Hal yang paling menyebalkan dalam kisah cinta adalah kita sama-sama menunggu, tapi sama-sama tidak tahu jika kita saling menunggu.
***
_______________________________________
Author pov.
Delapan orang tengah bersiap melakukan rencana yang telah mereka susun tadi sore. Mereka berangkat bersamaan dari rumah Kinal menuju club milik Roy.
Kinal sendirian menggunakan NCR Leggera, motor hitam merah kesayangannya. Beby dan Jeje memakai mobil SUV silver milik Beby. Tiga bodyguard berada di satu mobil dengan tiga koper uang dan beberapa berkas di dalam mobil tersebut. Sementara dua lainnya berboncengan di atas motor.
...
Kinal, Beby, dan Jeje berjalan terlebih dahulu memasuki club tersebut. Mereka dikawal oleh tiga pria yang membawa tiga koper dan dua pria lainnya menunggu di luar club.
"Tunggu, kalian harus menunjukkan identitas dulu sebelum masuk," cegah seorang penjaga di pintu masuk.
"Saya kan sudah pernah kesini," balas Kinal.
"Lo memang udah, tapi mereka belum," penjaga itu menunjuk Jeje, Beby, dan tiga pria di belakang.
"Kami tidak punya waktu untuk diperiksa. Kami kesini untuk bertemu Bos Roy. Apa Bos Roy sudah datang?" tanya Kinal tanpa basa-basi.
"Bos Roy? Kalian mau ketemu Bos Roy?" penjaga itu tak percaya.
"Eh! Lu kagak liat noh koper gede-gede? Isinya duit tuh. Kite mau bisnis ama Bos lo," sahut Jeje tak sabar.
"Lo mau Bos lo nungguin kita yang lama ngga masuk-masuk cuma gara-gara diperiksa dulu? Yang ada ntar malah lo dipecat sama dia!" sahut Beby menakut-nakuti.
"Hah? Ya-yaudah, kalian boleh masuk," ucap penjaga itu sedikit ketakutan.
Kinal dan yang lain pun memasuki club. Mereka langsung menuju lantai dua untuk menemui Selly terlebih dahulu.
"Kita masuk ke ruangan ini, dan gue harap kalian ngga kaget sama orang ini," ucap Kinal sambil menunjuk papan nama yang bertuliskan 'Madam Selly' di pintu masuk.
Kinal mengetuk dan membuka pintu, lalu memasuki ruangan serba ungu itu.
"Malam Mam," sapa Kinal.
"Hai Kinal, Bos Roy udah nungguin yey loh di lantai tiga. Eh... siapa nih? Yey bawa rombongan ternyata?" Selly sumringah melihat Kinal yang tidak datang sendirian.
"Ssstt Nal.. Nal..! Gile lu!! Kok lu ngga bilang sih kalo die penampakannye kayak begini?!" omel Jeje sambil berbisik di telinga Kinal. Sebelumnya memang Kinal bercerita tentang Selly hanya kepada Beby, karena waktu itu Jeje sedang ke Sulawesi.
"Tenang aja Je, dia udah jinak," balas Kinal yang juga berbisik.
"Jinak pala lu! Gemeteran nih gue!" Jeje memegang erat lengan Kinal.
"Santai Je, lagian kita bukan selera dia. Noh liat!" Beby mengarahkan dagunya menunjuk Selly yang menatap intens tiga bodyguard Kinal.
"Haii ganteng....," sapa Selly malu-malu pada ketiga pria itu. Sementara tiga bodyguard Kinal sudah gemetaran sejak melihat Selly.
"Mampus! Bisa kabur nih mereka!" gumam Kinal.
"Ekhem! Mam, katanya Bos Roy udah nungguin? Apa kita ngga kesana sekarang?" tanya Kinal yang membuyarkan tatapan nakal Selly pada bodyguard-nya.
"Oiyhaa, eyke sampai lupa. Yaudah yuk cuss ke atas," Selly berjalan manja lebih dulu.
"Pengen gue jorokin nih orang!" gumam Jeje sok berani.
"Ngga usah pucet gitu, biasa aja," ucap Kinal setengah meledek pada tiga pengawalnya.
"I-iya mbak," balas ketiganya yang sudah berkeringat dingin sedari tadi.
Mereka berenam mengikuti Selly sampai ke sebuah ruangan di lantai tiga. Seorang pria paruh baya berkumis tebal sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia didampingi oleh beberapa pengawal berbadan besar di belakangnya.
"Malam Bos, ini dia Kinal yang mau ketemu sama Bos," ucap Selly menunjuk Kinal di sampingnya.
"Ada apa? Hmm?" tanya Roy santai lalu menghisap kembali rokoknya.
"Kami kesini ingin membayar hutang Veranda," jawab Kinal to the point.
"Bayar hutang? Kamu pikir hutang Veranda itu berapa? Satu juta? Dua juta? Sepuluh juta?! Hutang dia itu dua Milyar!" Roy menatap tajam Kinal.
"Kami bawa uang tiga Milyar kok. Cukup kan sama bunganya?" balas Kinal yang juga menatap tajam Roy.
"Jangan main-main kamu! Kamu itu cuma anak kecil! Anak ingusan!" Roy kesal dan bangkit dari duduknya.
"Saya tidak main-main," ucap Kinal serius lalu menjentikkan jarinya. Ia memberikan kode agar tiga pengawalnya membuka koper yang mereka bawa.
Mata Roy terbelalak saat melihat uang tunai yang begitu banyak di depannya. Ia berusaha tenang, mencoba menebak apa yang dipikirkan gadis muda di depannya.
"Kenapa kamu mau membayar hutang Veranda?" selidik Roy.
"Karena Veranda teman saya, teman kami. Kami bayar lunas hutang Veranda, sebagai gantinya jangan pernah ganggu Veranda lagi, dan tanda tangani ini," jawab Kinal sambil memberikan selembar kertas yang diberikan oleh Jeje. Kertas itu adalah perjanjian dengan materai yang telah tertempel.
"Hahahaha....! Kamu pikir kamu siapa berani atur-atur saya?! Dan apa ini?! Surat perjanjian melepaskan Veranda??! Jangan bercanda kamu!!"
Kreeek..
Roy merobek kertas itu tepat di depan wajah Kinal.
"Kan, gue bilang juga apa! Pasti dirobek, untung gue bawa salinannya," bisik Jeje ke Kinal.
Kinal diam meredam emosinya. Ia benar-benar geram dengan Roy.
"Lebih baik kalian pulang! Bawa semua uang kalian! Saya tidak butuh! Uang saya sudah banyak. Saya sudah kaya!" ucap Roy sesumbar.
"Bukankan anda menahan Veranda disini karena hutang? Saya kesini buat bayar hutang Veranda, seharusnya Veranda bisa bebas sekarang!" Kinal geram.
"Kamu itu masih ingusan! Tidak tau masalah bisnis. Veranda itu aset! Dia primadona disini. Jangan harap saya akan melepaskan dia hanya karena uang tiga Milyar! Ngerti kamu!!" Roy membentak Kinal.
Jeje sudah yang sudah sangat geram tidak bisa menahan emosinya. Ia maju selangkah, tapi ditahan oleh Kinal.
"Di luar club ini, ada dua orang yang sudah bersiap akan menelfon polisi jika saya memberikan kode pada mereka," Kinal menoleh ke salah satu pengawalnya. Pengawal itu mengangguk paham lalu menarik lengan jaketnya dan menunjukkan alat kecil semacam handy talky yang menempel di tangannya. Secara kasat mata, alat itu akan terlihat seperti jam tangan biasa.
"Jika saya perintahkan dia untuk menekan tombol dan memberikan kode pada dua orang yang diluar, saya pastikan club ini akan digrebek polisi," ucap Kinal sangat yakin.
Boy mengerutkan kedua alisnya dan berpikit sesuatu, lalu tersenyum remeh ke Kinal, "kamu pikir saya bodoh?! Atas dasar apa kamu meminta polisi datang kemari? Club ini sudah punya ijin. Percuma kalau polisi datang kesini," balas Roy.
Kinal melirik Beby disampingnya, "Beb," kata Kinal seolah memberikan kode ke Beby.
Beby mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah map tebal warna hitam yang kemudian diletakkan di meja Roy oleh Beby.
"Perkenalkan, teman saya yang sangat jenius, Beby," ucap Kinal mempersilahkan Beby untuk berbicara.
"Saya sudah menyelidiki tempat ini. Semua situs web yang berkaitan dengan club ini sudah saya teliti. Dan ini, bukti bahwa club ini adalah pemilik situs prostitusi online. Saya sudah punya semua buktinya di map ini," Beby membuka map yang terdapat berlembar-lembar kertas disana.
Ekspresi kaget jelas dapat dilihat dari raut wajah Roy. Ia membalik-balik kasar kertas-kertas itu.
"Disini juga ada perdagangan narkoba kan? Atau justru bandarnya ada di tempat ini?" sahut Jeje.
"Dua kasus itu sepertinya sudah cukup untuk membuat pemilik tempat ini masuk penjara. Dan yaa, pasti club ini akan ditutup," lanjut Beby.
"Bukan cuma itu. Anda akan saya tuntut atas tuduhan pemaksaan, pengancaman, dan..... pemerkosaan terhadap Veranda," geram Kinal dengan tatapan sangat tajam pada Roy.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Roy kesal, ia menghempaskan tangannya ke samping yang mengakibatkan beberapa buku dan asbak di mejanya jatuh berantakan.
"Kenape lu? Kesel ye?" ledek Jeje.
"Siapa sebenarnya kalian?!!" seru Roy frustasi.
"Kami cuma anak ingusan kok," jawab Beby enteng membalikkan omongan Roy tadi.
Kinal membuka telapak tangannya di depan Jeje. Jeje yang paham kode tersebut langsung memberikan kertas perjanjian kepada Kinal.
"Tanda tangani ini, jangan ganggu Veranda lagi, dan kami akan tutup mulut tentang semua ini," Kinal meletakkan kertas itu, sekaligus dengan sebuah bulpoint di meja Roy.
"Nama kamu Kinal kan? Saya tidak akan melupakan kamu dan penghinaan kamu hari ini!" ucap Roy dengan nada penuh dendam.
"Cie so sweet banget ngga mau lupain! Udah buruan tanda tangan. Keburu subuh nih!" sewot Jeje.
Drrtt drrtt
Ponsel Kinal bergetar, ia melihat sekilas layar ponselnya. Ternyata pesan masuk dari Veranda yang berisi bahwa Veranda akan lembur kerja hari ini.
"Ve lembur? Kebetulan sih, kayaknya aku masih agak lama juga jemputnya," batin Kinal setelah membaca pesan Veranda lalu memasukkan kembali ponselnya di saku jaket hitam yang ia kenakan.
Roy mengambil bulpoint Kinal dan akan menandatangani perjanjian itu.
"Bos, bos yakin?" tanya salah satu pengawal dibelakangnya. Roy tidak menjawab, dan langsung menandatangani kertas bermaterai itu.
Sesimpul senyum terukir di salah satu sudut bibir Kinal. Setidaknya perjanjian ini bisa membebaskan Veranda dari ikatan yang dibuat Roy.
"Bagus, gitu dong. Kan sama-sama enak," Jeje mengambil kertas itu dari meja Roy dan menyimpannya didalam map yang ia bawa.
Roy mengambil berkas yang diberikan oleh Beby tadi, "musnahkan ini!" perintah Roy pada anak buahnya.
Kinal, Beby, dan Jeje saling bertukar pandang. Beby dan Jeje mengangguk saat Kinal menoleh ke mereka secara bergantian. Ini berarti Kinal haris menyudahi pertemuan dengan Roy malam ini.
"Oke, urusan kami sudah selesai. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu Veranda dan keluarganya lagi," ucap Kinal serius. Ia akan melangkahkan kakinya, tapi ditahan oleh Roy.
"Tunggu, kalian bawa uang itu! Saya tidak butuh!" kata Roy.
"Iye iye tau, lo udah kaya!" celetuk Jeje.
"Bagus kalau anda sadar! Setahun Veranda disini memang seharusnya hutang dia sudah lunas," balas Kinal.
"Yaudah yuk cabut," ucap Beby mendorong pelan lengan Kinal.
Mereka berenam keluar ruangan dengan tetap membawa tiga koper uang itu. Mereka melangkahkan kaki menuruni anak tangga dan langsung pergi dari club itu.
"Kalian pulang duluan ya, gue mau jemput Ve dulu," pinta Kinal.
"Oke, tiati lu Nal!" balas Jeje lalu memasuki mobil bersama Beby.
Kinal melajukan motornya sedikit cepat. Ia tidak mau Veranda menunggunya terlalu lama. Dinginnya angin malam seakan mampu menembus jaket tebal Kinal. Tapi Kinal tidak mau merasakannya, saat ini ia hanya fokus menyetir.
...
Beberapa menit kemudian Kinal sampai di depan ruko tempat kerja Veranda. Tempat ini terlihat sepi, seolah tidak ada orang di dalamnya.
"Sepi banget? Tapi lampu dalem masih nyala. Berarti masih ada orang. Pasti Ve masih di dalem nih," gumam Kinal sambil memperhatikan bagian dalam ruangan yang terlihat dari pintu berbahan kaca.
"Ada satu motor juga. Ini pasti motornya si botak! Jangan-jangan Ve cuma berdua sama dia di dalem!" terka Kinal saat melihat sebuah motor Kawasaki Versys lengkap dengan box di bagian belakangnya.
Kinal mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelfon Veranda. Beberapa kali Kinal menelfon, tapi tidak juga diangkat oleh Veranda.
"Kok ngga diangkat?" ucap Kinal mulai cemas.
Kinal memutuskan untuk masuk ke dalam ruko tersebut. Ia membuka pintu kaca dan menutupnya kembali. Kinal merasakan tempat ini sedikit kedap suara, karena ia tidak mendengar bunyi kendaraan yang berlalu lalang diluar.
"Vee..." Kinal berusaha memanggil Veranda.
Tiba-tiba Kinal mendengar sesuatu, seperti suara orang yang sedang marah dengan nada membentak. Kinal memfokuskan pendengarannya dan terus berjalan ke arah bagian belakang tempat itu.
"Sepi banget? Tapi tadi aku kayak denger sesuatu deh. Kayaknya dari belakang sini," Kinal sampai di bagian belakang ruko.
"Aaaaa!"
Pergerakan Kinal terhenti seketika saat mendengar suara teriakan wanita.
"Veranda?" ucap Kinal sambil bergegas menghampiri sumber suara. Kinal berada di depan satu ruangan. Ia mencoba membuka pintu, tapi pintu tersebut tidak bisa dibuka.
Kinal panik, ia menendang pintu itu.
BRAKK!
"VE!!" teriak Kinal, betapa terkejutnya ia saat melihat Veranda yang ditindih dan dicumbu oleh Steward.
Steward menoleh cepat. Belum sempat ia berpindah dari posisinya, Kinal sudah terlebih dahulu menendang lengan atasnya.
Brukk.
Steward jatuh tersungkur setelah menabrak tumpukan kardus yang berisi kertas-kertas di pojok ruangannya.
"b******k!!!!" Teriak Kinal dengan nafas menggebu-gebu. Lalu ia menoleh ke Veranda yang sudah terbaring lemah disana.
"Ve..." Kinal berjongkok dan menutup dua sisi kemeja bagian depan Veranda. Sementara Veranda masih tidak berhenti menangis.
"Nal..." ucap Veranda sangat pelan. Ia masih merasakan sakit yang teramat sangat di kedua telapak tangannya. Veranda bahkan tidak bisa menggerakkan jari-jari tangannya.
Dengan cepat Kinal melepaskan jaketnya dan menutup tubuh Veranda. Kemudian ia kembali menatap tajam Steward yang mulai bangun setelah didorong oleh tendangan Kinal.
"COWOK b******k!! BANGUN LO!!" Kinal berjalan cepat ke arah Steward dan langsung memukuli pria itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Wajah, pipi kiri, pipi kanan, bahkan perut Steward menjadi sasaran hantaman Kinal.
"LO APAIN VERANDA HA?!!! KURANG AJAR LO!! b*****t!!" Kinal mendorong badan Steward hingga mundur beberapa langkah.
Steward bersiap akan menonjok Kinal dengan tinju tangan kanannya. Tapi pergerakannya kalah cepat dengan Kinal. Kinal menangkap tangan kanan Steward dan memelintirnya cepat.
"Aaaa!!" teriak Steward kesakitan.
Kinal mendorong Steward lagi. Kinal akan melangkah untuk kembali menghajar pria itu, tapi langkahnya terhenti karena melihat Veranda yang merubah posisinya.
Sekarang Veranda duduk bersandar ditembok, ia berusaha menggerakkan jarinya yang terasa sangat kaku dan sakit. Ia menangkupkan kemejanya yang sudah tak berkancing lagi. Veranda memeluk jaket Kinal dengan tangan menyilang di atas dadanya.
Steward memanfaatkan fokus Kinal yang teralihkan. Dengan sisa tenaga ia bangun, melingkarkan tangan kirinya di depan perut Kinal, dan mendorong Kinal hingga..
Bruuk!
Kinal terdorong ke belakang dan menabrak meja kerja Steward.
"Aarrgh!!" Kinal merasakan sakit di bagian belakang punggung kirinya, tepat di bawah bahu. Karena telah bertabrakan keras dengan pinggiran meja. Kinal bangun sambil memegang bahu kirinya. Melihat itu, Steward lari terbirit-b***t keluar dari ruangan.
"JANGAN KABUR LO!! PENGECUT!! BERENTI LO!!" Kinal mengejar Steward sampai ke depan ruko. Tapi dengan cepat pria itu melarikan diri dengan motornya yang tadinya terparkir di sebelah motor Kinal.
"Sial!!" Kinal kesal karena Steward berhasil kabur darinya. Namun ia teringat akan Veranda yang masih lemah di ruangan itu. Kinal bergegas kembali dengan tetap memegang bahunya yang terasa nyeri.
"Ve...." Kinal melihat Veranda yang berdiri sambil menyilangkan tangan mendekap jaket hitam di depan dadanya. Kinal memeluk Veranda, mendekapnya sangat erat, berusaha memberi ketenangan pada Veranda.
Air mata Veranda kembali lolos, ia membalas pelukan Kinal dan membuat jaket hitam Kinal jatuh ke lantai.
"Maafin aku Ve, aku telat jemput kamu. Maaf.." ucap Kinal lirih.
"Aku ngga nyangka dia kayak gitu Nal, aku pikir dia temen aku. Ternyata...," ucap Veranda di sela-sela isakannya.
"Udah Ve. Kamu tenang ya, aku ngga akan biarin dia deketin kamu lagi. Aku bakal jagain kamu Ve, aku janji," balas Kinal tulus.
Veranda tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan dalam pelukan Kinal. Setelah dirasa Veranda sudah tenang, Kinal melepaskan pelukannya. Seketika wajahnya memanas melihat kemeja Veranda yang terbuka di bagian depan. Kinal menoleh cepat ke kanan untuk mengalihkan pandangannya.
Veranda yang menyadari itu langsung memutar sedikit badannya berlawanan arah dengan pandangan Kinal, "maaf Nal, kancingnya lepas semua," ucap Veranda sungkan.
"I-iya Ve.." Kinal berjongkok dan memungut jaketnya, "ini Ve, pakai jaket aja ya?"
"Tangan aku sakit Nal, jari aku susah di gerakin," keluh Veranda memandangi telapak tangannya yang sudah membiru lebam.
"Hah?" Kinal langsung meraih tangan Veranda. "Tangan kamu kenapa Ve?!" seru Kinal.
"Ditekan sama lutut dia tadi," jawab Veranda pelan.
"Apa? Ditekan pakek lutut? Sampe kayak gini? b******k!!!" lagi-lagi Kinal geram. Pantas saja dari tadi Veranda tidak memakai jaket itu, jangankan memakai, menggenggam saja Veranda tidak bisa.
"Yaudah, aku pakekin ya? Maaf ya Ve," Kinal berdiri di depan Veranda dan memposisikan jaket hitam di belakang Veranda. Kinal menutup matanya, dengan sedikit mengintip untuk memastikan tangan Veranda telah masuk ke lubang tangan jaket. Entah kenapa Kinal merasa malu jika melihat tubuh Veranda secara langsung.
"Kuat jalan?" tanya Kinal setelah menutup resleting jaket yang dipakai Veranda. Tak lupa ia mengambil tas Veranda dan memakainya di depan badan.
"Kuat kok," Veranda melangkahkan kaki dan Kinal meletakkan tangan kanannya di bahu kanan Veranda. Berusaha menuntun dan siaga jika sewaktu-waktu Veranda jatuh karena ia terlihat sangat lemas.
Kinal memakaikan helm pada Veranda, dan membantunya naik ke atas motor. Kinal mengarahkan motornya langsung ke rumah sakit terdekat agar luka gadis di belakangnya itu segera diobati. Kinal sama sekali tak menghiraukan dingin angin malam yang telah menusuk kulitnya. Hanya kaos putih lengan pendek dan tas Veranda sebagai pelindungnya sekarang.
***
.
Saat ini Veranda telah ditangani oleh dokter yang sedang bertugas. Sementara Kinal pamit sebentar untuk membeli makan malam. Bukan hanya untuk dia, tapi untuk Veranda dan Gracia nanti.
Setelah hampir satu jam Veranda di IGD rumah sakit, akhirnya kini Kinal akan membonceng Veranda untuk pulang dan beristirahat. Telapak tangan kiri Veranda lebih parah karena sampai timbul luka, sehingga harus diperban. Sedangkan telapak kanannya telah dikompres dan diobati oleh dokter tadi.
...
Sesampainya di rumah, mereka melihat Gracia yang duduk sendiri di teras rumah. Ternyata Gracia sudah cemas menunggu Veranda sedari tadi karena ponsel Veranda yang tidak bisa dihubungi.
"Kak Ve? Kak Ve kenapa? Kok tangannya diperban gitu? Trus kok kakak pucet banget? Trus kenapa pulangnya malem banget? Kenapa kak Ve ngga angkat telfon Gre? Kak Ve kenapa??" Gracia menyerbu Veranda dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Gre, biarin kak Ve masuk dulu ya. Nanti kak Kinal ceritain semuanya," balas Kinal.
Gracia menuntun kakaknya untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu mereka. Kinal menceritakan tentang kejadian di ruko kepada Gracia. Gracia geram, ia sangat marah saat tahu bahwa Steward mencoba memperkosa Veranda.
"Gree.. udah, kakak baik-baik aja kok sekarang," Veranda mencoba menenangkan Gracia.
"Ngga bisa kak! Ngga bisa! Ini ngga bisa dibiarin!" Gracia masih marah.
"Bener tuh, ngga bisa dibiarin. Besok aku bakal bikin perhitungan sama dia! Botak sialan!" sahut Kinal.
"Aku ikut kak! Pengen kutonjok mukanya! Beraninya dia ngelecehin kak Ve!" lanjut Gracia.
"Oke, besok kita datengin tempat kerjanya!" balas Kinal.
Veranda menghela nafas panjang melihat dua orang yang emosian di depannya.
"Kalau dibilang udah ya udah! Aku ngga mau ya kalian sampai kenapa-kenapa. Mau besok atau kapanpun, jangan temui dia lagi! Ngerti?!" Veranda sedikit meninggikan suaranya agar Kinal dan Gracia mau mendengarkan ucapannya.
"Ng-ngerti Ve."
"Ngerti kak."
Bagai bawahan yang menerima teguran dari atasannya, Kinal dan Gracia hanya mampu mengangguk patuh pada Veranda.
Kini mereka menyantap makan malam yang dibeli oleh Kinal tadi. Karena tangan Veranda sedang sakit, maka Gracia dan Kinal bergantian untuk menyuapi Veranda.
...
"Nal, kamu nginep sini kan?" tanya Veranda setelah ketiganya menghabiskan makan malam masing-masing.
"Iya Ve, udah malem banget," jawab Kinal.
"Yes! Kak Kinal nginep," celetuk Gracia.
"Kenapa? Seneng banget kayaknya kalo kak Kinal nginep?" tanya Kinal.
"Seneng lah, biar ngga krik krik. Tiap hari cuma aku sama kak Ve doang, sepi banget."
Kinal tersenyum mendengar ucapan polos Gracia. Ia yakin bahwa Gracia pasti sangat kesepian. Apalagi kalau Veranda sedang bekerja.
"Oiya, aku ijin nelfon bentar ya? Mau ngabarin orang rumah dulu," ucap Kinal lalu mengeluarkan ponselnya.
____
"Halo Pa.."
"....."
"Di rumah Veranda Pa."
"....."
"Iya maaf, Kinal baru pegang hp sekarang. Tadi lancar kok Pa, anak buah Papa pasti udah laporan kan ke Papa tadi?"
"....."
"Iya Pa, Kinal pasti hati-hati kok."
"......"
"Itu dia, Kinal nginep di rumah Ve ya Pa? Soalnya tadi itu ada orang yang jahatin Ve gitu. Trus tangan Ve luka, tadi udah Kinal bawa ke rumah sakit sih Pa. Nggapapa kan Kinal nginep sini? Sekalian nemenin Ve sama adiknya."
"......"
"Makasih Pa. Iya, Kinal nggapapa kok, sehat sehat aja. Oiya, satu lagi Pa, Kinal minta ijin, besok Ve jangan mulai kerja dulu ya Pa? Tangannya masih sakit soalnya. Nggapapa kan?"
"....."
"Iya Pa, makasih ya Pa. Lagian biar sekalian besok sore Kinal bantuin Ve pindahan ke apartemen. Jadi sekalian lusa aja masuk kerjanya."
"....."
"Iya, ngga lupa kok. Makan siang sama calon mama kan? Tenang aja Pa, besok siang Kinal makan di rumah."
"....."
"Oke siap!"
"....."
"Iya nanti disalamin. Makasih Pa.."
"....."
"Dah Pa, malam juga Pa.."
___
Kinal mematikan layar ponselnya. Karena Kinal tidak beranjak dari duduknya saat menelfon Davi tadi, maka Veranda dan Gracia dapat mendengar kata-kata Kinal.
"Pindahan? Kak Ve mau pindah?" tanya Gracia polos.
"Bukan kak Ve, tapi kita. Papanya kak Kinal beliin kita apartemen," jawab Veranda.
"Hah?? Serius kak? Beliin apartemen?"
"Serius. Tanya aja sama kak Kinal," balas Veranda. Kini Gracia menatap Kinal penuh tanya.
"Serius Gre. Kapan lalu kan kak Ve udah nolongin kak Kinal. Jadi, sebagai ucapan terima kasih, Papa siapin satu apartemen buat kalian. Kamu ngga usah khawatir, jarak apartemen sama sekolah kamu deket kok," balas Kinal
"Ini Gre ngga mimpi kan? Kak Kinal kok baik banget sih?? Makasih kak," Gracia memeluk Kinal dari samping. Veranda tersenyum melihat keakraban mereka.
"Sama-sama, besok sore kita pindahan ya?" kata Kinal, Gracia mengangguk senang.
....
Malam sudah sangat larut, Veranda telah menyuruh adiknya untuk segera tidur. Kini Veranda sedang mencarikan baju tidur untuk Kinal.
"Nal, kalau kamu pakek ini nggapapa kah? Udah jelek piyamanya," tanya Veranda sungkan.
"Ya nggapapa lah Ve, maaf ya piyama kamu yang kemarin masih di aku," balas Kinal.
"Iya nggapapa Nal. Yaudah, nih pakek, aku ke kamar mandi dulu ya," pamit Veranda.
Kinal pun bergegas mengganti bajunya di kamar Veranda. Sebenarnya ia masih merasakan sakit di bahu kirinya. Kinal membelakangi cermin rias Veranda setelah melepas kaosnya.
"Astagaa! Pantesan sakit banget, memarnya sampe kayak gini," Kinal melihat punggung kirinya yang membiru di bawah bahu.
"Aww sakit!!" seru Kinal yang mencoba menekan memarnya.
Tiba-tiba Veranda masuk ke kamarnya dan membuat Kinal salah tingkah. Kinal segera meraih piyamanya yang berada di atas kasur.
"Maaf Nal, aku ngga tau kalau kamu belum selesai ganti bajunya," ucap Veranda. Tapi mata Veranda menangkap warna punggung Kinal yang berbeda. Belum sempat ia memastikan, Kinal sudah terlebih dahulu memakai piyamanya.
"Iya nggapapa Ve," balas Kinal.
"Punggung kamu kenapa?" selidik Veranda.
"Hah? Kenapa gimana?"
"Punggung kamu, kayak memar. Apa emang memar?"
"Memar? Ngga kok Ve. Kamu salah liat kali," dalih Kinal.
"Coba aku liat punggung kamu," Veranda mendekati Kinal.
"Eh?? Jangan Ve! Maksud aku, nggapain liat? Punggung aku baik-baik aja kok," Kinal memundurkan langkahnya.
"Kalau baik-baik aja, kenapa aku ngga boleh liat?"
"Ya nggapapa."
"Nal..."
"Ya Ve?"
"Balik badan. Buka piyama kamu. Sekarang."
Kalau seperti ini, Kinal sudah tidak bisa membantah Veranda. Ia berbalik badan dan membuka tiga kancing teratas piyamanya. Menunjukkan punggung kirinya pada Veranda.
"Ya ampun Nal.., punggung kamu kenapa? Kok bisa memar gini?!"
"Tadi kepentok meja pas didorong si botak," jawab Kinal kesal.
"Bentar ya," Veranda berjalan cepat ke arah dapur dan mengambil sebaskom air dingin untuk mengompres punggung Kinal.
Veranda kembali dan langsung mengompres punggung Kinal. Warna biru khas luka lebam menghiasi punggung putih Kinal. Sesekali badan Kinal tersentak pelan saat Veranda terlalu menekan lukanya.
"Maaf ya Nal, gara-gara aku sampai kamu luka kayak gini," ucap Veranda di belakang Kinal.
"Bukan gara-gara kamu Ve. Justru aku yang minta maaf soalnya telat jemput kamu," balas Kinal.
"Kamu ngga telat kok, Stew belum apa-apain aku," ucap Veranda yang membuat Kinal langsung berbalik menghadapnya.
"Belum apa-apain gimana?! Baju kamu aja sampe kebuka gitu. Tangan kamu juga sampe lebam kayak gitu. Apa itu namanya belum diapa-apain?! Apa harus nunggu sampe kamu di--" Kinal kesal tapi ia menghentikan kalimatnya saat melihat Veranda terdiam menatapnya. "Maaf Ve, aku ngga maksud marahin kamu."
"Seenggaknya kamu dateng sebelum dia ngelakuin hal yang lebih buruk ke aku Nal," ucap Veranda menunduk.
Kinal mengancingkan piyamanya dan langsung memeluk Veranda.
"Aku udah janji kan, aku pasti dateng jemput kamu. Dan mulai sekarang, aku janji, aku bakal lindungin kamu Ve. Aku ngga akan biarin siapapun nyakitin kamu," ucap Kinal tulus mendekap Veranda.
"Makasih Nal," Veranda membalas pelukan Kinal.
"Iya, sekarang kita tidur yuk? Aku udah ngantuk banget Ve."
Veranda mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kinal memposisikan dirinya tidur di samping kiri Veranda, untuk berjaga-jaga agar jika Veranda bergerak saat tidur, Veranda tidak akan mengenai bahu kiri Kinal.
"Selamat tidur Ve."
"Selamat tidur juga Nal. Eumm, aku boleh tidur sambil peluk kamu?"
"Peluk?"
Veranda mengangguk.
"Boleh. Tapi aku ngga bisa tidur miring, bahu aku masih sakit. Gini aja ya?" Kinal merentangkan tangan kanannya dan menaruhnya di atas kepala Veranda. "Kamu tidur disini, di lengan aku," lanjut Kinal.
Veranda mengembangkan senyumnya, ia mengangguk dan langsung memeluk Kinal dari samping. Kepalanya terasa nyaman berbantal bahu dan lengan kanan Kinal. Tangan kanannya melingkar mesra di perut rata Kinal.
Kinal juga menekuk lengan kanannya, jarinya mengusap lembut puncak kepala Veranda. Entahlah, mereka berdua seolah telah nyaman di posisi masing-masing dengan debaran jantung yang sudah tak terkendali.
"Makasih Nay," ucap Veranda pelan.
"Nay?" Kinal bingung.
"Iya, Kinay, panggilan sayang aku buat kamu. Nggapapa kan?"
"Sayang??" batin Kinal.
"I-iya.. nggapapa Ve."
"Oiya, tadi gimana ketemu bos Roy?"
"Besok aja ya ceritanya, yang jelas kamu udah bebas dari dia. Sekarang kita tidur dulu."
"Iya, makasih Nay, selamat tidur."
"Selamat tidur juga Ve."
Entah tidur, mencoba tidur, atau berpura-pura tidur. Kedua gadis itu sedang dilanda perasaan tak menentu. Perasaan yang membuat mereka berdebat dengan logika masing-masing.
"Perasaan apa ini Nay? Aku nyaman sama kamu, aku nyaman dipeluk kamu, aku nyaman dengan semua hal kalau sama kamu. Jika ini cinta, apa cinta ini boleh?" batin Veranda gundah.
"Aku harus terbiasa dengan detakan jantung yang tak biasa ini Ve. Setiap di dekat kamu, setiap melihat kamu, bahkan setiap aku membayangkan kamu, d**a aku berdebar diluar kendali. Semua itu karena kamu Ve. Aku yakin ini cinta, cinta terlarang yang tertata rapi buat kamu. Entah sampai kapan aku mampu menyimpannya. Aku takut kamu akan menolak rasa ini Ve. Aku belum siap kalau kamu menjauh, dan mungkin tidak akan pernah siap," batin Kinal yang tak kalah resah dengan Veranda.
Saling memeluk di bawah selimut yang sama. Kedua gadis yang sama-sama sudah mampu menerjemahkan perasaan mereka. Dua gadis yang juga sama-sama menunggu sekaligus takut dengan perasaan cinta terlarang yang bahkan semesta tidak akan pernah merestuinya.
*****
.
To be continue.