Chapter 25 - Degup Jantung

1687 Kata
“Apa kau sudah lama di sini?” Mika yang ditanyai seperti itu hanya bisa tersenyum masam ke arah gadis yang berlagak tak berdosa di hadapannya. Pemuda itu menghela nafas panjang. Bagaimana pun juga, Asa baru datang pukul sepuluh pagi. Ia menunggu selama lima jam dan gadis itu dengan entengnya bertanya demikian. “Kau keterlaluan.” Mika tampak merajuk seperti anak kecil. “Apakah dirimu tak memikirkan perasaanku yang menunggu di tempat ini saat harus bekerja? Aku jadi tidak bisa dapat uang.” Keduanya kini saling duduk berhadapan di salah satu gazebo yang ada di taman kota. Asa sendiri sejujurnya agak bersyukur karena saat ke sini tadi, dirinya berpapasan dengan Mika yang hendak pulang. Kalau mereka tak bertemu, sia-sia kepergian mereka ke sini. “Aku minta maaf,” ucap Asa dengan nada tulus. Mendengar itu, Mika pun menghela nafas lagi. Mana mungkin ia meragukan permohonan gadis ini yang begitu tulus? Dia sama sekali tak berpura-pura menyesal. Meskipun begitu, seharusnya dari awal ia tak akan percaya pada Asa begitu saja. Hari ini ia terpaksa harus bolos kerja karenanya. Untung bos di tempat cucian Mika mengizinkannya. Namun, pemuda itu juga bersedih karena tidak akan mendapat gaji hari ini. “Pada dasarnya, aku terlambat karena benda ini.” Asa langsung mengeluarkan beberapa dokumen. Ia menyerahkan semuanya pada Mika. Saat membaca beberapa dokumen yang dibawa oleh Asa tadi, Mika tertegun. Ini adalah arsip lama, mungkin sekitar lima sampai empat tahun yang lalu. Akan tetapi, Mika dibuat terkejut saat melihat rincian agenda pembuatan lapangan hijau yang beralamat di Jalan Melati yang menjadi kompleks perumahan Putri. Di beberapa halaman, juga disebutkan beberapa daftar rumah yang telah diratakan dengan kompensasi uang 800 juta. Salah satunya, ada nama rumah atas nama Putri Veronica. Ia yakin ini adalah nama panjang kakak gadungannya di desa. “B-bagaimana mungkin kau menemukan semua ini? Ini semua terasa mustahil ada di tanganmu!” Mika mengatakan hal itu dengan setetes keringat di dahinya. Namun, Asa justru tersenyum miring. “Bukankah kemarin aku bilang padamu jika semua ini mudah dilakukan?” Untuk sesaat, Mika tak bisa bereaksi mendengar jawaban itu. Ia menatap gadis yang ada di depannya dengan pandangan selidik. Ini terlalu aneh. Seolah mengerti arti dari tatapan Mika, Asa pun mendengus. Apa boleh buat. Pemuda ini pasti bingung. “Sejujurnya ayahku bekerja di pemerintah, tepatnya di Dinas Informasi. Aku berpindah-pindah juga karenanya, termasuk ke sini. Dokumen-dokumen ini kudapatkan ketika semalam pulang ke rumah. Aku mencari ke mana-mana sampai terlambat menemuimu karena harus membuat salinannya dulu.” Hari itu Asa memang bilang jika alasan perpindahannya ke Jakarta Utara karena harus mengikuti ayahnya. Tapi, Mika tak pernah mengira jika anak ini punya ayah yang berguna. Dia punya gudang informasi di rumahnya. “Kau bilang ‘ketika semalam pulang ke rumah’ kan tadi? Memang sebelumnya kau ada di mana?” tanya Mika sambil mengambil beberapa dokumen lain. “Ah, aku belum pernah menceritakan ini padamu ya? Aku itu sekolah di asrama. Jadi, pulangnya ketika hari libur saja.” Diam-diam, Mika mulai paham sekarang. Kalau seperti itu ceritanya, Asa memang terlihat jujur. Dia juga tak sedang mencari-cari alasan untuk menipunya. Gadis ini telah berusaha begitu banyak membantu Mika dengan membawakan seluruh dokumen ayahnya. Tak sepatutnya Mika marah padanya seperti tadi hanya karena Asa terlambat datang lima jam. Mereka pun saling mengobrol untuk membahas isi-isi dokumen yang dibawa oleh Asa tadi. Mika juga menjelaskan pada Asa kalau tadi pagi ia mendapat telepon dari sang kakak yang sudah mendapatkan informasi dan uang ganti rugi dari pemerintah. Pada dasarnya, dari sini sudah dapat ditarik kesimpulan kalau rumah itu memang hancur. “Dokumen ini semakin membuatku memahami apa yang terjadi di sini. Akan tetapi, sejujurnya kakakku bilang jika benda yang aku cari itu berada di bawah tanah.” Mata Asa tampak tertarik ketika mendengar pengakuan dari Mika. “Tunggu, jadi alasan kau mencari rumah kakakmu sampai jauh-jauh ke Jakarta hanya karena mencari suatu benda? Apakah sepenting itu?” “Aku ....” Mika terlihat menggantungkan ucapannya. Mata pemuda ini memandang Asa dengan ragu. Masa iya dirinya harus bercerita kalau dia tak berasal dari dunia ini dan tak bisa kembali tanpa benda itu? Sebelah alis Asa terangkat. “Aku?” Mika pun menghela nafas. “Aku tidak bisa pulang tanpa benda itu. Benda itu sangat berharga untukku.” Di lihat dari sisi mana pun, Mika seolah membuat gerak-gerik seperti dia tak mau menjelaskan hal ini lebih dalam. Asa yang mengerti hal itu langsung menghormati privasi Mika. Ia tak mau bertanya lebih dalam lagi. “Bagaimana kalau kita pergi ke lapangan terbuka hijau itu sekarang?” ajak Asa secara tiba-tiba. Mika pun mengambil ponselnya yang ada di saku. Di sana masih menunjukkan jam 12 siang. Ia masih punya waktu satu jam sebelum pergi ke Warung Bakso Udin. Tanpa babibu, dia pun langsung setuju dengan ajakan Asa tadi. Mereka langsung membereskan seluruh dokumen tadi. Namun, sebelum pergi lebih jauh, Mika segera menghentikan Asa. “Tunggu dulu, aku lupa meminta tadi. Tapi apakah aku boleh tahu nomor ponselmu jadi bisa meneleponmu dulu sebelum pergi ke sini?” Mendengar itu, Asa pun berhenti. Dia menoleh ke arah Mika dengan senyumnya yang lebar hingga kedua taring Asa yang sedikit tajam terlihat. Untuk sesaat, Mika berpikir kalau gadis ini manis. “Kau ini bicara apa, Mika?” “Apa maksudmu?” Asa langsung memandang Mika dengan senyum menggoda. “Kau kan sudah punya nomor ponselku. Tidak kau cek lebih dulu ya?” “Hah?!” Tanpa diperintah, Mika segera mengecek ponselnya. Dia terkejut bukan main saat melihat ada nama Asa di antara kontak keluarga Putri yang lain. Dirinya memandang horor ke arah gadis itu. Kalau tahu begini, kenapa Mika tak meneleponnya saja tadi? Kenapa ia harus menunggu begitu lama? Tidak, itu bukan masalah penting sekarang. Yang penting, kenapa bisa ada nomor telepon Asa di ponselnya padahal Mika tak pernah meminta hal itu? “B-bagaimana mungkin?” “Hehehe.” Asa mengembangkan senyum menggodanya sejak tadi. “Aku telah memasukkan nomor ponselku saat meminjamnya darimu di kereta dulu. Kupikir kau akan sadar, tapi dirimu baru menyadarinya selama ini.” Saat itu, Mika benar-benar tak percaya dengan Asa. Bagaimana mungkin ia berkata seperti itu dengan begitu enteng setelah melihat ponsel orang tanpa izin? Anak ini memang benar-benar menyebalkan. Mika menyesal telah memujinya manis tadi. Pada akhirnya dua orang pemuda itu berjalan kembali menuju lapangan terbuka hijau di Jalan Melati dengan Mika yang merengut kesal, namun terlihat jelas kalau ada semburat merah di pipinya. Sialan, Mika merasa malu sendiri saat mengingat dirinya berpikir Asa sangat manis beberapa saat lalu. Karena Mika terus saja berjalan, ia jadi tak sadar saat sebuah truk melintas dari kejauhan. Pemuda itu menyeberang seenaknya dan Asa yang melihat kendaraan tadi langsung menyeret Mika dari jalan. Padahal jalan yang ada di depan lapangan terbuka hijau ini bukanlah jalan besar, kenapa truk tadi justru menambah laju kecepatan saat tahu Mika menyeberang? Suara tubrukan yang disebabkan Mika dan Asa yang terjatuh di bahu jalan langsung terdengar jelas di sana. Truk yang hampir menabrak Mika tadi melaju seperti tanpa dosa. Dia melewati kedua remaja ini begitu saja. Mika yang kini terjatuh di sisi bawah langsung meringis kesakitan saat merasakan nyeri di punggungnya. Terlebih dari itu, saat membuka mata, dia bisa melihat Asa yang terbaring di atasnya. Mereka tanpa sadar bertatapan dengan wajah tertegun. Asa menatapnya dengan pandangan membulat sempurna karena kaget, tapi ia masih tetap dalam posisinya tadi. Wajah mereka berjarak begitu dekat hingga Mika bisa merasakan jantungnya seakan mau meledak saat ini. Ada sensasi panas di wajah pemuda itu. Apa ... apa yang sebenarnya terjadi? Mika dan Asa benar-benar tak bisa menyembunyikan rona di wajah mereka. “Hei, Nak. Apakah kalian berdua tak apa?!” Mendengar itu Mika dan Asa kaget. Mereka terkejut bukan main dan Asa langsung bangun dari atas tubuh Mika. Dengan susah payah, pemuda yang menjadi adik gadungan Putri itu bangun sambil mengibas-kibaskan sikunya yang berdarah karena tergores aspal. “Truk sialan itu tak bisa kami kejar. Dia pergi begitu saja padahal hampir menabrak kalian!” “Benar, pengemudi truk itu pasti gila. Sudah tahu ada orang yang menyeberang tanpa lihat jalan, dia malah melaju kecepatan dan tidak berhenti.” Asa setuju dengan perkataan para warga yang menolongnya dan Mika kali ini. Truk tadi memang sudah gila. Sang sopir seolah sengaja ingin mencelakai pemuda berambut hitam ini tadi. Tanpa sadar, dirinya dan Mika dikerubungi cukup banyak orang sekarang. Meskipun begitu, Asa menyadari suatu keanehan. Dengan matanya yang melirik ke belakang, Asa bisa melihat ada seseorang berjubah aneh yang mengintai kerumunan ini dari balik pohon besar. Sepertinya tak ada orang yang menyadari dia kecuali Asa, termasuk Mika yang kini diobati lukanya oleh beberapa ibu-ibu. Ini aneh. Siapa orang itu? Sejak kapan dia diikuti seperti ini? Padahal sebelumnya Asa sama sekali tak sadar bila orang itu ada di sana. Tunggu, kalau lebih diperhatikan lagi, tatapan orang aneh itu tertuju pada Mika. Mungkinkah dia ke sini untuk mengintai Mika Jonathan? Tapi, apa yang diintai dari anak ini? Dia hanya bocah biasa. “Ini lumayan menyakitkan juga. Darahnya tak bisa berhenti keluar.” Mendengar ucapan salah satu ibu-ibu itu, lamunan Asa pun buyar. Untuk sementara ia akan mengabaikan si pengintai itu dan membicarakannya pada Mika nanti. Asa harus membantu Mika sekarang. “Sudah tidak apa-apa, saya bisa menyembuhkan luka ini sendiri,” ujar Mika dengan senyum tulus sebisa mungkin. Asa yang mendengar itu langsung berjongkok di hadapan pemuda ini. “Ini aneh sekali, bagaimana mungkin darahnya tak bisa berhenti keluar ya?” Mika tersenyum penuh makna dengan mulut yang terkunci. Seolah begitu kontras dengan wajahnya yang ramah, pemuda itu justru berteriak marah dari dalam hatinya. ‘Sialan, ya jelas darahnya tak bisa berhenti keluar kecuali aku merapalkan mantra sihir. Aku kan penyihir! Pengobatan manusia seperti ini tak manjur kecuali aku menyembuhkan diriku sendiri. Jadi, cepatlah kalian pergi dari sini dan aku bisa menggunakan sihirku arghh!’ Saat Mika dan Asa saling berpandangan. Wajah Mika menjadi panas tanpa sadar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Sensasi berdegup kencang seperti tadi baru Mika rasakan kali ini. Saat Asa tersenyum ke arahnya, Mika semakin menjadi-jadi dalam hati. ‘Sial, kalau memikirkan soal tadi, aku seakan mati saat melihat wajah Asa yang tersenyum ke arahku. Apa yang sebenarnya salah di sini?!’ batin Mika histeris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN