Chapter 26 - Keterlibatan

2117 Kata
“Kalau tidak gara-gara truk yang menyebalkan tadi, kita pasti sudah mencari sejak tadi.” Mika mengomel sepanjang perjalanan pulang. Ia dan Asa kini berjalan beriringan meninggalkan kawasan lapangan terbuka hijau di Jalan Melati menuju ke warung bakso. Asa yang berada di sampingnya pun terlihat menghela nafas. “Entah kenapa aku merasa kalau ruang bawah tanah itu tetap ada. Kita saja yang belum menemukan pintu masuknya,” ujar gadis itu menyampaikan pendapat. Mendengar hal tadi, Mika pun menoleh ke arah Asa. “Kau benar. Instingku juga berkata demikian. Rasanya aneh apabila percaya jika ruang bawah tanah itu rusak atau bagaimana. Aku yakin tempat itu masih utuh.” Mereka terus berjalan. Jarak antara lapangan dengan pusat wisata kuliner daerah sini yang menjadi tempat berdirinya Warung Bakso Udin sekitar 750 meter. Untuk beberapa saat, Asa terlihat melirik ke belakang. Mika yang menyadari gerak-gerik aneh gadis ini pun terlihat mengerutkan dahi. “Apa ada yang salah?” Mata Asa kini teralihkan ke arah Mika. “Sejujurnya ada hal yang membuatku merasa kalau kita diikuti sejak tadi.” “Hah?” Tentu saja, Mika terkejut. Ia dengan spontan menoleh ke belakang secara terang-terangan namun tak bisa menemukan siapa pun. Asa yang melihat aksi Mika itu langsung menghentikan langkah kakinya. Ia mulai menoleh ke belakang dan melihat kalau tidak ada siapa pun di tempat orang yang mengawasi keduanya tadi. Penguntit tadi menghilang tiba-tiba ketika Mika menoleh ke belakang. “Ini aneh. Aku tidak merasakan apa pun bila kita diikuti sejak tadi. Terlebih dari itu, tidak ada siapa pun di sini, Asa!” Mika menjadi sedikit ragu apakah perkataan Asa tadi benar atau tidak. Meskipun demikian, raut wajah Asa terlihat serius. “Kau benar. Ini aneh. Orang itu menghilang tiba-tiba padahal tadi aku melihatnya jelas jika mengikuti kita.” Untuk sesaat, suasana tegang terjalin di antara keduanya. Mika sendiri tampak mengepalkan tangan. Pemuda ini tahu kalau kemampuan sihirnya memang melemah di dunia ini. Namun bagaimana mungkin ia tak bisa merasakan kalau sejak tadi diikuti oleh orang yang tak dikenal dan justru Asa yang menyadari hal itu? Mungkinkah penguntit yang dimaksud Asa tadi adalah alasan kenapa ia bisa terjebak di sini selama sebulan lebih? Apakah orang itu yang melemparkannya ke sini? Melihat Mika yang melamun, Asa pun memandangnya dengan khawatir. “Mika, kau tidak apa-apa?” Pemuda itu tersentak namun, wajahnya terlihat menjadi lebih serius dari tadi. “Aku tak apa.” Untuk sesaat, hati Asa terasa berdesir melihat wajah Mika yang berekspresi seperti itu. Ini adalah alasan kenapa Asa menjadi tertarik dengan pemuda ini di samping kelucuannya. Dia memiliki aura berbeda saat serius yang bisa membuat wajah Asa merona. Untuk menutupinya, gadis itu tampak terbatuk sebentar. Dalam sekejap, raut wajah Asa menjadi serius kembali. “Sebenarnya, orang itu sudah ada sejak kau kecelakaan tadi. Dari tatapannya, aku bisa melihat kalau dia mengintaimu dan bukan aku. Kau adalah target orang itu.” Jantung Mika seakan berhenti berdetak. Ia kaget dengan kabar ini. Giginya bergemeletuk tanpa sadar. “Bagaimana mungkin aku tak menyadarinya?!” Asa baru melihat bagaimana wajah Mika yang menahan marah saat ini. Akan tetapi, kenapa pemuda yang ada di hadapannya tersebut tampak begitu marah karena orang tadi? Apakah ia memang diburu oleh orang jahat atau semacamnya? Asa pun menghela nafas. Membicarakan hal ini di tepi jalan sepertinya bukan opsi terbaik. Ia masih merasa kalau orang tadi sepertinya masih berada di sekitar sini. Kalau Mika terang-terangan marah seperti sekarang, ini pasti bahaya. “Ini sudah jam satu kan? Ayo kita bergegas ke tempat kerjamu. Membicarakan itu di sini bukan opsi yang baik, Mika. Orang itu mungkin saja masih ada di sekitar kita.” Untuk sesaat, Mika merasa kalau apa yang diucapkan Asa tadi benar. Dia berusaha menenangkan emosi dan akhirnya berjalan bersamanya menuju Warung Bakso Udin dengan suasana hati buruk. ‘Siapa sebenarnya orang menyebalkan yang mengikutiku? Kalau sampai orang itu tertangkap dan dia terbukti menjadi biang kerok kenapa aku bisa terjebak di tempat ini, aku akan membunuhnya!’ Mika bersumpah dalam hati. Ia pun segera mempercepat langkah kaki menuju tempat kerjanya. Di sisi lain, warung bakso yang menjadi tempat Mika bekerja tampaknya masih sepi. Pintu masuknya pun masih terkunci. Bersamaan dengan Mika yang datang ke sana, seorang pria paruh baya datang dari arah lain dan membuka kunci pintu itu terlebih dahulu. Tak salah lagi, orang itu adalah Udin. Mika merasa beruntung karena ia datang tepat waktu. “Itu bosmu?” “Benar, dia bosku,” jawab Mika seraya menoleh ke arah Asa. “Ayo ke sini, kukenalkan kau pada orang yang setiap hari membuat bakso yang kau sukai itu.” Untuk sesaat, gadis bernama Rika Angkasa ini merasa malu sendiri. Ia memang secara terang-terangan pernah bilang pada Mika kalau bakso di warungnya bekerja itu sangat enak. Dia menjadi penggemar bakso di tempat ini. “Selamat siang, Pak Udin! Tumben kita datang bersama.” Mendengar suara yang sudah tak asing itu, Udin pun menoleh ke arah Mika. Namun saat itu juga, matanya melotot tak percaya. Tanpa sadar, pria dengan gaya rambut dibelah tengah ini melongo melihat siapa yang berdiri di samping asistennya ini sekarang. Suasana langsung berubah menjadi canggung. Bibir Asa tak bisa untuk tidak tersenyum aneh ketika melihat reaksi bos dari temannya ini. Kenapa dia terkejut sampai seperti itu coba? Dirinya kan bukan hantu. “A-apa yang salah dengan bosmu?” bisik gadis itu ke Mika. Keringat tampak menetes di dahi pemuda itu. “Aku juga tak mengerti. Dia aneh sekali saat melihatmu.” Di sisi lain, penyebab kenapa Udin terkejut seperti ini bukannya tanpa alasan. Dia sangat kaget saat melihat anak sulungnya tiba-tiba ada di samping Mika. Bagaimana mungkin Asa dan Mika saling mengenal? ‘Kenapa jadi seperti ini?! Aku bukannya mempermasalahkan kalau dua orang ini menjadi teman. Tapi, bagaimana kalau Asa sadar jika bos dari Mika ternyata adalah ayahnya sendiri? Selama ini aku mengelabui kedua anakku jika diriku bekerja di Dinas Informasi. Mana mungkin aku menjelaskan pada Asa jika aku adalah seorang intel?!’ batin Udin langsung menjerit histeris. “Maaf, Pak. Apakah ada yang salah dengan diriku sehingga Anda terkejut seperti itu?” Tiba-tiba Asa bertanya pada Udin dengan senyum canggung. Mendengar itu, Udin merasa yakin kalau Asa belum mengenali siapa dirinya untuk sekarang. Bagaimana pun juga, penampilan Udin di rumah dan di warung bakso ini sangatlah beda. Paling tidak, ia harus jaga jarak dengan Asa saat kerja di warung bakso ini. Dengan arogan dan tatapan mata yang datar, Udin menatap dua orang remaja di hadapannya dengan tajam. “Apa ini? Kenapa dirimu membawa teman saat jam kerja, Mika?” Mika langsung kaget mendengar nada bicara yang dingin dari bosnya. Padahal selama ini meskipun Udin selalu datar, dia tak pernah berbicara sedingin itu padanya. Mungkinkah suasana hati bosnya sedang buruk saat ini? Bukannya Mika yang menjawab, Asa dengan cepat buka suara. Dia menatap Udin serius. “Maafkan saya yang telah lancang datang ke sini. Tujuan Mika membawa saya ke sini hanya karena dia ingin memperkenalkan saya dengan bos warung bakso yang sangat enak ini.” ‘Dan bosnya itu adalah ayahmu sendiri, Asa!’ Meskipun dalam hati Udin berteriak, namun wajahnya di luar masih datar seperti tadi. Melihat Udin yang masih diam, Asa dan Mika hanya bisa saling melirik. Sepertinya dugaan Mika yang menduga kalau pria ini sedang badmood tadi benar. Dia sama sekali tak menunjukkan reaksi yang ramah. Asa pun akhirnya sadar diri dan memilih untuk pergi dari sana sekarang daripada Mika yang kena imbasnya. “Saya mohon pamit undur diri. Maaf kalau kedatangan saya bersama Mika ke sini adalah sebuah kesalahan. Sampai jumpa.” Saat gadis itu mulai melangkahkan kaki beberapa jangkah, Udin langsung buka suara. “Hei Nak, bukan berarti aku melarangmu datang ke warung baksoku. Datanglah ke sini lagi saat jam buka nanti. Aku akan mentraktirmu semangkok, ah tidak, semaumu. Kau bisa pesan bahkan sampai sejuta mangkok.” Mika adalah orang pertama yang memberikan reaksi syok. “Apa kau sudah gila mau memberikan sejuta mangkok padanya? Bisa bangkrut kita.” Udin langsung menoleh ke arah Mika dengan pandangan seorang bapak yang tak terima anaknya dihina. Ditatap seperti itu, pemuda ini pun langsung tutup mulut dengan nyalinya yang menciut. Di lain sisi, Asa hanya bisa menatap Mika dan bosnya dengan pandangan tak percaya. Apa yang dikatakan oleh Mika soal bosnya memang benar. Orang bernama Udin itu entah kenapa pasti sudah gila. Meskipun begitu, mana mungkin Asa membuat kesempatan makan gratis ini hilang? Dengan senyum lebar, gadis itu mengangguk dengan penuh semangat. “Aku akan datang ke sini nanti, Pak! Jangan lupakan janjimu ya!” “Ya, aku tidak akan melupakannya! Kalau kau mau, kau bisa makan sepuasmu sampai dirimu tua.” Saat itu, baik Asa dan Mika hanya bisa memandang Udin dengan senyum tertahan. Orang bermata sipit ini benar-benar aneh. Singkatnya, Asa meninggalkan warung bakso itu. Udin dan Mika langsung masuk ke dalam dan bekerja membuat adonan seperti biasa. Dua jam setelah itu, warung bakso ini pun dibuka. Mereka dengan sigap melayani para pelanggan bersama. Hari ini Udin tak pergi dari warung bakso seperti kemarin-kemarin. Dia membantu Mika bekerja. Seperti biasa, warung bakso ini ramai sejak kedatangan Mika ke sini beberapa saat lalu. Asa juga datang dan langsung mendapatkan bakso gratis. Dalam waktu yang singkat, bakso yang dibuat oleh dua orang laki-laki itu habis di jam sembilan malam. Ketika Mika sedang sibuk mencuci peralatan dapur, Udin datang menghampirinya. “Setelah itu semua selesai, bisakah kau datang ke ruanganku?” Sambil mencuci tangannya di air yang mengalir, Mika melirik ke arah pria itu. “Aku sudah selesai. Apa yang akan kita bicarakan?” Senyum simpul Udin pun terukir. “Kalau begitu, ayo ke ruanganku sekarang. Aku ingin mengajakmu berbicara soal misi rahasia kemarin.” Mata Mika tampak berbinar. Untuk sesaat, ia langsung melupakan permasalahan tentang penguntitnya dan artefak sihir di rumah Putri yang tak kunjung ditemukan. Dirinya benar-benar bahagia kalau membicarakan soal misi rahasia Udin. Setelah mengelap tangan, pemuda ini segera menyusul bosnya. Mika membuka pintu dengan pelan dan mendudukkan diri di depan Udin. Pria bermata sipit ini memandang Mika dengan begitu serius. Setelah beberapa saat terdiam, ia menghela nafas lalu mengeluarkan benda berbentuk unik dari laci mejanya. “Apakah benda ini adalah artefak keluargamu yang kau cari?” Setelah memutuskan dalam waktu yang lama, Udin pun akhirnya berniat memberikan benda ini pada Mika. Ia tak enak hati menahan artefak ini untuk keuntungan pribadi agar Mika tak pulang kampung dan membantunya bekerja sebagai intel. Untuk sesaat, Udin bisa melihat reaksi kaget dari Mika. ‘Sejujurnya aku tak tahu benda ini adalah artefak yang dimaksud oleh Putri atau bukan. Meskipun begitu, entah kenapa aku bisa merasakan energi sihir dari benda ini,’ batin pemuda bersurai hitam itu. Mika tampak berusaha keras mengingat benda yang sekarang ada di depannya. Entah kenapa, Udin langsung menatapnya prihatin. Anak ini pasti tak ingat betul apakah benda ini adalah artefak yang dicari oleh kakaknya atau bukan karena ia amnesia. Pria dengan rambut dibelah tengah ini pun tersenyum. “Kau bisa membawa benda ini denganmu dulu. Fotokan pada kakakmu dan tanyakan apakah ini artefak keluarga kalian atau bukan. Pasti susah untuk mengingatnya sendiri karena kondisimu yang amnesia.” Mika tersentak. Ia langsung memandang Udin dengan tatapan berterima kasih. “Aku tak tahu harus bilang apa padamu. Selama ini kau selalu membantuku. Terima kasih banyak. Bagaimana dirimu bisa menemukan benda ini, Pak Udin?” “Ceritanya panjang. Kau ingat bandar narkoba yang kau temui hari itu? Saat aku menyamar sebagai dirimu, dia memperlihatkanku tempat penyimpanan narkoba yang ternyata adalah ruang bawah tanah. Aku menduga jika ruang bawah tanah itu ada kaitannya dengan rumahmu." Mika kaget. Ia tak pernah mengira kalau akhirnya ruang bawah tanah itu ditemukan meskipun sekarang fungsinya telah menjadi tempat penyimpanan narkoba. Orang dari pemerintahan itu sangat b******k. “Apakah aku bisa ke ruang bawah tanah itu?” tanya Mika. Ia berharap bisa memiliki akses ke sana. “Tak masalah, aku akan mengantarmu lain kali atau kau bisa pergi ke sana sendiri nanti. Tapi tunggulah sebentar lagi, ruangan itu masih diamankan untuk beberapa minggu ke depan guna investigasi.” Mendengar itu, Mika pun tersenyum lebar dan mengangguk paham. Ia lega karena salah satu permasalahannya bisa usai sekarang. Mika benar-benar beruntung bisa bertemu dengan banyak orang baik, termasuk Udin. “Akan tetapi, bisakah aku meminta bantuanmu soal misi baruku?” Mendengar permintaan itu, Mika pun langsung tersenyum. “Tentu saja! Aku akan selalu membantumu! Bahkan bantuanmu padaku lebih besar daripada yang bisa kulakukan untukmu!” Udin mendengus. Ia tersenyum miring namun sedetik kemudian wajahnya menjadi serius. Pria bermata sipit ini memandang Mika dalam-dalam. “Apakah kau pernah mendengar soal kasus kejahatan di mana pelakunya membuat kulit korban terkelupas?” Mika langsung berekspresi horor mendengar hal itu. Tak salah lagi, bukankah sekarang Udin sedang membicarakan dirinya? Apakah misi Udin kali ini ada kaitannya dengan seorang pemuda antah berantah bernama Mika Jonathan ini? Sialan, ini lebih buruk dari apa pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN