Chapter 79 - Pengakuan

1805 Kata

“Anda tampak lebih santai beberapa hari terakhir ini ya, Pak?” Mendengar itu, pria yang mengetik sesuatu di laptop itu langsung berbalik. Dia tertawa. “Benarkah itu?” “Tentu saja. Coba lihat, kantong matamu tak sehitam dulu. Anda juga lebih sering tersenyum. Biasanya kan cemberut terus.” Pria itu tertawa sekali lagi. Kali ini tawanya lebih keras. Sosok intel bernama Udin itu langsung geleng-geleng kepala mendengarkan pujian bawahannya. Dia memutar kursinya kembali dan melanjutkan kegiatannya tadi. Lebih santai ya? Mungkin ucapan bawahannya tadi benar. Tak dapat dipungkiri, segala beban yang berada di pundaknya terasa sirna begitu saja setelah konferensi pers SMA Unggulan Esa digelar hari itu. Sebagai salah satu penonton yang menyaksikannya secara langsung, Udin masih tak percaya sama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN