Chapter 23 - Kesepakatan

1804 Kata
Udin tak hentinya mengucapkan rasa syukur karena berkat bocah bernama Mika Jonathan itu, dirinya bisa menemukan gudang penyimpanan narkoba sebesar ini. Ia juga telah berhasil menangkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang ternyata menjadi dalang dari semua ini. Ternyata, dugaannya yang mengatakan kalau semua ini berkaitan dengan kawasan rumah elite yang dirobohkan menjadi lahan terbuka hijau dulu benar. Ada ruang bawah tanah di bawah lahan terbuka hijau itu. Udin terus menyusuri ruang bawah tanah yang menjadi tempat penimbunan narkoba ini bersama anggota BIN lain. Saat ia ingin melangkahkan kaki ke ruang bawah tanah selanjutnya, kaki Udin tersandung oleh suatu benda. Pria itu mengerutkan dahi bingung. Ia mengambil benda berbentuk abstrak itu. Warnanya yang perak membuat Udin bertanya-tanya benda apa ini. “Kakakku bilang jika tujuanku datang ke Jakarta untuk mencari artefak yang ada di rumah lama kami. Artefak itu adalah benda berharga peninggalan keluarga besarku. Kakakku ingin aku mencarinya untuk dijual agar kebutuhan ekonomi kami di desa jadi tercukupi.” Tiba-tiba ia teringat perkataan Mika soal artefak. Melihat bentuk benda ini yang cukup abstrak dengan warna perak, ada kemungkinan kalau benda yang ditemukannya ini memang artefak yang dicari Mika. “Apa itu?” tanya salah satu rekan kerja Udin. Pria yang saat ini model rambutnya digaya menyerupai Mika itu hanya bisa menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu. Tapi aku akan membawanya. Ada kemungkinan kalau ini adalah benda yang dicari seseorang yang kukenal.” Malam pun perlahan mulai sirna. Dari ufuk timur, matahari menunjukkan diri. Sinarnya yang cerah mulai menyinari Jakarta. Di salah satu rumah kontrakan sederhana, seorang pemuda tampak termenung di terasnya. Hari ini ia tidak bekerja. Jujur rasanya ini aneh. Padahal setiap harinya dia selalu pergi ke toko swalayan kemarin. Namun karena kemarin Mika dipecat, pemuda itu pun jadi menganggur. Mau ke tempat cuci baju yang biasanya ia kerjai di hari Sabtu dan Minggu pun percuma karena hari ini Rabu. “Menyebalkan sekali, aku jadi lontang-lantung.” Pemuda itu menghela nafas panjang. Dari kejauhan, tampak beberapa anak seusianya yang mengenakan baju seragam putih abu-abu. Mika tak mengerti, sepertinya mereka pergi ke sekolah atau semacamnya. Melihat itu, Mika jadi murung. Ia ingin masuk ke Akademi seperti dulu. Namun kondisinya yang terjebak di sini sangat memprihatinkan. Dia tak tahu kapan akan kembali karena artefak yang diperlukan Putri untuk membuat alat teleportasi tak ada. Di lain sisi, pangeran ini juga tak tahu apakah pihak Kerajaan Mimika mencarinya atau tidak. “Selamat pagi, Nak.” Mika tersentak mendengar sapaan itu. Pemuda yang tersadar dari lamunannya ini tersenyum canggung ke arah dua orang ibu bersama dua anak kecil berseragam merah putih. Sepertinya mereka mau mengantarkan anaknya ke sekolah. “Kami jarang sekali melihatmu ada di rumah ini. Biasanya kau giat sekali bekerja siang dan malam. Tumben hari ini tampak santai di rumah.” Mendengar celetukan itu, Mika tersenyum. “Saya libur hari ini hehe.” Ia agak kesal dengan orang asing yang sok ikut campur dalam hidupnya. Ibu-ibu ini bahkan tak pernah bertegur sapa dengan Mika, tapi ia seperti peduli saja padanya. Menyebalkan. Mereka berbincang sebentar. Mika pun hanya ikut basa-basi ini dengan judes meskipun ia berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin. Pada akhirnya kedua ibu itu pergi karena anak mereka minta untuk buru-buru ke sekolah. Sayup-sayup, dari kejauhan Mika mendengar suara ibu-ibu tadi saling mengobrol membicarakannya. “Anak itu kasihan sekali ya? Dia seusia putra tertuaku, tapi sudah serba bisa bahkan beli rumah kontrakan di samping kita. Dirinya juga pekerja keras siang dan malam.” “Benar, aku tak tega melihatnya. Dia pasti tak punya kesempatan tidur. Selain itu, dia juga bahkan tak sekolah lagi. Semoga anak itu bisa melanjutkan sekolahnya nanti.” Mika menghela nafas panjang. Apakah dirinya memang menyedihkan seperti itu di mata orang lain? Ini semakin menyebalkan saja. Melihat semakin banyak orang di sini yang lewat memandangnya dengan prihatin, Mika pun memutuskan untuk jalan. “Lebih baik aku cari udara segar daripada duduk tak jelas di depan rumah seperti ini.” Mika pun akhirnya jalan-jalan entah ke mana. Pemuda itu menggunakan kaos putih polos dengan celana training yang dibawakan Putri untuknya. Kakak gadungan Mika itu juga membawakannya sandal jepit seperti yang dipakainya sekarang. Mika tak tahu pasti. Langkah kakinya membawa ia ke sebuah taman dengan pepohonannya yang begitu rindang. Tempat ini cukup sejuk. Pohon-pohon besar ada di kanan kiri dan semuanya serba hijau. Karena hari ini hari Rabu, pengunjung tempat ini cukup sepi. Hanya segelintir orang saja. Pemuda itu terkekeh pelan. “Apakah ini semacam hutan kota yang ada di Jakarta Pusat kemarin ya? Kalau iya, aku jadi teringat dengan orang yang kusakiti dulu. Salah siapa merampok orang coba. Apakah dia tak tahu kalau merampok Pangeran Mahkota sepertiku adalah kesalahan?” Mika mengucapkan hal tadi dengan begitu percaya diri. Dia tersenyum miring. Saat beberapa orang melintasinya, mereka berhenti dan ingin berfoto dengan Mika. Pemuda ini sebenarnya heran. Apa yang salah dengan manusia-manusia di dunia ini hingga begitu mengaguminya? “Terima kasih, Mas PK. Aku tidak tahu kalau akan bertemu denganmu di sini,” ujar gadis yang meminta foto degan wajah bersemu merah. “A-ah iya, sama-sama.” Mika pun menjawab sewajarnya. Namun gadis itu justru tersenyum malu-malu. Apakah sekeren itu dia sampai menyahut seperti tadi saja membuat gadis ini kegirangan? Terlebih, setiap orang yang bertemu dengannya selalu memanggil Mika dengan sebutan Mas PK. “Aku tak tahu itu artinya apa. Namun aneh juga ketika ada banyak orang asing yang memanggil namaku dengan aneh.” “Wah, aku tak mengira akan bertemu dengan orang yang punya banyak penggemar sepertimu di tempat ini.” Suara yang tiba-tiba muncul dari arah belakang itu mengejutkan Mika yang kali ini sudah sendiri dan tidak menjadi pusat perhatian seperti tadi. Karena ia kenal dengan suaranya, pemuda itu tanpa pikir panjang segera berbalik. “Loh?! Asa? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mika tak percaya. Gadis itu tersenyum miring. “Seharusnya aku juga bertanya seperti itu padamu. Apa yang kau lakukan di sini?” Angin pagi berembus pelan di antara mereka berdua. Mika dan Asa saling bertatapan dalam waktu yang lama sebelum mereka terkekeh pelan. Takdir memang aneh. Keduanya tanpa sengaja bertemu kembali. “Yah, kalau alasanku di sini sih sudah jelas. Aku kan sedang jalan-jalan karena hari ini kebetulan menganggur. Tapi kau? Bukankah hari ini hari Rabu? Kau tak sekolah?” Mendengar pertanyaan Mika, Asa pun berjalan mendekati pemuda itu. “Hari ini sekolahku tutup. Ada kunjungan dari wali kota atau semacamnya, jadi kami meliburkan diri dalam satu hari. Karena menganggur, aku juga jalan-jalan ke sini sendiri.” Keduanya kini saling berjalan beriringan. Baik Mika maupun Asa tampak santai menikmati pemandangan hutan kota yang sepi ini. Mika menoleh ke arah Asa yang ada di sampingnya. Hari ini dia seperti biasa. Memakai baju putih yang sama sepertinya dengan rambut yang diikat dua. Pemuda itu pun tanpa sadar tersenyum samar. “Aku lupa menanyaimu.” “Apa itu?” tanya Mika tak mengerti saat Asa berkata demikian. “Bagaimana harimu? Kenapa kau bisa tiba-tiba ada di Jakarta Utara sepertiku? Dan kenapa kau berakhir seperti sekarang? Bukankah dulu kau bilang kalau tujuanmu datang ke kota untuk pergi ke rumah lama kakakmu?” Asa bertanya banyak hal, namun pemuda ini tak kesal sama sekali. Dia justru mendengus geli. Gadis yang ada di sampingnya masih sama seperti dulu. Dia terlalu suka ikut campur dalam urusan orang lain. Menghabiskan waktu beberapa jam bersama gadis ini dalam kereta saat itu membuat mereka dekat tanpa sadar. “Ceritanya panjang. Aku terkena masalah karena kemarin turun di stasiun yang salah. Kakakku hanya bilang Jakarta saja, dia tak bilang kalau Jakarta itu ada banyak. Karena aku turun di Pusat, aku harus pergi ke sini sendiri.” Asa mendengus geli. Ia tahu kalau Mika dibiarkan pergi sendiri hari itu pasti akan tersesat seperti ini. “Apa kubilang, pada akhirnya kau tersesat kan?” “Sejujurnya itu belum permulaan dari kesialanku. Malamnya, aku kena musibah. HP ku dicuri dan uangku diambil oleh seseorang. Aku jadi luntang-lantung.” Mika pada akhirnya terus menceritakan segala hal pada Asa mulai dari dirinya yang berakhir menjadi pemulung demi makan, bertemu Farel, dikira amnesia, ditangkap Satpol PP, hingga berakhir jadi tukang bakso di Warung Udin. Semua hal diceritakannya pada Asa karena gadis itu memang tahu masalahnya sejak awal mengingat mereka telah bertemu sejak di stasiun. Mereka menghabiskan waktu dengan mengitari hutan kota ini. Saat Asa mendengarkan cerita Mika, dia benar-benar tak bisa menahan tawa. “Aku mengerti sekarang, ahahaha. Kau dikasihani oleh semua orang yang bertemu denganmu. Namun di lain sisi, mereka semua tampaknya justru salah paham. Kenapa nasibmu semalang ini hanya karena tak mau menerima tawaran bantuan dariku hari itu? Ahahaha!” Mika merengut kesal. Ia pikir menceritakan ini semua pada Asa membuat dirinya terbantu. Namun yang ada, gadis menyebalkan itu justru menertawai seorang pangeran mahkota. Pada dasarnya, orang bernama Rika Angkasa ini menyebalkan. “Ayolah, jangan menertawakanku seperti ini. Aku jadi malu,” ujar Mika seraya menutup wajahnya dengan telapak tangan karena mereka jadi pusat perhatian orang. Tawa Asa yang menggelegar jadi bahan tontonan orang lain yang keduanya lewati. Anehnya, bukan Asa yang malu namun justru Mika. Dia merasa kalau jalan-jalan bersama anak ini adalah suatu kesalahan. Gadis yang ada di sampingnya memang sudah gila. “Maaf, maaf. Aku tak akan tertawa lagi. Lucu sekali menertawakan kisah hidupmu yang berantakan ini. Jadi pada dasarnya, kau belum menemukan rumah kakakmu itu ya?” Mika pun hanya bisa menggeleng pelan. “Bagaimana mungkin aku menemukannya saat rumah itu jadi rata sekarang? Kakakku juga belum menelepon lagi setelah dua hari yang lalu.” Mendengar jawaban Mika yang seperti itu, Asa langsung memandangnya dengan semangat. “Aku akan membantumu mencari jalan keluar dari permasalahan ini!” “A-apa?” Mika tentu saja terkejut dengan ucapan tiba-tiba dari anak ini. “Kita buat klub detektif. Saat hari Sabtu dan Minggu, kita akan bertemu di taman ini untuk merencanakan pencarian terhadap rumah kakakmu yang hilang! Kalau benar rumah itu dirobohkan pemerintah, kita harus mencarinya bahkan kalau perlu menyusup ke kantor pemerintahan!” “B-bukankah ... itu ilegal?” Mika benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran anak ini. Asa pun sontak tersenyum miring. “Kau tak perlu khawatir, aku punya rencana.” Mendengar tawaran dari Asa tadi, sejujurnya Mika tertarik. Ia tak bisa menunggu Putri maupun Udin bergerak membantunya. Dua orang itu pasti juga punya kesibukan sendiri, apalagi Putri juga harus bekerja menyelesaikan alat teleportasi itu. Kalau tidak dia sendiri, siapa lagi yang akan menolongnya? Pemuda itu pun mengangguk setuju. “Kita akan bertemu lagi di sini hari Sabtu nanti. Terima kasih atas bantuanmu!” “Hehe, jangan remehkan aku. Aku akan membantumu mencari jalan keluar dari masalah ini!” balas Asa dengan senyuman lebarnya. Dua orang teman yang tak sengaja bertemu di peron kereta hari itu akhirnya saling membantu lagi. Asa sama sekali tak keberatan membantu Mika karena ia bisa mengenal anak ini lebih jauh. Di sisi lain, Mika juga sama-sama terbantunya. Mereka akan berusaha mencari jalan keluar dari ini semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN