AM 4: Teman?

4961 Kata
Tak pernah kusangka sebelumnya, kupu-kupu yang terbang di bawah sinar rembulan akan seindah ini. *** ____________________________________ Author pov. Di ruangan yang terlihat seperti motel ini, tampak dua gadis berdiri saling berhadapan di samping tempat tidur. Veranda melangkah pelan mendekati Kinal yang sudah gugup tak tau harus berbuat apa. "Kok tegang gitu sih? Kenapa?" goda Veranda dengan senyum palsunya. Deg deg deg! Jantung Kinal bekerja diluar kendalinya. "Eh?? Ng-ngga, jangan mendekat Veranda, kamu disitu aja," pinta Kinal gugup sambil memundurkan kakinya satu langkah. "Kok ngga boleh deket?? Ngga nempel dong?" Veranda merayu Kinal sambil tetap mendekat. "Iya, ngga usah nempel-nempel. Maaf Veranda, tapi aku kesini bukan mau 'gitu-gitu' sama kamu," ucap Kinal hati-hati sambil mengode tanda kutip dengan dua jarinya saat berkata 'gitu-gitu'. Veranda menyatukan dua alisnya bingung, "maksud kamu?" tanya Veranda. "Ya aku kesini cuma mau kenalan dan ngobrol aja sama kamu, ngga lebih," jawab Kinal. "Ngobrol? Kamu bayar aku cuma buat ngobrol?" Veranda tak percaya. "Iya, abisnya susah banget mau ketemu kamu. Kemarin aku ke rumah kamu, tapi kamu ngga ada. Kemarin malem aku ke club ini, kamu juga ngga ada. Ya udah aku nye--minta jadwal kamu hari ini buat ngobrol sama aku," ucap Kinal dengan ralat di tengahnya. Karena Kinal tidak mau menggunakan kata 'nyewa' di depan Veranda. "Minta jadwal? Disini ngga ada yang namanya minta jadwal, bilang aja nyewa atau booking, kamu udah bayar aku kan?" ucap Veranda sambil tersenyum kecut. "Maaf Veranda, aku emang bayar kamu. Tapi beneran cuma buat ngobrol, ngga lebih. Aku mau jadi teman kamu, boleh kan?" pinta Kinal. "Teman? Kamu ngga salah milih teman kayak aku?" "Ngga dong, kamu baik, kamu udah nolongin aku waktu itu. Dan aku mau jadi temen kamu," balas Kinal yakin. "Baik? Kamu tau kan kalau aku--" "Wanita malam? Aku ngga peduli Veranda, apapun pekerjaan kamu, status kamu, aku ngga peduli. aku cuma mau jadi teman kamu," Kinal memotong kalimat Veranda. "Kasih aku satu alasan kalau kamu beda dari mereka, mereka yang cuma liat aku sebagai wanita penghibur," pinta Veranda serius. Sebenarnya ada sedikit ketakutan di benak Veranda, Kinal sudah pernah bertemu dengan Gracia, sehingga Veranda takut jika Kinal akan bilang ke adiknya tentang pekerjaannya ini. "Aku....." Kinal bingung memikirkan jawaban. "Ngga bisa jawab kan? Dari awal kalau kamu memang mau jadi temen aku, kenapa kamu nyewa aku? Kenapa kamu sampai rela bayar aku dua kali lipat? Itu berarti kamu---" "Karena aku ngga rela!" Kinal memotong ucapan Veranda. "Ngga rela?" Veranda bingung. "Kata Madam Selly, hari ini sebenarnya kamu ada jadwal sama om om. Ngga tau kenapa aku ngga suka, aku ngga rela Veranda. Makanya aku mau bayar dua kali lipat biar kamu ngga jadi ketemu sama om itu, sekaligus bisa ngobrol sama aku," ucap Kinal "Kamu ngga rela?" Veranda berusaha mencerna kalimat Kinal. "Iya, sejak saat itu, aku anggap kamu sebagai malaikat penolong aku. Mana mungkin aku biarin malaikat aku disewa sama om om ngga jelas. Waktu itu kamu sampai rela bertaruh nyawa buat nyelametin aku, berarti kamu orang baik. Dan orang baik ngga mungkin kerja kayak gini. Kamu terpaksa kan kerja disini?" terka Kinal membuat Veranda terdiam. "Aku serius Veranda, aku mau jadi teman kamu, boleh?" Kinal mengulangi pertanyaannya. "Ve, panggil aja Ve," ucap Veranda bersamaan dengan senyuman di bibirnya. Kinal pun tersenyum lebar, "oke Ve, berarti sekarang kita teman ya?" Kinal mengangkat jari kelingking kanannya. Melihat itu, Veranda mengerutkan alisnya bingung. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Kinal memegang dan mengangkat telapak tangan kanan Veranda dan menautkan jari kelingking Veranda dengan kelingkingnya, "sekarang kita teman," ucap Kinal sambil tersenyum tulus. "Makasih," ucap Veranda setelah tautan kelingking mereka terlepas. "Kok makasih?" "Iya, makasih karena kamu mau jadi temen aku," ucap Veranda setelah melihat ketulusan di mata Kinal. "Sama-sama. Karena sekarang kita udah temenan, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?" tanya Kinal. "Boleh, apa?" "Kayaknya obrolan kita sedikit panjang, kita duduk disitu yuk? Capek berdiri, hehe.." Kinal menunjuk kasur di belakangnya. "Oke," Veranda melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur itu. "Eh tapi.." Kinal berjalan dan menggambil sweater Veranda di meja, "kamu pakai ini ya? Dingin soalnya," Kinal memberikan sweater itu ke Veranda. Hawa dingin menjadi alasan Kinal, padahal dari tadi ia mati-matian menahan debaran jantungnya saat melihat Veranda yang berpakaian minim. "Makasih," Veranda mengenakan kembali sweater-nya. Mereka berdua duduk bersebelahan di ujung kasur bagian atas, sambil bersandar di dinding yang menempel dengan tepi kasur. Veranda meluruskan kakinya, sedangkan Kinal duduk bersila. "Tadi kamu mau nanya apa?" Veranda memulai percakapan. "Maaf sebelumnya kalau aku terlalu ingin tau tentang kamu Ve. Soalnya aku bener-bener penasaran, kenapa orang sebaik kamu kerja di tempat ini? Kalau kamu mau jawab, aku pasti seneng banget. Tapi kalau ngga mau, ya nggapapa, itu hak kamu," ucap Kinal sambil menoleh ke arah Veranda di samping kanannya. Veranda terdiam, seketika semua memori masa lalunya seolah terputar kembali. Sedih, kecewa, sesak, sakit, marah, semua bercampur menjadi satu. Veranda memejamkan mata untuk mengendalikan emosinya. Ia mulai mengatur nafasnya yang terasa berat kala mengingat masa lalunya. "Ve... kamu kenapa?" Kinal khawatir, pertanyaan Kinal ini membuat Veranda membuka mata dan memandang lurus ke depan. Ia menarik nafas panjang, sebelum menceritakan kisah hidupnya pada Kinal. "Tiga tahun lalu mama meninggal, sejak saat itu hidup aku berubah total. Waktu itu aku masih kuliah semester tiga dan Gre masih kecil, dia masih SMP kelas satu. Aku pikir semua akan baik-baik saja karena kami masih punya papa. Tapi aku salah besar, sejak mama meninggal, papa jarang pulang, dengan alasan ada urusan kantor. Sampai suatu hari papa bawa pulang wanita muda ke rumah, dia main gila sama wanita yang bahkan belum dia nikahi," Veranda menjeda sejenak ceritanya. Sementara Kinal diam seribu bahasa mendengar kisah hidup teman barunya itu. "Bukan cuma dengan satu wanita, papa beberapa kali bawa wanita yang berbeda ke rumah. Dua tahun terus seperti itu. Aku sama Gre serasa udah ngga punya papa lagi. Papa kami sibuk dengan wanita-wanitanya. Sampai suatu saat perusahaan tempat papa kerja bangkrut, dan papa dituduh menggelapkan uang perusahaan. Papa di penjara sampai sekarang. Semua harta papa disita, rumah, mobil, semuanya. Untungnya aku masih punya tabungan, jadi aku bisa sewa kontrakan ini sama Gre. Sejak saat itu aku ngga kuliah lagi. Sejak saat itu aku harus kerja buat biayain sekolah Gre." "Dua hari setelah kami tinggal di kontrakan, Bos Roy dan anak buahnya datang," Veranda memejamkan mata seolah tak sanggup bercerita lagi. "Bos Roy?" tanya Kinal. "Pemilik club ini. Dia bilang kalau papa punya hutang milyaran ke dia. Dia paksa aku ikut sama dia, awalnya dia cuma bilang kalau aku jadi pelayan di club ini, jadi aku mau ikut dia. Tapi dia penipu, dia penjahat. Setelah satu minggu aku kerja disini, dia paksa aku buat ngelayani dia. Malam itu... dia...---" Veranda tak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia menangis sambil memeluk lutut, menutup wajah dengan lututnya. "Ve.." Grep.. Kinal reflek memeluk Veranda dari samping, "udah Ve udah, kamu ngga usah cerita lagi. Maafin aku, udah buka luka lama kamu," Kinal mengusap lembut kepala Veranda. Tapi seketika tubuh Kinal menegang saat Veranda mengubah posisinya. Dengan cepat Veranda memeluk Kinal, menenggelamkan wajah di d**a Kinal dan menangis sejadi-jadinya. Deg deg deg! "Duh jantung.... Jangan kenceng-kenceng, nanti Ve denger.." batin Kinal merasakan detak jantungnya yang lebih cepat. Veranda masih memeluk erat Kinal, tangan Kinal mulai bergerak mengusap punggung Veranda seolah memberi ketenangan. Perlahan Veranda melepaskan pelukannya, "maaf Nal," ucapnya pelan. "Aku yang minta maaf Ve. Kamu ngga perlu cerita lagi kalau kamu ngga sanggup Ve," balas Kinal lembut. "Tapi kamu belum tau kan alasan aku kerja disini itu apa?" tanya Veranda sambil mengusap air matanya. "Kamu dipaksa sama Bos kamu itu kan?" Kinal sok tau. Veranda menggeleng tipis, "lebih rumit dari sekedar dipaksa Nal, aku diancam," ucapnya. "Diancam?" "Iya diancam. Sejak malam itu, malam dimana dia ngambil keperawanan aku, dia bilang kalau aku harus kerja disini sebagai wanita sewaan. Dia bilang kalau hutang papa terlalu banyak, dan ngga mungkin aku bisa lunasin dengan kerja sebagai pelayan. Tapi aku ngga mau jadi cewek kayak gitu, aku tetep pilih jadi pelayan. Dan dia malah ngancam aku. Dia bilang, kalau aku ngga mau nurutin perintah dia, dia bakal paksa Gre buat gantiin aku jadi wanita sewaan disini." "b******k!!" gerutu Kinal penuh amarah. "Mau ngga mau, aku harus turuti perintah Bos Roy. Demi Gre..," Veranda menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang mulai mengalir lagi. "Sampai kapan Ve? Sampai kapan kamu kerja kayak gini?" tanya Kinal. "Sampai hutang papa lunas," jawab Veranda singkat. "Kamu setahun kerja disini, dan hutangnya belum lunas juga? Berapa sih hutangnya?" "Kata Bos Roy, dua milyar dan itu belum bunganya. Setiap kali aku tanya berapa sisa hutang papa, dia selalu jawab kalau masih kurang banyak. Selalu seperti itu Nal," jawab Veranda. "Ck!,, kamu mau aja sih dibego-in sama dia?!" Kinal kesal. "Trus aku harus gimana?! Kabur dari sini?!" Veranda juga kesal mendengar kalimat Kinal. "Ja-jangan emosi Ve, ampun. Tadi aku ngga sengaja ngomong gitu. Maaf yaa..," Kinal memelas. Veranda membuang nafas kasar, "aku bukannya pasrah, tapi ngga ada lagi yang bisa aku lakuin selain ini Nal," ucapnya sendu. "Iya aku paham. Tapi Ve, logikanya dengan bayaran kamu yang segitu mahalnya per malam, seharusnya hutang papa kamu udah lunas kan?" Kinal berlogika. "Seharusnya sih iya. Aku juga ngga pernah ambil bayaran dari pekerjaan ini kok. Semuanya aku gunain buat bayar hutang papa," jawab Veranda. "Semuanya? Trus buat kebutuhan kamu gimana? Buat sekolah Gre dapat uang dari mana?" Kinal penasaran. "Aku ada pekerjaan lain Nal, di tempat fotocopy sama print-print-an poster sama banner gitu. Kadang aku yang design poster sama banner-nya. Kadang aku jadi tukang fotocopy, atau tukang print, ya serabutan lah disana. Kebetulan yang punya tempat itu temen aku pas SMA." "Ooo pantesan kemarin pas aku kerumah kamu, kamunya ngga ada. Kata Gracia kamu kerja, tapi aku cari di club ini kamu ngga ada. Ternyata kamu kerja disitu? Keren banget kamu Ve," ucap Kinal kagum. "Apanya yang Keren Nal? Biasa aja kok.  Eh tapi.. Kamu tau dari mana aku kerja disini? Trus tau alamat kontrakan aku dari mana? Trus tau nama aku juga dari mana?" Veranda mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi pagi berputar di kepalanya. "Eh... itu.. panjang ceritanya Ve. Jadi gini..," Kinal menceritakan kronologi dimana ia melihat Veranda di dekat halte, mengikuti Veranda, tahu nama Veranda, sampai esok paginya sengaja menunggu Veranda yang pulang ke kontrakannya. "Jadi waktu kita ketemu di toilet itu karena kamu sengaja ikutin aku?" pertanyaan pertama Veranda setelah mendengarkan penjelasan Kinal. "Iya hehe.. Maaf ya Ve, aku bohong waktu itu. Eh tapi, aku denger kamu nangis waktu di toilet, kenapa?" tanya Kinal mengingat Veranda yang menangis saat itu. "Selalu seperti itu Nal... Setiap kali aku mau tidur sama orang-orang m***m itu, aku selalu nangis di toilet. Nangisin diri aku sendiri yang kotor ini," jawab Veranda menunduk. "Jadi tadi sebelum kesini kamu juga nangis?" Kinal mulai dengan pertanyaan bodohnya. Veranda menegakkan kepala menatap Kinal di depannya, "ngga, soalnya tadi buru-buru kesini. Tapi tetep nangis sih, tadi pas dipeluk kamu, makasih ya..," Veranda tersenyum tulus. "Duhh meleleh aku Ve!" batin Kinal melihat senyuman di bibir Veranda. "I-iya sama-sama, maaf ya tadi tiba-tiba peluk kamu. Abisnya bingung mau ngapain," Kinal salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nggapapa kok, pelukan kamu nyaman Nal," kalimat dari Veranda yang membuat Kinal semakin gugup. "Eh Ve, ngomong-ngomong, adik kamu ngga tau tentang pekerjaan kamu ya? Soalnya pas aku tanya kamu kemana, dia jawab kalau kamu kerja di restoran Thailand," Kinal mengalihkan topik pembicaraan. "Iya, Gre sama sekali ngga tau tentang ini. Dulu pas Bos Roy kerumah, aku cuma bilang ke Gre kalau orang itu rentenir." "Ooo gitu, tapi bener sih. Lebih baik Gre ngga tau tentang ini," balas Kinal sependapat. "Iya, lebih baik begitu. Oh iya Nal, Gre bilang ke aku, katanya kamu yang bayarin kontrakan kami ya? Makasih banget ya Nal. Nanti aku balikin ke kamu abis aku gaji---" "Ngga usah Ve, itu buat kamu. Ngga usah dibalikin," Kinal tersenyum tulus. "Kok gitu? Ngga bisa Nal, aku harus bayar hutang aku ke kamu," ucap Veranda. "Hutang apa sih Ve? Aku ngga minjemin kamu uang itu kok. Tapi uang itu emang buat kamu," ucap Kinal serius. Sementara Veranda hanya melihat Kinal dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Kinal. "Eh?? Maaf Ve, aku nyinggung perasaan kamu ya? Aku ngga ada maksud apa-apa kok Ve. Tapi beneran, uang itu buat kamu sama Gre. Jadi ngga usah dibalikin ya?" bujuk Kinal yang mengira Veranda tersinggung dengan ucapannya. Veranda tersenyum dan dengan cepat memeluk Kinal. Lagi-lagi Kinal tidak bisa memprediksi pergerakan Veranda, tubuhnya menegang kala Veranda memeluknya erat dan menyandarkan dagunya di bahu Kinal. "Makasih Nal, makasih...." "Sama-sama Ve, kan kita udah temenan. Kalau kamu ada apa-apa, bilang ke aku ya? Jangan sungkan Ve," Kinal membalas pelukan Veranda. Entah mengapa Veranda merasa sangat nyaman di pelukan Kinal, menenangkan, meneduhkan, mendamaikan suasana hatinya. "Eumm Nal..." Veranda melepaskan pelukannya. "Ya Ve?" "Ceritain tentang kamu," pinta Veranda. "Aku?" "Iya, kata kamu kita teman kan? Tapi aku belum tau apa-apa tentang kamu," kata Veranda. "Ooh oke, aku cerita ya. Sebenarnya ngga ada yang spesial sih di hidup aku. Aku tinggal sama papa di rumah, mama aku udah meninggal sepuluh tahun lalu. Terus......" Kinal menceritakan tentang dirinya, keluarganya, hingga tentang kedua sahabatnya. "Ooo jadi yang tabrakan sama Gre itu namanya Jeje?" tanggapan pertama Veranda setelah mendengarkan cerita panjang lebar dari Kinal. "Iya, yang lubang hidungnya segede lubang sumur itu namanya Jeje," Kinal mencoba melawak. "Ngaco kamu, masa sahabat sendiri dikatain sih," balas Veranda sambil terkekeh kecil. "Ya emang gitu kenyataannya Ve. Kapan-kapan aku ajak kamu kenalan sama mereka juga ya? Mau kan?" "Eumm kamu yakin Nal? Kalau mereka tanya pekerjaan aku, aku harus jawab apa?" Veranda ragu. "Mereka ngga bakal nanya Ve. Mereka udah tau semuanya kok. Diantara kami bertiga ngga ada rahasia. Jadi pas aku abis ngikutin kamu, aku langsung cerita ke mereka. Kamu ngga usah khawatir, mereka itu ngga ember, aku jamin." Mendengar itu, Veranda menghela nafas lega, "aku cuma takut kalau sampai ada yang bilang ke Gre, aku ngga mau Gre tau tentang pekerjaan aku Nal." "Iya, aku ngerti kok Ve. Yaudah yuk kita pulang..," ajak Kinal. "Pulang?" Veranda bingung. "Iya pulang." "Kamu mau pulang jam segini? Ini udah mau tengah malam Nal. Bahaya jam segini di daerah ini. Kita tidur disini aja ya? Besok pagi baru pulang." "Tidur disini Ve?" Veranda mengangguk. "Di kasur ini?" Veranda mengangguk lagi. "Berdua?" "Iya Nal, kan kita cuma berdua. Mau sama siapa lagi?" Veranda sedikit kesal dengan pertanyaan-pertanyaan konyol Kinal. "Hehe, iya juga ya. Kan kita cuma berdua. Soalnya aku ngga pernah tidur sama orang lain, kecuali Beby sama Jeje," balas Kinal. "Yaudah, berarti aku jadi orang ketiga yang pernah tidur sama kamu. Udah yuk tidur, aku udah ngantuk Nal," Veranda memposisikan dirinya berbaring di samping Kinal. "Tidur? Berdua? Sama Ve?" "Santai Nal, santai, cuma tidur kok. Ngga lebih." "Anggep aja lo mau tidur sama Beby atau Jeje. Oke??" Batin Kinal khawatir. Kemudian Kinal ikut berbaring di samping Veranda. "Selamat tidur Nal." "Selamat tidur Ve." Mereka memejamkan mata berusaha pergi ke alam mimpi. Berbeda dengan Veranda yang dengan mudahnya terlelap, sekarang Kinal masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Entah pukul berapa Kinal nanti benar-benar akan tertidur. *** Sabtu pagi yang cerah datang menghampiri dua insan yang masih tertidur lelap di atas ranjang. Veranda terbangun terlebih dahulu dan merasakan seseorang sedang memeluknya dari samping. Veranda menoleh ke kiri dan mendapati Kinal yang masih tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka. Tangan kiri Kinal melingkar di perut rata Veranda. Veranda tersenyum menatap wajah Kinal. Ia meneliti setiap bagian dari wajah orang yang sejak semalam telah menjadi temannya. Mata Kinal, hidung Kinal, pipi Kinal, bibir Kinal...... Deg deg deg! Veranda dengan cepat mengalihkan pandangannya, "kok aku deg-degan ya? Apa gara-gara Kinal?" Veranda membatin sambil memegang dadanya. "Eummh," gumam Kinal tanpa merubah posisinya. "Nal, heii... bangun Nal..," Veranda menepuk tangan Kinal di atas perutnya. "Jam berapa Beb?" tanya Kinal masih memejamkan mata. "Beb? Kinal manggil aku Beb? Duhh kok makin deg-degan ya?" batin Veranda lagi. "Jam enam-an Nal, bangun.." "Kok suara lo jadi halus gitu sih? Sariawan lo Beb?" ucap Kinal lalu membuka matanya. Betapa terkejutnya Kinal saat melihat Veranda lah yang tidur di sampingnya. Seketika Kinal menarik wajah dan tangannya menjauhi Veranda. "Ve?? Sorry sorry Ve, aku pikir Beby tadi. Maaf ya..," Kinal merasa bersalah. "Pantes Kinal manggil aku 'Beb', ternyata Beb itu Beby? Aku pikir Beb apaan. Huhh!" batin Veranda kesal entah kenapa. "Iya nggapapa Nal. Udah pagi, kita pulang yuk?" ajak Veranda sambil bangkit dari tidurnya. "Iya ayuk Ve." Mereka berdua bersiap untuk keluar kamar tersebut. Tapi tiba-tiba Kinal melepas kembali jaketnya dan mendekat ke Veranda. "Maaf ya Ve.." Kinal mengikatkan jaketnya ke pinggang Veranda untuk menutup paha Veranda yang terekspos, "gaun kamu terlalu pendek. Keenakan yang liat nanti. Yuk pulang..," ucap Kinal tersenyum. Sedangkan Veranda masih terdiam setelah mendapat perlakuan manis dari Kinal. "Aku bawa baju ganti kok Nal. Nanti mampir dulu ke toilet lantai satu ya," pinta Veranda. "Oke, tapi dari sini sampe lantai satu jaket itu jangan di lepas ya," balas Kinal. Veranda mengangguk tersenyum. Veranda langsung berganti pakaian begitu sampai di toilet lantai satu. Kemudian Kinal dan Veranda berjalan bersama menuju pintu keluar club. Kinal meminta agar Veranda mau diantar olehnya. Jadilah sekarang mereka berdua di dalam mobil Kinal menuju kontrakan Veranda. "Ve..." "Iya Nal?" "Makasih ya udah mau temenan sama aku." "Iya, makasih juga udah mau jadi temen aku." "Aku janji bakal keluarin kamu dari tempat itu Ve," ucap Kinal serius. "Caranya?" tanya Veranda. "Nah itu dia, aku pikirin dulu ya caranya gimana. Hehe.." Kinal cengengesan. Veranda tersenyum mendengar niat tulus Kinal, "makasih Nal." Kinal mengangguk tersenyum, ia bingung harus membuka obrolan apa agar mereka tidak canggung. "Eh Ve, btw aku pikir Bos kamu itu si Mami loh. Ternyata bukan ya?" Kinal membuka pembicaraan lagi. "Bukan Nal, mami itu semacam sekretarisnya. Dia yang urus semua jadwal," jawab Veranda. "Ooo gitu.. aku mau nanya deh Ve, tapi jangan diketawain ya." "Tanya apa Nal?" "Mami itu cowok apa cewek sih?" pertanyaan polos Kinal membuat Veranda tertawa kecil. "Menurut kamu?" Veranda menahan tertawanya. "Cowok sih kayaknya, badannya kekar, punya jangkun juga, bentuk rahangnya juga kayak cowok. Tapi kok..." Kinal ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Tapi apa? Dia punya d**a? Itu palsu Nal," ucap Veranda sambil terkekeh. "Palsu? Kok kamu tau Ve?" "Ya tau lah, soalnya dia pernah kelupaan ngga pakek d**a palsunya. Jadi rata gitu dadanya." "Hah? Seriuuss? Berarti dia beneran cowok dong? Tapi kok aku liat dia ciuman sama cowok juga sih?" Kinal masih melanjutkan pertanyaan konyolnya. "Dia itu waria, sukanya sama cowok. Katanya dia ngga nafsu kalau sama cewek. Kalau aku telanjang depan dia, kayaknya dia bakal biasa aja deh," jawab Veranda santai. "Hah?! Apa Ve? Kamu pernah telanjang depan dia?" Kinal kaget. "Ngga lah Nal, kan tadi misalnya. Ngapain juga aku telanjang depan dia," balas Veranda. "Ohh kirain." Mereka menghabiskan waktu di mobil untuk bercanda. Kinal menceritakan hal-hal konyolnya saat bersama dua sahabatnya kepada Veranda. Tidak terasa mereka sampai di depan gang kontrakan Veranda. "Ve, sampe sini aja ya? Nggapapa kan? Mobil aku susah masuk gangnya." "Iya nggapapa kok Nal, makasih ya," Veranda akan membuka pintu mobil. "Eh Ve tunggu. Nanti aku main ke tempat kamu ya? Boleh kan?" tanya Kinal. "Boleh kok. Tapi kamu sama Gre nanti. Soalnya nanti siang aku kerja ke tempat print. Nggapapa kan?" balas Veranda. "Kalo gitu nanti aku anter kamu ya? aku pengen tau tempat kamu kerja. Nanti aku bawa motor biar bisa masuk sampe depan rumah kamu. Boleh ya?" pinta Kinal. Lagi-lagi Veranda tersenyum mendengar ucapan Kinal yang benar-benar terdengar tulus, "iya, aku tunggu ya. Dah Nal, makasih ya," Veranda bersiap turun dari mobil. "Sama-sama Ve." Veranda turun dari mobil Kinal. "Yes! Yes! Yes!" batin Kinal girang entah kenapa. Kinal melajukan mobil menuju rumahnya. Senyum bahagia tak henti menghiasi bibirnya, rencana untuk mengenal malaikat penolongnya akhirnya berhasil. .... Sesampainya di rumah, Davi telah menunggu Kinal untuk sarapan bersama. "Kinal pulang!!" teriak Kinal seperti biasa. "Akhirnya pulang juga. Beby ngga kesini sekalian Nal?" tanya Davi melihat putrinya yang langsung menuju ruang makan. "Eh.. itu pa, Beby mau sarapan bareng sama Brandon. Makanya ngga kesini," ucap Kinal berbohong, kemarin malam ia ijin ke papanya kalau ia akan menginap di rumah Beby. Tentu saja Kinal telah kongkalikong dengan Beby terlebih dahulu. "Oo gitu, kebetulan Nal, ada yang ingin papa bicarakan berdua sama kamu." "Apa pa? Serius banget kayaknya?" Kinal penasaran. Kini Davi dan Kinal telah duduk di kursi masing-masing sambil menghadap hidangan untuk sarapan. "Kalau papa mau minta ijin untuk menikah lagi, apa kamu setuju?" tanya Davi hati-hati. "Menikah?" "Iya Kinal. Kamu kan sudah besar, sebentar lagi pasti kamu akan bertemu dengan jodoh kamu. Dan kemungkinan kamu tidak tinggal disini lagi bersama papa. Papa pasti kesepian nanti." "Kinal ngga akan ninggalin papa kok. Tapi kalau papa mau nikah lagi, Kinal ijinin kok pa. Ya gimanapun harus ada pendamping yang nemenin papa sampai tua kan?" ucap Kinal tersenyum. Davi menghela nafas lega saat Kinal menyetujui permintaannya, "makasih sayang. Kamu benar-benar anak idaman ya.." "Jadi siapa wanita yang udah nyuri hati papa? Cantik ngga?" Kinal menaik turunkan alis menggoda papanya. "Papa ketemu dia di Surabaya waktu ngecek perusahaan kita yang disana. Dia temen SMP papa Nal, papa juga tidak menyangka akan bertemu dia lagi. Kalau urusan cantik, menurut papa dia cantik. Dan yang paling penting dia keibuan." "Temen papa SMP? Udah setua papa dong? Perawan tua dia pa?" sewot Kinal. "Huushh, ngawur kamu. Dia sudah pernah menikah, tapi suaminya meninggal karena kecelakaan. Dia juga sudah punya anak kok. Jadi nanti kamu bakal langsung punya adik." "Wahh.. Enak dong pa? Bakal rame nih rumah kita. Siapa pa namanya?" Kinal bersemangat. "Nanti aja kamu kenalan sendiri," jawab Davi santai sambil mengoleskan selai di rotinya. "Yahh papa ngga asyik nih! Emang kapan calon mama Kinal kesini?" "Secepatnya," Davi tersenyum lalu memakan roti selainya. Ayah dan anak itu menghabiskan sarapan bersama. Kinal memang tidak berpikiran sempit mengenai permintaan papanya. Ia merasa bahwa papanya telah lama kesepian setelah kepergian sang mama. Beberapa menit kemudian, Kinal mendapatkan pesan dari Beby melalui aplikasi hijau yang biasa ia gunakan. Beby meminta Kinal agar ke rumahnya untuk menceritakan hasil bertemu dengan Veranda. Setelah membersihkan diri, Kinal langsung menuju ke rumah sahabatnya itu dengan motornya. Davi pun sudah berangkat ke kantor sehabis sarapan tadi. ..... "Woe Beb!!" sapa Kinal dari jauh saat melihat Beby sedang duduk sendiri di teras rumahnya. "Eh Nal, cepet juga lo nyampenya." "Ngapain lo disitu? Nyari wangsit?" Kinal memakirkan motornya di depan teras rumah Beby. "Iye, kali aja dapet jodoh," jawab Beby asal. "Ngejogrok disitu mau dapet jodoh? Yang ada tuh kang siomay yang nyamperin lu!" "Ya kalo gitu tinggal gue beli aja siomaynya. Ribet amat," balas Beby enteng. Kinal duduk bersebelahan dengan Beby di lantai teras rumah Beby. "Dah buruan lo cerita. Gimana semalem? Lo tidur bareng sama dia ya?" tebak Beby asal. "Iya. Kema--" "Hah?!! Lo tidur sama dia? Katanya cuma ngobrol! Kemakan omongan sendiri kan lo?!" sewot Beby memotong ucapan Kinal. "Heh jenong! Ambil sapu dulu sono, bersihin dulu otak lo, ngeres banget sih!!" Kinal menoyor kepala Beby, "gue emang tidur sama Ve soalnya kemaleman kalo pulang. Tapi ngga ngapa-ngapain, tidur doang," lanjut Kinal. "Ohhh kirain. Yaudah buruan cerita," perintah Beby. Kinal pun menceritakan alasan Veranda bekerja di tempat itu. Beby sangat fokus dan serius mendengarkan cerita Kinal. Reaksi Beby sama seperti Kinal saat mendengar nama Bos Roy, mereka geram mendengar kelakuan b***t orang itu pada Veranda. "Kesian gue sama Ve," ucap Beby setelah Kinal menyudahi ceritanya. "Sama gue juga. Gue ngga nyangka ada cewek setegar dia Beb." "Lo bisa ngeluarin dia dari sana Nal," ucap Beby yakin. "Caranya?" "Ya apa lagi? Minta Om Davi lah. Lo kan anak kesayangan. Berapapun uang yang lo minta, pasti dikasih. Lo bisa pakek uang itu buat lunasin hutang bokapnya Ve," Beby mengide. "Ngga semudah itu Beb, pasti papa bakal nanya uang itu buat apa," balas Kinal sendu. "Iya juga sih," Beby ikut sendu. "Yaudah lah, nanti gue pikirin lagi gimana caranya. Eh tapi Beb, gue mau nanya sesuatu deh," Kinal melihat Beby dengan tatapan serius. "Apaan?" "Kenapa gue selalu deg-degan ya pas deket sama Ve? Padahal ngga ngapa-ngapain. Liat dia aja udah bikin gue deg-degan banget. Itu kenapa ya Beb?" tanya Kinal. Tiba-tiba Beby menggerakkan tangan kanan dan menyentuh kening Kinal dengan punggung telapak tangannya. "Ngga panas," ucap Beby sambil menggeleng tipis. Kinal mengerutkan alisnya bingung, "eh kutil kuda! Lu pikir gue sakit?!" Kinal melepas paksa tangan Beby dari keningnya. "Eh kutilnya kutil kuda! Pertanyaan lo tadi itu udah kayak orang sakit! Tumben banget lo nanya gitu? Itu kan jelas Nal, itu tuh tanda-tanda jatuh cinta. Ja-tuh-cin-ta," balas Beby. "Jatuh cinta? Masa sih Beb? Katanya lo ngga tau rasanya jatuh cinta gimana, kok lo bisa tau kalo deg-degan itu tanda-tanda jatuh cinta?" Kinal tak percaya dengan jawaban Beby. "Ya emang sih gue belum ngerasain sendiri. Tapi kan kalo di film-film gitu Nal. Orang yang jatuh cinta itu pasti deg-degan kalo ketemu sama orang yang dicinta," Beby mempertahankan pendapatnya. "Gitu ya? Berarti gue jatuh cinta sama Ve? Tapi kan kita berdua sama-sama perempuan Beb. Masa sih ini cinta?" Kinal bingung dengan perasaannya sendiri. "Jatuh cinta ngga bisa milih kali Nal. Lagian lu cewek? Lu kan perjaka lapuk. Haha..," Beby tertawa sendiri mendengar leluconnya. "Enak aje lu!" Kinal menoyor tepat di jidat Beby. Percakapan Kinal dan Beby terhenti ketika keduanya menoleh ke arah pagar rumah Beby yang terbuka. "Siapa Beb?" "Ngga tau Nal." Mereka berdua berdiri saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan masuk ke halaman rumah Beby. "Maaf kak, Brandonnya ada?" tanya seorang gadis manis pada Beby. "Lo Shania kan?" tanya Kinal tiba-tiba. "Iya kak Kinal, aku Shania, dan ini temen aku, namanya delon. Kami berdua kesini mau ketemu Brandon," jawab gadis bernama Shania itu. "Widih, lo tau nama gue?" tanya Kinal tak percaya. "Ya siapa sih anak teknik yang ngga tau kak Kinal, kak Beby, sama kak Jeje. Kalian kan trio kece di fakultas teknik," balas Shania. "Jadi ngga enak nih gue," Kinal sungkan. Sementara Beby masih diam melihat Shania, gadis yang pernah menitipkan salam untuknya melalui Brandon. "Beb, woii!! Diem aje lu!" Kinal mendorong pelan bahu Beby dengan bahunya. "Eh? Apa Nal?" "Panggil sono si Brandon. Malah ngelamun, kesambet tau rasa lu!" sewot Kinal. "Oiya ya.. Yaudah yuk masuk dulu. Aku panggilin dulu Brandonnya," Beby mempersilahkan Shania dan Delon masuk ke rumahnya. Shania, Delon, dan Brandon berdiskusi tentang paper yang akan mereka buat. Sementara Kinal dan Beby melanjutkan obrolan mereka di kamar Beby. *** . Jam di atas meja kamar Beby menunjukkan pukul 12 siang. Kinal teringat akan janjinya mengantarkan Veranda. Ia bergegas menuju rumah Veranda setelah berpamitan pada Beby. ... "Gre!" seru Kinal saat melihat Gre sedang turun dari pohon mangga di depan rumahnya. Gracia menoleh dan tersenyum saat Kinal membuka helmnya. Gracia melompat dan berlari ke arah Kinal. "Kakak kesini lagi? akhirnya...., aku pikir ngga bakal kesini lagi," ucap Gracia bersemangat. "Kesini dong. Kamu barusan ngapain? Manjat pohon mangga?" "Iya, nih dapet satu mangganya. Udah mateng loh kak, coba cium deh. Harum kan?" Gracia mendekatkan mangganya ke hidung Kinal. "Iya harum. Eh, kak Ve ada Gre?" "Ada, lagi mandi dia." "Mandi? Emang disini ada sungai?" "Kok sungai kak?" "Soalnya yang kak Kinal tau, bidadari itu mandinya di sungai." "Bidadari?? Wahhh kakak bilang kalau kak Ve itu bidadari?? Cie ngegombalin kak Ve.. Kasih tau ahhh..." Gracia berlari ke dalam rumah. "Eh Greee.. tunggu!" Kinal menyusul Gracia. Tiba-tiba Gracia berhenti saat sampai di ruang tamu. "Gre! Kalau mau berenti tuh bilang-bilang. Hampir aja kakak nabrak kamu," omel Kinal. "Aku lupa kak, tadi itu aku mau beli pulsa. Pulsa aku abis, aku tinggal dulu ya kak. Titip rumah, soalnya kak Ve lagi mandi," pinta Gracia. "Ohh oke," jawab Kinal singkat. "Makasih kak. Oiya, kalau kakak mau minum, ambil sendiri aja ya. Dapurnya ada di belakang, sebelah kamar mandi. Anggep rumah sendiri aja kak. Aku tinggal dulu ya..." Gracia pergi meninggalkan Kinal yang sendirian di ruang tamu. Kinal duduk di sofa yang sudah tidak empuk sambil memainkan ponselnya. Seketika Kinal memfokuskan telinganya saat mendengar suara seorang wanita. "Greee!" "Gree, tolong ambilin handuk kakak di kamar." "Gree... kamu dimana sih?" Mendengar itu, Kinal bergegas masuk dan mencari sumber suara. Ternyata itu adalah suara Veranda dari dalam kamar mandi. "Ve! Ini aku Kinal, Gre lagi keluar beli pulsa!" teriak Kinal dari luar kamar mandi. "Kinal? Kamu udah dateng? Tolong ambilin handuk aku dong Nal!" teriak Ve dari dalam kamar mandi. "Oke! Dimana handuknya?!" "Di kamar aku, di gantungan belakang pintu! Masuk aja nggapapa! Kamar aku ada tulisan nama aku di depan pintunya!" "Oke bentar Ve!" Kinal mencari kamar Veranda setelah percakapan ekstra tenaga tadi. "Ini nih kamar Ve," gumam Kinal lalu membuka pintu kamar Veranda. Kinal mencari handuk di belakang pintu. Ia mengambil handuk lebar berwarna biru muda dan membawanya untuk di berikan pada Veranda. "Vee!! Ini handuknya!" teriak Kinal. Tidak ada jawaban dari Veranda, tiba-tiba.. Tek... ngik.. Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Veranda menyembulkan kepalanya dan melihat Kinal yang membawa handuknya. "Hehe.. maaf ya Nal, ngrepotin kamu," ucap Veranda sungkan sambil menyembunyikan tubuh polosnya di balik pintu kamar mandi. "Eh.. I-iya nggapapa Ve. Ini," Kinal gugup saat memberikan handuk itu. "Makasih Nal," balas Veranda, dan Kinal hanya mengangguk. Ia merasakan pipinya memanas melihat bahu polos Veranda saat menerima handuk darinya. Pintu kamar mandi yang telah usang itu di tutup oleh Veranda dari dalam. "Itu barusan Ve telanjang kan ya? Kok gue jadi malu sendiri sih? Trus kenapa nih jantung maraton lagi? Duhh!" gumam Kinal. Ia menoleh ke kanan dan melihat kulkas kecil. Benar juga, kata Gracia tadi, dapur terletak di sebelah kamar mandi. Kinal memutuskan mengambil air untuk mendinginkan tubuhnya. Kinal membuka kulkas dan mengambil satu botol air dingin. Sekarang ia mencari gelas untuk wadah airnya. Kinal menuangkan air itu dan meminumnya perlahan. Tek.. ngiiiiiikkk... Pintu kamar mandi terbuka lebar, sesaat kemudian Veranda keluar dan melihat Kinal yang sedang minum. "Kinal?" ucap Veranda yang berniat untuk menyapa Kinal. Kinal yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah kiri, dan.. Bruushh.. Uhuk! Uhuk!! Kinal menyemburkan air yang ada di mulutnya, ia menutup mulut dengan tangannya karena batuk. Reflek Kinal benar-benar buruk saat melihat Veranda yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi d**a sampai pahanya. "Kamu nggapapa Nal?" Veranda berjalan mendekati Kinal. "Ng-nggapapa Ve, aku keluar dulu ya," Kinal menghindari Veranda dan lari ke arah ruang tamu. "Aneh," gumam Veranda. Ia pun melangkah menuju kamarnya dan berganti pakaian. Sesaat kemudian Gracia datang. Kinal dan Gracia mengobrol tentang banyak hal sambil menunggu Veranda yang lama di kamarnya. "Yuk Nal, berangkat," ucap Veranda begitu ia melihat Kinal di ruang tamu. "Yuk.." "Ciee kak Kinal mau boncengin bidadari," goda Gracia ke Kinal. "Kamu ngomong apa sih Gre?" sahut Veranda. "Kak Kinal sendiri tadi yang bilang kalau kak Ve itu kayak bi--eppp," ucapan Gracia terpotong karena tangan Kinal yang membekap mulutnya. "Jangan didengerin Ve, ngaco dia. Udah yuk berangkat, kamu keluar duluan aja Ve," kata Kinal masih menutup mulut Gracia. Veranda tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan melihat tingkah dua orang ini. "Ember banget sih kamu Gre!" omel Kinal saat Veranda sudah tidak di dalam rumah. "Halah bilang aja malu sama kak Ve. Udah sana berangkat kak. Ngga kasian apa bidadari nungguin?" Gracia masih saja menggoda Kinal. "Rese banget.. awas ya nanti. Yaudah, jaga rumah ya, dah Gre..." pamit Kinal. "Hati-hati kak!" ... Kinal membonceng Veranda menuju tempat yang ditunjukkan oleh Veranda. Sepanjang perjalanan Kinal merasakan detak jantungnya yang lagi-lagi berulah karena pelukan Veranda dari belakang tubuh Kinal. ... Kinal menghentikan motornya di depan ruko sederhana dengan tulisan 'Ward Print' di depannya. Seorang Pria keluar dari ruko tersebut dan menghampiri Veranda yang tengah melepaskan helm dibantu oleh Kinal. "Ve, udah dateng?" sapanya yang membuat Kinal menoleh cepat. "Iya, eh ini kenalin dulu temen aku, namanya Kinal. Dan Kinal, ini Stew, temen SMA aku," Veranda memperkenalkan keduanya. "Stew? Ste? Stev? Apaan sih? Steven chaw?" batin Kinal sedikit kesal karena melihat ada yang aneh dari tatapan pria itu pada Veranda. "Kinal." "Stew, Steward." Mereka saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing. ***** . . To be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN