalam hati Mika tadi sirna.
‘Aku tidak tahu apakah ini pilihan yang tepat atau bukan. Tapi, membayangkan kalau bocah sekecil ini harus menderita akibat perang itu menyebalkan,’ batin Mika dengan ekspresi sendu.
Pemuda itu mengalihkan pandangan. Ia melihat pemandangan sawah-sawah di samping jalan tol ini lewat kaca mobil dekatnya. Mata Mika tampak menerawang jauh.
Ia membatin sekali lagi, ‘Aku ... jadi teringat dengan masa lalu. Kalau Kak Jordan dalam posisiku sekarang, dia pasti akan mengambil pilihan ini sebagai hal terbaik yang harus dilakukan demi keselamatan banyak orang terutama anak kecil. Tapi dulu saat mengambil pilihan ini, dia justru tewas dan meninggalkan segalanya. Bagaimana kalau aku juga tak berhasil nanti?’
Sekilas, wajah kakak tirinya muncul di bayangan Mika. Jordan adalah anak dari sang ratu, namun ia merelakan nyawanya dalam perang saat Mika masih berusia kecil seperti Riko. Ini menyebalkan. Tanpa sadar, pemuda itu meremas tangannya kuat. Ia mulai berkeringat dingin saking takutnya membayangkan perang besar.
“Mika, apakah kau baik-baik saja?” tanya Ahmad. Pria itu tampak melirik pemuda bersurai hitam dari kaca spion dengan cemas.
Putri pun langsung mengalihkan pandangan ke belakang. “Apkah dirimu mengalami mabuk perjalanan?”
“Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya ... entahlah. Aku juga tak tahu.”
Riko yang sedari tadi asyik melihat pemandangan pun langsung bisa merasakan perubahan atmosfer di mobil ini ketika Mika berkata demikian. Anak kecil itu bisa melihat bagaimana ayah dan ibunya saling pandang dengan mata bingung. Ahmad pun akhirnya menarik nafas dalam-dalam.
Pria itu berkata tegas, “Mika, tolong jangan memikirkan hal-hal yang memberatkan dirimu. Kami ingin menyekolahkanmu di sana agar dirimu bisa menghadapi dunia yang semerawut ini. Bukan memaksamu atau bagaimana. Ini demi kebaikanmu. Tanpa sekolah, kau tak bisa mendapat apa pun.”
Diceramahi seperti itu, Mika hanya bisa menatap kosong ke depan meskipun hatinya sudah emosi. Logikanya, ia tak bisa sekolah di dunia ini karena kemampuannya sangat bodoh. Paling tidak, Mika harus belajar mengenai semua hal dari SD dulu agar bisa masuk SMA. Bagaimana kalau nanti dirinya gagal masuk ke sana coba?
Saat matanya bertemu pandang dengan Putri, Mika hanya bisa menghela nafas. Dia menjawab nasihat drai Ahmad tadi dengan berkata, “Maaf membuat kalian khawatir. Aku hanya tak ingin kembali ke Jakarta karena kota itu busuk. Membayangkan sekolah di sana adalah suatu mimpi buruk bagiku.”
“Kau tenang saja. Dari yang kutahu, sistem sekolah di SMA Putri itu berasrama. kau tak perlu mengkhawatirkan soal rumah, uang, atau pun makanan seperti dulu. Kehidupanmu akan terjamin,” jawab Ahmad setenang mungkin.
Kalau soal info itu sih, Mika juga sudah mengetahuinya dari Putri jauh-jauh hari. Wanita itu telah menjelaskan segalanya mulai dari A sampai Z tentang sekolah yang akan menjadi tempat belajar bagi Mika.
Putri pun tersenyum ke arah Mika yang merengut kesal. “Sudah, kau itu rileks saja. Saat sampai di sana nanti, aku akan bertemu Kepala Sekolah agar ia mau menerimamu. Aku yakin misi ini akan berjalan mudah.”
“Hm? Misi katamu?” sahut Ahmad dengan nada bingung.
“Wah, apakah Kak Mika dan Ibu memainkan sebuah drama baru soal misi mata-mata atau semacamnya?” sahut Riko tak kalah semangat.
Bagaimana pun, bocah ini sama sekali tak tahu soal rencana baru Mika dan Putri yang datang ke Jakarta untuk menemui anak delegasi yang menjadi korban kecelakaan kemarin agar perang tak meletus. Pada akhirnya, kebohongan ditutupi oleh suatu kebohongan lain.
Putri tertawa dengan nada formalitas. “Ahahaha, kalian ini bicara apa? Tentu saja misinya itu membuat Mika lulus ujian dan bisa sekolah dengan tenang di sana.”
Melihat Putri yang dengan mudah menangani hal ini pun membaut Mika kembali menghela nafas. Sudahlah, memikirkan ini semua tak ada gunanya. Lagi pula Mika dan keluarga Putri juga sudah dalam perjalanan. Beberapa saat lagi mereka pasti akan segera tiba di Jakarta.
Tak ada jalan bagi Mika untuk kembali atau pun mengelak. Kalau ia mau Putri dengan cepat menyelesaikan alat teleportasi itu, paling tidak Mika memang harus melakukan semua misi gila untuk memacari bocah bernama Dimas Fajar itu agar perang tak muncul.
Kalau perang muncul, maka Putri pasti tak bisa menyelesaikan benda itu dan Mika pun akan terdampar di dunia aneh ini selamanya. Paling tidak, Mika harus bisa mencegah perang ini terjadi supaya ia bisa pulang ke Kerajaan Mimika dengan selamat.
Setelah itu? Ya masa bodoh. Mika tak mau tahu apakah nasib bangsa ini akan aman atau tidak. Pokoknya ia hanya ingin pulang secepat mungkin dan tidak lama-lama di sini.
Segalanya berjalan begitu cepat. Mika tiba di sekolah yang dimaksudkan Putri tadi beberapa jam kemudian. Gedung sekolah ini begitu besar. Putri langsung menemui sang kepala sekolah, menjelaskan apa yang terjadi, dan memperkenalkan Mika yang hanya bengong sejak tadi.
“Karena perang itu ditakutkan muncul dalam waktu dekat, aku ingin Mika ada di sini! Paling tidak ia akan berusaha membujuk anak bernama Dimas Fajar itu bersuara dan menangani semua masalah dengan cara kekeluargaan!” ujar Putri dengan nada menggebu.
Saat itu, Mika kehilangan kata-kata. Ia menatap Putri dengan bengong. Pemuda itu bingung. Masa iya wanita ini justru menceritakan kenyataan secara lengkap pada Kepala Sekolah itu? Di lain sisi, Putri juga menjelaskan kalau Mika tidak berasal dari dunia ini. Apa-apaan coba?
“Apa dia bisa dipercaya?” bisik Mika pada Putri. Ekspresinya tampak tak nyaman.
Putri yang mendengar itu justru mengacungkan jempol ke arahnya sebagai isyarat baik-baik saja. Akan tetapi, tetap saja. Masa iya Mika harus percaya dengan orang ini? Ahmad dan Riko yang menunggu di halaman depan saja tak tahu kalau Mika adalah manusia antah berantah.
Sang kepala sekolah yang berambut abu-abu karena faktor usia ini pun mulai mengobservasi Mika. Wanita tua itu tersenyum.
“Kau tak perlu khawatir, Anak Muda. Aku sudah mengetahui rahasia dari kekuatan Putri sejak dia sekolah di sini,” ujarnya seraya melirik Putri. “Anak ini sudah seperti anakku sendiri.”
Saat mendengar jawaban itu, Mika tertegun. Jadi begitu. Wanita ini telah mengetahui segalanya soal kemampuan sihir. Pada akhirnya, pemuda ini diam dan tak membantah apa pun. Ia mendengarkan perbincangan antara dua orang wanita ini.
Dan ketika sang kepala sekolah tersenyum padanya seraya berkata, “Selamat. Kau akan diterima di sini lebih tepatnya di kelas yang sama dengan Dimas agar misi ini berhasil. Anak itu ada di kelas 3, jadi waktumu membujuknya kurang dari setahun.”
Wajah Mika tampak menunjukkan reaksi kaget. Ia tak percaya kalau semuanya akan semudah ini.
“T-tapi, aku ini bodoh! Maksudku ... bukan bodoh yang sebenarnya. Aku tak bisa apa pun karena berasal dari dunia lain. Bagaimana aku belajar di sini?” bantah Mika dengan wajah bingung.
“Kau tak usah khawatir,” ujar Putri dengan senyum lebar. “Baik aku atau pun kepala sekolah akan menangani hal itu. Kau fokus saja pada tugasmu.”
Astaga, Mika benar-benar tak paham dengan jalan hidupnya. Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?