AM 5: Cemburu

3311 Kata
Jika hati bisa jatuh semudah ini, mengapa sesulit itu mengakuinya? *** ____________________________________ Author pov. Motor sport merk ternama berwarna merah membelah padatnya jalanan ibu kota. Si pengendara sengaja melajukan motornya dengan kecepatan sedang, karena fokusnya sedang terpecah antara memikirkan tentang berkendara dan mencoba menerjemahkan suasana hatinya. "Kenapa aku ngga suka ya liat cowok tadi? Masa iya aku cemburu? Lagian ngapain sih dia sok ramah sama Ve?!" gumam Kinal kesal. Tiba-tiba ia merasakan perutnya yang berontak ingin diisi. Kemudian Kinal membelokkan motornya memasuki area parkir restoran makanan cepat saji. Ia memesan dua porsi makan siang dan satu box pizza. Siang ini ia memutuskan makan siang bersama Gracia. ..... Kinal memakirkan motornya di depan rumah Gracia. Matanya memicing saat melihat sepasang sandal japit di bawah pohon mangga. Pandangannya beralih ke atas pohon. Ternyata benar, lagi-lagi Gracia memanjat pohon itu. Kinal melepaskan helm dan turun dari motor. Lalu ia berjalan menghampiri Gracia. Dari jarak beberapa meter, Kinal melihat ranting pohon yang dipijak Gracia sangat melengkung ke bawah seolah tak kuat menahan beban di atasnya. Dan benar saja, mata Kinal membulat saat mendengar suara kayu yang akan patah. "Gre!! Jangan berdiri di ranting itu! Mau patah!!" Teriak Kinal. Gracia menoleh, "hah?! Apa kak?!!" teriaknya dari atas pohon. Tiba-tiba.. Tak... klekk!! Kinal berlari dan melompat berusaha menangkap Gracia agar tidak jatuh ke tanah. "Aaaaa!!!" "Greee!" Bruugh "Aduuh!" "Aduh!" Kepala Gracia jatuh tepat di pinggang Kinal. Perkiraan Kinal tepat, ia sengaja melompat dan tengkurap di bawah pohon agar Gracia jatuh di badannya. Karena Kinal tau, waktunya tidak akan cukup kalau ia menangkap Gracia dengan kedua tangannya. "Aaa.. bangun Gre! Berat tau!" ucap Kinal merasakan nyeri di pinggangnya. "Aduhh, p****t aku sakit kak," keluh Gracia sambil bangun dari posisinya. "Kamu kecil-kecil berat juga ya Gre. Sakit juga nih pinggang kak Kinal," Kinal memegang pinggangnya. "Sakit ya kak? Maaf ya...," ucap Gracia menyesal. "Yaudah nggapapa kok. Masuk ke rumah kamu aja yuk," Kinal berusaha berdiri dengan menahan sakit di pinggangnya. "Aku bantuin kak," Gracia memegang lengan Kinal. "Ngga usah Gre, kak Kinal bisa sendiri kok. Mending kamu ambil tuh makanan di atas motor kakak. Kita makan bareng-bareng abis ini," Kinal menunjuk sesuatu di atas motornya. "Wahh makanan?? Siap bos!" mata Gracia berbinar dan langsung mengambil makanan itu. Kini Kinal dan Gracia duduk di ruang tamu dengan makanan di hadapan mereka. Mereka terlihat seperti dua orang yang sedang berlomba makan saking lahapnya, seolah melupakan sakit di badan mereka. "Hahh kenyang! Enak banget kak! Makasih ya kak," Gracia menyandarkan tubuh di sofa setelah melahap habis jatah makanannya. "Tuh pizzanya masih ada Gre, nanti habisin ya." "Iya nanti kak, masih kenyang banget sekarang." "Iya," Kinal tersenyum melihat Gracia yang kekenyangan. "Kak Kinal baik banget ya? Beda sama temen kak Ve yang sering kesini. Dia mana pernah bawa makanan," ucap Gracia polos khas anak kecil. "Temen kak Ve? Temen yang mana?" Kinal penasaran. "Namanya kak Stew. Emang kak Kinal tadi ngga ketemu sama dia? Kata kak Ve, dia satu kerjaan sama kak Ve." "Ooo cowok botak itu? Emang dia sering kesini Gre?" Kinal mulai cemburu. "Sering, biasanya dia nganterin kak Ve pulang. Palingan nanti malem dia nganter kak Ve lagi. Tapi kak, aku tuh ngga suka sama kak Stew. Dia orangnya aneh." "Aneh? Aneh gimana?" "Ya aneh, kalo dia liat kak Ve itu kayak gimana gitu tatapannya. Aneh pokoknya. Nanti deh kakak perhatiin pas dia kesini." "Ternyata bukan cuma aku yang ngrasa kalo cowok itu aneh," batin Kinal setuju dengan ucapan Gracia. "Ngapain merhatiin dia? Mending nanti kak Kinal aja yang jemput kak Ve," Kinal mengide. "Nahh cocok tuh! Kalau sama kak Kinal aku setuju," balas Gracia bersemangat. "Hah? Setuju apaan Gre?" "Setuju jadi pacar kak Ve! Ya setuju buat jemput kak Ve lah kak!. Gimana sih? Pakek nanya," jawab Gracia kesal dengan pertanyaan Kinal. "Oo kirain.., oiya kakak minta kontak kak Ve dong? Biar kak Kinal kasih tau kak Ve kalau kakak mau jemput dia nanti," Kinal mengeluarkan ponselnya. "Oke, bentar kak," Gracia mencari nomor Veranda di ponselnya. Drrt.. Drrtt.. "Bentar Gre, ada telfon," ucap Kinal lalu mengangkat telfonnya. "Hallo Pa.." "....." "Di rumah temen Pa, kenapa?" "....." "Oo gitu? Sekarang pa?" "....." "Oke pa, hati-hati ya Pa disana. Kalo udah sampe Surabaya, kabarin Kinal." "....." "Iya Pa, dahh.." Kinal menjauhkan ponsel dari telinganya saat lawan bicara telah mematikan sambungan telepon. "Kenapa kak?" tanya Gracia ingin tahu. "Papa kak Kinal mau ke Surabaya siang ini, ada urusan mendadak katanya. Dan baru pulang besok sore," jawab Kinal. "Ooo gitu. Yaudah nih nomor kak Ve, jadi minta ngga?" "Jadi lah Gre, mana?" Kinal menerima ponsel Gracia dan mencatat nomor Veranda d ponselnya. "Kakak telfon kak Ve dulu ya," ijin Kinal pada Gracia, dan dibalas anggukan oleh Gracia. Kinal menelepon Veranda untuk memberi tahu bahwa ia akan menjemput Veranda nanti malam. Awalnya Veranda menolak karena takut merepotkan Kinal. Tapi Kinal tetap memaksa, sehingga Veranda menyerah dan meng-iya-kan Kinal untuk menjemputnya nanti. Hari sudah mulai gelap dan Kinal berpamitan untuk pulang pada Gracia. Kinal pulang hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Kemudian ia bersiap untuk menjemput Veranda. *** Duduk di atas motor yang diparkir di depan ruko, Kinal sedang menunggu Veranda selesai bekerja. Beberapa menit kemudian Veranda keluar bersama Steward. "Aku antar pulang ya Ve?" ajak Steward. "Ngga usah Stew, makasih. Aku udah dijemput Kinal," tolak Veranda halus. Melihat keduanya keluar bersamaan, Kinal langsung menghampiri Veranda. "Mana Kinalnya? Kayaknya belum dateng Ve. Aku antar aja ya?" bujuk Steward. "Gue udah disini kali," sahut Kinal datar dari belakang Steward. Seketika Steward menoleh dan memberikan tatapan sinis ke Kinal. "Eh Nal, udah lama nunggunya? Maaf ya," kata Veranda sungkan dan berjalan menghampiri Kinal. "Ngga lama kok Ve, pulang sekarang yuk?" ajak Kinal tersenyum ramah. "Yuk," balas Veranda. Kemudian menoleh ke arah Steward, "duluan ya Stew," pamit Veranda. "Hati-hati Ve," balas Steward dengan senyuman yang dipaksakan. Kinal membantu Veranda memakai helmnya. Veranda tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Kinal. Entah apa yang dirasakan Veranda sekarang, yang jelas dia terlihat lebih ceria setelah mengenal Kinal. "Yuk naik," ucap Kinal setelah menaiki motor dan memakai helmnya sendiri. Veranda naik di boncengan motor Kinal dan memeluk Kinal dari belakang yang membuat Kinal sedikit terhenyak karena tangan Veranda mengenai pinggangnya masih sakit. "Kamu kenapa Nal?" tanya Veranda. "Itu Ve, pinggang aku sakit," jawab Kinal sambil meringis kesakitan. "Ya ampun, maaf Nal, aku ngga tau. Kok bisa sakit? Kamu habis jatoh ya?" selidik Veranda. "Iya Ve, tadi aku jatoh. Tapi nggapapa kok, pegangan aja Ve, nanti kamu jatoh." "Beneran nggapapa? Katanya sakit?" "Iya nggapapa Veranda. Mending sakit dikit dari pada kamu yang jatoh gara-gara ngga pegangan. Tapi jangan kenceng-kenceng ya meluknya, aku ngga bakal ninggalin kamu kok," ucap Kinal setengah menggoda Veranda. "Apaan sih? udah yuk pulang, udah malem," Veranda mengulum senyum malu-malu lalu melingkarkan tangannya di perut Kinal. Kinal terkekeh karena berhasil menggoda Veranda. Ia melajukan motornya dan lagi-lagi membelokkannya di tempat makan. "Kok kesini Nal?" tanya Veranda. "Kamu belum makan malem kan? Kita beli makan dulu, sekalian buat Gre," jawab Kinal sambil melangkah masuk ke restoran Jepang. "Eh Nal tunggu," Veranda berlari kecil menyusul Kinal. Kinal memesan tiga porsi sushi dan beberapa makanan kecil. "Banyak banget Nal?" tanya Veranda setelah melihat Kinal membawa makanan didalam kantong plastik yang cukup besar. "Kan buat tiga orang Ve. Lagian kan aku makannya banyak, hehe" Kinal cengengesan "Yaudah sini aku aja yang bawa, kan kamu nyetir." Mereka berdua meninggalkan resto dan langsung pergi menuju rumah Veranda. Sesampainya disana, betapa senangnya Gracia saat melihat satu kantong plastik makanan yang dibawa oleh Veranda. Mereka makan bersama dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibir ketiganya. "Oiya Nal, kamu tadi belom bilang ya jatoh dimana sampe pinggang kamu sakit gitu?" tanya Veranda setelah ia membersihkan meja dari bungkus sisa makanan. "Oo itu.." Kinal menggantung kalimatnya lalu melirik Gracia, sedangkan Gracia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya seolah memberikan kode agar Kinal tidak menceritakan kejadian tadi siang pada Veranda. "Gree..," Veranda menyadari tingkah adiknya setelah mengikuti arah pandang Kinal. "Kalian berdua kenapa? Apa yang kamu sembunyiin dari kakak, Gre?" lanjut Veranda. "Eh.. itu kak, tadi.. kak Kinal.. nolongin aku," jawab Gracia. "Nolongin? Nolongin apa?" selidik Veranda yang merasa tak puas dengan jawaban adiknya. Sedangkan Kinal dan Gracia hanya saling lirik. "Naal.." "I-iya Ve?" "Tadi kamu nolongin Gre apa?" Veranda menatap Kinal serius. Mau tidak mau Kinal harus jujur pada Veranda dan tidak mrmperdulikan kode Gracia. Kinal bercerita tentang kejadian tadi siang kepada Veranda. "Apa? Jatuh dari pohon mangga?" tanya Veranda, Kinal hanya mengangguk pelan. Veranda menghela nafas kasar, "Gre! Berapa kali kakak bilang ke kamu, jangan manjat pohon lagi! Bandel banget sih kamu! Kalau mau ambil mangga itu pakek galah! Jangan manjat! Jatoh kan jadinya! Bandel!" omel Veranda. "Kalo pakek galah itu ngga keren, emak-emak juga pakek galah pas ngambil mangga. Kalo manjat, baru keren kak," Gracia membela diri. "Ooo kamu udah berani bantah kakak? Iya?!" Veranda menatap tajam Gracia. "Gila gila! Ve kalo marah serem banget! Udah Gre ngalah aja kalo pengen slamet!" batin Kinal ngeri melihat Veranda. "Maaf kak Ve..," Gracia menunduk. "Pinggang sama p****t aku masih sakit nih kak, jangan dimarahin nanti makin sakit," lanjut Gracia. Veranda menghela nafas panjang, "jangan diulangi lagi." "Iya," jawab Gracia. "Udah Ve, kesian juga dia," ucap Kinal. "Yaudah, udah malem, ayok tidur. Oh iya Nal, kamu nginep disini aja ya? Udah malem loh," pinta Veranda. "Eh.. ngga usah Ve, rumah aku kan deket, aku pulang aja ya?" "Kak Kinal ngga mau nginep disini soalnya rumah ini kecil ya?" tanya Gracia polos. "Ngga, bukan karena itu Gre," balas Kinal, tapi Gracia tetap cemberut. "Yaudah yaudah, kak Kinal nginep sini," Kinal mengalah. "Nahh gitu dong!, kak Kinal tidur sama aku aja ya," Gracia bersemangat. "Ngga. Kamu mau bikin pinggang kak Kinal makin sakit Gre? Kamu kan kalau tidur acak-acakan. Nanti kalau kamu nendang kak Kinal gimana?" sahut Veranda. "Yaahh, kak Ve ngga seru!" ambek Gracia. "Udah kamu ke kamar sana, nanti kakak pijitin pinggang kamu. Dan Kinal, motor kamu ditaro dalem aja ya, masukin ke ruang tamu aja. Bisa kan?" ucap Veranda. "Bisa kok, aku masukin dulu kalo gitu." Hari sudah larut malam. Mereka bertiga bersiap untuk beristirahat. ... Malam ini Kinal tidur di kamar Veranda. Ia sedang duduk di tepi ranjang double size milik Veranda. "Nal, kamu pakek piyama aku aja ya? Nih pakek. Kamu bisa ganti disini atau di kamar mandi. Aku mau ke kamar Gre dulu bentar, mau pijitin dia," kata Veranda sambil memberikan piyamanya. "Oke," balas Kinal senyum. Setelah Veranda pergi, Kinal berganti pakaian di kamar Veranda. Karena ia takut jika ke kamar mandi Veranda sendiri malam-malam begini. Beberapa menit kemudian Veranda kembali ke kamarnya, sedangkan Kinal  sedang asyik bermain ponsel. "Nal, masih sakit pinggangnya? Aku pijitin kamu sekalian ya?" ucap Veranda sambil membawa minyak yang ia gunakan untuk memijit adiknya tadi. "Pijit? Tapi ngga sakit kan?" Veranda terkekeh mendengar pertanyaan Kinal, "kamu itu badan gede tapi takut sakit pas dipijit. Gimana sih? Udah, buka baju kamu gih. Aku pijitin pinggang kamu." "Buka baju? Kok buka baju Ve? Gini aja masa ngga bisa?" "Terus aku ngolesin minyaknya dimana? Di baju kamu gitu?" "Ya engga sih. Gini aja Ve, nanti aku angkat dikit bajunya. Kan yang dipijit pinggang, bukan punggung." "Kamu kenapa sih? Malu?" tanya Veranda dan Kinal mengangguk kecil, "yaudah terserah kamu aja. Angkat gih bajunya," Veranda mendekat dan duduk di samping Kinal yang tengkurap di atas ranjang. Veranda mulai memijit pinggang Kinal. Di setiap sentuhan tangan Veranda, Kinal merasa seolah tersengat listrik bervoltase rendah, degup jantungnya pun mulai berulah, wajahnya mulai terasa panas. Untung saja ia membelakangi Veranda, sehingga Veranda tidak melihat wajah Kinal yang sudah merah merona. Tidak berbeda jauh dengan Kinal, Veranda juga merasakan hal yang sama, padahal ia sudah sering memijit adiknya. Tapi rasanya sangat berbeda saat memijit Kinal. Darahnya berdesir kala tangan lembutnya menyentuh dan menekan kulit halus pinggang Kinal. Beberapa kali Veranda menelan salivanya saat menggerakkan tangannya sedikit ke bawah di bagian atas area p****t Kinal. Mereka saling terdiam tanpa ada percakapan sedikitpun. Keduanya sedang berusaha mengendalikan debaran jantung masing-masing. Mengendalikan perasaan aneh yang melanda hati mereka. Aktivitas itu berhenti setelah beberapa menit. Veranda merapikan bagian belakang piyama Kinal yang terangkat. Kemudian mencuci tangan dan bersiap untuk tidur di samping Kinal. Tapi tiba-tiba ia mendengar ponselnya bergetar yang menandakan ada panggilan masuk. Veranda pun melihat layar ponsel dan keluar kamar untuk mengangkat telfon. "Hallo mam." "....." "Hah? Besok malem? Kok mendadak sih mam?" "......" "Dia lagi dia lagi. Yaudah deh." "......" "Iya. Dah mam." Veranda mengakhiri panggilan dan mematikan layar ponselnya. Kemudian kembali ke kamarnya. "Siapa Ve? Kok nelfon jam segini?" Kinal penasaran. "Eh? Kamu belum tidur? Bukan siapa-siapa kok Nal. Tidur gih, dah malem." Kinal mengangguk patuh meski sebenarnya ia penasaran siapa yang menelfon Veranda tadi. *** Seperti biasa, pagi ini Veranda terbangun lebih dulu dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka. Veranda sengaja tidak membangunkan Kinal dan Gracia karena hari ini adalah hari Minggu, hari bermalas-malasan bagi sebagian besar manusia. Veranda menyiapkan sarapan untuk Gracia dan Kinal. Ia sibuk di dapur untuk membuat nasi goreng dan telur dadar. "Kak Ve.." ucap Gracia setengah bergumam dan berjalan ke arah Veranda sambil mengucek matanya. "Eh kamu udah bangun Gre? Sana cuci muka, biar ilernya ilang," titah Veranda. "Hmm," balas Gracia sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi. ... "Masak apa kak?" tanya Gracia setelah keluar dari kamar mandi. "Nasi goreng sama telur dadar," jawab Veranda tersenyum. "Enak nih kayaknya. Eh kak, kak Kinal mana?" "Masih tidur di kamar," jawab Veranda. "Masih tidur? Ternyata ada yang lebih kebo dari aku ya?" "Mending kamu bangunin kak Kinal deh Gre, bentar lagi siap nih sarapannya." "Oke bos!" Gracia dengan senang hati membangunkan Kinal, atau lebih tepatnya menganggu tidur Kinal. Beberapa saat kemudian Kinal terbangun dan langsung pergi ke kamar mandi. Makanan telah siap di meja makan yang ada di dapur. Tiga porsi nasi goreng dengan telur dadar di atasnya. "Pagi Ve," sapa Kinal setelah keluar kamar mandi. "Pagi Nal," balas Veranda. "Kak Ve doang nih yang disapa?" sindir Gracia. "Iye kak Ve doang," sahut Kinal agak kesal. "Hahaha.. Masih kesel dia," Gracia tertawa. "Kak Kinal kenapa emangnya Gre?" tanya Veranda. "Kak Kinal kesel, tadi abis aku gelitikin kakinya kak," jawab Gracia sambil menahan tertawa. "Kamu tuh ya, usil banget sih!" Veranda mencubit pelan lengan adiknya. "Ampun ampun kak Ve," Gracia sok kesakitan. Mereka bertiga duduk mengitari meja makan bundar kecil itu, menyantap sarapan dengan lahapnya. Drrtt drrtt.. Ponsel Kinal bergetar, ia segera mengangkat telfon masuk dari sahabatnya. "Ya Beb?" "....." "Di rumah Ve, kenapa?" "....." "Lah? Ngapain lu di rumah gue?" "....." "Ya maap, kemaren gue kemaleman. Jadi ya gue nginep aja disini." "....." "Eh jenong! Kapan sih pikiran lu bersih?! Gue slepet juga nih jidat lo!" "....." "Iye abis ini gue pulang." "....." "Lah hari ini? Katanya dua minggu? Yaudah iya gue balik sekarang." "....." "Iye." Kinal mematikan telfon dari Beby. "Ve, aku pulang sekarang ya? Beby udah nunggu di rumah, soalnya Jeje minta jemput di bandara," ucap Kinal. "Iya Nal, kamu hati-hati ya pulangnya." Kinal mengangguk, "oiya Ve, piyama kamu aku pinjem dulu ya. Nanti aku kembaliin. Makasih ya udah boleh nginep disini." "Iya Nal, sama-sama." Kinal pulang ke rumahnya, tak lupa ia membawa baju yang kemarin ia gunakan. Beby sudah menunggu Kinal di depan rumah. Mereka berdua langsung meluncur ke bandara setelah Kinal membersihkan diri. *** . Kini Kinal, Jeje, dan Beby baru saja tiba di rumah Jeje. Setelah Jeje membereskan barang bawaannya, mereka bertiga berkumpul seperti biasa. Mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang Kinal dan Veranda. "Gila! Kesian banget Veranda. Kita harus bantuin dia," tanggapan pertama Jeje. "Gue juga mikir gitu Je. Tapi gue bingung gimana bantuinnya," balas Kinal. "Gampang lah. Lu tinggal minta uang aje ke Om Davi. Beres kan?" kata Jeje. "Gue kemaren juga bilang gitu," sahut Beby. "Jadi menurut kalian gue harus minta Papa? Trus bilang jujur kalau gue ditanya uang itu buat apa?" "Oiye, kalo Om Davi tanya, lu jawab gimane ye enaknye?" Jeje bingung sendiri. "Nah itu dia, gue bingung," balas Kinal. "Kalo menurut gue sih jujur aja Nal. Sejauh yang gue tau, Om davi itu orangnya ngga liat sesuatu dari satu sisi. Gue yakin Om Davi bakal bisa ngerti posisi Veranda kayak gimana. Dan gue yakin Om Davi pasti mau bantuin Veranda. Apalagi Veranda kan pernah nolongin elo," Beby beropini. "Idem sih gue," lanjut Jeje. "Gitu ya? Oke besok gue bilang deh. Kalo nanti pasti papa masih capek baru pulang dari Surabaya." Kinal, Beby, dan Jeje melanjutkan percakapan mereka membahas tentang perasaan. Perasaan Kinal ke Veranda, Beby ke Shania, dan Jeje ke... entahlah, Jeje belum merasakan apa yang dirasakan Kinal dan Beby. *** . Sore tadi Davi telah pulang ke rumah dan disambut oleh Kinal. Tapi beberapa saat kemudian Davi pergi lagi entah kemana. Sehingga sekarang Kinal sendirian di rumahnya. "Udah malem nih, ngapain ya enaknya?" ucap Kinal pada dirinya sendiri di dalam kamarnya. "Apa aku telfon Ve aja? Kali aja dia kerja trus nanti aku bisa jemput dia kayak kemarin. Dari pada Ve dianter si botak, mending aku yang jemput." Kinal beberapa kali menelfon Veranda, tapi tidak tersambung. Karena nomor Veranda tidak aktif. "Tanya Gre aja kali ya?. Eh tapi kan aku ngga punya nomornya Gre. Ahh ke rumahnya aja deh. Ribet amat!" Kinal khawatir karena ponsel Veranda tidak aktif. Ia bergegas ke rumah Veranda dengan motornya. .... "Veee... Gree...," teriak Kinal dari luar rumah. "Kak Kinal? Ada apa kak?" Gracia keluar dari dalam rumah. "Kak Ve mana Gre?" "Kerja kak, kenapa?" "Oo kerja, yaudah kakak jemput aja kalau gitu, udah jam segini. Kayaknya bentar lagi pulang," ucap Kinal sambil melihat jam tangannya. "Jemput? Ngga usah kak Kinal. Kak Ve masuk shift malem, sejam yang lalu kak Ve berangkat, paling pulangnya besok pagi. Jadi kakak ngga usah jemput kak Ve malem ini," jawab Gracia membuat Kinal menyatukan alisnya. "Ve baru berangkat? Jangan-jangan...," batin Kinal menerka-nerka. "Yaudah, kalo gitu kak Kinal pulang dulu ya Gre. Dahh..," Kinal buru-buru pergi dari rumah Gracia. Ia melajukan motornya membelah kemacetan jalan raya malam ini. "Ve... Aku mohon kamu jangan kesana lagi. Jangan ke tempat itu lagi," gumam Kinal diatas motornya. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju club tempat Veranda bekerja. .... Sesampainya di club, Kinal masuk dan melihat area sekitar floor, tapi ia tidak mendapati Veranda disana. "Aku harus cari Veranda kemana lagi?" Kinal panik. "Oiya!! Madam Selly!" lalu Kinal berlari menaiki anak tangga dan menuju ruangan ungu itu. Tok tok tok Cklek Kinal langsung masuk padahal belum diijinkan. Ia melihat Selly sedang duduk di kursi kebesarannya, menghadap meja kerja dengan tumpukan buku dan uang disana. "Malam mam," sapa Kinal lalu mendekat ke Selly. "Kinal?? Yey kesini lagi? Duduk duduk.. Ada apose? Hmm?" balas Selly ramah. "Veranda hari ini ada jadwal mam?" tanya Kinal tanpa basa-basi. "Ada dong.., memangnya yey ngga ketemu Verance di floor?" "Ngga mam, dia kemana ya?" "Ooo berarti ya udah di kamar. Om gendats emang gitu orangnya, ngga sabaran." "Hah? Udah ke kamar? Cancel mam cancel. Buruan mam, saya akan bayar berapapun, asal Veranda bisa pulang dengan saya sekarang," pinta Kinal serius. Entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar ucapan Selly tadi. "Cancel? Ya ngga bisa dong Kinal. Yey ini gimana sih? Lagian pasti sekarang mereka udah indehoy. Ngga bisa di-cancel sayaang.." balas Selly enteng. "Harus bisa mam," paksa Kinal. "No no no!. Ngga bisa, lagian kenapa sih? Yey belum puas indehoy sama Verance kemarin? Lusa aja sewa dia lagi," jawab Selly santai. "Duhh gimana nih? aku ngga rela Ve tidur sama om itu. Gimana dong??!" batin Kinal panik, sementara otaknya berpikir keras. "Gimana? Yey mau sewa Verance buat lusa? Mumpung kosong jadwalnya Verance," tanya Selly tak sabar. "Papa! aku harus minta tolong papa! Aku pastiin hari ini bakal jadi hari terakhir kamu tidur sama orang-orang m***m itu Ve!" batin Kinal. "Mam, gimana caranya saya bisa ketemu Bos Roy?" tanya Kinal diluar topik pembicaraan. Seketika kedua alis Selly berkerut mendengar Kinal menyebutkan nama Bosnya. "Yey kenal Bos Roy?" Selly tak percaya. "Ngga kenal sih. Tapi saya pengen ketemu Bos Roy. Gimana caranya mam?" "Bos Roy itu jarang kesini. Yey kalo mau ketemu Bos Roy harus janjian dulu." "Yaudah gimana janjiannya? Lewat siapa? Lewat mami aja ya? Besok malem saya kesini lagi buat ketemu Bos Roy," ucap Kinal sangat serius. "Okey okeyy.. Tapi apa perlu yey ketemu Bos eyke?" Selly ingin tahu. "Besok mami juga bakal tau. Yaudah, saya permisi dulu mam. Besok malem ya, jangan lupa mam," Kinal beranjak dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan ruangan dan club itu. Brrrmm... Kinal melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Emosinya bercampur menjadi satu, marah, kesal, sedih, tak rela, cemburu, semuanya. Dadanya sesak sesesak-sesaknya ketika tau Veranda akan menghabiskan malam ini dengan pria b***t itu. "Aku bakal keluarin kamu dari tempat itu Ve! Aku janji! Aku janji!" gumam Kinal dengan mata yang sudah berkaca-kaca. ... Malam semakin larut, Kinal pulang dan langsung menuju ruang kerja ayahnya. Tok tok "Pa.. ini Kinal." ucap Kinal sedikit keras dari luar ruangan ayahnya. "Masuk aja sayang," balas Davi mengijinkan. Kinal masuk dan menutup pintu dari dalam. "Anak Papa dari mana? Kok baru pulang?" tanya Davi. "Dari rumah temen Pa. Sekarang Papa sibuk ngga?" "Ngga terlalu sih, ada apa Kinal?" "Kinal mau minta tolong Pa," kata Kinal dengan nada sedikit memelas. "Minta tolong? Minta tolong apa sayang? Kayaknya serius banget?" Kinal menghela nafas panjang, ia berpikir keras mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan ini ke ayahnya. Kinal duduk berhadapan dengan Davi, kini ia yakin untuk menceritakan semua dengan harapan agar sang Papa mau menolong Veranda. ***** . . . To be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN