Chapter 33 - Pintu Masuk

1884 Kata
“Sejujurnya aku belum terlalu tahu juga kenapa perang itu bisa ada, soalnya dalam mimpiku tidak dijelaskan. Aku akan mencoba untuk melihatnya lagi dengan kemampuanku!” Itu adalah perkataan Riko kemarin malam. Tapi, Mika sendiri sejujurnya tak enak hati. Bagaimana pun, bocah itu tetaplah bocah. Dia hanya anak berusia 6 tahun, tapi sikapnya lumayan bijak juga. Saat mengatakan hal itu, Riko kemarin gemetaran karena takut akan mimpi buruk itu. Akan tetapi, dia tetap berusaha. Pagi ini saat di meja makan, bocah itu terlihat sayu dengan kantung mata hitam. Mika tak tahu kenapa, tapi sepertinya semalam Riko terlalu memaksakan diri. Pemuda itu saling berpandangan dengan Putri. Di sisi lain, Ahmad sendiri juga sadar kalau anaknya tampak tidak terlalu sehat. Saat akan mengambil nasi, pria itu menoleh ke arah Riko. “Sayang, bagaimana kalau hari ini kamu tidak masuk sekolah saja?” tanyanya penuh pengertian. Putri yang mendengar itu langsung mengangguk setuju. “Kau terlihat sangat kacau. Jangan memaksakan dirimu sendiri.” Kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu terkesan aneh. Mika dan Riko yang tahu akan makna itu langsung tersentak. Samar-samar, tangan bocah yang sedang memegang garpu itu bergetar. Suaranya tertahan, tapi Mika yang berada di depannya bisa mendengar kata iya. Entah kenapa, suasana semakin canggung. Sarapan bersama pagi itu terasa begitu hening dan Ahmad yang menyadari kejanggalan ini hanya bisa mengernyitkan alis tak mengerti. Aneh sekali rasanya. Padahal Mika atau Putri biasanya akan heboh, Riko apalagi. Yah, sudahlah. Mungkin mereka tidak heboh seperti biasa karena satu-satunya anak kecil di rumah ini tampak sakit. Sarapan pagi itu pun dengan cepat berlalu. Ahmad segera bergegas ke kantor desa karena dia bilang akan ada kunjungan. Rumah yang sepi ini menyisakan Mika, Riko, dan Putri yang sibuk bersiap menuju puskesmas. Sementara itu, dua orang anak laki-laki tadi tampak duduk berdampingan di ruang keluarga. “Apakah kau yakin dirimu baik-baik saja, Riko? Kalau sakit, ibu akan tetap di rumah menjagamu dan tidak berangkat kerja,” ujar Putri dengan nada khawatir yang nyata. Perempuan itu sekarang sudah bersiap dengan jas dokter miliknya. Riko yang mendengar pertanyaan tadi pun sontak menggeleng. “Aku baik-baik saja. Ada Kak Mika di sini.” Putri menghela nafas. “Meskipun kau bilang begitu, Mika ini tak tahu apa-apa soal merawat orang sakit. Aku takut jika—“ “Hei, kalau kau mau berangkat kerja ya silakan berangkat. Aku akan menjaga bocah ini!” ujar Mika dengan begitu percaya diri. Setelah perdebatan yang alot, wanita itu pun mengalah. Putri mengajari Mika soal obat-obatan apa saja yang harus diminum anaknya untuk mengobati demam. Melihat Mika yang tampak mengerti, Putri pun bisa bernafas lega. Dia berpamitan pada dua orang laki-laki tadi untuk segera berangkat dan berjanji akan pulang lebih cepat. Pada akhirnya, rumah ini kembali senyap. Mika membantu Riko meminum obatnya dan mengantarkan bocah itu untuk tidur di kamarnya. Namun saat sudah sampai di kamar, Riko justru menunjukkan gelagat aneh seperti tak nyaman. “Kau ini kenapa?” tanya Mika tak paham. Ada nada judes khasnya di pertanyaan itu. “Aku tak mau tidur!” Riko mengatakan itu dengan kesal. Namun, dia tampak meratap. “Aku ... takut ....” Saat itu, Mika menyadari kalau ada hal yang aneh. Dia duduk di samping bocah itu di tempat tidurnya. “Takut apa? Bukankah hari ini kau sakit karena semalam tidur larut malam ya? “Alasan kenapa aku tidur larut malam karena aku takut. Sejujurnya aku takut bermimpi soal perang itu. Aku ... aku .... tetap tak bisa melihat apa-apa dalam tidurku selain memprediksi kalau aku jatuh sakit hari ini.” Mendengar pernyataan bocah ini, hati Mika jadi tak tega. Apakah dia sudah keterlaluan meminta bocah sekecil Riko melakukan ini semua? Setelah lama hening, Mika berucap, “Jangan memaksakan diri.” ‘Atau mungkin akulah yang paling memaksakan diri?’ tanya Mika dalam hati. Meskipun begitu, pemuda ini berusaha tersenyum pada Riko. Ia mencoba untuk memberikan pengertian padanya. “Kau ini masih kecil. Tugasmu melakukan ini itu adalah nomor yang ke sekian. Selama ada orang dewasa, merekalah yang harus mencari jalan keluar terlebih dahulu.” “A-apa?” Sejujurnya bocah ini tak terlalu paham dengan maksud Mika. “Intinya, kau tak usah memaksakan dirimu. Kau ini masih bocah piyik. Baik aku dan Putri tak ada yang memaksamu untuk melihat mimpi buruk itu. Aku hanya berkata bahwa kau bisa melapor pada kami berdua jika bermimpi soal perang lagi, tentunya tanpa perlu berusaha keras untuk memimpikan hal itu. Akan ada orang dewasa sepertiku, Putri, atau pun Ahmad yang bisa menangani hal ini.” Perkataan Mika begitu panjang. Meskipun terlihat seperti orang yang mengomel kesal, namun nada bicara pemuda itu penuh akan syarat perhatian. Kalau dipikir-pikir lagi, Mika ini tak terlalu hebat juga mengutarakan isi hatinya dengan gamblang. Saat itu, Riko tertegun lalu tak lama kemudian dia tersenyum. Meskipun ia tak mengerti secara penuh, namun kakaknya yang satu ini berusaha untuk menangani ini seorang diri. Entah kenapa saat mendengar hal tadi, Riko merasa lega. Ada sedikit beban di pundaknya yang berkurang. Anak itu pun akhirnya mau tidur setelah minum obat agar suhunya cepat turun. Mika dengan gesit mengompresnya dan menjaga bocah itu. Perlahan namun pasti, tampaknya Riko bisa tidur dengan tenang tanpa mengkhawatirkan apa pun. Mika tersenyum. Meskipun begitu, hatinya membatin, ‘Apa yang kulakukan? Kenapa aku melakukan ini? Apakah ini menjadi tanggung jawab baruku untuk menyelesaikan perang yang akan terjadi di sini? Tapi aku hanyalah manusia antah berantah, kenapa aku harus menambah beban lagi pada diriku?’ Hati Mika bergejolak. Nalurinya berkata jika sebenarnya ia sendiri tak suka menangani ini. Mika sudah terlalu capek dengan permasalahannya. Namun di sisi lain, ia juga merasa senang karena melihat beban di pundak Riko terasa berkurang. Perasaan macam apa coba ini? ‘Inikah rasanya menjadi Ayah? Ah, ... tidak. Ini terasa seperti Kakak. Apakah Kak Jordan dulu juga merasa seperti ini padaku ya? Padahal aku dan dia terlahir dari ibu yang berbeda. Aku kan hanya anak selir. Menyebalkan kalau mengingat masa lalu.’ Pada akhirnya, Mika berjalan keluar dari kamar Riko saat suhu anak itu mulai turun. Ia menyambar koran di meja. Dari sana, bocah itu melihat perkembangan kasus kecelakaan kemarin. Tampaknya, reaksi marah dari negara-negara luar bermunculan. Apakah perang memang akan terjadi? Pada akhirnya Mika pergi ke ruang kerja Ahmad. Tempo hari pria itu memberi tahunya jika ia bebas membaca sedikit buku-buku yang ada di sana. Saat itu, Mika melihat adanya buku sejarah. Ia pun berinisiatif untuk mengambil dan membacanya. “Paling tidak, aku harus tahu soal masa lalu di dunia ini. Jika ini kulakukan, mungkin aku bisa tahu soal situasi politik dan sebagainya.” Hari-hari Mika habiskan di sana setelah selesai merawat Riko. Meskipun begitu, keadaan Riko semakin baik saja daripada hari Senin kemarin. Hari ini adalah Kamis. Sudah empat hari sejak Mika merawat Riko. Putri dan Ahmad tadi pagi berpesan kalau mereka akan pulang telat. Namun, sesuatu hal justru terjadi. “Aaaaaaaaaaaa!” Suara teriakan yang melengking di rumah ini langsung membuat Mika melempar buku yang dibacanya sejak tadi. Pemuda itu berlari sekuat tenaga menuju kamar Riko. Ia tahu betul jika suara tadi milik bocah itu. “Ada apa?!” tanya Mika begitu membuka pintu dengan keras. Saat itu, Mika bisa melihat kalau Riko mengalami mimpi buruk. Gawat ini baru jam empat sore, ada kemungkinan kalau Putri dan Ahmad akan pulang agak nanti. Apa yang harus ia lakukan untuk membangunkan atau pun menenangkan bocah itu? “Riko, hei! Sadarlah! Riko!” Mika berusaha sekuat tenaga menenangkan bocah itu. Ia menepuk pipi Riko agar dirinya bisa terjaga. Mata Riko pun terbuka lebar-lebar. Ia melotot ketakutan. Keringat dingin tampak bercucuran membasahi tubuhnya. Nafas Riko pun terlihat tersengal-sengal. Mika yang tak tega melihat kondisi menyedihkan bocah ini pun langsung memberinya segelas air putih. “Kau tak papa?” tanya Mika saat Riko mulai tenang. “Aku ... aku .... anu, itu.” Nada bicara Riko masih gemetar. Omongannya berbelit-belit dan Mika sama sekali tak paham. “Coba tenangkan dirimu dulu.” Hanya itu yang bisa dikatakan Mika sekarang. Riko pun akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Setelah agak tenang, ia mulai berbicara pada Mika. “Aku ... melihat hal yang lebih detail soal perang itu!” Jantung Mika seolah berhenti berdetak. Keringat menetes di dahinya. “A-apa? Kau yakin?” Anak itu mengangguk. Dia menjelaskan semua hal yang dilihatnya di mimpi tadi pada Mika. “Dugaanmu benar. Kecelakaan itu ... adalah pemicu kenapa perang ini bisa dimulai!” Hati Mika berkecamuk. Kalau tahu begini sejak awal, ia pasti mencoba untuk melakukan suatu hal agar kecelakaan itu tak terjadi. Meskipun demikian, Mika masih mendengarkan omongan bocah ini. Ada banyak hal yang Riko tak bisa sampaikan dengan jelas karena perbendaharaan kata bocah ini masih kurang. Mika memaklumi hal itu dan mencoba menafsirkannya sendiri. “Sebenarnya bukan itu saja. Pemicu asli dari perang ini karena ada seseorang yang sering kulihat di TV-TV berita salah ngomong di suatu rapat besar. Negeri ini jadi dibenci banyak orang dan tidak ada yang mau membelanya. Saat itu, kita menjadi semakin terpuruk dan tak lama kemudian ... itu ... muncul, perangnya!” Ada kemungkinan kalau maksud Riko tadi adalah seorang politikus. Tapi apa yang sebenarnya terjadi ya? Ah, itu nanti saja. Mika akan membicarakannya dengan Putri. Riko terus menjelaskan hal lain yang lebih detail hingga tak terasa dua jam berlalu. Putri dan Ahmad pun akhirnya sampai ke rumah. Setelah melalui makan malam keluarga seperti biasa dan mengecek keadaan Riko yang semakin baik, Mika pun menemui Putri untuk berbicara empat mata dengannya. Lebih tepatnya, kakak adik gadungan itu pergi ke area pasar malam yang sebentar lagi akan tutup untuk membicarakan hal penting ini. “Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Putri begitu sampai di sini. Sorot mata Mika tampak serius dan tajam. “Kita sudah menemukan pintu masuk dari labirin teka-teki ini. Siang tadi, Riko mendapatkan pandangan yang lebih detail soal perang itu!” Setetes keringat muncul di dahi Putri. Atmosfer di dalam tenda ini menegang karena aura serius dari Mika Jonathan. Alis pemuda itu menukik dan dahinya berkerut. Dia mengucapkan kembali segala hal yang dikatakan oleh Riko tadi. “Aku akan menceritakan hal ini pada Ahmad dulu. Sejujurnya orang itu lebih memahami situasi politik sekarang karena dia bekerja di pemerintahan,” ujar Putri setelah mendengar penjelasan Mika. Mendengar hal itu, pemuda ini pun mengangguk paham. “Aku paham. Semoga kita mendapat banyak bantuan agar bisa melakukan sesuatu untuk mencegah ini semua!” Pada awalnya, Mika memang ragu apakah tindakan ikut campurnya ini benar atau salah. Dia memang merasa enggan ikut campur dalam permasalahan dunia ini mengingat masalah yang dipikulnya saja sudah pelik. Tapi dirinya sudah tak punya pilihan lagi. Dia sudah terlanjur tercebur dan basah kan? Mana mungkin bakal keluar dalam kubangan ini begitu saja. Lagi pula Mika sudah berjanji pada Riko agar menyerahkan masalah ini pada orang dewasa sepertinya. Orang seperti Mika tak mungkin menarik kata-katanya. Dia akan berusaha sebisa mungkin membuat dunia ini aman sebagai tempat tinggal bocah itu sebelum dia menghilang dari sini. Saat itulah, tujuan dan motivasi baru dalam hidup Mika terbangun. Apa pun yang terjadi, pemuda ini akan melakukan semua hal guna mencegah perang yang ditakutkan Riko itu terwujud. Meskipun akhirnya dia tak menyangka jika perkataan seperti ini yang akan keluar dari mulut Putri setelah tiga minggu berlalu. Wanita itu dengan entengnya mengatakan, “Tak ada jalan lain, kau harus kembali ke Jakarta dan sekolah di sana.” Apa lagi ini? Masa iya Mika harus kembali ke kota yang dipenuhi kesengsaraan itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN