“Bagaimana kalau kau ikut denganku? Aku tidak tahu ini pilihan yang baik atau buruk, tapi sekolah asramaku bisa kau jadikan opsi terakhir sebagai tempat tinggal gratis.”
Perkataan Asa kemarin malam seperti menggema di dalam kepala Mika. Pemuda bersurai hitam itu sekarang sudah berada di dalam kereta yang berjalan cepat menuju desa tempat tinggal Putri. Matanya tampak kosong. Ia bersender di kursi penumpang seraya melamun.
Apakah pergi dari Jakarta seperti ini adalah pilihan yang tepat untuknya?
Kemarin malam, Mika dan Asa mengobrol banyak hal di kursi taman itu. Pemuda ini menjelaskan padanya kalau ia harus kembali ke desa besok pagi karena tak ada lagi tempatnya untuk pulang di sini. Bagaimana pun juga, Mika masih belum menjelaskan soal sihir pada gadis itu. Ia mencurahkan isi hatinya dengan kebohongan di sana-sini.
Mika bercerita pada Asa kalau alasan ia berhenti bekerja dengan Udin karena pria itu menuduhnya melakukan tindak kejahatan. Karena itulah, Mika tak punya pilihan lain selain kembali ke desa. Lagi pula Asa juga sudah tahu kalau Mika telah mendapatkan artefaknya. Bagaimana pun, tujuan pemuda itu datang ke Jakarta sudah tercapai kan?
“Apa yang dikatakan Ahmad hari itu benar. Kota besar ... sangat menakutkan.”
Mika bermonolog seorang diri. Kejadian-kejadian yang telah dilaluinya di Jakarta kemarin seolah berputar kembali di kepala pemuda itu. Ia merasa lelah untuk sesaat. Perjuangannya di kota besar ini sangat sengsara.
Memuakkan. Ia benci dengan hari-hari berat yang dilaluinya. Mika kesal saat ia harus menjadi sengsara, bekerja begitu keras seperti b***k namun uangnya habis dalam satu kali makan saja. Ini menyedihkan. Dulu, dirinya tak pernah diperlakukan seperti ini di Kerajaan Mimika.
Meski banyak orang yang secara terang-terangan mengecam Mika atau membencinya, pemuda itu masih mendapat kehormatan karena ia adalah keturunan raja. Setiap hari Mika masih bisa merasakan pelayanan, kemegahan, dan kekayaan. Jangankan bekerja, mau apa-apa pun Mika selalu dilayani oleh pengabdi di istana.
“Aku merasa sangat lelah dalam sekejap. Lelah sekali. Sampai rasanya ingin mati saja.”
Mika menghela nafas untuk yang ke sekian kali. Ia melirik sebentar ke arah ponselnya untuk melihat jam. Mata pemuda itu mengernyit saat melihat waktu yang baru menunjukkan pukul 10 pagi. Ini tumben sekali. Biasanya saat jam 10, matahari sudah bersinar terik. Namun, kali ini cuaca bisa dikatakan cukup redup.
Kedua mata Mika tampak sayu. Ia memejamkan kelopak matanya untuk sesaat. Pemuda ini mencoba untuk tidur, mengingat semalam ia hanya istirahat sekitar dua jam saja. Rasa lelah dan capek yang menggelayuti tubuhnya seakan sirna begitu saja ketika Mika merelakskan badan.
Sepertinya, tidur dalam perjalanan kereta bukanlah hal yang buruk. Ia bisa bernafas lega saat ini. Dirinya benar-benar bisa beristirahat kan?
Namun, apa yang diharapkan oleh Mika seperti tak bisa dikabulkan oleh Tuhan. Setelah ia memejamkan mata sesaat, benturan keras terdengar begitu melengking dari gerbong ini. Kereta tampak bergetar dan orang-orang berteriak ketakutan. Sontak saja Mika langsung membuka matanya lebar-lebar. Apa lagi yang terjadi sekarang?
“Gawat! Sepertinya kereta ini telah menabrak kendaraan lain!”
“Tapi keretanya masih melaju! Gerbong ini tadi bergetar selama beberapa saat!”
“Bodoh, ya jelas keretanya masih tetap jalan. Mana mungkin kereta bisa mengerem mendadak? Kita hanya harus menunggu perintah selanjutnya. Sepertinya gerbong depan yang mengalami kerusakan!”
Mika terdiam dengan wajah bingung. Ia tetap duduk dalam posisinya seperti tadi. Pemuda itu berusaha mencerna segala informasi dari para penumpang lain. Sepertinya dugaan mereka yang mengatakan kereta ini telah menabrak kendaraan tadi benar. Hal itu dibuktikan dengan laju kereta yang terlambat dan akhirnya berhenti beberapa saat kemudian.
Terdengar komando dari sepiker kereta yang menyuruh penumpang untuk segera turun. Mika pun menuruti arus cerita yang berjalan sekarang. Ia dan penumpang lain di gerbong ini turun satu per satu.
Begitu melangkahkan kakinya keluar, pemuda ini melebarkan mata tak percaya ketika melihat gerbong depan kereta yang penyok. Sepertinya benturan tadi cukup keras. Pemuda ini harus mengakui jika kemampuan pengemudi kereta cukup baik sehingga korban yang ditimbulkan tak banyak.
Namun meski begitu, beberapa penumpang lainnya yang heboh langsung menarik perhatian Mika. Saat pemuda itu menoleh ke belakang, ia bisa melihat kerumunan orang lain mengerubungi kendaraan yang jaraknya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri sekarang.
“Mungkinkah ... itu mobil yang ditabrak tadi?” celetuk Mika tanpa sadar.
Seorang bapak-bapak yang ada di sampingnya langsung menyahut pertanyaan pemuda itu. “Kemungkinan besar iya. Dari yang aku dengar tadi, katanya itu mobil delegasi negara luar. Bagaimana mungkin mereka bisa menyeberang sembarangan seperti itu?”
Dahi Mika mengernyit. “Tunggu, apa maksud Bapak degan delegasi luar tadi?”
“Kau tak tahu? Delegasi luar itu seperti perwakilan orang penting dari negara asing. Mereka ke Indonesia pasti karena adanya tugas dari negara. Nasibnya sial sekali. Kalau melihat kerusakannya seperti itu, mungkin orang-orang yang ada dalam mobil pasti tewas.”
Mika tak menyahut apa-apa. Pemuda itu hanya bisa terdiam dengan mata yang melebar tak percaya. Berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh beberapa penumpang lain, Pangeran dari Kerajaan Mimika ini justru memandang ngeri ke arah mobil yang hancur itu.
Degup jantungnya tak beraturan. Ia melotot sambil membuka sedikit mulutnya karena memikirkan hal ini. Untuk sesaat, pemuda itu teringat dengan perkataan Riko.
“Aku bermimpi. Negara ini akan mengalami perang dalam waktu setahun lagi. Itu mengerikan. Semua orang mati dengan mudah dan tak memiliki apa pun untuk bertahan hidup. Aku ingin banyak uang untuk membangun benteng pertahanan diri agar bisa selamat!”
Kalau memang benar orang yang ditabrak oleh kereta tadi adalah delegasi dari luar, mungkinkah kejadian ini menjadi awal mula kenapa perang bisa terjadi setahun lagi?
Mika tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Ia memandang horor ke sekitar. Sialan, sialan, sialan. Pemuda ini masih belum mengetahui alasan kenapa bisa ada perang di negara ini seperti yang dikatakan oleh Riko. Akan tetapi, insiden kecelakaan ini bisa menjadi awal mula dari meletusnya perang itu.
Bagaikan harimau yang berlari cepat, Mika ingin melihat apa yang terjadi dengan mobil itu. Bersama beberapa penumpang kereta yang ingin melihat ke sana, Mika berlari sekuat tenaga. Ia ingin memastikan hal ini dengan mata kepalanya sendiri.
Namun begitu pemuda ini tiba di lokasi, hal yang bisa ia jumpai hanyalah bangkai mobil yang hancur telak. Beberapa orang telah mengevakuasi jenazah dari dalamnya. Meskipun begitu, darah yang ditunjukkan oleh kecelakaan tadi tak bisa ditutupi. Cairan merah itu meluber ke mana-mana dan menjadi teror sendiri bagi orang yang melihatnya.
Bahkan kalau lebih diteliti lagi, pemuda bersurai hitam ini bisa melihat adanya bola mata yang menggelinding di antara batu-batu di sepanjang rel kereta. Untuk sesaat, ia merasa ingin mengeluarkan isi perutnya.
Mika langsung menutup mulutnya setelah menyaksikan kejadian ini. Ia bersyukur bisa selamat dari insiden kecelakaan ini, tapi yang benar saja? Apakah kejadian ini bisa memicu perang?
Tidak, itu tidak penting sekarang. Ia harus menghubungi Putri dan keluarganya dulu. Nasib baik ketika Mika sadar jika ia sudah berada setengah jalan. Jarak desa Putri mungkin hanya sekitar beberapa puluh kilometer dari sini. Kalau meminta Ahmad, yang notabenenya suami Putri, untuk datang ke sini sepertinya bisa.
“Halo? Ini aku Mika. Bisakah kau datang ke sini?” Pemuda itu bertanya dengan nada pelan di telepon. “Aku ... terlibat dalam kecelakaan yang parah.”
Saat itu, segalanya menjadi begitu cepat. Para polisi datang bersama dengan jurnalis ke lokasi kejadian untuk memastikan apa yang terjadi. Pihak Dinas Perhubungan pun meminta kepada seluruh penumpang kereta untuk dievakuasi terlebih dahulu mengingat mereka semua pasti syok dengan insiden ini.
Meskipun demikian, Mika tetap tak ingin pindah dari posisinya. Ia terus menyaksikan proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat itu untuk memastikan apakah korban kecelakaan tadi benar-benar delegasi luar atau bukan.
Namun, saat pemuda itu mulai paham dengan situasi yang terjadi, ia bisa melihat bagaimana wajah-wajah horor yang ditunjukkan polisi. Mika mendekati mereka tanpa sadar dan menguping perbincangan aparat itu.
“Kita dalam kondisi darurat. Mereka adalah delegasi penting dari Amerika dan Cina.”
“Bagaimana mungkin orang-orang itu berada dalam satu mobil yang sama? Bahkan mereka keluar tanpa penjagaan polisi dan tak melapor dulu ketika hendak bepergian!”
“Itu tak penting sekarang. Dua negara itu adalah negara adidaya! Meskipun ini murni kesalahan mereka, tapi jika Indonesia salah sedikit saja pasti nasib negara ini akan jadi bahaya!”
Suasana semakin panas dalam obrolan itu. Mika yang menguping sejak tadi pun ikut merasakan ketegangannya. Jika memang benar apa yang dikatakan oleh polisi tadi soal negara adidaya, pasti perang tak dapat dihindari. Ini menjadi semakin gawat.
Bulu kuduk Mika langsung meremang. Tanpa sadar, ia dibanjiri oleh serangan panik. Bagaimana nasibnya sekarang?
Pemuda itu memejamkan mata, berharap dan berdoa dalam hatinya. “Aku harus bertemu Riko secepat mungkin! Semoga Ahmad bisa segera datang ke sini!”