Chapter 31 - Kembali

1638 Kata
“Apakah kau yakin dirimu baik-baik saja, Mika?” Putri terus melontarkan pertanyaan yang sama sejak ia tiba di sini. Di hadapannya, Mika yang saat ini duduk di salah satu rumah penduduk itu pun hanya bisa mengangguk pelan. Ia duduk di rumah itu bersama beberapa penumpang kereta lain, mengingat kereta yang dinaiki oleh mereka semua tak bisa dioperasikan. Kini keluarga Putri, termasuk Ahmad dan Riko, tengah menemani Mika yang terlihat begitu tertekan. Karena hari ini Minggu, Riko pun juga turut serta menjemput pemuda itu. Mereka berempat duduk berdekatan dan memastikan kalau kondisi Mika benar-benar baik. Wajah Putri berkerut cemas. “Kau pasti kaget karena mengalami hal seperti ini. Bagaimana pun juga, dulu tak ada kecelakaan seperti—“ “Tidak, aku pernah mengalami hal seperti ini. Dulu aku juga pernah jatuh dari kereta kuda, jadi kau tak perlu khawatir.” Mendengar perkataan Mika yang begitu aneh, Riko pun mengernyit bingung. “Kereta kuda katamu? Bagaimana kau bisa memilikinya?” Saat itu, Mika dan Putri langsung saling pandang. Mereka seolah melemparkan tatapan bodoh satu sama lain karena telah salah bicara. Ahmad yang melihat kejadian ini pun langsung tersenyum ke arah putranya. Pria itu tahu betul jika dulu keluarga Putri berasal dari golongan berada, jadi memiliki kuda sebagai hewan peliharaan pasti bukanlah hal asing bagi mereka. Bagaimana pun juga, Mika menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Di saat Ahmad memberikan penjelasan ke Riko, pemuda bersurai hitam ini melirik ke arah Putri yang notabenenya adalah kakak gadungan Mika. “Aku begitu lelah sekarang. Apakah kita tak bisa pulang? Atau harus menunggu berapa lama lagi?” tanya pemuda itu tak sabar. Putri pun hanya bisa membalasnya lewat gelengan kepala. Ia juga tak tahu soal hal itu. “Coba kutanyakan dulu. Mengingat sudah hampir 1 jam menunggu di sini, seharusnya kita sudah bisa pulang,” sahut Ahmad yang langsung jadi pusat perhatian Mika sekarang. Pria itu langsung berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menjauh guna mencari informasi. Dalam hatinya, pemuda ini mengucapkan terima kasih pada pria itu. Namun beberapa saat setelah Ahmad pergi meninggalkan lokasi mereka, Mika mulai merasakan atmosfer tak enak. Ia tahu kalau suasana ini berasal dari Putri dan Riko. Ada apa dengan dua orang ini? “Kak Mika, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Perhatian Mika pecah saat ia mendengar ucapan Riko beberapa saat lalu. Sebelah alis pemuda ini terangkat dan ia memandang heran ke arah pasangan ibu-anak itu. “Apa ini? Kenapa muka kalian serius sekali?” “Kenapa kau tak mengatakan apa pun padaku soal kemampuan Riko, Mika?” Suara dingin Putri yang berbeda drastis dengan nada khawatirnya tadi membuat Mika Jonathan kaget. Peluh tampak membanjiri dahinya. Pemuda ini terlihat gugup dan tanpa sadar dirinya justru berpura-pura tak mengerti. Namun, satu tarikan kuat di telinga Mika langsung membuat pemuda itu menjerit kesakitan. Putri menjewer Mika karena kesal. Masa bodoh kalau anak ini adalah raja terhebat dalam sejarah sukunya dulu. Satu hal yang pasti, sebagai seorang ibu, Putri sangat kesal sekarang. “Ampun! Jangan lakukan ini! Sakit tahu!” keluh Mika dengan nada memelas. Wajah Putri tampak mengganas. Ia mendesis menahan emosi, “Aku sangat kaget saat tahu anakku punya kemampuan sihir. Tapi, hal yang membuatku semakin kesal saat Riko mengatakan padaku jika dirimu sudah tahu tentang ini semua. Lantas, kenapa kau tak menceritakannya padaku?” Tentu saja Putri kesal. Ia bisa memaklumi rasa kecewa Riko setelah cerita yang disampaikannya pada sang ayah tentang masa depan dianggap angin lalu. Bagaimana pun juga suaminya, Ahmad, hanyalah manusia biasa. Pria itu pasti menganggap Riko hanya main-main saja. Jadi, Putri memaklumi kalau Riko tak mau menceritakan hal ini pada siapa pun lagi sejak kejadian itu, termasuk dirinya. Namun, hal lain menjadi berbeda ketika Riko juga mengatakan soal ini pada Mika. Bagaimana pun, pemuda bersurai hitam itu bukanlah manusia biasa. Dia manusia gila. Kenapa tak mengatakan soal kemampuan Riko padanya coba? Apa motif Mika? Putri sangat kesal dengan sikap bocah ini yang seenaknya. “Ibu, jangan jewer Kak Mika seperti itu! Kita jadi tontonan orang sekarang! Bagaimana pun, Kak Mika adalah korban kecelakaan kan? Jangan menganiayanya karena hal ini!” tegas Riko dengan nada kesal. Ia tak suka saat ibunya yang galak menyakiti Mika. Bagaimana pun, Riko menganggap Mika bagaikan sosok idolanya. Riko tak terima ketika Putri menjewer telinga dan memarahi pemuda itu. “Kenapa kau membela Mika? Anak ini sudah melakukan kesalahan jadi dia harus dihukum!” balas Putri dengan sengit. Riko pun tak tinggal diam. Dia segera melepas tangan ibunya sebisa mungkin. “Tidak! Jangan sakiti, Kak Mika!” Melihat reaksi anaknya, Putri pun kalah berargumen. Dia menghela nafas panjang lalu melepas jewerannya. Meski begitu, tatapan tajam masih dilemparkan wanita itu ke arah Mika yang sibuk mengelus telinganya. Kekacauan yang ditimbulkan oleh keluarga ini menjadi pusat perhatian beberapa saat lalu. Mika mendesis. Ia menduga jika Putri tampaknya sudah salah paham. Bagaimana pun, dirinya tak punya niat tersembunyi yang menjadi alasan kenapa tak memberitahu wanita itu soal kemampuan Riko. Ia hanya tidak minat saja membicarakannya. Terlebih, pemuda ini sangat jarang memegang ponsel mengingat kehidupannya di Jakarta begitu sengsara. Hanya ada kerja, kerja, dan kerja. Pemuda itu menyipitkan mata. “Begini ya, aku ingin menegaskan jika alasan kenapa aku tak memberitahukan soal kemampuan Riko padamu hanya karena lupa saja. Kehidupanku di Jakarta itu rumit. Aku menghubungimu di saat genting saja. Mana mungkin aku punya kesempatan untuk mengobrol basa-basi membahas hal ini?” Mendengar nada suara Mika yang begitu pelan itu, Riko langsung menatap galak ke arah ibunya. “Lihat, Bu! Apa yang kubilang? Kak Mika itu tak punya niatan apa-apa. Dia adalah orang hebat karena mau percaya denganku! Jadi, stop mencurigainya!” protes Riko tak terima. Putri tampak mengerucutkan bibir. Ia masih memandang Mika dengan sengit. “Kita akan bahas ini nanti di pasar malam. Apa kau mengerti?” Suara helaan nafas terdengar. “Iya iya, aku mengerti. Aku akan menjelaskan semuanya padamu.” Saat itu Riko langsung merasa lega ketika ibunya dan Mika mau berdamai. Bagaimana pun, sebelum ayahnya datang memberitahu soal kecelakaan yang menimpa kereta Mika tadi, Riko dan ibunya terlibat dalam perdebatan sengit. Putri yang baru mengetahui soal kemampuan anaknya yang bisa melihat masa depan langsung marah. Ia kesal karena Riko tak pernah bercerita soal itu padanya dan justru memberitahu Mika terlebih dahulu. Di sisi lain, Mika tampak melamun. Meskipun Putri terkenal galak di luar, namun ternyata ia sangat perhatian pada anaknya. Hal ini dibuktikan dengan kemarahan Putri beberapa saat lalu. Wanita itu takut kalau Mika akan memanfaatkan Riko nantinya. Tanpa sadar, pemuda ini mendengus geli. Ia jadi teringat dengan sosok Ibu Tirinya yang selama ini sudah dianggap Mika seperti ibu kandung sendiri. Motivasinya untuk segera kembali ke Kerajaan Mimika semakin kuat saja. Sedetik kemudian, raut wajah Mika berubah. Ia menatap Riko dan Putri dengan ekspresi serius. “Ngomong-ngomong soal kemampuan Riko, aku ingin mengatakan satu hal pada kalian. Kecelakaan tadi—“ “Mika!” Suara teriakan yang familier bagi ketiga orang itu langsung menghentikan Mika yang mau bicara. Dari kejauhan, ketiganya bisa melihat Ahmad yang berlari dengan senyum hangat. “Kita bisa kembali sekarang. Aku sudah melapor pada petugas dan kau diizinkan pulang karena keluargamu datang menjemput ke sini. Jadi, ayo pulang!” “Yeay! Ayo kita pulang!” Bocah berusia 6 tahun yang ada di samping Mika langsung kegirangan ketika mendengar kabar baik dari ayahnya. Putri yang melihat reaksi antara sang suami dan anaknya pun tak bisa menahan senyuman. Ia menghela nafas bahagia. Wanita itu pun menoleh ke arah Mika yang masih duduk di tempatnya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan. Kenapa anak itu justru tampak bingung? “Hei, tunggu apa lagi? Ayo pulang,” ajak Putri dengan nada bersahabat. Namun, ekspresi yang ditunjukkan oleh Mika justru tampak gundah. Ia seperti ingin mengatakan suatu hal namun tak bisa. Putri yang melihatnya pun langsung sadar kalau ada hal aneh. “Kau ini kenapa? Apa ini soal hal yang ingin kau katakan padaku?” Setelah bergulat dengan batinnya, Mika pun akhirnya memberikan reaksi. Ia menggeleng pelan dengan senyum tertahan. “Aku tidak apa-apa. Itu bisa dibicarakan nanti, lebih baik kita pulang saja sekarang.” Ahmad yang berdiri tak jauh dari pemuda itu hanya bisa tersenyum. Pria ini paham pasti Mika masih syok dengan kecelakaan tadi. Meskipun demikian, reaksi girang dari Riko langsung mengalihkan perhatiannya. Pria ini gemas sendiri dengan tingkah laku anaknya. “Yeay, yeay! Ayo cepat, Kak Mika! Ibu sudah memasak perkedel daging di rumah lho!” Senyum Mika merekah. “Daging katamu? Apakah itu daging rusa?” Tawa keluarga kecil itu pecah mendengar pertanyaan aneh dari Mika. Beberapa orang asing yang ada di sekitar mereka bahkan ikut menertawai pemuda itu. Tanpa sadar, wajah Mika sedikit memerah. Apakah ia salah bicara lagi? “Apa? Daging rusa? Kau pikir kita hidup di hutan?” ledek Riko dengan senyum tak habis pikir. Putri juga ikut menertawakannya. “Mana ada daging rusa, Mika? Tentu saja aku membuat perkedelnya dari daging sapi!” Ahmad tampak menyeka air mata yang menetes di pelupuk matanya. Pemuda berusia 17 tahun ini memang nyentrik, entah dia yang memang polos atau murni bodoh. Pria yang telah berjalan lebih dulu itu sedikit melirik ke arah Mika yang ada di belakangnya. “Kau ini lucu sekali, Mika. Sejak awal aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Apakah sebelumnya kau hidup terisolasi dalam hutan atau bagaimana sampa bersikap aneh seperti ini sejak dulu?” Saat itu, Mika yang sudah berjalan bersama mereka mendekati mobil pun hanya bisa menggaruk pipinya canggung. Untuk ke sekian kali, ia telah mempermalukan dirinya sendiri tanpa sadar. Pemuda itu menggerutu kesal. Ia membatin dalam hatinya, ‘Mana aku ingat kalau daging rusa adalah makanan yang aneh di dunia ini? Dulu di kerajaan, kalau melakukan perayaan kan selalu memakai daging rusa. Itu kesukaanku!’ Pada akhirnya, keempat orang itu memasuki mobil. Kendaraan berwarna hitam ini melaju santai meninggalkan area lokasi dekat kecelakaan kereta tadi. Tanpa disadari oleh siapa pun, sosok bertudung hitam mengawasi mobil tadi dari balik kerumunan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN