Chapter 27 - Tiket Pulang

1549 Kata
“Apa kau masih ingat dengan manusia gendut yang tergeletak di sampingmu hari itu?” “Aku ... mengingatnya.” Udin menatap ke arah Mika lebih intens. “Hari itu aku tahu jika dirimu berpura-pura pingsan agar tak ditangkap polisi. Tapi, aku yakin kalau dirimu pasti tahu siapa sosok yang menyerang pria itu kan?” Ini dia. Ini adalah pertanyaan yang Mika tunggu sejak tadi. Tak salah, Udin kali ini ingin menginterogasinya. Mika terdiam sejenak dengan pandangan yang menerawang. Ia tampak menatap kembali ke arah Udin. “Aku tidak tahu. Hari itu aku hanya menguping dan karena posisiku ketahuan, aku pun pura-pura menjadi sosok yang mau membeli narkoba darinya. Saat aku memperlihatkan diri, orang itu sudah seperti tadi,” ujar Mika apa adanya. Udin sendiri tampak menghela nafas. Dia memandang pemuda di hadapannya dengan letih. Menyadari hal itu, Mika pun penasaran dan bertanya padanya. “Apa ada masalah terkait hal itu?” “Begini, organisasi rahasiaku ingin aku untuk menyelidiki kasus ini. Terhitung sudah dua korban yang mengalami pola serangan aneh seperti ini. Pertama di Jakarta Pusat dan kedua di tempat yang kau datangi kemarin. Bukankah ini aneh?” tanya Udin yang hanya dibalas diam oleh Mika. Sejujurnya pemuda ini tak tahu harus menjawab seperti apa lagi. Dia hanya bisa duduk diam. Menutupi sandiwaranya dengan sabdiwara lain hingga Udin tak menyadari itu semua. Meskipun begitu, degup jantung Mika terus tak beraturan dan keringat membasahi tubuhnya. “Jadi ... kau meminta bantuanku untuk mencari informasi soal ini?” tanya Mika dengan nada pelan. “Ya, begitu. Maaf apabila aku terus mendesakmu, tapi aku yakin kau bisa membantuku kali ini. Mengingat dalam kasus kemarin kau bisa menemukan pelakunya dengan cepat, aku pikir kau juga bisa melakukannya kali ini.” ‘Bagaimana mungkin aku membiarkan diriku sendiri ditangkap sebagai penjahat?!’ jerit Mika histeris dalam hati. Meskipun begitu, wajahnya di luar tampak tenang. Pemuda itu tampak mengusap belakang lehernya canggung. “Sejujurnya, aku tak begitu yakin. Ini kasus yang sulit.” “Aku tahu. Informasi yang kita miliki minim. Kita tak tahu ciri-cirinya dan dimana lokasi pasti dari pelaku kejahatan itu. Tapi, maukah kau menemaniku pergi menemui kedua korban besok? Kita bisa mendapatkan informasi lebih dari mereka.” Ini memuakkan. Pada akhirnya, Udin terus mendorong Mika untuk lebih dekat pada kebenaran. Padahal nyatanya, orang-orang yang menjadi korbannya itu justru pelaku yang menyerangnya terlebih dahulu. Kenapa ia justru semakin dipojokkan? “Pada dasarnya manusia itu unik, Mika.” Mendengar perkataan yang tiba-tiba muncul dari mulut Udin tadi, Mika langsung memandangnya tak mengerti. “Apa maksudmu?” “Meskipun manusia dianugerahi akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan emosi, nyatanya perilaku mereka masih tak bisa ditebak. Kau ingat kalau dulu aku bilang menangkap manusia pemakan manusia di Jakarta Pusat kan?” tanya Udin. Mika pun mengangguk. Pria itu tampak menerawang dengan senyum simpul. Ia melanjutkan, “Kenyataan dia melakukan hal itu karena hal sepele. Dia kesepian dan jatuh miskin dalam keadaan buruk hingga melakukan itu semua. Menurutmu, kali ini apa motif pelaku orang yang menguliti orang lain? Apakah juga faktor emosi?” “Aku tidak tahu,” jawab Mika dengan nada menggantung. Udin terkekeh pelan mendengar hal itu. Dia melirik ke arah jam sebentar dan menatap ke arah Mika yang sepertinya bereaksi aneh sejak tadi. Meskipun pembawaannya tetap tenang, tapi emosi dan nada bicara yang ditunjukkan anak ini terlihat aneh. Padahal awalnya ia terlihat antusias, namun sekarang justru lesu tanpa alasan. Masa iya Mika Jonathan ada kaitannya dengan ini semua? “Menurutmu bagaimana kalau orang itu adalah orang yang ada di sekitar kita?” tanya Udin secara tiba-tiba. Mika yang mendengar itu semakin tak karuan detak jantungnya. Dia memelototkan mata ke arah Udin. “A-apa maksudmu?!” Ini dia. Reaksi Mika semakin aneh. Dugaan Udin yang mengatakan kalau Mika terlibat dengan kasus ini semakin kuat. Meskipun begitu, ia harus menyelidiki semuanya. Pria itu menghela nafas. “Besok saja kita membahasnya. Ini sudah malam. Kau telah bekerja keras. Akan tetapi, besok malam kau harus ikut aku menemui kedua korban. Apakah kau sanggup?” Setetes keringat mengucur dari dahi Mika. Lidahnya terasa kelu mendengar pertanyaan Udin tadi, ia pun hanya bisa memberikan respons dengan menganggukkan kepala. Pada akhirnya malam itu, Mika pulang sambil membawa artefak yang selama ini dicarinya dengan suasana hati yang buruk. Dalam seminggu ini, Mika belum bisa mendapatkan pekerjaan baru. Jujur, ini agak mengganggunya. Setiap hari ia harus menarik uang dari rekening untuk membeli kebutuhan makan dan lainnya, mengingat uang yang ia dapatkan sebagai karyawan di tempat cucian belum cukup. Malam itu setelah Mika pulang dari Warung Bakso Udin, pemuda ini merenung. Dia membanting tubuh ke atas tempat tidur dengan mata yang menerawang ke atas. Pikirannya berkecamuk. Pemuda ini bahkan tak sadar telah berada di posisi yang sama seperti ini sejak beberapa jam lalu. “Apa yang terjadi kalau aku ketahuan? Apakah Pak Udin akan menangkapku? Padahal kenyataan yang asli, aku melakukan itu semua hanya sebagai upaya perlawanan,” keluh Mika seorang diri. Dia menengadahkan telapak tangan ke atas mukanya. Cahaya-cahaya berwarna hitam tiba-tiba muncul. Kabut ini adalah pertanda kalau Mika sedang mengaktifkan kekuatan sihirnya. Dia pun mengambil artefak dan ponsel yang ada di atas meja menggunakan kemampuan telekinesis yang dimilikinya. “Aku tidak tahu kalau sihirku akan membawa kekacauan seperti ini pada akhirnya.” Pemuda itu berkeluh kesal lalu melirik ke arah artefak yang kini tergeletak di sampingnya. Dia pun mengambil ponsel dan memotret artefak ini. Dengan gesit, Mika mengirimkan gambar yang diambilnya tadi ke Putri yang ada di desa, meskipun ia sendiri tahu kalau kemungkinan wanita itu tak akan menjawab pesannya, mengingat ini sudah pukul satu malam. Mika kembali membanting tubuhnya ke kasur. Ia tergeletak di sana sembari memikirkan banyak hal. Apakah dirinya harus mengaku pada Udin dan menceritakan yang sebenarnya pada pria itu agar semuanya beres? Tapi, apakah Mika bisa mempercayainya? Ini semakin menyebalkan saja. Kalau tahu begini, Mika harusnya membunuh dua orang itu. Dering telepon tiba-tiba terdengar di malam yang sepi ini. Mika langsung mengambil ponselnya. Ia terkejut melihat Putri langsung meneleponnya. Dengan menggunakan kekuatan telekinesisnya, pemuda ini membiarkan ponsel berwarna hitam itu melayang di atasnya selama ia menelepon Putri. “Halo, ada apa?” “Bagaimana caramu menemukan artefak ini secara tiba-tiba?! Padahal pagi tadi— ah! Bukan itu masalahnya. Apakah benar jika kau dicurigai oleh seseorang karena kekuatan sihirmu? Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Wajah Mika masih datar. Suasana hatinya tetaplah buruk. “Kenapa pertanyaanmu itu banyak sekali?” “Kakakmu ini khawatir, Bodoh! Bagaimana mungkin kau bisa ketahuan punya sihir?” Mika memang menjelaskan semua hal yang terjadi padanya setelah mengirim foto artefak tadi melalui pesan. Akan tetapi, sepertinya Putri ingin mendengar segala hal langsung dari mulutnya. Pemuda ini pun menghela nafas. “Ini akan jadi cerita panjang. Jangan salahkan aku jika kau bangun kesiangan besok.” “Siapa yang akan peduli dengan hal itu sekarang? Besok hari Minggu. Jadi, cepat ceritakan apa yang terjadi!” Mika menghela nafas panjang. Dirinya hanya berharap kalau semua beban yang memberatkannya selama sebulan lebih ada di Jakarta ini bisa terangkat. Dia pun akhirnya menceritakan segala hal pada Putri. “Ini semua bermula ketika aku tersesat di Jakarta Pusat. Kau sudah tahu hal itu kan? Malam itu, ponselku dicuri. Padahal aku hanya menunjukkan alamat yang kau kirimkan padaku, namun orang itu justru merampas ponselku. Aku langsung emosi dan mengejarnya.” Mika pun menjelaskan semua hal itu pada Putri. Dia bercerita kalau dirinya kesulitan menangani pencuri itu dan babak belur, namun dengan menggunakan kekuatan sihir, akhirnya Mika bisa menang. Sejak berada di Jakarta, terhitung sudah tiga kali Mika menggunakan sihirnya. Pertama ketika menghajar pencuri HP, kedua ketika menghancurkan gembok mobil Satpol PP, dan terakhir saat bertarung dengan ajudan bandar narkoba beberapa hari lalu. Pemuda ini sama sekali tak mengira jika perbuatannya itu membuat pemerintah turun tangan dan ingin menangkapnya. “Kira-kira apakah enaknya aku mengatakan terus terang pada Udin soal kekuatan sihir ini?” tanya Mika setelah ia selesai menceritakan semuanya. Putri tampak diam sejenak di seberang telepon. “Kau bilang Udin ini anggota organisasi rahasia kan? Dan dia juga bekerja sebagai tukang bakso?” “Kau benar.” “Aku tidak tahu kalau hal ini nyata. Jadi rumor kalau ada intel yang menyamar sebagai tukang bakso ini benar? Tebakanku, pasti Udin yang kau bicarakan ini adalah seorang pejabat inteligen.” Mika baru mendengar soal kata inteligen itu. Putri menjelaskan apa makna dari kata itu dan Mika mulai mengerti sekarang. Pemuda itu menghela nafas. “Jadi, apakah aku harus mengatakan semua kebenaran ini pada Udin agar aku tak ditangkap?” “Ini situasi yang sulit, Mika. Mengingat kalau Udin adalah orang intel, dia bisa melakukan semua hal. Aku takut jika dirimu akan menjadi bahan eksperimen atau semacamnya. Untuk sekarang, aku hanya bisa menyarankan padamu jika diam adalah pilihan terbaik. Ikuti dulu alur ceritanya akan seperti apa.” Mata Mika tampak menggelap mendengar perkataan itu. Ia menghela nafas panjang. Perkataan Putri ada benarnya. Pemuda ini pun akhirnya mengangguk paham dan menutup sambungan telepon ini setelah dua jam lamanya mengobrol dengan kakak gadungannya di desa. Kepala Mika terasa semakin pecah saja. Dirinya pusing. Ia menatap artefak berwarna ungu yang ada di sampingnya seraya tersenyum simpul. Meskipun hari ini dirinya kesusahan, hal yang paling penting sekarang adalah Mika sudah punya satu tiket penting yang bisa mengantarkannya pulang ke tempat asal pemuda ini, Kerajaan Mimika. “Aku pasti bisa segera kembali, ya itu pasti!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN