Chapter 28 - Kemarahan

2855 Kata
“Saya akan memberikan laporan, Tuan.” “Silakan. Katakan semuanya.” Di sebuah ruang temaram dengan interior super megah ini terlihat dua orang pria sedang berhadapan. Sosok pria bertudung hitam yang persis dengan yang ditemui Asa hari itu tampak bersimpuh dan menekukkan lututnya di hadapan orang yang dijuluki Tuan tadi. Sementara itu, wajah pria yang dipanggil Tuan tersebut tidak begitu jelas karena dirinya membelakangi cahaya. Ia dengan cermat memperhatikan pria bertudung yang kini berada di hadapan meja kerjanya. Dalam sebulan terakhir, terhitung pria berpakaian serba hitam ini telah melapor padanya sebanyak empat kali. “Seperti biasanya, rencana awal kita masih sukses sampai sekarang. Dia tampak kesulitan, namun sepertinya Mika Jonathan bisa menangani hal itu.” Senyum miring langsung terukir jelas di wajah pria yang dianggap sebagai Tuan oleh pria tadi. Ia terlihat begitu senang mendengar laporan dari ajudannya. Apa yang direncanakan oleh pria itu tampaknya berjalan sempurna. “Namun, ada satu kabar buruk yang ingin saya sampaikan. Di dunia itu, tampaknya Mika Jonathan bisa beradaptasi dan berteman dengan banyak orang. Salah satu temannya hari ini melihat keberadaan saya.” Sebelah alis dari orang bernama ‘Tuan’ ini pun langsung terangkat. Ia heran. “Mika Jonathan bisa punya teman di sana? Bukankah ini mengejutkan?” “Dari apa yang saya lihat tadi, itu memang temannya. Kita telah kecolongan karena tak tahu siapa orang itu. Tapi, saya akan berhati-hati agar ia dan Mika Jonathan tak bisa menemukan saya lagi.” Sosok yang disapa Tuan tadi pun mengangguk. “Aku pegang janjimu. Selidiki teman Mika tadi dan bawa laporannya ke sini secepat mungkin!” “Baik, saya mengerti!” Dengan cepat, pria bertudung tadi menghilang dari ruangan ini dalam sekejap mata. Sulit untuk dijelaskan, namun satu hal yang pasti orang itu memakai kekuatan sihirnya untuk pergi dari sini. Dia pasti adalah seseorang yang sangat ahli dalam hal teleportasi. Bagaimana pun juga, ini sudah satu bulan sejak Kerajaan Mimika dibuat heboh dengan hilangnya Putra Mahkota. Perayaan Festival Sihir hari itu tak bisa dilupakan karena menghilangkan sosok penerus Kerajaan Mimika. Pria yang dipanggil dengan nama ‘Tuan’ ini pun menyeringai lebar ketika memikirkan semua itu. Sampai sekarang, rencananya terus berhasil. Ia tak akan membiarkan ini gagal. Mika Jonathan harus tetap ada di sana. Sementara itu, jauh dari tempat antah berantah tadi, langit malam tampak memenuhi pemandangan di setiap sudut Indonesia. Keeksotisan alamnya yang memukau membuat siapa saja terkagum-kagum, termasuk Mika. Hari ini ia dan Udin akan menemui dua korban penganiayaan dari sosok misterius yang membuat beberapa bagian kulit mereka terkelupas. Keduanya saat ini sedang menaiki perahu kecil menuju salah satu pulau yang ada di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di sinilah, dua orang korban itu berada karena masih dalam pengawasan BIN untuk sementara. Badan Intelijen Negara (BIN) akan berusaha sebisa mungkin menjamin keselamatan dua orang korban itu. Dalam perjalanan mereka menuju pulau yang sudah berjarak dekat itu, baik Udin maupun Mika sama-sama bungkamnya. Tak ada dari mereka yang mengucapkan sepatah kata sejak tadi. Sang pengemudi perahu pun hanya bisa diam. Mika Jonathan yang merasa canggung tampak mengalihkan pandangan. Ia menatap hamparan laut yang saat ini diseberangi perahu kecil itu. Dalam hatinya, pemuda itu tak merasa kalau hari akan berganti secepat ini. Padahal kemarin malam, Udin baru membicarakan soal kasus ini padanya. Siapa yang mengira kalau esoknya ia akan diajak datang ke sini? Satu-satunya hal yang bisa disyukuri Mika hari ini hanyalah pertemuan antara ia dengan Asa pagi tadi. Gadis itu membuat pikirannya bisa santai dalam sesaat. Sesuai janji, mereka berdua kembali bertemu di hari Minggu ini untuk menuntaskan pencarian letak ruang bawah tanah Mika. Karena pemuda itu sudah mendapatkan kejelasan soal ruangan bawah tanah itu dari Udin semalam, Mika pun menceritakannya pada Asa. Ia juga bilang pada gadis itu bahwa artefak yang dicarinya sudah ditemukan. Akhirnya, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol biasa. Mika juga tampak terburu-buru karena ia ada pekerjaan setelah itu. Di lain sisi, Udin yang duduk di sampung Mika yang tengah melamun justru tampak serius berpikir. Ia sangat yakin jika artefak yang diberikannya pada Mika kemarin adalah sebuah benda berbentuk abstrak yang memiliki warna perak. Namun, pria bermata sipit ini bisa melihat kalau benda itu berubah warna secara tiba-tiba ketika Mika membawanya pulang. Perlahan namun pasti, warna perak di artefak itu tergantikan menjadi ungu. Ia jadi bertanya-tanya. Apakah benda itu punya kekuatan magis? Atau ini berhubungan dengan Mika Jonathan yang saat ini agak dicurigainya? Dari awal pertemuannya dengan pemuda ini, Udin sudah merasa kalau seseorang di sampingnya itu bukanlah anak biasa. Ia tampak berbeda. Bukan hanya tampang arogan Mika saja yang tak cocok dilihat sebagai orang miskin, segala hal soal tindak tanduknya juga bisa dikatakan aneh. Meskipun Udin tahu kalau pemuda ini sedikit temperamental, tampaknya Mika bisa menekan sifatnya itu untuk tak keluar akhir-akhir ini. Dia juga cerdik. Anak ini dengan mudah menemukan pelaku yang menjadi bandar narkoba hari itu sementara Udin yang menjadi intel terlatih memerlukan waktu selama beberapa minggu. “Kita sudah sampai di pulau ini.” Perkataan dari sang pengemudi perahu ini mengagetkan Mika dan Udin yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kedua orang itu tersentak lalu saling berpandangan dengan canggung. Mereka pun turut secara serentak dari perahu tadi. “Apakah kita harus melewati batu-batu karang ini?” Mika bertanya dengan ekspresi heran. Bagaimana pun juga, pulau tak bernama yang menjadi markas rahasia BIN ini dikelilingi oleh batu-batu karang yang tajam juga licin. Tampaknya hal itu diperlukan untuk mencegah adanya tahanan-tahanan yang ada di dalam agar tidak bisa kabur. “Tunggu sebentar. Aku punya jalan rahasia.” Mendengar jawaban Udin yang seperti itu, pemuda ini hanya bisa melihat gerak-gerik dari bosnya. Pria itu tampak menyentuh beberapa batu karang. Mungkin terlihat seperti ia menekan kode. Setelah itu, Udin mengeluarkan kartu dan menempelkannya ke suatu batu yang memiliki permukaan rata. Secara tiba-tiba, tanah bergetar. Mika langsung ketakutan dan tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia kira batu-batu karang ini akan runtuh dan pemuda itu dengan spontan membuat kuda-kuda dengan tujuan menggunakan sihirnya untuk melindungi diri. Namun, tidak terjadi apa pun setelah itu. Bukan batu karangnya yang runtuh, melainkan pintu batu karang yang ada di depannya tiba-tiba terbuka. Mika berkedip tak mengerti. Udin yang melihat posisi siaga Mika tampak menatapnya intens. Pemuda ini cukup cermat juga dalam situasi genting. Dirinya seperti orang yang ahli dalam bertarung. Saat ini, tingkat kecurigaan Udin pada Mika semakin tinggi. Anak ini memang bukan anak biasa. “Ayo kita masuk,” ujar Udin, “pintu ini akan tertutup kembali jika kita tidak segera masuk.” “Aku mengerti!” Mika mempercepat langkahnya mengikuti Udin. Benar saja, setelah mereka berdua masuk pintu ini kembali tertutup. Udin melirik ke arah Mika dengan seutas senyum. “Apa kau kaget? Wajahmu itu lucu sekali.” Mika yang diledek seperti tadi sontak malu. “Aku tidak kaget. Pintu itu terbuka tiba-tiba jadi jantungku seperti mau copot.” Udin hanya terkekeh. Ia melewati lorong-lorong yang diterangi lampu terang ini dengan sigap. Di sisi lain, Mika sedikit heran karena ia sama sekali tak mengira akan ada listrik di dalam tempat tersembunyi ini. Mereka berdua terus berjalan dan setelah itu tiba di suatu lorong yang aksesnya ditutup dan dijaga oleh dua orang berpakaian serba hitam. Mungkinkah mereka sesama anggota dari organisasi milik Udin? Mika bingung dan memperhatikan gerak-gerik Udin yang berbincang dengan dua orang tadi. Mereka berdua akhirnya diizinkan masuk. Dugaan Mika tadi tampaknya benar. Dua orang penjaga ini pasti adalah anggota dari organisasi rahasia yang sama dengan Udin. Melihat keduanya yang memberikan hormat pada bos warung baksonya ketika ia melewati mereka, Mika merasa kalau Udin punya jabatan penting di organisasi. “Ah, Inspektorat Utama! Selamat datang!” Seseorang dengan baju hitam lain yang duduk di bagian administrasi langsung memberikan hormat. Mika yang mendengar Udin dipanggil dengan nama Inspektorat Utama itu langsung melirik ke arahnya. Bos baksonya ini bukanlah orang biasa. Orang-orang di sini menghormatinya. Kalau dipikirkan lagi, apa yang dikatakan Putri kemarin benar. Kalau ia salah langkah, bisa gawat nasib Mika. “Santai saja, aku datang ke sini sesuai laporan yang kubuat kemarin. Apakah Dian ada? Bisakah dia mengantarkanku ke ruangan dua orang itu berada?” tanya Udin pada petugas itu. Pria berpakaian serba hitam itu langsung menganggukkan kepala. “Anda bisa datang langsung ke sana. Kebetulan Petugas Dian sekarang ada di sana.” Mendengar itu, Udin langsung mengukirkan senyum simpul. “Aku mengerti kalau begitu.” Sejak awal Mika datang ke sini, ia merasa kalau keberadaannya sejak tadi tak begitu dianggap. Karena suasana canggung itu, Mika pun segera menyusul Udin dan berjalan membisu di belakangnya. Sadar akan atmosfer yang aneh ini, Udin melirik ke belakang. “Kenapa kau bersikap aneh seperti itu?” Mika menggaruk pipinya yang tak gatal. “Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa aneh karena keberadaanku seperti tak kasat mata.” Udin tertawa pelan mendengar hal itu. “Tenang saja, orang-orang di sini memang kaku. Abaikan sikap mereka dan kau tenang saja. Hari ini aku hanya ingin kau membantuku mengorek informasi lebih banyak dari para korban.” Mika mengangguk paham. Ia terus mengikuti Udin sampai keduanya masuk ke lorong baru bertuliskan ‘Perawatan Medis’. Di sana sudah ada sosok wanita berpakaian serba hitam. Mika menduga kalau orang itulah yang bernama Dian, seseorang di organisasi rahasia ini yang akan ditemui oleh Udin. “Tuan Inspektorat! Selamat datang! Saya akan membantu Anda melaksanakan tugas!” ujar wanita bernama Dian ini dengan begitu hormat setelah melihat sosok Udin berada di hadapannya. Mika bertanya dalam hati, kenapa orang ini bisa begitu dihormati? Mereka tampak berbisik sesuatu. Mika semakin merasa kalau keberadaannya di sini adalah suatu kesalahan. Kalau tahu akan diberlakukan seperti tersangka, ia tak akan datang ke sini. Dari awal, Mika sudah tahu jika Udin sedikit mencurigainya. Tapi, ia tak akan mengira kalau bosnya itu akan berperilaku sedikit berbeda. “Ayo kita masuk, Mika.” “Ah, oke.” Mendengar perkataan Udin tadi, Mika sedikit terperanjat. Ia segera mengikuti dua orang itu. Diam-diam, Mika sedikit tersenyum. Bagaimana pun juga, ia sudah punya rencana matang sebelum datang ke sini. “Ini adalah pasien pertama yang kami temui di Jakarta Pusat kemarin. Ia mau diajak ke sini karena lembaga berjanji untuk melindunginya. Kondisinya lumayan pulih, namun tetap saja ada yang aneh. Pengobatan medis seperti tak mempan pada lukanya itu,” jelas Dian. Udin mengalihkan pandang ke arah wanita itu. “Mungkinkah ada kekuatan magis di sini?” Mika sedikit merasa tersentak ketika merasa Udin sedang meliriknya saat ini. Sialan, ia dicurigai lagi. Kenapa Udin bisa tiba-tiba bersikap seperti sekarang? “Saya tidak tahu. Tapi, mungkin saja.” Mendengar jawaban Dian, Udin hanya bisa mengangguk. Ia pun mengajak Mika untuk masuk dan pemuda itu menurutinya. Sebelum Mika melangkahkan kaki masuk, pemuda itu menjentikkan jari kanannya tanpa disadari oleh siapa pun. “Jangan khawatir, Mika. Kalau kau tak percaya dengan Dian, kau tenang saja. Orang yang ada di luar tak bisa mendengarkan perbincangan kita di sini.” Apakah kau tidak sadar jika orang yang sekarang tidak kupercayai itu justru dirimu, Pak Udin? Dalam hatinya, Mika menghela nafas berulang kali. Meskipun begitu, ia hanya bisa mengangguk paham. Mika tahu betul orang ini. Pria menyebalkan yang sekarang duduk di ranjang rumah sakit itu adalah sosok yang cari gara-gara dengannya dulu karena berani mencuri ponselnya. Pemuda berusia 17 tahun itu menatapnya tajam. Ia benci dengan orang ini. Udin menyapa, “Hai, kau bisa memanggilku Udin. Aku datang ke sini bersama temanku dan kami ingin menanyakan beberapa hal. Apakah dirimu tak keberatan?” Orang itu tampak mengangguk sebagai tanda persetujuan. Ia menatap Udin dan Mika secara bergantian, tapi reaksinya biasa saja. Udin merasa kalau orang ini sama sekali tak mengenal Mika. Kenapa bisa jadi seperti ini? Padahal sebelumnya, Udin merasa kalau Mika berhubungan dengan kasus ini. Melihat ekspresi heran Udin, Mika tersenyum tipis. Meskipun bosnya ini lebih tua dari dirinya beberapa tahun, tapi Mika adalah orang yang ada dari bertahun-tahun yang lalu. Ia lebih ahli dari orang ini. Bagaimana pun juga, di kerajaannya, Mika selalu dijuluki sebagai sosok jenius. Jentikan jari sebelum Mika masuk ke sini tadi ia gunakan untuk mengelabui pria yang telah mencuri ponselnya dulu. Mengingat kalau luka orang itu belum sembuh, ini berarti sihirnya masih menempel di orang tersebut. Mika pun dengan mudah mengelabui orang tadi dengan membuatnya tak mengingat siapa dia. Pemuda ini menghapus ingatan tentang dirinya dari kejadian di hutan kota hari itu. “Apa kau bisa menjelaskan kenapa dirimu seperti ini?” Udin bertanya pada pria tadi. “Hari itu aku hanya berjalan biasa. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menanyaiku soal alamat rumah. Aku tidak mengingat betul bagaimana dirinya. Karena sedang stres sebab tak kunjung mendapat kerja, terbesit niat untuk mencuri ponselnya yang mahal.” “Lalu?” Sebelah alis Udin tampak terangkat. Ia merasa pernyataan dari pria ini lumayan menarik. “Aku tahu tindakanku salah. Pada akhirnya aku mencuri ponsel orang itu. Namun sialnya, dia justru mengejarku dan menghajarku seperti ini.” “Jadi, ini seperti tindakan main hakim sendiri ya?” celetuk Mika yang langsung jadi pusat perhatian dari dua orang yang lain. Mendengar opini pemuda ini, Udin pun menggelengkan kepala tak setuju. “Kalau dalam perspektifku, ini seperti bentuk pertahanan diri, Mika.” “Oh begitu,” jawab Mika dengan tenang. Apakah mungkin ini pertanda jika Udin memihakku? “Kau tadi bilang jika orang itu mencari alamat bukan? Apakah kau masih ingat dengan alamatnya?” Pertanyaan Udin kali ini membuat degup jantung Mika seolah berhenti berdetak. Kalau saja orang ini bilang alamat yang sama dengan yang dicari Mika hari itu, Udin pasti semakin curiga. Sialan, pemuda ini ketakutan sekarang. “Aku tidak begitu ingat. Tapi yang jelas orang itu mencari alamat di Jalan Melati, daerah Jakarta Utara.” Keringat semakin membanjiri tubuh Mika saat orang ini berkata demikian. Ia bisa merasakan kalau atmosfer di ruangan ini semakin berat. Meskipun Mika berusaha setenang mungkin di luar, pemuda itu justru terus memaki dirinya sendiri di dalam hati. Namun berbeda dengan dugaan Mika tadi, Udin justru memperlihatkan sikap santai. Ia berujar, “Oh ternyata begitu. Lalu bisa kau jelaskan bagaimana orang itu menyerangmu?” Pada akhirnya, Udin tak memperlihatkan kecurigaan yang signifikan. Mika sedikit merasa lega dan ia bisa mengikuti perbincangan itu dengan tenang. Pemuda ini tampak bertanya beberapa hal untuk mengurangi rasa curiga Udin padanya. Kedua orang itu mengobrol banyak hal dengan orang tadi. Karena tak bisa mendapatkan informasi, Mika dan Udin pun memutuskan untuk keluar. Namun secara tiba-tiba, sebelum keduanya melangkahkan kaki keluar, Udin mengambil ponsel yang berada di saku jaket Mika. Pria dengan rambut dibelah tengah ini melakukan hal itu secara tiba-tiba karena melihat HP Mika yang menyembul keluar. Kalau Mika memang terlibat dalam kasus ini, orang tadi pasti mengingat ponsel yang ingin dicurinya hari itu. “Pak Udin, apa yang kau lakukan?! Ini—“ “Tolong jawab aku! Apakah ini ponsel yang ingin kau curi hari itu?” Udin mengabaikan protes Mika dan ia justru menunjukkan HP yang diambilnya tadi kepada orang yang duduk di atas ranjang tidur itu. “Pak Udin! Apa maksudmu? Apakah kau mencurigaiku?!” Tentu saja Mika merasa tak terima diperlakukan seperti ini. Dugaannya sejak awal yang merasa kalau Udin mencurigainya ternyata benar. Bosnya ini memang curiga pada Mika sejak awal. Udin pun mengabaikan protes Mika tadi. Ia hanya diam menanti jawaban dari orang tersebut yang tak kunjung bicara. Pencuri ponsel itu tampak berpikir keras. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa menggeleng pelan karena tak mengingat apa pun. Melihat itu, wajah Udin langsung menunjukkan ekspresi kecewa. Apakah kali ini ia salah menduga lagi? Mika yang sejak tadi merasa marah karena diperlakukan seperti ini pun langsung merampas ponselnya dari pergelangan tangan Udin secara paksa. Dengan kesal, ia berjalan keluar dari sini. “Mika, tunggu! Biar aku jelaskan dulu!” teriak Udin sambil mengejar Mika yang hendak membuka pintu. Pemuda itu menoleh ke belakang dengan emosi. “Apa lagi yang mau kau jelaskan, sialan? Sudah jelas kalau dirimu memojokkanku seolah aku adalah penjahat di sini! Kau memperlakukanku seperti itu tanpa alasan!” “Maka dari itu, tunggulah dulu. Ini tidak seperti yang kau kira. Aku hanya—“ “Diam!” Mika berteriak keras kali ini. Emosinya mendidih. Ia pikir Udin adalah orang baik seperti Pak Agus atau pun Farel. Nyatanya, orang ini hanyalah orang jahat sialan yang ingin menjebaknya dengan membawa Mika ke pulau terpencil ini. “A-apa maksudmu?” Udin bertanya seperti tadi dengan nada terbata-bata. Ia tahu kalau Mika memang agak temperamental dan keras kepala, tapi Udin tak akan mengira jika anak ini akan semarah ini. Ia merutuki tindakannya tadi. Udin pikir jika Mika memang terlibat dalam kasus ini mengingat orang itu berkata jika alamat yang disebutkannya tadi persis dengan alamat rumah dari kakak Mika yang diketahui oleh Udin. Ia merasa kalau ini bukanlah kebetulan semata. Namun kecurigaannya itu justru membuat Mika marah. Ini semakin rumit saja. Mungkinkah Mika memang tak terlibat dengan ini semua? “Aku kecewa padamu, Pak Udin. Selama ini aku membantumu, tapi perlakuanmu tadi seolah mengatakan aku terlibat dengan kasus ini hanya karena alamat yang dikatakan orang itu sama dengan alamat yang kucari. Ini keterlaluan!” “Aku minta maaf. Bukan maksudku untuk bertindak seperti tadi. Aku hanya ingin memastikan.” Mika memandang pria itu dengan sengit. “Aku tak mau mendengar pembelaanmu. Mulai sekarang, aku tak ingin terlibat dengan ini semua! Aku memutuskan untuk berhenti bekerja denganmu!” “A-apa?” Kenapa malah seperti ini jadinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN