episode 7

1003 Kata
" Sam, sejak kapan kamu jadi pesuruh nya bapak?" Olive berkata dengan agak kasar sambil berjalan menjauhi samuel. Seragam putih abu - abunya sudah mulai kotor terkena es krim yang sedang dimakan nya. Samuel membuntuti olive, senyumnya mengembang. " Loh, kok kamu sewot gitu sih?" " Sewot doooong .... gila aja, udah hampir satu minggu ini kamu ngikutin aku terus kemana - mana, kalo enggak inget kamu manusia , mungkin kamu udah aku taruh dikantong depan kayak kangguru." " Aku cuma mau jagain kamu aja olive." Samuel berkata dengan lembut. " Dijaga biar apa? Kayak anak monyet aja dijaga - jaga." " Olive .... kok kamu ngomong nya kayak gitu, makin kasar aja.... , malu dong sama jerry." Olive tersentak dan langsung menoleh. Di samping samuel sudah berdiri seorang pria asing. Jerry... Jerry mengedipkan mata. " Siapa nih namanya , sam?" " Kenalin, ini olive." " Olive, C'est un beau prenon. Kenalin gue jerry." " Liv, Jerry ini temen aku, dia orang prancis!" samuel menambahkan. Olive mengangguk gugup. Jerry menyisipkan sesuatu di tangan kanan nya saat mereka bersalaman. Bentuknya seperti kertas, sedikit agak lebar. Dengan takut - takut, cepat dimasuk kan nya kedalam saku tas nya. " Nice to meet you , jerry." Olive tersenyum sambil mengangguk kaku. " Mau ikut ke pantai?" Jerry menawari sambil telunjuknya menunjuk ke arah rerimbunan pohon kelapa. " Ma..." " No, thank you," Kalimat olive dengan suksesnya di potong oleh samuel. Olive hanya bisa pasrah sambil cemberut. " Mungkin lain kali ." Lanjut samuel dengan sok manis. " Oh,,, tentu, jika masih ada waktu." Jerry mengucapkan kalimat itu ringan. Olive merasakan bulu tangan nya berdiri. Firasat apa ini? Olive memandangi Jerry yang melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh. Jerry,, apa yang kamu coba katakan... Olive buru - buru memasuki pelataran rumah menuju ke kamarnya. Tak sabar lagi ingin segera membuka isi pesan singkat dari jerry. Tak sabar olive ingin melihat apa isi nya. Dari alex kah? " Ah, anak mama sudah pulang rupanya." Mama sedang duduk sambil menyetrika baju. Olive merasakan gelagat yang tidak baik jika ibunya mulai memanggilnya dengan sebutan sayang atau dengan nada memuji. " Mama mau nyuruh apa ?" Olive to the point. " Wah, curigaan banget sih...., " Mama berkata dengan nada agak sewot. Olive langsung merasa bersalah. " Eh,, maaf ma. Jadi mama bukan nya mau nyuruh olive , ya?" " Ya,,, sebenarnya, Mama mau nyuruh kamu minta terasi ke tetangga." "Aku pulaaang ....," Lidia berteriak riang saat memasuki rumah. Lidia melihat ibunya sedang menyetrika baju. " Halo.... lid ....," Mama mengangkat mukanya sambil tersenyum. " Ada cerita apa hari ini?" " Ah,,, ga ada yang seru, ma ...!" Lidia celingukan memandang ke sekeliling. " Mama kakak dimana, ma?" " Lagi mama suruh minta terasi ke tetangga." Mata lidia membesar. " Ma, kan dia lagi di hukum!" Mama menggedikkan bahunya. " Gak pa pa, kan deket ini." Lidia ikut - ikutan menggedikkan bahunya juga. " Ya ... mumpung orang nya ga ada juga, aku mau pinjem pulpen nya yang lucu .... hihihi ....!" Lidia membuka tas olive dan mengubek - ubek isinya, mencari keberadaan pulpen yang diinginkan nya. " Cihuy .... ini dia!" Sebuah pulpen dengan cetakan wajah - wajah para personil boyband asal korea yang sedang hits muncul dari balik tas olive. Tanpa sengaja, saat menganggkat pulpen itu, secarik kertas menyelinap keluar, terjatuh dengan pasrah ke tempat yang tak terlihat. Secarik kertas bertanda tangan dengan beberapa baris kata penuh penghayatan. *** Olive bangun dengan terkantuk - kantuk. waktunya sekolah, membuat olive terpaksa bangun. Padahal hampir semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan secarik kertas yang dititipkan jerry tadi siang. Kertas itu hilang saat ia kembali kerumah. Ia menangis frustasi. Bingung memikirkan isi surat itu. " Ayo cepat, pemalas!" Lidia mendorong olive dari belakang. Badannya limbung. " Lidiaaaa!!!" Olive siap - siap menjitak adiknya, lidia pun melarikan diri sambil tertawa - tawa. Olive segera mengejar. Mereka seperti kakak- adik yang baru mau masuk SD. Saat sedang berlari, olive berpapasan dengan bis jurusan ke kota yang sesekali lewat di dwpan rumah nya. Olive menutup hidung dan matanya untuk menghindari debu. "Olive ....!" Suara itu. Olive cepat - cepat membuka mata. Ternyata benar, disana seorang priayang selama ini mati - matian dibelanya, yang selama ini ingin ditemuinya, berdiri di pinggir jendela dengan wajah berkerut setengah kalut. Bis itu pelan - pelan menjauh. " Alex ....!!!!" Olive merubah arah larinya, dari mengejar lidia adiknya, menjadi mengejar bis. Alex merapat di jendela bis yang penuh sesak. Dibagian atas bis diletakkan beberapa ekor ayam yang akan dijual ke kota. " Olive!" alex berteriak, tangan nya menjulur keluar jendela. Matanya basah. Air mata olive jatuh satu persatu. Napasnya mulai tersengal, tidak mampu mengikuti primanya meain bis. " Kenapa alex? Kenapa tidak bilang mau pergi??" " Aku sudah bilang!" Tatapan frustasi dimata alex terlihat saat ia menyatakan hal itu. Jerry yang ada disebelah alex terlihat cemas. Olive tersadar. Ini pasti maksud dari surat yang kemarin dititipkan oleh jerry. Di depan sebuah rumah berpagar hijau, olive tersandung batu dan jatuh terjerembab. Ia hanya bisa duduk memandangi bis yang membawa Alex semakin mengecil. Ia hanya bisa membayangkan wajah alex yang penuh duka. Olive menutup wajahnya dengan kedua tangan nya dan mulai terisak. Dear olive, Mungkin ini hanya permainan nasib yang sedang menguji kita. Mungkin ini hanya pertanda alan takdir yang lebih baik bagi kita. Mungkin ini bisa jadi awal yang menjanjikan buat kita. Besok aku tinggalkan tempat yang indah ini, tanpa maksud apa - apa. Ikutlah bersamaku. Aku janji akan buat kamu bahagia. Ikutlah bersamaku. Aku tahu kamu adalah jalan untuk hidupku. Besok jam 7 tepat, aku tunggu di depan cottage. Aku tunggu kedatangan mu. Alexander. Olive tergugu setelah berhasil menemukan surat dan membacanya. Dia seperti kehilangan semangat nya. Entah sudah kali keberapa adik beserta ibunya mengahampiri olive dikamarnya sambil menenangkan olive namun selalu ditolak nya. Kehilangan itulah yang kini dirasakan olive, meskipun pertemuan dengan alex terbilang singkat tapi kepergian nya sangat membuat hatinya terluka,, karena separuh hatinya ikut serta dengan kepergian alex. Olive patah hati, seakan jiwa nya pun ikut pergi. Bersambung.......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN