Bau yang sama, aroma yang sama, dan suasana familier ini membuat Mika tertegun. Dia berdiri dalam waktu yang cukup lama di sebuah kamar yang sederhana itu. Pemuda ini mematung dengan sorot mata lelah.
Benar, ini adalah kamar yang ada di kediaman Putri. Sebuah kamar yang disediakan khusus untuk Mika Jonathan. Kalau mengingat suasana yang ada di kamar ini, pemuda itu jadi mengenang kembali segala hal yang telah dilaluinya di Jakarta. Waktu sebulan lebih di kota besar itu bukanlah suatu hal yang singkat.
Beragam kejadian telah dilalui Mika. Tidur di emperan toko, menahan lapar seperti prajurit yang ada di medan perang, serta memikirkan nasib hidupnya adalah rutinitas pemuda itu selama di sana. Namun di sini, ia menarik nafas dalam-dalam. Dirinya yang sekarang bisa kembali ke kamar ini merasa begitu lega.
Kaki Mika melangkah masuk. Ia membanting tubuhnya di atas kasur putih itu. Saat dalam posisi tengkurap, kedua mata Mika terlihat begitu sayu.
“Sebenarnya ... sampai kapan aku harus seperti sekarang?”
Mika bohong jika ia bilang akan mencari semangat hidup di dunia lain ini. Berulang kali dirinya merasa depresi, namun hal itu disembunyikan oleh keadaan. Dari dalam lubuk hati terdalam, pemuda ini tersiksa. Menyesuaikan diri dengan segala hal baru yang ada di sini melelahkan. Mika tak bisa membohongi dirinya lagi.
Beberapa saat lalu, terjadi kecelakaan hebat di kereta yang dinaikinya. Hal itu bisa saja menjadi pemicu perang persis seperti apa yang dikatakan oleh Riko. Di saat tahu dan terlibat dengan ini semua, mana mungkin ia bisa diam saja?
Mika harus ambil tindakan kan? Ia tak bisa menjamin kapan dirinya bisa pulang. Namun, untuk menjamin keselamatannya selama ada di negara ini, Mika harus melakukan suatu hal agar perang itu tak terjadi. Apa pun itu, kepala Mika langsung berdenyut hebat begitu memikirkannya.
“Saat di kerajaan dulu, aku bisa memberontak kapan saja pada orang-orang yang menekan atau mengancamku. Tapi di sini? Semua masalah menjadi tanggung jawabku. Aku melakukan segala hal untuk menjamin bahwa hidupku bisa aman, namun tak tahu apakah nantinya berhasil atau tidak. Ini memuakkan.”
Mika lelah. Sangat lelah kalau bisa dibilang. Segala hal semakin rumit setelah kematian sang kakak dulu. Kehidupan normalnya menjadi berat ketika diberi tanggung jawab sebagai Pangeran Mahkota. Berulang kali ia membuktikan bahwa dirinya liar dan tak bisa diatur pun sepertinya tak bisa melunturkan pendirian mereka.
Apa yang diharapkan pemuda ini hanyalah hidup normal seperti biasa. Bersantai, menikmati waktu, membaca buku, dan menghabiskan hari dengan damai tanpa memikirkan masalah hidup. Namun, semua keinginannya itu hancur. Padahal dia hanyalah bocah berusia 17 tahun, namun kenapa hidup rasanya sepahit ini?
Fakta kalau Mika sekarang berada jauh dari dunia aslinya semakin membuat pemuda ini merana. Semuanya semakin rumit. Ia tak tahu apa yang terjadi di kerajaan saat dirinya mati-matian bertahan hidup di dunia aneh ini. Kepalanya terasa berat hingga rasanya mau pecah.
“Aku stres.” Pemuda itu mengakui penderitaannya. Ia memejamkan mata pelan.
Di sela-sela aksinya itu, tanpa sadar setetes air mata turun mengalir di wajahnya. Meskipun Mika tampak baik-baik saja di luar, ia mengakui kalau psikisnya bermasalah. Tekanan-tekanan yang terjadi dalam hidupnya terasa memuakkan. Ia ingin istirahat dengan enak, barang sebentar saja.
‘Aku merindukan kehidupan normalku yang dulu. Sebuah kehidupan di mana aku belum mengerti segalanya mulai dari perang, politik, uang atau pun kebencian. Ini melelahkan. Apakah aku tidak bisa istirahat dengan tenang sebentar saja?’ batin Mika pilu.
Beberapa saat kemudian, tanpa sadar pemuda itu telah terjatuh dalam tidur yang nyaman. Dengkuran lembutnya terdengar begitu merdu hingga siapa pun yang mendengarnya seolah tak bisa memikirkan kekacauan macam apa yang ada di otak anak itu.
Namun, Ahmad yang memperhatikan Mika dari celah pintu kamar hanya bisa memasang ekspresi bingung. Dari pandangannya, ia bisa melihat kalau anak itu tidur dengan ekspresi lelah. Bukan lelah biasa dari efek perjalanan, raut wajah Mika seolah menggambarkan betapa kacaunya anak itu.
Daripada disebut bocah 17 tahun biasa, Mika terlihat seperti seorang prajurit veteran yang sudah merasakan asam garam kehidupan. Apa saja yang pernah dilalui anak itu?
“Sayang, kau tak jadi memanggil Mika untuk makan siang?”
Perhatian laki-laki itu teralihkan. Ia menoleh ke arah istrinya yang datang dari ruang makan. “Anak itu tertidur.”
“Lah? Bukannya tadi dia bilang lapar dan tak sabar makan daging?” Putri bertanya dengan heran seraya membuka pintu kamar Mika sedikit lebih lebar. Ia bisa melihat bagaimana bocah yang tidur dalam posisi kacau itu.
“Putri, ada hal yang ingin kutanyakan padamu.”
Saat itu, Putri bisa mendengar keseriusan dalam nada bicara Ahmad. Wanita yang sehari-harinya kerja sebagai dokter di puskesmas kecamatan itu hanya bisa memandangnya heran. Kemudian, ia melirik sebentar ke arah Riko yang masih di ruang makan. Wanita ini memastikan bahwa anaknya tetap di sana.
“Sepertinya ini masalah serius. Bagaimana kalau mengobrol di kamar saja sebentar?” tanya Putri.
Ahmad setuju. Pasangan itu menuju kamar tidur mereka. Tak lupa, Putri juga menutup pintu kamar Mika. Baik ia dan Ahmad saat ini saling berhadapan.
“Aku masih berpikir bahwa pertemuan kita hari itu adalah takdir Tuhan yang lucu. Kau telah menjadi istriku selama hampir tujuh tahun, namun rasanya aku tidak bisa mengenalimu lebih banyak. Bahkan aku juga baru tahu jika dirimu memiliki adik beberapa bulan lalu,” jelas Ahmad. Ia mengeluarkan kegundahan hatinya.
Putri masih ingat betul pertemuannya dengan Ahmad saat ia baru tiba di desa ini. Ia juga ingat bagaimana benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Pria ini tahu kalau dirinya adalah mantan orang berada dari Jakarta dulu. Ahmad hanya tahu itu selain fakta kalau ia yatim piatu.
“Kau ini kenapa? Tiba-tiba saja berkata seperti itu?” Bukannya bingung, senyum menggoda Putri justru merekah. “Mau membahas masa lalu percintaan kita?”
Ahmad tersenyum sambil menghela nafas. “Bukan begitu, aku hanya merasa kalau masih ada banyak hal soal dirimu yang tidak kuketahui. Keberadaan Mika adalah contohnya.”
“Tidak usah memikirkannya, dia hanya bocah yang menumpang lewat dan datang secara tiba-tiba. Mika pasti tak akan lama di sini,” ujar Putri apa adanya. Ia memberitahukan setitik kebenaran soal Mika.
Namun, reaksi Ahmad justru tak seperti yang ia kira. Pria itu tampak menerawang jauh. “Berbeda denganmu yang penuh dengan energi positif, kurasa adikmu perlu bantuan.”
“Hah?” Tentu saja Putri heran.
“Meskipun kalian mirip, dalam hal suka membuat kejahilan atau pun onar, tapi kurasa anak itu punya permasalahan yang pelik. Matanya terlihat begitu sayu. Anak itu tampaknya mengalami tekanan batin. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
Saat Ahmad bertanya demikian, sejujurnya Putri tak tahu harus menjawab apa. Suaminya ini memang peka soal perasaan orang lain. Mungkin Mika lihai membentengi emosinya sebagai seorang bangsawan kerajaan, namun apa yang dilihat Ahmad dari anak itu berbeda dengan Putri. Ahmad bisa menyadari permasalahan Mika Jonathan.
“Aku ... tidak tahu,” jawab Putri apa adanya. Dia melanjutkan, “Sejujurnya aku tak begitu dekat dengan bocah itu. Lagi pula, aku juga tak sepeka dirimu dalam memahami perasaan orang lain. Soalnya menurutku, Mika ya ... biasa saja.”
Ahmad menghela nafas. “Aku paham kalau kau akan menjawab seperti ini. Nanti saja kita membicarakan itu dengan Mika. Satu hal yang pasti, anak itu butuh dukungan. Kita harus bisa membuatnya tak terbebani.”
Sikap pengertian Ahmad yang seperti ini membuat Putri tersenyum. Apa yang dikatakan oleh suaminya benar. Mungkin saja, calon raja hebat dari Kerajaan Mimika itu butuh bantuan. Ia akan membicarakan hal ini pada Mika nanti.
Tanpa sadar, waktu telah berlalu begitu cepat. Bulan dan bintang kali ini telah menghiasi langit malam. Mika terbangun setelah ia menghabiskan waktu selama enam jam untuk tidur. Ahmad bahkan menertawainya karena ia sudah seperti orang mati saat tertidur.
Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mika yang baru saja bangun langsung berinisiatif menemui Putri di pasar malam. Pemuda itu segera bergegas turun dari kamarnya yang ada di lantai dua.
Di bawah ada Ahmad dan Riko yang sibuk belajar, pemuda itu menatap mereka sekilas. Namun langkah kaki Mika terhenti ketika mendengar suara Ahmad yang memanggilnya.
“Hei, kau sudah mandi dan makan?”
Mika menoleh dengan senyum canggung. “Kalau mandi sudah, makannya nanti saja. Aku harus membantu Kakak di pasar malam.”
“Astaga, kau ini kan baru pulang jadi istirahat saja. Tak usah membantu Putri,” saran Ahmad dengan nada perhatian.
Mika yang mendengar itu langsung menggelengkan kepala. Pemuda yang membawa ransel hitam itu tak bisa menyia-nyiakan waktu. Ia harus menemui Putri untuk membahas hal penting. Saat tatapan matanya bertemu dengan Riko, anak itu tampak tersentak.
“Kak Mika, aku ingin ikut denganmu!”
Ahmad pun menoleh ke anaknya. “Tugasmu itu dikerjakan dulu, nanti kau boleh menyusul.”
Riko tampak cemberut, namun Mika segera menghiburnya dengan berjanji untuk menunggu anak itu. Pada akhirnya Mika dan Riko pergi ke pasar malam bersama setelah anak itu menyelesaikan tugasnya. Ahmad tak bisa ikut karena dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dalam perjalanan, Mika maupun Riko saling terdiam. Mereka bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Hingga tak terasa, keduanya kini telau sampai di pasar malam. Mereka segera berjalan menuju tenda merah yang menjadi tempat bagi Putri menjalankan kegiatan tabibnya.
“Ibu! Aku dan Kak Mika datang!”
Saat Mika dan Riko memasuki tenda itu, tampaknya Putri tengah mengobati seorang pasien. Wanita itu dengan lihai memeriksa pasien, meramu minuman herbal, lalu meracik obat-obatan yang dicampur dengan sup. Pasien itu tampak senang.
Mika yang mengamati itu semua dari kejauhan tampak mengerti dengan trik-trik yang digunakan Putri. Kalau cara kerjanya begitu, wanita ini lebih baik dikenal sebagai penjual makanan herbal daripada berkedok sebagai tabib.
Pada dasarnya, Putri bekerja seperti dokter modern. Namun, obatnya tidak terlihat karena dicampur dengan makanan. Ia juga menggunakan bahan alami semata agar para warga desa tak khawatir.
Setelah pasien itu pergi, Putri langsung memberikan tanda tutup di depan tendanya. Ia meminta Mika dan Riko untuk mendekat ke meja kerjanya. Mereka bertiga duduk di sana dalam kondisi diam dan saling memperhatikan.
Riko yang merupakan manusia terkecil di sini tampak menatap mereka berdua dengan gugup. Mika sendiri mengeluarkan benda aneh dari tas ransel yang dibawanya tadi.
“Ini artefak yang kita cari,” ujar pemuda itu seraya menyerahkannya pada Putri.
Putri mengangguk. “Dengan ini, paling tidak aku bisa menyelesaikan alat itu lebih cepat.”
Bahuku Mika tampak melemas. Ia lega. Dengan senyum samar dan mata sayunya, pemuda itu berujar, “Terima kasih. Aku berharap juga begitu.”
Lalu, dua orang dewasa itu saling pandang. Pusat perhatian mereka kini tertuju pada Riko. Ditatap intens oleh ibunya dan Mika, Riko hanya bisa cengengesan.
“Sepertinya ada banyak hal yang harus aku ceritakan ya?” Riko mengatakan hal itu sambil menggaruk rambut belakangnya yang tak gatal.
Sejujurnya Putri sudah mendapat penjelasan dari anak itu pagi tadi, namun kali ini ia juga ingin mendengar opini dari Mika. Adanya Riko dan Mika di sini membuat Putri bisa lebih memahami kemampuan anaknya. Pada akhirnya, Riko menjelaskan segala hal secara rinci dibantu Mika.
“Untuk saat ini, aku sudah mencoba untuk memprediksi masa depan seperti saat menyarankan Ibu melakukan hal tertentu di acara arisan kemarin. Aku melihat masa depan Ibu selama 24 jam,” jelas Riko.
“Sebenarnya aku merasa kalau kemampuanmu akan lebih efektif jika diterapkan di luar tidur. Namun, rasanya susah. Berapa jam kau tidur saat memprediksi masa depan ibumu itu?” tanya Mika pada anak itu.
“Aku memprediksi itu saat malam. Ketika tidur selama 8 jam. Aku jarang melihat masa depan saat tidur siang. Dulu pernah, tapi kebanyakan masa depan buruk yang kulihat.” Riko memasang wajah sendu di raut mukanya.
Mika dan Putri pun saling berpandangan. Mereka mencoba menganalisis kemampuan anak ini. Untuk sesaat, mata Mika tak sengaja melihat selembar koran yang ada di meja Putri. Dalam koran itu, ada berita mengenai kecelakaan kereta tadi.
Suatu hal kembali terbesit di pikiran pemuda ini. Ia menatap Riko dan Putri dengan serius. “Ada hal penting yang ingin kubahas dengan kalian berdua.”
Riko tampak gugup. “Apa itu?”
Bukannya menatap bocah itu, Mika justru memandang Putri serius. “Apa kau sudah tahu kalau anakmu pernah melihat masa depan mengenai perang yang akan terjadi di negara ini setahun lagi?”
“A-apa?!” Wajah Putri berubah menjadi horor. Riko belum pernah menceritakan hal ini padanya.
“A-ah, maaf belum menceritakan ini. Kak Mika benar, dulu aku pernah melihat masa depan soal perang mengerikan,” jelas Riko dengan nada suara pelan. Sejujurnya anak ini tak ingin mengingat mimpi itu.
Mika pun menjelaskan, “Alasan kenapa anak ini sangat terobsesi dengan uang untuk berjaga-jaga saat perang itu terjadi. Dia ingin membangun benteng atau sejenisnya.”
“Kenapa kau tak mengatakan ini padaku, Riko?!” desak Putri dengan nada kesal dan cemas di saat yang bersamaan.
Melihat Riko yang ketakutan, Mika mengambil alih tugasnya untuk menjelaskan. Pemuda itu memberi pengertian pada kakak gadungannya ini untuk mengerti kalau Riko hanyalah anak kecil biasa. Ia punya banyak ketakutan dan kekhawatiran untuk mengatakan hal-hal seperti ini pada orang dewasa. Tak seharusnya Putri bertindak diktator seperti itu.
Setelah lama berdebat dengan Mika, Putri pun akhirnya kalah argumen. Dia memandang anaknya dengan sendu lalu meminta maaf pada Riko. Wanita itu menegaskan pada anaknya kalau ia bertindak tegas semata untuk kebaikan Riko.
Mika memperhatikan hak itu dalam diam. Ia tersenyum lalu memandang dua orang itu dengan serius.
“Ada hal yang lebih penting dari ini semua.”
“Apa lagi maksudmu?” tanya Putri dengan nada tak mengerti.
Dengan sigap Mika mengambil koran yang ada di meja Putri tadi dan menunjuk berita soal kecelakaan kereta itu pada mereka berdua.
“Aku merasa kalau kecelakaan kereta ini menjadi latar belakang kenapa perang itu bisa muncul!”