Padahal dulu, ia sendiri yang mengatakan pada gadis itu untuk tak saling mengenal. Dulu, ia juga yang bersikap ketus padanya dan menyarankan agar mereka berdua bertindak seperti orang asing.
Namun, faktanya justru dia yang kemarin bersikap seolah-olah mengenal gadis itu. Kenyataan tadi tak dapat dipungkiri. Mika bahkan menyebutkan nama Asa terlebih dahulu seolah mereka teman lama yang berpisah. Saking kagetnya melihat gadis berkucir dua itu, Mika tak sadar menjatuhkan semangkok bakso kemarin.
Pada dasarnya, pemuda bersurai hitam ini memang punya alasan sendiri kenapa ia tak mau kenal lagi dengan gadis itu. Dia sering meledeknya dan menertawakan semua aksinya saat di kereta kemarin. Itu adalah alasan kenapa Mika ingin Asa untuk bersikap seperti orang asing saja apabila mereka bertemu. Melibatkan Asa dengan segala urusannya akan merepotkan.
Namun kalau dipikir-pikir, takdir Tuhan itu lucu. Mika pikir dia tidak akan pernah bertemu gadis itu namun justru bertemu dengannya lagi di sini. Lebih dari pada itu, mereka berdua sekarang menjalin hubungan kerja sama untuk menyelidiki lebih lanjut soal kejadian yang terjadi di area perumahan milik Putri dulu.
“Sialan, aku menjilat ludahku sendiri,” gerutunya sambil membereskan mangkok pelanggan yang ada di meja.
Karena hari ini Jumat, ia dan Asa akan bertemu besok pagi. Besok ia harus pergi ke taman pagi-pagi sekali mengingat ada pekerjaan di tempat cucian baju. Lebih baik segera pulang dan tidur agar ia tidak terlambat.
Mika pun berjalan membawa mangkok-mangkok yang ia bereskan tadi. Ketika sampai di dapur, pemuda itu melihat Udin yang ada di ruangannya. Dia tampak sibuk menghitung keuntungan hari ini.
Sejujurnya sejak Udin pergi menjalani misi menangkap bandar narkoba itu, dia menjadi sangat jarang datang ke warung. Segala hal menjadi tanggung jawab Mika. Entah benar atau tidak, Mika merasa kalau pria itu sengaja menghindarinya untuk suatu alasan tertentu yang tidak ia ketahui.
“Anu, apakah aku boleh pulang sekarang?”
Suara Mika dari luar ruangan membuat Udin terkejut. Pria itu segera berdiri dari kursinya dan berjalan keluar melihat Mika. Ada senyum canggung di wajahnya dan Mika menatap pria itu dengan datar. Bagaimana pun juga, tingkah laku Udin sangat aneh.
“Semuanya sudah beres?”
“Tentu saja.”
“Kau juga sudah mencuci alat makan dan membersihkan ruangan?”
“Kalau tak percaya, lihat saja sendiri.”
Udin kembali tersenyum canggung mendengar jawaban itu. Pria ini menghela nafas. “Maaf karena akhir-akhir ini aku begitu sibuk.”
Mika tersentak karena tiba-tiba pria itu berbicara basa-basi dengannya. Padahal kemarin-kemarin dia tampak terburu-buru setelah membuat adonan bakso dan pergi begitu saja dari warung. Kalau pun kembali saat warung tutup, dia juga tak mengatakan apa pun. Mungkin saja kali ini Mika bisa mencari tahu.
Pemuda ini pun tersenyum. “Santai saja, aku bisa mengatasi semuanya. Meskipun begitu, kau ini aneh sekali. Apa terjadi sesuatu saat menjalankan misimu kemarin?”
Udin terdiam. Ia membatin dengan nada frustrasi, ‘Bagaimana aku harus menjelaskan pada Mika kalau aku menemukan suatu benda aneh di ruang penyimpanan bawah tanah kemarin? Kalau aku memberikan benda artefak itu padanya, bisa-bisa dia pulang kampung dan tidak bisa membantuku. Aku masih ada misi lain.’
“Kenapa kau malah bengong?” Mika kembali bertanya dengan nada bingung.
Udin pun tersentak. Dia mengibas-ngibaskan tangan seolah bukan apa-apa. “Tidak, misiku berjalan lancar. Namun aku mendapatkan misi lain. Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan padamu besok malam, akan kujelaskan lagi saat itu.”
Mata Mika tampak berbinar. Ia jadi berpikir kalau sepertinya Udin akan mengajaknya dalam misi organisasi rahasianya seperti beberapa hari yang lalu. Di lain sisi, Udin tampak menghela nafas. Ia tahu kalau bocah ini kesulitan karena masalah rumahnya yang hancur. Tapi, apakah ia harus mengatakan yang asli pada anak malang ini? Bagaimana nanti jika anak ini tak mau membantunya dan justru pulang begitu saja membawa benda itu? Memikirkannya saja membuat Udin pusing.
Pada akhirnya, bos dan karyawan itu saling berpisah. Mika meminta izin pulang terlebih dahulu karena tiba-tiba teringat janjinya pada Asa.
Tanpa sadar, hari berganti menjadi begitu cepat. Jam dinding yang ada di rumah Mika menunjukkan pukul empat pagi. Dia yang baru saja mandi itu dikejutkan dengan dering telepon beberapa saat lalu. Sudah hampir 30 menit Mika habiskan untuk mengobrol di telepon bersama Putri.
“Jadi intinya kau tetap tak bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan ini?”
Sejak tadi Putri menjelaskan kronologis masalah sengketa tanah rumahnya. Ia tampaknya menghubungi orang pemerintahan sehingga tahu akan semua itu. Wanita ini juga bercerita mengenai uang ganti rugi begitu besar yang baru masuk ke rekeningnya. Pada akhirnya, mereka berdua tak punya pilihan lain selain menerima fakta kalau rumah itu dibeli.
“Begini, ada hal yang membuatku bingung. Masalahnya, artefak itu kan berada di ruang bawah tanah. Mustahil rasanya kalau mereka menghancurkan sampai ruang bawah tanahnya segala. Pasti ada jalan menuju ke sana.”
Wajah Mika datar. Ia menghafal segala sisi yang ada di ruang terbuka hijau itu. “Rasanya mustahil kalau ada jalan. Logikanya begini, mereka kan sudah merobohkan rumah itu beberapa tahun lalu. Aku juga tidak menemukan apa pun semacam pintu atau apa. Ada kemungkinan pemerintah juga menimbun tempat itu dengan tanah baru di atasnya.”
Ada jeda sejenak di telepon Putri. Wanita ini tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dikatakan Mika memang benar jika mengingat foto tempat itu sekarang. Semuanya begitu asri dan hijau dan pintu menuju ruang bawah tanahnya yang berwarna coklat tak ada. Mereka pasti menimbun itu tanpa sadar.
“Sudahlah, Mika. Kau kembali saja. Tidak ada gunanya di Jakarta kalau begini ceritanya.”
“A-apa?! Apa kita akan menyerah sekarang? Lalu bagaimana dengan nasibku? Aku harus kembali ke tempat asalku!”
“Aku tahu. Aku akan tetap membantumu kembali tanpa menggunakan artefak itu. Pasti ada cara lain dan aku akan mencarinya.”
Pada dasarnya, Mika tahu kalau dirinya keras kepala. Namun, perintah Putri agar ia kembali ke desa di saat seperti ini bukanlah keputusan yang tepat. Ia dan Asa akan mencari kebenarannya dulu. Pemuda ini masih yakin kalau ruang bawah tanah itu masih ada di sana. Ia hanya harus mencari pintu masuknya.
“Begini saja.” Mika mulai mengutarakan idenya, “Aku akan tetap mencari benda itu di sini. Kalau kau ingin mencari cara alternatif lain, aku serahkan hal itu padamu. Namun, aku juga tak bisa kalau menyerah sekarang. Aku akan mendapatkan benda itu apa pun caranya!”
“Kenapa kau ini keras kepala? Uangmu pasti tidak cukup kalau hidup lama di sana. Kau akan kesulitan nantinya. Apa kau yakin dengan keputusanmu?”
Pada dasarnya kakak gadungan dari Mika itu saja yang tak tahu kebenaran hidup adiknya yang luntang-lantung di sini selama hampir sebulan. Kalau membicarakan uang, sejak hari pertama ia juga sudah tak memilikinya. Tanpa sadar, Mika tersenyum. Dia membujuk Putri agar wanita itu percaya jika hidupnya di sini baik-baik saja.
Terdengar ada suara helaan nafas di telepon. “Aku tak bisa ikut campur kalau kau sudah berkehendak seperti ini. Aku akan berusaha sebisaku mencari alternatif lain. Saat aku menemukannya, kau harus pulang dari kota itu! Dirimu paham?”
“Tentu saja, aku paham. Terima kasih atas pengertianmu, Kak.” Mika mengatakan hal tadi sembari tersenyum.
“D-dasar bocah nakal kau ini!”
Mendengar hal tadi, pangeran mahkota itu semakin melebarkan senyumnya. Baru kali ini ia memanggil Putri dengan sebutan yang benar. Sebelumnya ia tak pernah mau kalau disuruh memanggil wanita itu dengan nama kakak. Mika pun bisa membayangkan bagaimana wajah kakaknya yang kegirangan di sana. Dia pasti bahagia dipanggil seperti itu.
Pemuda itu melirik ke arah jam yang ada di rumahnya. Ini sudah hampir jam lima. Ia harus segera bergegas pergi ke taman hutan kota kalau tidak mau terlambat menemui Asa dan pergi bekerja.
“Oh ya, ada hal yang ingin kubicarakan padamu. Aku dengar dari Riko, kau mengatakan sesuatu hal yang—“
“Hei, bagaimana kalau kita membahas itu nanti saja? Aku tak sadar kalau sekarang sudah hampir jam lima. Karena ada urusan, aku harus segera buru-buru berangkat!” Mika mengatakan hal itu sembari berjalan keluar dan mengunci pintu rumahnya.
“Tapi aku ingin membicarakan—“
“Sudahlah, nanti saja! Aku tutup teleponnya!”
Pada akhirnya ia menutup telepon itu dengan sepihak. Dirinya sama sekali tak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Putri padanya, tapi itu bisa nanti saja. Hal yang terpenting sekarang adalah pergi ke taman kota dan bertemu Asa. Mika pun berlari ke sana dengan cepat.
Namun saat pemuda itu datang ke taman kota, keadaan di sini masih begitu sepi. Ia sudah menghabiskan waktu selama satu jam untuk mencari Asa tapi tak kunjung menemukannya. Mika pun tertegun dengan wajah bodoh seolah baru menyadari apa yang salah di sini.
“Hari itu aku bertemu dengan Asa di jam tujuh pagi dan sekarang baru jam enam. Jangan-jangan anak itu datang ke sini jam tujuh nanti?! Arghh!”
Mika berteriak frustrasi. Ia jadi pusat perhatian dari beberapa orang yang ada di sini. Pemuda itu kesal. Percuma dia datang ke sini pagi-pagi sekali kalau Asa datangnya nanti. Mika pun memandang kesal ke arah ponselnya.
“Sialan, andai saja aku punya nomor telepon Asa, semua pasti mudah.”
Pada akhirnya, Mika hanya bisa duduk di salah satu kursi taman dengan suasana hati yang buruk. Dia harus menunggu Asa di sini entah sampai kapan.