Para tetua yang ada di Kerajaan Mimika pernah berkata jika seorang bangsawan harus menjaga sikap. Untuk pertama kalinya, pemuda bernama Mika Jonathan ini setuju dengan gagasan tadi. Bagaimana pun, dia telah membuat kesalahan yang membuat hidupnya merana.
Tetua-tetua menyebalkan itu pernah bilang jika seseorang yang berada dalam keadaan emosi tak boleh memutuskan suatu hal secara sepihak. Sekarang, Mika menyesali tindakannya. Dia seenak jidatnya memutuskan untuk berhenti bekerja dengan Udin. Padahal selama ini kebutuhannya dibiayai oleh gaji yang didapatkannya dari sana.
Dua minggu pun telah berlalu sejak malam itu. Kini Mika hanya bisa meratap di rumah kontrakannya seorang diri. Keinginan untuk kembali ke desa yang menjadi tempat tinggal Putri semakin meningkat. Ia tak bisa berpikir jernih. Mungkin balik kampung memang opsi terbaik sekarang.
Namun, apa yang harus Mika lakukan di desa itu nanti? Tidak mungkin ia akan menanti Putri menyelesaikan alat teleportasi itu selama setahun kan?
“Berpikir, Mika! Berpikir!” Pemuda itu berteriak frustrasi seraya mengacak rambutnya kesal.
Mika emosi karena tak kunjung menemukan tujuan baru dalam hidupnya di dunia ini selama setahun ke depan. Apalagi kalau mengingat soal ramalan Riko yang mengatakan jika akan ada perang di negara ini. Semuanya semakin kacau saja.
Apakah ia benar-benar bisa pulang ke Kerajaan Mimika sebelum perang itu pecah?
Pemuda itu kemudian menatap kesal ke arah tiket kereta api yang ada di meja. Bagaimana pun juga, perjalanan balik kampung ini sudah di depan mata dan Mika harus pulang besok pagi. Tak ada tempat bagi Mika di Jakarta sekarang.
Kalau ia semakin lama di sini, bisa-bisa akan ada banyak ‘Udin’ lain yang curiga padanya. Memangnya mau sampai kapan bangkai ini terkubur? Pada akhirnya semua orang mungkin tahu kalau dirinya bisa menggunakan sihir.
Bagaimana pun juga, Mika masih waras. Mana mungkin ia membiarkan dirinya menjadi objek penelitian?
Kemarin lusa, Mika juga telah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai tukang cuci baju di tempat laundry. Sekarang ia resmi menggenggam gelar pengangguran sejati. Hidup luntang-lantung ke sana tanpa arti. Untung uang yang ada di rekening bank pemuda itu masih cukup untuk membiayai hidup dan tiket pulangnya.
“Aku tidak bisa begini terus,” keluhnya sambil memandang bosan ke sekitar ruang tamu ini. “Paling tidak, aku harus cari hawa segar malam ini.”
Pada akhirnya Mika memutuskan untuk jalan-jalan di jam tujuh malam ini. Sebelum ia dengan melangkah keluar, ponselnya yang berada di atas meja ruang tamu berdering. Karena malas berjalan kembali, Mika mengambil benda itu menggunakan kekuatan sihirnya.
Ponsel pun melayang dan kini telah berpindah ke tangan kanan Mika. Dahi pemuda itu mengernyit heran saat melihat bahwa Riko, anak dari Putri, yang meneleponnya kali ini. Ada apa ya kira-kira?
“Kak Mikaaaa!”
“Astaga, aku bahkan belum mengucapkan kode halo tapi suara cemprengmu sudah merusak telingaku,” keluh Mika dengan mulut pedasnya. Pemuda itu menjauhkan telepon tadi dari telinganya.
Ada suara tawa yang keluar dari mulut Riko. Sepertinya bocah itu merasa malu sekarang. Mika pun berjalan keluar, mengunci pintu menggunakan kekuatan sihirnya, dan menatap orang-orang yang berlalu lalang di gang depan rumahnya dengan datar.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku meneleponmu hari itu. Ibu telah menyita ponselku selama sebulan dan sekarang ponselku kembali.”
Mendengar perkataan Riko, Mika pun mengernyit bingung. Ia baru tahu kalau ponsel anak itu disita. Pantas saja sejak Riko tak meneleponnya lagi sejak perbincangan terakhir mereka ketika Mika menunggu Pak Agus hari itu. Suasana agak canggung sekarang. Apa yang mau dibicarakan bocah ini?
Mika mulai melangkahkan kaki keluar. Ia bertanya melalui telepon itu, “Lalu ada apa? Nada suaramu cerah sekali.”
“Kemarin aku bermimpi bahwa kau akan pulang!”
Tawa hambar langsung muncul dari mulut Mika. Sepertinya bakat anak itu untuk memprediksi masa depan semakin hebat saja. Riko sepertinya sudah bisa melihat masa depan seseorang, buktinya ia bisa melihat masa depan Mika. Tahu saja anak itu kalau dirinya memang akan pulang besok.
Mika berjalan lihai di antara orang-orang. Kini ia tak lagi berjalan di gang depan rumahnya, melainkan di trotoar samping jalan raya.
“Mungkin laporanku agak telat soal ini, tapi aku harus memberitahumu kalau aku sudah bisa mengetahui masa depan orang lain sesuai kehendakku. Terhitung sejak dua minggu yang lalu, aku bisa memprediksi masa depan Ibu, Ayah, Pak Lurah, atau siapa pun yang kumau.”
Senyum tertarik tampak ditunjukkan oleh Mika. “Bagaimana caramu melakukannya?”
Riko pun menjelaskan kalau ia bisa melakukan semua itu hanya dengan memikirkan orang yang akan ia perkirakan masa depannya sebelum tidur. Dia mengambil contoh kasus ibunya. Beberapa hari lalu, sang ibu berkeluh kesah soal arisan.
Karena iseng, Riko pun memikirkan ibunya sebelum tidur. Alhasil dia berhasil memimpikan masa depan sang ibu yang menang arisan. Bukan itu saja, dalam mimpinya, Riko bisa memprediksi segala hal soal sang ibu dalam waktu 24 jam ke depan.
“Wow, 24 jam katamu? Meskipun masih terbatas, untuk usia bocah kau lumayan hebat, Riko,” puji Mika apa adanya.
“Benarkah?! Apa aku memang sehebat itu?”
Di kerajaan dulu, yang Mika tahu, seseorang dengan tipe sihir memprediksi masa depan bisa melihat apa yang terjadi pada diri seseorang sampai orang itu tewas. Hal ini sangat berguna karena bisa menebak alur takdir. Namun untuk di dunia normal di mana sihir tidak ada seperti di Indonesia ini, Mika mengagumi kemampuan Riko di usianya yang masih belia.
Anak itu masih punya potensi luar biasa yang bisa dikembangkan nantinya.
“Hei, Riko. Bagaimana denganku? Apakah kau sudah bisa memprediksi masa depanku?”
Riko kembali terdiam sekarang. Mika yang masih berjalan santai di antara orang-orang malam ini pun juga membisu. Kenapa atmosfernya berubah menjadi sendu seperti ini?
“Apa ini ada kaitannya dengan pertanyaan anehmu dulu?”
Mika tak menjawab. Kedua matanya fokus menatap ke depan.
“Apa maksudmu bertanya hal aneh seperti itu? Kau menanyakan apakah dirimu masih ada di sini atau sudah lenyap saat perang itu dimulai. Tapi, ini tak masuk akal. Memangnya kau akan ke mana?”
Senyum Mika pun tersungging miring. Ia menatap sosok gadis yang dikenalnya saat ini tengah berjalan seorang diri. Ada sensasi aneh di hati Mika sekarang. Dia sedikit mengabaikan pertanyaan Riko di telepon. Matanya tak berkedip menatap orang yang berjalan ke arahnya itu.
Gadis dengan tinggi kira-kira 160 cm dan rambut diikat dua yang khas itu adalah Asa, bukan? Kenapa dia bisa ada di sini? Dan kenapa juga Mika harus melihatnya malam ini? Ia tak ingin bertemu dengannya.
“Halo, Kak Mika? Apa kau mendengarku?”
Mika pun mendengus tanpa sadar. Perhatiannya kini terfokus kembali ke telepon Riko. “Aku mendengarmu, Bocah. Ada beberapa hal yang tidak akan kau ketahui sebelum waktunya tiba, begitu pula dengan apa yang kusampaikan hari itu. Prediksimu yang mengatakan aku akan pulang itu benar.”
“A-apa maksudmu?”
“Sepertinya kau begitu kegirangan sampai menjadi bodoh sekarang. Aku akan pulang besok pagi. Sekarang aku tutup dulu telepon ini! Sampai jumpa!”
“T-tapi, Kak—!”
Mika pun mengakhiri telepon secara sepihak. Sebenarnya ia tak berniat memperlakukan Riko seperti tadi, namun anak itu menghubunginya di saat yang tidak tepat. Apa boleh buat, Mika harus meminta maaf pada bocah itu saat pulang besok.
Bagaimana pun juga, pemuda ini frustrasi. Niatnya yang ingin jalan-jalan guna menjernihkan pikiran justru membuatnya semakin kesal. Ia tak ingin melihat Asa di sini. Mika pun berputar arah dan akhirnya duduk di salah satu kursi taman.
“Aku ini kenapa coba? Biasanya aku memang suka emosi ke orang-orang. Tapi, alasannya sudah jelas karena mereka berperilaku buruk. Sekarang? Aku justru emosi ke siapa saja dengan mudah. Gara-gara Asa, aku jadi ketus dengan Riko. Bahkan aku menjadi kesal dengan gadis itu tanpa sebab!”
Mika mengomel seorang diri. Gadis itu telah menjadi orang spesial, dalam tanda kutip, untuknya. Dia adalah satu-satunya orang yang mengerti seluk beluk permasalahan Mika sampai sekarang. Pemuda ini hanya tidak ingin Asa muncul di hadapannya. Ia tak mau menjelaskan soal kepulangannya ke desa itu secara tiba-tiba.
“Wah, wah. Coba lihat. Siapa orang yang sedang mengomel seorang diri di sini?”
Mika terperanjat. Ia menatap tak percaya ke arah gadis yang tiba-tiba muncul di belakang kursi taman yang didudukinya. Mata pemuda itu melotot ke arah Asa yang tersenyum tanpa dosa di ke arahnya.
“Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini tiba-tiba?!”
Gadis itu tersenyum aneh. “Aku mendengar namaku disebut oleh mas-mas aneh yang menggerutu di kursi taman, jadi aku langsung ke sini!”
Asa dengan seenaknya duduk di samping Mika seolah tak terjadi apa-apa. Pemuda ini pun sontak menepuk dahi. Pasti Asa sudah melihatnya saat di trotoar tadi dan mengikutinya ke sini. Seharusnya Mika tahu kalau Asa adalah salah satu orang aneh di negara ini.
“Kenapa wajahmu kesal seperti itu saat melihatku? Tumben sekali.”
“Aku tidak ingin melihatmu malam ini. Kenapa kau tak bisa mengerti hal semudah itu?”
Asa pun menyeringai. “Kau jahat sekali berkata seperti tadi. Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Apa kau tahu?”
Mika pun memandang gadis ini dengan heran. “Kau mencariku?”
“Iya, aku pergi bolak-balik ke warung baksomu. Warung bakso itu sudah tutup hampir seminggu dan saat buka beberapa hari lalu, aku datang ke sana. Tapi sayangnya, bosmu bilang kalau kau sudah berhenti bekerja. Aku jadi tak bisa menemuimu.”
Benar juga, Mika memang belum memberitahu Asa soal pengunduran dirinya dari Warung Bakso Udin. Lagi pula, ia juga harus memberi tahu gadis ini kalau dirinya tak bisa ditemui lagi mulai sekarang. Harus mulai dari mana Mika menjelaskan permasalahannya ini?
“Pelan-pelan saja,” ucap Asa secara tiba-tiba. Gadis itu tersenyum. “Sepertinya masalahmu cukup rumit. Ceritakan hal itu padaku pelan-pelan saja.”
Mika tertegun. Asa memang orang yang paling mengertinya. Mungkin, menceritakan permasalahannya pada gadis ini bukanlah hal buruk. Lagi pula mereka tak akan bertemu lagi setelah ini kan?