Sayap sang kupu-kupu telah patah, aku harap sinar rembulan tak akan membuatnya tumbuh lagi.
***
_______________________________________
Author pov.
Memandang gedung nista dari luar, gedung dimana banyak pendosa berkeliaran disana. Kinal berdiri menatap gedung itu membelakangi motor kesayangannya. Ia sengaja tidak memarkirkan motornya di area parkir club.
Kinal sengaja datang pagi sekali untuk menjemput dan membawa kabur bidadarinya dari tempat ini. Sudah seperempat jam Kinal menunggu Veranda keluar dari club ini.
"Veranda," gumam Kinal saat melihat Veranda baru saja melewati pintu terluar club.
Veranda belum menyadari keberadaan Kinal. Ia berjalan sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Setelah beberapa langkah, Veranda menegakkan kepalanya. Seketika langkahnya terhenti kala melihat Kinal yang berdiri di depannya.
"Kinal?" ucap Veranda tak percaya.
"Pagi Ve," sapa Kinal tersenyum tipis.
"Kamu ngapain disini Nal?"
"Jemput kamu," jawab Kinal singkat.
Tiba-tiba Veranda menunduk tak mau melihat Kinal.
"Ve?" Kinal berjalan mendekati Veranda.
"Maaf," ucap Veranda masih menunduk.
"Maaf?" Kinal bingung.
"Entah kenapa aku ngrasa kalau aku udah nyakitin kamu. Maaf Nal," ucap Veranda tulus.
"Aku memang sakit Ve, tapi ini bukan salah kamu. Ini semua salah aku yang terlalu bodoh. Kalau saja dari kemarin-kemarin aku minta bantuan papa, pasti kamu udah lama keluar dari tempat ini Ve," batin Kinal merasakan sakit di dadanya.
"Ve, kita pulang yuk? Ada yang mau aku bicarain sama kamu," ajak Kinal sambil memegang tangan Veranda. Kinal menarik pelan tangan Veranda agar mengikutinya.
"Aku pakek-in ya?" Kinal bersiap memakaikan helm pada Veranda. Sementara Veranda hanya menatap wajah sendu Kinal di depannya.
"Udah, yuk pulang," Kinal menaiki motornya dan disusul oleh Veranda.
"Pegangan Ve, nanti kamu jatuh loh," ucap Kinal yang dari tadi tidak merasakan tangan Veranda melingkar di perutnya.
"Kamu pasti jijik ya sama aku Nal? Aku ngrasa kalau aku kotor banget sekarang," ucap Veranda pelan tapi masih bisa didengar oleh Kinal.
Kinal tidak menjawab kalimat Veranda. Tiba-tiba kedua tangannya kebelakang, menarik, dan melingkarkan tangan Veranda di perutnya.
"Pegangan Ve, aku ngga mau kamu jatuh," ucap Kinal sambil mengusap punggung telapak tangan Veranda.
Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju rumah Veranda. Kinal sibuk memikirkan kata-kata yang tepat untuk membujuk Veranda agar mau menerima bantuan Papanya. Sementara Veranda masih merasa bersalah kepada Kinal, entah sudah berapa bulir air bening yang keluar dari matanya dan membasahi bahu Kinal.
....
"Kak Ve? Wah ada kak Kinal juga? Kak Kinal jemput kak Ve tadi?" sapa Gracia yang sudah memakai seragam sekolah lengkap.
"Iya, tadi kak Kinal jemput kak Ve. Kamu mau berangkat ya? Hati-hati ya Gre," jawab Veranda.
Seperti biasa, Gracia mencium telapak tangan kanan dan pipi kakaknya sebagai ritual sebelum ia berangkat sekolah.
"Kak Kinal, Gre berangkat ya.., titip kak Ve ya kak Kinal..!" pamit Gracia pada Kinal sambil berlari menjauhi rumahnya.
"Iya, hati-hati Gre!" balas Kinal.
Kini tinggal Veranda dan Kinal yang masih saling diam seolah canggung untuk memulai pembicaraan.
"Masuk Nal," ajak Veranda. Kinal mengangguk dan masuk ke rumah Veranda.
"Kamu udah sarapan Nal? Mau aku buatin makanan dulu? Atau nanti kita makan bareng habis aku mandi?" tanya Veranda.
"Kamu mandi dulu aja Ve, aku tunggu disini," jawab Kinal sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Oke, bentar ya."
Veranda melangkah ke dalam rumah dan segera mandi. Setelah beberapa menit, Veranda keluar dengan rambut basahnya, ia telah memakai kaos putih dan celana pendek selutut, lalu berjalan menghampiri Kinal.
"Maaf ya Nal, kamu nunggu lama," ucap Veranda sungkan yang membuat Kinal mendongak menatap Veranda. Mata Kinal memicing melihat warna kulit yang berbeda di bawah leher Veranda. Kinal berdiri dan berjalan mendekati Veranda.
"A-ada apa Nal?" tanya Veranda gugup ditatap Kinal seperti itu.
"Kamu ganti baju lagi ya Ve, Jangan pakai kaos ini," pinta Kinal.
"Kenapa?"
"Ada kissmark di bawah leher kamu."
Sontak Veranda menutup leher dengan kedua telapak tangannya yang menyilang. "Maaf," ucap Veranda kemudian buru-buru pergi ke kamarnya.
"Kenapa hati aku sakit banget pas liat tanda itu Ve? Kenapa?!" gumam Kinal memegang d**a sambil memejamkan matanya kuat-kuat.
Kinal kembali duduk menunggu Veranda. Beberapa saat kemudian Veranda keluar dengan kaos yang lingkaran lehernya lebih kecil, sehingga tanda merah itu tak terlihat.
"Nal, aku buatin kamu sarapan dulu ya?"
"Ngga usah Ve, aku belum laper. Sini Ve, ada yang mau aku omongin sama kamu," Kinal menepuk sofa di sampingnya.
Kini Veranda duduk bersebelahan dengan Kinal. Kinal memutar sedikit tubuhnya agar berhadapan dengan Veranda. Ia menatap sendu wajah malaikat penolongnya itu.
"Maafin aku Nal. Aku tau, pasti kamu kecewa kan sama aku?" ucap Veranda menunduk tak berani menatap mata Kinal.
"Ve, liat aku," Kinal memegang ujung dagu Veranda, menuntun agar Veranda melihat matanya.
Mereka saling menatap untuk beberapa detik. Mata Veranda mulai terasa panas, ia tak tahan lalu memejamkan matanya dan meloloskan air mata dari sana.
"Jangan ke tempat itu lagi Ve, jangan kerja disana lagi," ucap Kinal memohon.
"Tapi Nal, aku..."
"Jangan kesana lagi Ve, aku mohon," Kinal memegang telapak tangan Veranda.
"Nal..."
"Aku udah janji, aku bakal keluarin kamu dari sana. Hari ini aku akan tepatin janji aku Ve," mata Kinal mulai berkaca-kaca.
"Tapi Nal, aku harus bayar hutang papa."
Grep..
Tiba-tiba Kinal memeluk Veranda, meletakkan dagunya di bahu Veranda. Ia berusaha menyembunyikan air mata agar Veranda tidak melihatnya menangis.
"Ngga perlu Ve, kamu ngga perlu lagi kerja disana buat lunasin hutang Papa kamu. Aku kemarin udah bilang ke Papa, Papa aku yang bakal bayar semua hutang Papa kamu Ve. Kamu jangan kerja disana lagi. Aku mohon Ve, aku mohon..," Kinal semakin erat memeluk Veranda.
"Papa kamu? Tapi Nal, aku ngga--"
"Aku udah cerita semuanya ke Papa. Anggap ini hadiah Ve, jangan ditolak. Kamu mau keluar dari tempat itu kan?"
"Kamu cerita semuanya ke Papa kamu?" tanya Veranda.
Kinal melepaskan pelukannya dan mengusap kasar mata dan pipinya yang sudah basah.
"Iya, kemarin aku bilang ke Papa kalau ......"
...
Flashback on.
Kinal bersiap akan bicara sejujur-jujurnya pada ayahnya.
"Papa inget kalau Kinal pernah cerita ada orang yang nyelametin Kinal pas hampir ketabrak mobil? Inget kan Pa?" tanya Kinal yang duduk berhadapan dengan Davi.
"Inget dong sayang. Kenapa memangnya? Kamu sudah tau siapa dia?"
"Udah Pa, namanya Veranda. Dia tinggal di kontrakan kecil deket komplek rumah Beby."
"Oo gitu, kamu sudah kenal dia? Sudah bilang makasih kan?"
"Udah Pa, Kinal udah kenal dia, kenal banget. Dan Kinal mau cerita tentang hidup Veranda ke Papa, tapi Kinal minta jangan potong cerita Kinal dulu sebelum selesai. Boleh Pa?"
"Boleh dong. Ayo cerita, Papa siap jadi pendengar," ucap Davi tersenyum.
Kinal menceritakan semua yang ia tau tentang kisah hidup Veranda kepada Davi. Kondisi ekonomi, keluarga, hingga pekerjaan Veranda. Davi sedikit terkejut mendengar cerita Kinal.
"..... Kinal tau kalau Papa bisa bantu Veranda. Papa mau kan bantu dia?" Kinal mengakhiri ceritanya.
Davi terdiam seolah memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
"Pa... cuma 3 Milyar. Papa jual aja mobil Kinal Pa, Kinal nggapapa kok ngga punya mobil," Kinal memohon.
"Ini bukan masalah uang Kinal. Kalau kamu mau, hari ini Papa bisa beliin kamu sepuluh mobil seperti punya kamu."
"Trus apa masalahnya Pa? Karena pekerjaan Veranda, makanya Papa ngga mau bantu dia? Veranda juga terpaksa Pa."
"Bukan sayang, bukan karena itu. Papa bisa memahami keadaan Veranda yang tertekan. Papa ngerti dia terpaksa melakukan itu."
"Trus karena apa?"
"Kamu tau kan, mereka itu penjahat. Orang yang menjebak Veranda itu semua penjahat. Veranda sudah menjadi aset mereka Kinal. Tidak mudah mengeluarkan Veranda dari sana. Yang Papa khawatirkan itu kamu Kinal, bagaimana kalau mereka menargetkan kamu karena sudah membebaskan Veranda dari sana?"
"Kinal ngga takut Pa. Besok malem Kinal akan temui Roy, Kinal bakal bayar semua hutang Veranda. Tapi Kinal minta uang dulu ke Papa. Boleh kan?"
"Sekali lagi Kinal, ini bukan masalah uang. Tapi keselamatan kamu."
"Seandainya dulu Veranda ngga nolongin Kinal, pasti Kinal ngga akan selamat Pa. Pasti sekarang Kinal udah ngga ada."
"Kinal! Tolong jangan bicara seperti itu," ucap Davi tegas.
"Makanya Papa bantuin Ve dong Pa. Ngga kasian sama Ve harus kerja disana terus?"
"Baik, Papa akan kasih kamu uang untuk bayar hutang itu. Tapi dengan syarat, besok kamu tidak boleh menemui Roy sendiri. Kamu harus ditemani sama orang-orang Papa."
"Hah? Pakek bodyguard Pa? Ngga usah Pa..," rengek Kinal.
"Pilih ditemani bodyguard Papa, atau tidak kesana sama sekali?" dua opsi dari Davi.
"Oke oke.. tapi Papa suruh bodyguard Papa ganti baju, jangan pakai setelan jas. Nanti Kinal dikira anggota DPR lagi," Kinal memanyunkan bibirnya.
"Oke sepakat," Davi tersenyum puas.
"Tapi bener ya, suruh bodyguard Papa ganti baju sebelum berangkat sama Kinal besok."
"Iya sayang... Oiya, tadi kamu bilang Veranda itu pernah kuliah kan ya?"
"Iya Pa, kenapa?"
"Sepertinya di perusahaan papa ada posisi kosong di staff Departemen Keuangan. Kalau kamu mau, kamu bisa tawarkan pekerjaan ini ke Veranda."
Kinal tersenyum lebar mendengar ucapan Davi, "yang bener Pa?? Jelas mau lah dia Pa. Papa serius kan?"
"Serius lah sayang, ini tidak seberapa di bandingkan jasa Veranda menyelamatkan anak Papa. Besok kamu ajak Veranda ke rumah, Papa ingin menemui dia untuk berterima kasih secara langsung."
"Siap bos!" Kinal bersikap hormat sambil berdiri. "Yaudah, kalo gitu Kinal mau tidur dulu Pa. Makasih banyak Papaku sayang," Kinal memeluk erat Davi.
"Iya sama-sama. Besok disini ya ketemunya. Soalnya Papa ngga ke kantor besok."
"Iya Pa."
...
Flashback off.
.
"Papa kamu bilang gitu?" tanya Veranda tak percaya mendengar cerita Kinal.
Kinal mengangguk pasti, "iya Ve, nanti malem aku bakal temuin Roy, tapi kamu ngga usah ikut. Mending kamu kerja aja di tempat cowok botak itu. Kamu bilang ke dia kalau kamu mau ngundurin diri, soalnya udah dapet kerja di tempat lain. Oke?".
Veranda terkekeh kecil mendengar kalimat Kinal, "cowok botak? Maksud kamu Steward?"
"Iyalah dia, siapa lagi. Kamu jangan kerja sama dia lagi Ve. Kamu kerja di tempat Papa aja ya? Nanti kan tiap hari aku bisa nengokin kamu," ucap Kinal setengah menggoda Veranda.
"Kamu ada-ada aja, tapi apa ini ngga berlebihan Nal? Aku ngga enak sama Papa kamu."
"Ngga Ve, justru kalo kamu nolak ini, Papa nanti malah marahin aku."
"Marahin kamu? Kok gitu?"
"Iyalah, masa biarin bidadari kerja bareng tuyul," balas Kinal asal.
"Tuyul? Maksud kamu? ---- Astaga Kinal... Ngawur kamu ihh," Veranda tersenyum memukul pelan bahu Kinal saat mengerti arah pembiraannya.
"Haha ampun Ve ampun.., jadi kamu mau kan kerja di tempat Papa aku?" Kinal kembali ke topik permbicaraan. Veranda mengangguk kecil lalu dengan cepat memeluk Kinal.
Deg deg deg!
"Perasaan tadi pas aku peluk Veranda nih jantung biasa aja deh. Kok sekarang deg-degan pas Ve peluk aku?!" batin Kinal.
"Makasih Nal," ucap Veranda sambil semakin erat memeluk Kinal.
"Sama-sama Ve, sekarang kita ke rumah aku yuk? Papa kan mau ketemu kamu. Sekalian sarapan di rumah aku. Mau kan?" Kinal membalas pelukan Veranda.
Veranda bukannya melepas, malah semakin mengeratkan pelukan. Ia mengangguk pelan di caruk leher Kinal. Sementara Kinal hanya merasakan helaan nafas halus Veranda di lehernya.
***
.
"Kinal pulang!!" Teriak Kinal saat memasuki rumahnya.
"Eh non Kinal, sudah ditunggu Bapak di ruang makan non," ucap salah satu pembantu rumah Kinal.
"Oke, makasih Bi. Yuk Ve," Kinal menggandeng tangan Veranda menuju ruang makan.
Kinal menyapa Davi dan duduk di sebelahnya. Sementara Veranda duduk di samping Kinal setelah Kinal memperkenalkannya pada Davi.
"Terima kasih ya Veranda, kamu sudah menyelamatkan Kinal, putri kesayangan Om," ucap Davi tulus di sela-sela makan mereka.
"Sama-sama Om, waktu itu juga saya kebetulan jalan di sekitar komplek ini," balas Veranda.
Davi tersenyum, "jadi bagaimana? Kamu mau bekerja di perusahaan Om? Ada posisi kosong di bagian staff Departemen Keuangan."
"Terima kasih Om atas tawarannya. Tapi apakah pantas Om? Saya kan hanya lulusan SMA dan belum punya pengalaman bekerja di perusahaan."
"Soal itu tidak usah kamu cemaskan Veranda. Nanti karyawan Om yang lain akan membantu kamu. Kamu akan diajari sampai bisa disana. Gimana? Kamu mau kan?"
"Mau Pa mau. Ve itu cuma sungkan sama Papa," sahut Kinal yang mendapat sikutan dari Veranda.
"Tidak usah sungkan Veranda. Kalau begitu, Kinal, besok kamu antar Veranda ke bagian personalia, ketemu sama Naomi. Nanti Naomi yang akan menunjukkan tempat kerja untuk Veranda di departemen keuangan. Soalnya besok Papa tidak ke kantor, ada urusan lain."
"Oke Pa," jawab Kinal singkat.
"Oh iya, besok siang kamu tidak ada urusan kan Kinal? Kita makan siang di rumah ya? Ada dua orang yang ingin Papa kenalkan ke kamu," ucap Davi tersenyum.
"Dua orang? Siapa Pa?, oh Kinal tau! Calon mama sama adik Kinal ya Pa?" tanya Kina bersemangat.
"Iya, kamu bisa kan?"
"Bisa dong. Tapi Kinal curiga nih, jangan-jangan Papa ke Surabaya kemarin itu mau jemput calon mama Kinal ya? Iya kan Pa? Hayo ngaku," goda Kinal ke ayahnya.
Davi tersipu malu mendengar itu, "ketauan ya," ucapnya salah tingkah.
"Cie Papa malu-malu," lanjut Kinal.
"Udah udah, malah godain Papa. Ya sudah, Papa tinggal dulu ya. Veranda, Om tinggal dulu ya. Ada urusan mendadak pagi ini. Oh iya Kinal, jangan lupa yang tadi pagi," ucap Davi sambil melangkah pergi keluar rumah.
"Tadi pagi?" gumam Kinal menanyakan maksud ayahnya. Kemudian ia menepuk sendiri keningnya saat mengingat pesan Davi tadi pagi.
"Ve, kamu udah selesai belum makannya?" tanya Kinal.
"Udah Nal, kamu udah?"
"Udah juga. Ikut aku yuk, ada yang mau aku kasih ke kamu, titipan Papa."
Kinal beranjak dari duduknya dan menarik pelan tangan Veranda. Mereka berjalan menuju kamar Kinal di lantai dua.
"Ini kamar aku Ve, maaf ya berantakan. Hehe," kata Kinal cengengesan setelah membuka pintu kamarnya.
Veranda melihat sekeliling, warna abu-abu, hijau muda, dan putih mendominasi ruangan ini. Veranda tersenyum kagum dengan design kamar Kinal, tapi senyumnya hilang seketika setelah melihat kasur Kinal yang sangat tidak beraturan.
"Ngga kamu, ngga Gre, sama aja. Berantakan banget kasurnya," Veranda melangkah dan meraih selimut Kinal. Veranda bermaksud akan merapikan tempat tidur Kinal.
"Tadi buru-buru soalnya Ve, kan mau jemput kamu. Oh iya, ini dari Papa buat kamu Ve," Kinal memberikan satu kotak kecil pada Veranda.
"Ini apa Nal?"
"Buka aja."
Veranda membuka kotak putih itu dan mendapati sebuah kartu seukuran kartu ATM dan kertas yang bertuliskan 6 digit angka.
"Ini kartu apa Nal?" Veranda bingung.
"Kartu akses apartemen, dan itu kode kunci apartemen."
"Apartemen?"
"Iya apartemen. Itu hadiah dari Papa buat kamu sama Gre. Besok atau lusa aku bantuin kamu pindahan," Kinal tersenyum
"Ta-tapi Nal.."
"Please terima Ve, itu dari Papa loh, bukan dari aku."
Veranda menunduk, entah apa yang ia pikirkan. Kinal menengok wajah Veranda dari bawah, "kamu kenapa Ve?" tanyanya pelan sambil memandang wajah Veranda.
"Aku ngga tau harus ngomong apa Nal. Ini terlalu banyak buat aku," jawab Veranda.
Kinal menegakkan tubuhnya, memegang bahu Veranda dengan kedua tangannya. Menatap lekat-lekat gadis di depannya.
"Kata Papa, ini ngga ada apa-apanya dibanding hutang budi Papa ke kamu karena udah nyelametin aku Ve. Apartemen itu buat kamu sama Gre, tolong jangan ditolak Ve," ucap Kinal tulus.
"Makasih Nal," Veranda memeluk Kinal erat. Lagi-lagi air matanya menetes, tak menyangka ada orang sebaik Kinal dan Davi. Kinal membalas pelukan Veranda tak kalah erat. Detak jantung bereka beradu seolah berlomba mana yang lebih kencang.
Cklek..
"Naaall.."
"Upss!"
Jeje dan Beby tiba-tiba masuk ke kamar Kinal tanpa permisi seperti biasa. Seketika Kinal dan Veranda melepaskan pelukan mereka.
"Kalian kebiasaan ye, kalo mau masuk tuh ketok pintu dulu!" omel Kinal.
"Ye mana kite tau kalo lo lagi mesra-mesraan gitu," balas Beby sekenanya.
"Tau! Salah sendiri ngga dikunci," lanjut Jeje.
Veranda terlihat canggung, ia sudah menebak bahwa dua orang ini adalah Jeje dan Beby. Tapi Veranda malu untuk menyapa mereka terlebih dahulu.
"Btw, lo Veranda kan?" tanya Beby dan dijawab anggukan oleh Veranda.
"Kenalin, gue Beby, dan ini Jeje," Beby tersenyum ramah.
"Hai Veranda!" sapa Jeje.
"Hai, aku Veranda, panggil aja Ve," balas Veranda.
Mereka berempat pun ngobrol bersama. Veranda terlihat sangat nyaman dengan teman barunya, ia tertawa saat mendengar lelucon-lelucon receh Jeje dan Beby.
"Oiya Nal, nanti malem jadi kan?" tanya Beby.
"Jadi lah. Nanti kumpul di rumah gue dulu. Trus kita berangkat bareng-bareng sama orang-orang suruhan Papa sekalian," jawab Kinal.
"Ngga sabar gue pengen liat muka si Roy," ucap Jeje geram.
"Jangan bilang kalau kalian bertiga..."
"Iya Ve, mereka ikut aku nanti. Kamu tenang aja, semua aman terkendali," Kinal memotong kalimat Veranda.
Veranda menghela nafas panjang, "kalian belum pernah ketemu sama anak buah Bos Roy, jangan ngremehin mereka."
"Kamu juga ngga pernah ketemu sama orang-orang Papa aku kan? Kamu tenang aja Ve, kami pasti baik-baik aja."
"Iye Ve, udah lu tenang aje dah," sahut Jeje.
"Oiya, kamu ada pakaian kantor ngga di rumah? Kan besok kamu mulai kerja di tempat Papa," Kinal mengalihkan topik pembicaraan.
"Kayaknya sih ada kemeja sama rok selutut gitu Nal," jawab Veranda.
"Mending sekarang kita nge-mall aja. Kalian belanja, trus gue sama Jeje main di timezone. Oke ngga Je?" usul Beby.
"Oke banget, setuju gue. Ayok dah berangkat," balas Jeje tak sabar.
"Yaudah yuk. Ayuk Ve," Kinal berdiri dari duduknya dan disusul tiga temannya.
Mereka berempat menggunakan satu mobil dan satu motor untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Jeje dan Beby menggunakan mobil Beby, sementara Kinal membonceng Veranda dengan motornya. Karena nanti siang Kinal harus mengantarkan Veranda ke tempat kerjanya. Seperti rencana Beby tadi, Kinal dan Veranda sibuk berbelanja pakaian kantor untuk Veranda. Sedangkan Jeje dan Beby berkeliaran berdua entah kemana.
Tak terasa mereka telah menghabiskan waktu sampai siang hari. Kinal telah mengirim pesan ke Jeje bahwa ia dan Veranda pulang terlebih dahulu.
....
Kinal dan Veranda baru saja sampai di rumah Veranda. Kinal akan menunggu Veranda yang harus bersiap-siap terlebih dahulu sebelum mengantarnya bekerja.
Sekitar tiga puluh menit, Veranda keluar dengan celana jeans hitam dan kemeja merah lengan panjang yang melekat di tubuhnya, serta tas ransel kecil yang selalu ia bawa.
"Udah siap?" tanya Kinal.
"Udah, yuk berangkat."
"Gre kok belum pulang ya Ve?" tanya Kinal sambil berjalan keluar rumah Veranda.
"Tadi Gre chat aku Nal. Katanya abis pulang sekolah dia langsung kerja kelompok di rumah temennya."
"Oh gitu? Kunci rumah gimana?" tanya Kinal lagi.
"Aku taruh sini aja, udah biasa kok," jawab Veranda sambil mengunci pintu dan menaruh kunci rumahnya di bawah keset.
"Ohh oke, yaudah yuk berangkat."
Kinal membantu Veranda memakai helmnya seperti biasa. Kemudian Kinal membonceng Veranda menuju ruko tempat Veranda bekerja.
....
"Tumben si botak ngga muncul?" ucap Kinal sesampainya mereka di depan tempat kerja Veranda.
"Kinal ih.., gitu-gitu kan dia temen aku," ambek Veranda. Baru saja ia turun dari motor Kinal.
"Hehe iya maap. Hampir lupa kalo dia temen kamu. Eh tapi kamu ngga naksir dia kan?" tanya Kinal asal sambil melepaskan helm Veranda.
"Ya ngga lah Nal, jangan ngaco," jawab Veranda.
"Kali aja Ve. Bagus deh kalo kamu ngga naksir dia," balas Kinal.
"Bagus kenapa?"
"Ya kan aku masih punya kesempatan. Eh.." Kinal keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
Alis Veranda berkerut, "kesempatan apa?" selidik Veranda.
"Kesempatan.... kesempatan buat... buat cariin kamu jodoh. Iya gitu, kesempatan buat cariin kamu jodoh Ve, hehe.." jawab Kinal cengengesan.
"Cariin aku? Kayak kamu udah dapet jodoh aja Nal Nal," balas Veranda.
"Ya ini lagi usaha Ve," sahut Kinal yang lagi-lagi membuat Veranda bertanya-tanya apa maksudnya.
"Hai Ve.. Udah dateng?" suara pria menyudahi obrolan Kinal dan Veranda.
"Eh Stew, iya aku baru dateng." balas Veranda.
"Die lagi die lagi! Ck!" gumam Kinal kesal.
"Nal, aku kerja dulu ya. Nanti kamu hati-hati ya pas ketemu Bos Roy, kabarin aku kalau ada apa-apa. Dan kalau kamu kemaleman, kamu ngga usah jemput aku. Nanti aku bisa pulang sendiri," ucap Veranda pelan sambil menatap Kinal.
"Iya, aku pasti hati-hati kok nanti, dan aku pasti jemput kamu Ve. Nanti aku kabarin ya," balas Kinal lembut.
Veranda mengangguk tersenyum, "iya, yaudah, hati-hati ya pulangnya. Makasih Nal..."
"Iya, gih sana masuk."
Kinal baru memakai helmnya saat melihat Veranda masuk ke tempat kerjanya dan disusul oleh Steward yang dari tadi menatap tidak suka dengan keakraban Veranda dan Kinal.
Kini Kinal melajukan motor dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Jeje dan Beby pun telah menunggunya disana. Mereka akan berdiskusi untuk membicarakan rencana nanti malam.
Davi juga telah memberi komando pada bodyguard-nya agar menemani Kinal menemui Roy malam ini. Tiga koper uang tunai telah disiapkan Davi untuk diberikan kepada Roy sebagai tanda pelunasan hutang Papa Veranda.
...
Sekarang Kinal, Jeje, Beby, dan lima orang berbadan tegap sedang berbincang di ruang tamu rumah Kinal. Beberapa jam lagi mereka akan langsung menuju tempat target mereka.
***
.
Di tempat lain, Veranda tengah sibuk dengan komputer di depannya. Ia sedang mendesain satu poster pesanan sebuah instansi ternama.
"Nih Ve minum dulu," Steward memberikan satu botol air mineral pada Veranda.
"Eh iya Stew, makasih ya," balas Veranda ramah.
"Sama-sama. Oiya Ve, nanti kamu lembur satu jam ya? Bisa kan? Soalnya pesanan poster kita numpuk banget," pinta Steward.
"Bisa kok Stew, tenang aja."
"Makasih Ve, yaudah aku tinggal dulu ya.."
Veranda mengangguk tersenyum dan kembali menghadap komputernya.
"Lembur satu jam? Nggapapa deh, sekalian sambil nunggu Kinal," batin Veranda.
....
Jarum jam terus berputar, tak terasa Veranda telah menyelesaikan semua tugasnya. Ia melihat jam tangannya, ternyata waktu lemburnya sudah tinggal beberapa menit lagi. Ia melihat ponsel, tapi Kinal belum juga memberi kabar. Tadi ia sudah mengabari Kinal bahwa ia akan lembur kerja malam ini.
"Udah jam segini, kenapa kamu belum kasih kabar Nal? Kamu baik-baik aja kan? Aku khawatir sama kamu" gumam Veranda cemas.
"Mendingan aku bilang ke Stew dulu deh kalau aku mau berhenti kerja disini. Semoga dia bisa ngerti," gumam Veranda lagi.
Veranda berjalan mendekati ruangan di pojok belakang, yaitu ruang kerja Steward selaku pemilik usaha ini.
Tok tok tok
Cklek..
"Malam Stew, kamu masih sibuk ya?" Veranda memasuki ruangan tersebut.
"Eh Ve? Iya nih, masih ada kerjaan. Kamu udah selesai Ve nge-print-nya?"
"Udah kok, udah semua. Barusan anak-anak yang lain juga udah pamit pulang Stew, mereka udah selesai," ucap Veranda.
"Bagus deh kalau gitu. Kamu mau pulang juga ya Ve? Aku antar ya?" Steward berdiri dan berjalan menghampiri Veranda di dekat pintu.
"Ngga usah Stew. Lagi pula ada yang mau aku bicarain sama kamu sebentar."
"Bicara apa Ve? Duduk dulu deh kalau gitu," kata Steward.
"Ngga usah, cuma bentar kok. Jadi gini Stew, hari ini hari terakhir aku kerja disini. Aku mau minta ijin buat berhenti kerja disini, soalnya aku udah dapat kerja di tempat lain. Boleh kan?" tanya Veranda hati-hati.
"Apa? Kamu berhenti? Kamu mau resign dari sini? Memangnya kamu mau kerja dimana Ve?" ucap Steward tak rela.
"Aku ditawarin buat kerja di perusahaan orang tuanya Kinal. Mulai besok aku kerja disana Stew."
"Kamu yakin Ve?"
"Iya, maaf ya.."
"Oke nggapapa. Tapi aku mau bilang sesuatu sama kamu sebelum kamu berhenti kerja disini Ve," ucap Steward serius.
"Bilang apa?"
"Maaf Ve, aku baru berani bilang ini sekarang. Sebenarnya aku udah nyimpen rasa buat kamu dari dulu, cuma aku ngga berani buat ungkapin ke kamu Ve. Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu Veranda," Steward memberanikan diri memegang tangan halus Veranda.
"Apa? Kamu suka aku? Makasih Stew, tapi maaf, aku ngga bisa balas perasaan kamu," Veranda melepaskan tangannya dari genggaman Steward.
"Kenapa Ve? Apa kurangnya aku buat kamu?"
"Bukan masalah kurang atau lebih. Tapi ini masalah hati Stew, aku cuma anggap kamu sebagai temen, ngga lebih. Maaf."
"Aku kurang baik buat kamu Ve? Aku udah ngasih kamu kerjaan disini, aku masih kurang baik?!" Steward mulai meninggikan suaranya.
"Hah? Jadi kamu ngasih aku kerjaan ini karena mengharap aku biar bales perasaan kamu?" tanya Veranda tak percaya.
Steward menggelengkan kepalanya, "kasih aku alasan kenapa kamu nolak aku Ve," pintanya.
"Tadi aku udah bilang, aku cuma nganggep kamu teman, ngga lebih."
Steward tersenyum kecut, "bohong! Kamu nolak aku karena aku ngga bayar kamu kan? Iya kan Ve?!" ucap Steward menatap tajam Veranda.
"Maksud kamu apa?!" Veranda juga meninggikan suaranya.
"Halah, kamu ngga usah sok suci Ve. Aku tau semua kelakuan kamu! Kamu kerja di club jadi wanita malam kan?! Berapa bayaran kamu Ve?! Aku bayar sekarang!"
Plaak!
Veranda menampar pipi kiri Steward.
"Jaga bicara kamu Stew!" Veranda geram.
"Kamu nampar aku?! Berani kamu nampar aku Ve?!!" teriak Steward di depan wajah Veranda. Kemudian
Brukk..
Steward mendorong Veranda hingga jatuh ke lantai ruangannya. Lalu dengan cepat ia menutup pintu yang sedari tadi terbuka.
"Kamu apa-apaan sih?!" Veranda berusaha bangun.
Drrtttt drrttt...
Bunyi getaran ponsel Veranda dari dalam tas ranselnya.
"Siapa yang nelfon kamu malam malam begini ha?! Pelanggan kamu?! Dasar p*****r!!" Steward berjalan mendekati Veranda dengan mata yang memerah.
"Kamu...kamu mau ngapain Stew?! Jangan mendekat!" teriak Veranda.
"Berapa harga kamu buat semalam Ve?! layani aku malam ini, besok aku bayar kamu dua kali lipat!" ucap Steward kasar sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Jangan kurang ajar kamu!!" teriak Veranda ketakutan, bahkan ia sampai melempar tas ranselnya ke arah Steward yang sudah bertelanjang d**a.
"Kurang aja? Kurang ajar apa?! Bukannya ini kerjaan kamu ha?! Ayo sini, layani aku Veranda!" Steward semakin mendekati Veranda. Ia mendorong Veranda lagi hingga menabrak tembok ruangan. Kini jarak mereka sangat dengat. Veranda sudah meronta, ia memukuli badan Steward.
Plak!
"Aaa!" teriak Veranda kesakitan
"Itu balasan karena kamu berani nampar aku tadi Ve!" Steward telah menampar keras pipi kiri Veranda.
Steward mendorong tubuh Veranda ke bawah hingga Veranda tersungkur di bawahnya. Dengan cepat ia menghadapkan tubuh Veranda ke atas dan membuat Veranda terlentang di depannya. Steward menindih tubuh kecil Veranda. Menarik kedua tangan Veranda dan menjepit dengan kedua lututnya.
"Lepas, kamu b******k Stew!! Lepas!!" Veranda meronta kesakitan. Karena telapak tangannya telah terhimpit antara lantai dan lutut Steward yang menekannya kuat. Sehingga Veranda tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.
"Aku b******k?! Kalau aku b******k, kamu apa Ve?! Kamu lupa kalau kamu itu p*****r?! Lupa?!!" teriak Steward seolah kesetanan.
Secepat kilat Steward mendekatkan wajahnya ke wajah Veranda. Ia menciumi bahkan menjilati bibir, pipi, rahang, hingga leher Veranda.
"Hentikan!! Lepas!!!!" Veranda menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berusaha menolak perlakuan pria di atasnya.
"Kita senang-senang malam ini sayang!!" ucap Steward dengan tangan yang sudah berada di atas d**a Veranda.
"Aaaaa!!!" teriak Veranda saat Steward membuka kemeja Veranda secara paksa hingga kancing kemeja itu berhamburan entah kemana.
Mata Steward berbinar melihat Veranda di depannya. Bagaimana tidak, sekarang hanya ada bra hitam yang menutupi buah d**a Veranda.
"Jangan Stew, aku mohon jangan," Veranda memelas, air mata sudah mengalir membasahi pipinya.
"Aku harus akui kalau kamu benar-benar sexy Ve," ucap Steward penuh nafsu. Ia kembali menciumi bibir Veranda, tangan kanannya menelusup ke dalam bra dan meremas kasar d**a kiri Veranda.
Veranda masih meronta, ia menutup bibirnya rapat-rapat menolak ciuman kasar Steward. Dengan air mata yang tak berhenti mengalir, ia hanya bisa berteriak dalam batinnya....
"Kinal.."
"Aku mohon Kinal..."
"Kinal!"
"KINAL!!"
.
.
BRAAKK!!!
*****
.
Tbc.