Melihatmu dari jauh tak cukup bagiku, mendekatkah, beri tahu aku rahasiamu.
***
____________________________________
Author pov.
Di ruangan berdinding ungu, Kinal duduk di kursi sambil mencoba menenangkan dirinya pasca shock yang baru saja ia alami.
Bagaimana tidak, sesaat setelah membuka pintu ruangan ini, Kinal disuguhkan pemandangan tak lazim di depannya. Mata Kinal membulat sempurna saat melihat sepasang manusia yang sedang b******u mesra di atas sofa. Seorang laki-laki yang memangku wanitanya, padahal mereka tau kalau akan ada yang masuk ke ruangan itu, yaitu Kinal.
Tidak hanya itu, saat sang wanita menoleh ke arah Kinal, Kinal sudah merasakan sesuatu yang janggal. Apalagi saat si wanita mengeluarkan suara untuk meminta prianya pergi. Mendengar itu seketika membuat Kinal gemetar. Bahkan badan gemetarnya masih bertahan sampai sekarang setelah ia dipersilahkan duduk oleh si wanita.
"Oh my God!! Mending ketemu sama kuntilanak aja deh, paling cuma cekikikan atas pohon. Lah orang ini? Lebih serem dari pada mbak kunti," batin Kinal.
"Eyke ngga pernah liat yey sebelumnya. Yey ini siapa and mau apa yey kemari?" tanya wanita itu sambil duduk di depan Kinal. Mereka saling berhadapan dengan meja persegi panjang di tengah-tengah mereka.
"Dia cewek apa cowok sih? Jangkunnya nonjol, tapi dadanya juga nonjol. Mana kekar banget lagi, suaranya juga berat kayak cowok, tapi cara ngomongnya kok gitu amat yak? Merinding jadinya, apa aku kabur aja ya? Jangan deh, demi Veranda," batin Kinal lagi.
Kinal ketakutan karena dulu ia punya pengalaman buruk bersama dua sahabatnya. Tragedi yang masih ia ingat sampai sekarang. Mereka bertiga di kejar banci flyover karena ulah Jeje.
"Sa-sa-saya K-kinal, saya kemari untuk me-menyewa seseorang," ucap Kinal sangat gugup karena berhadapan dengan wanita ini. Wanita kekar yang memakai dress pink sangat ketat, rambut palsu warna ungu, dan bulu mata yang juga ungu.
"Ooo yey mau nyewa prajurit-prajurit eyke? Mau yang gimana? Kayak oppa-oppa korea? Yang sexy kayak Brad Pitt?, atau yang hitam manis kayak Black Panther??"
"Huaa Black Panther disamain sama kecap... sedih.." batin Kinal tak terima.
"Saya bukan mau nyewa laki-laki, tapi perempuan Bu," jawab Kinal hati-hati.
"Hah! Yey panggil eyke apose?? ibu??? No no no!! Panggil Ma-mi, Mami Selly, understand??" Sewotnya yang ingin di panggil 'mami'.
Kinal mengangguk cepat dengan mimik wajah yang ketakutan, "understand, Mami."
"Good.. Jadi yey mau nyewa bidadari-bidadari eyke? Jeruk makan jeruk juga ternyata yaah, hmm. Mau yang gimana? Yang sexy? Hot? Atau--"
"Veranda, namanya Veranda," Kinal memotong kalimat Selly.
"Oooo Verance rupanya?? Dia itu yang paling hot disini, jadi ya pasti mahal. Yey sanggup bayar? Hmm?"
"Sanggup, berapa harganya?" Kinal serius.
"Eyke liat dulu ya jadwalnya Verance," Selly membuka note tebal di depannya.
"Kalau besok bisa?" tanya Kinal tiba-tiba.
"No, besok Verance ada jadwal sama Om gendats. Buat yey minggu depan aja gimana?" tawar Selly.
"Om gendats? Siapa tuh? Duh kok d**a aku sesak ya? Aku ngga rela Veranda tidur sama Om Om itu," batin Kinal.
"Cancel aja deh, besok Veranda sama saya. Saya akan bayar berapapun harganya," ucap Kinal yakin.
"Wooww.. Eyke suka gaya yey, siapa tadi nama yey? Ki--Ki---"
"Kinal," sahut Kinal.
"Ahhh iyha, Kinal. Okey, karena Om gendats mau bayar segini, jadi yey harus dua kali lipatnya. Sanggup??" Selly menunjukkan harga yang tertulis di note-nya.
"Dua kali lipatnya? Bisa kok, kapan saya bayarnya? Nanti saya transfer?" tanya Kinal tak sabar. Melihat 8 digit angka yang berderet disana membuat Kinal yakin kalau Veranda memang primadona disini.
"No!, disini ngga ada yang namanya transfer, semua harus tunai, cash, langsung, nyata di depan mata," balas Selly.
"Hah? Cash? Uang sebanyak itu? Ya saya ngga bawa lah Mam, sekarang saya cuma bawa uang tunai satu juta. Ini dulu ya, besok saya bawa sisanya," Kinal mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Okeyy no problem, besok jam tujuh malam yey bawa uangnya kesini, dan setelah itu yey bisa bercinta dengan bidadari semalaman," kalimat Selly membuat Kinal gugup.
"O-oke, besok saya kesini jam tujuh. Makasih mam," Kinak pamit dan berdiri dari duduknya.
"Okey sayaaang.., byee.."
Kinal buru-buru pergi dari ruangan Selly dan langsung menuju pintu keluar club setelah menuruni anak tangga.
***
Pagi ini Kinal dan Beby mengantarkan Jeje ke bandara. Jeje akan pergi ke Sulawesi, lebih tepatnya ke perusahaan orang tuanya untuk mengambil data. Jeje mengambil jurusan teknik geofisika, sehingga Jeje tidak perlu ke perusahaan lain untuk mengambil data. Karena jurusannya selaras dengan perusahaan keluarganya, yaitu pertambangan batu bara.
Setelah mengantarkan Jeje, Beby mengajak Kinal ke rumahnya. Tentu saja Kinal mau, lagi pula ia belum bercerita kepada Beby bahwa ia telah menyewa Veranda malam ini.
"Lo mau minum apa? Biar gue bilang ke bibi," ucap Beby begitu mereka berdua sampai di rumah Beby.
"Apa aja yang penting dingin," Kinal menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia baru menyadari kalau disebelahnya ada Brandon yang sibuk bermain ponsel.
"Woee! Orang dateng tuh disapa. Sibuk mulu ama hp!" seru Kinal.
"Yang ada kalo orang dateng tuh salam. Bukan main nyelonong aje kayak lo kak. Lagian gue sibuk, jangan ganggu," balas Brandon tak mau kalah.
"Halah sibuk apa sih lo?!" Kinal mengambil paksa ponsel Brandon. "Shania?? Bukannya lo abis di tolak sama dia?" tanya Kinal setelah melihat ponsel Brandon yang menampilkan percakapan Line antara Bandon dan Shania.
"Enak aja ditolak! Sini hp gue," Bandon mengambil kembali ponselnya.
"Lah lo kan sabtu lalu mabok gara-gara Shania kan? Lo bilang Shania lebih milih Bakti Bakti siapa gitu?" lanjut Kinal.
"Sakti! Kagak ada temen gue namanya Bakti! Lagian itu tuh gue salah paham. Ternyata Shania sama anak-anak lagi main ToD, trus dia dapet Dare, nah dia disuruh jadi pacar Sakti selama sehari," Brandon menjelaskan.
"Ooo gitu ternyata, makanya lo jangan main mabuk aja! Yang susah kan gue jadinya," sahut Beby yang baru duduk di samping Kinal.
"Iye iye, maap ya kakakku yang cantiikk... Oiya, lo dapat salam dari Shania kak. Dah, gue ke atas dulu. Bye!" Brandon meninggalkan ruang tamu.
"Salam? Shania?" gumam Beby.
"Fans baru, cieee Beby.. Nggapapa Beb, Shania kan cantik. Primadonanya anak mesin tuh," sahut Kinal menggoda Beby.
"Apaan sih lu?!" balas Beby
Setelah puas menggoda Beby, Kinal menceritakan tentang rencananya nanti malam kepada Beby.
"Hah?!! Gila lo! Lo nyewa dia?! Katanya lo mau kenal dia, kok malah nyewa dia? Lo mikir ngga sih?! Yang ada dia pasti nganggep lo cewek ngga bener Nal!" omel Beby setelah mendengar cerita Kinal.
"Ya abisnya gue bingung gimana caranya kenal trus ngobrol sama dia. Dia tuh jarang di rumah Beb, dia ada kesibukan lain selain di club itu. Yaudah gue booking dia aja, cuma semalem Beb, gue yakin gue bisa jadi temennya," Kinal serius.
"Tunggu tunggu, lo ngga ada niat tidur bareng dia kan Nal?"
"Ya ngga lah Beb, gila lo! Gue cuma mau ngobrol sama dia. Gue mau cari tau kenapa cewek sebaik dia bisa punya pekerjaan kayak gitu," jawab Kinal.
"Ya kali aja lo khilaf, trus enaena sama dia. Kan lo udah bayar dia, mana mahal banget lagi," gerutu Beby.
"Lo kalo ngomong disaring dulu jenong!" Kinal menoyor kepala Beby. "Ya kali gue tidur sama sembarang orang. Gini-gini gue masih perawan kali," lanjut Kinal.
"Iyalah, lo kan jomblo lapuk," balas Beby.
"Eh ngaca!! Kalo gue lapuk, lo apa ha? Karatan?"
"Ya lapuk juga gue, kan kita sama," balas Beby sendu.
"Terserah elu dah.. Eh tapi Beb, ngomong-ngomong rasanya jatuh cinta kayak apa sih? Belum pernah gue," Kinal mengalihkan topik.
"Lo nanya gue? Gue juga belum pernah Nal. Gimana sih lu!" balas Beby.
Drrtt.. Drrtt...
Kinal melihat ponselnya yang bergetar,
"Halo Pa.."
"......"
"Di rumah Beby Pa, kenapa?"
"......"
"Yang bener Pa? Udah ada datanya?"
"......"
"Oke, Kinal kesana sekarang, sekalian ajak Beby. Dah Paa..."
Kinal mematikan layar ponselnya.
"Om Davi kenapa Nal? Kok ngajak gue?" tanya Beby penasaran.
"Data gue udah lengkap Beb, sekarang ada di meja Papa. Ikut gue ke kantor yuk? Bosen kan lo di rumah?"
"Wahh lancar jaya dong skripsi lo? Oke yuk dah berangkat," Beby berdiri dari duduknya.
.....
Kinal dan Beby pergi menuju kantor salah satu perusahaan milik Davi. Rata-rata pengawai disana telah mengenal Kinal, karena Kinal sering mengunjungi Papanya yang sedang bekerja.
"Pagi Pak Arman!" sapa Kinal pada security di depan gedung.
"Eh mbak Kinal... Selamat pagi mbak, parkir di dalam saja mbak," balas Arman sopan yang meminta agar Kinal memarkir mobilnya di area parkir khusus petinggi perusahaan yang berada di belakang gedung.
"Oke Pak!" Kinal menjalankan mobilnya menuju belakang gedung.
...
Kinal dan Beby memasuki gedung setinggi delapan lantai itu. Di lobby lantai satu Kinal sudah mendapat banyak ucapan selamat pagi dari karyawan yang mengetahui bahwa Kinal adalah putri Davi.
Kini Kinal dan Beby telah sampai di lantai tujuh, karena ruangan Papa Kinal terletak di lantai ini.
Saat berbelok, Kinal tidak sengaja menabrak seseorang yang membawa nampan, dan..
Bruk
"Aduhh!"
Pyaar..
Sebuah cangkir lengkap dengan isinya jatuh di lantai dan pecah berkeping-keping.
"Yahh.. pecah, sampean ini gimana to? Kok saya di tabrak?" seorang pria berpakaian seragam OB menunduk membereskan pecahan cangkir tanpa melihat siapa yang menabraknya.
"Aduh maaf maaf pak, saya ngga sengaja. Sini saya bantu," Kinal menunduk ikut membersihkan.
"Eh, mbak Kinal ya?" ucap pria itu, dan Kinal pun menoleh padanya. "Pak joko? Aduh maaf pak, saya ngga sengaja nabrak bapak."
"Nggapapa mbak. Udah biar saya yang beresin, mbak Kinal mau ke ruangan Pak Davi ya? Silahkan mbak," ucap Joko sopan.
"Kita bantu beresin dulu pak, kan kita yang nabrak," sahut Beby.
"Ada apa ini?" suara wanita terdengar dari belakang Kinal dan Beby.
"Ini Bu, saya ngga sengaja nabrak, terus cangkirnya jatuh," jawab Joko.
Kinal dan Beby saling bertukar pandangan. Beby mengangkat dagunya seolah berkata 'siapa?', Kinal yang paham kode Beby pun mengangkat bahunya seolah menjawab 'ngga tau'.
"Yasudah, bersihkan lantainya," titah sang wanita yang berpakaian sangat rapi. "Dan kalian siapa? Ada perlu apa kesini?" lanjutnya sambil melihat Kinal dan Beby dari atas sampai bawah. Ia heran mengapa ada dua gadis berpakaian santai ada di kantor ini.
"Saya mau ketemu Papa saya," jawab Kinal singkat.
"Papa kamu? Kamu pikir orang yang bekerja disini bisa seenaknya ditemui? Lagi pula kamu tidak memakai id card tamu. Kok bisa kamu sampai ke lantai ini?" selidik wanita itu.
"Maaf Bu, ini mbak Kinal, dia ini--"
"Saya tidak peduli dia siapa, yang namanya tamu itu wajib lapor dan memakai id card tamu. Memangnya Papa kamu yang punya perusahaan ini apa?!" wanita itu memotong perkataan Joko.
"Lah die ngga tau Nal," bisik Beby pelan ke Kinal.
"Pak Joko, cepat bersihkan lantainya. Dan kalian, ikut saya ke lantai satu," ucap wanita itu tegas.
"Ada apa ini? Kok ribut pagi-pagi?" Davi baru saja keluar dari ruangannya dan melihat empat orang yang terkesan sedang berdebat.
"Papa?" gumam Kinal.
"Maaf Pak Davi, saya hanya menegur mereka berdua. Mereka bukan karyawan disini, mereka adalah tamu yang ingin menemui ayahnya yang kerja disini. Saya akan bawa mereka ke lantai satu untuk melapor terlebih dahulu Pak," jawab wanita itu sopan.
Davi tersenyum dan melihat ke arah Kinal, tapi Kinal hanya menaik turunkan alisnya tidak jelas apa maksudnya.
"Tidak perlu Naomi, dia sudah ketemu kok sama ayahnya," jawab Davi ramah.
"Maksud Bapak?" wanita yang dipanggil 'Naomi' bingung dengan kalimat atasannya.
"Kinal, Beby, kenalkan ini Naomi. Pegawai baru disini, dia menjabat sebagai asisten Manager Personalia," ucap Davi sambil melihat Kinal dan Beby. Kemudian pandangannya beralih ke Naomi, "dan Naomi, perkenalkan ini Kinal, putri kesayangan saya. Dan sebelahnya itu Beby, sahabat Kinal. Sebenarnya ada satu lagi, Jeje namanya, tapi dia sedang ke Sulawesi sekarang," Davi menjelaskan panjang lebar yang membuat Naomi mengaga dan melotot tak percaya.
"Kinal," ucap Kinal mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan. Tapi Naomi masih diam dengan ekspresi kagetnya.
"Haloo..." Beby menjentikkan jari untuk menyadarkan Naomi.
"Eh iya, Naomi," ia membalas jabat tangan Kinal.
"Kalau begitu, Kinal kamu ke ruangan Papa dulu ya, Beby juga. Papa ada perlu sebentar di lantai bawah. Dan Naomi, kamu lanjut bekerja ya," ucap Davi lalu melangkah pergi ke arah lift.
"Maaf ya, tadi saya tidak tau kalau kamu putri Pak Davi," ujar Naomi menyesal.
"Santai aja kak. Eh, aku panggil kak nggapapa kan? Soalnya kakak masih muda sih, masa aku panggil Bu, kan ngga cocok," kata Kinal berusaha akrab.
"Iya nggapapa kok, kalau gitu aku kesana dulu ya. Maaf sekali lagi."
"Iya kak, woles aja sama kita mah," balas Beby.
Naomi tersenyum dan melangkah ke ruangannya. Sementara Kinal dan Beby menuju ke ruangan Davi.
...
"Maaf ya lama, ada urusan penting sama manager keuangan. Kalian mau minum apa? Biar nanti dibikinin sama pak Joko," ucap Davi sesaat setelah memasuki ruangannya.
"Gampang Pa, nanti kalo kami haus langsung ke pantry aja," jawab Kinal.
"Ya sudah, itu data yang kamu minta Kinal, coba lihat dulu," Davi memberikan beberapa map dengan kertas berlembar-lembar di dalamnya.
"Wahh makasih Pa. Oiya, tadi Om Anton titip salam buat Papa. Ya kan Beb?"
"Iya Om, tadi Papa nitip salam sebelum kami nganter Jeje ke bandara," lanjut Beby.
"Iya, salam balik ya Beb, kapan-kapan biar Om main ke rumah kamu," balas Davi ramah.
"Oiya Kinal, luka kamu gimana? sudah tau nama orang yang nolong kamu minggu lalu?" tanya Davi. Memang Kinal telah menceritakan kepada Davi bahwa ia hampir saja tertabrak mobil dan ditolong oleh seorang gadis.
Kinal memang sangat terbuka pada Papanya. Kemanapun ia akan pergi, Kinal selalu ijin atau mengabari Papanya agar tidak khawatir. Tapi untuk masalah menemui Veranda, tentu saya Kinal cuma bilang bahwa ia ingin ke rumah temannya.
"Udah nggapapa kok Pa. Tau, namanya aja, cuma belum kenal," jawab Kinal sambil melihat berkas-berkas di depannya.
Mereka bertiga mengobrol kesana kemari tentang banyak hal.
***
.
Disaat yang bersamaan di kediaman Veranda.
Terlihat Veranda duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandang sebuah foto usang.
"Maafin Ve ya Ma, Ve tau apa yang Ve lakuin ini ngga bener. Tapi ini demi Gre Ma," ucap Veranda sendu sambil memandang foto itu.
Veranda meletakkan foto itu dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang nanti.
"Kenapa aku masih kepikiran omongan Madam Selly ditelfon kemarin ya?" tanya Veranda pada dirinya sendiri.
"Verance sayang, besok malam yey kesini seperti biasa ya say. Dandan yang cantik, soalnya ini pelanggan baru."
"Bukan Om gendats, tapi anak kuliahan. Yey pasti suka deh! Masih unyu soalnya dia."
"Pokoknya harus dandan yang cucok, yang hot, dia bayar dua kali lipat soalnya. Anak orang kaya bokk.."
Veranda masih terngiang-ngiang kalimat Selly saat Selly menelponnya kemarin malam.
"Anak kuliahan? Halah palingan sama aja, ngga Om gendut, ngga Om ini, Om itu, pasti mereka sama. Sama-sama cowok ngga bener yang cuma hambur-hamburin uang demi kepuasan semalam," ucap Veranda sedikit kesal.
"Kak Ve!!!" teriak seorang gadis dari luar rumah dan langsung masuk sampai ke dapur.
"Gre?? Kamu udah pulang? Kok tumben jam segini udah pulang?" tanya Veranda pada adiknya yang baru saja mencium pipi kirinya.
"Iya, gurunya bosen ngajar, jadi pada dipulangin muridnya," jawab Gracia asal.
"Ada-ada aja kamu, ganti baju sana," titah Veranda.
"Oke bos! Eh tapi kak, Gre lupa kemaren mau bilang sesuatu ke kak Ve," Gracia menghentikan langkahnya dan kembali berdiri di samping Veranda kemudian mengambil tempe goreng.
"Bilang apa?"
"Kemarin itu Bu Rahmi marah-marah lagi, nagih uang kontrakan, trus--"
"Ya ampun, kakak minta maaf ya Gre, kamu pasti dimarahin ya sama Bu Rahmi? Kakak janji, nanti malem kakak pasti dapet uang dan bisa bayar kontrakan. Janji.." Veranda mengacungkan dua jarinya ke udara.
"Ihh dengerin dulu, aku ngomongnya belum selesai kak," ambek Gracia dengan tetap memakan tempe gorengnya.
"Oh belum selesai ya? Yaudah lanjutin deh," ucap Veranda sambil melanjutkan aktivitasnya memotong bawang.
"Pas Bu Rahmi marah-marah, temennya kakak dateng. Trus dia bayarin kontrakan kita. Tunai kak, empat setengah juta! Baik banget temen kakak ituu.." Gracia antusias bercerita.
"Temen kakak? Temen kakak siapa?" Veranda bingung.
"Nah itu dia, Gre lupa ngga nanya namanya. Tapi masa kakak ngga kenal sih? Dia loh kenal kakak, tau nama kakak," jawab Gracia.
"Siapa ya?? Cewek apa cowok?" lanjut Veranda.
"Cewek, itu loh kak, yang kak Ve tolongin minggu lalu. Kakak keren yang rambutnya segini, inget kan?" jawab Gracia sambil meluruskan telapak tangannya di atas bahu.
"Oo dia? Iya kakak inget. Dia yang bayar kontrakan kita?" Veranda memastikan.
"Iya, baik banget kan? Yaudah aku ke kamar dulu ya kak. Muach..." Gracia kabur setelah mencium pipi kakaknya.
"Graciaaaa!! Pipi kak Ve jadi kena minyak nih! Kalau mau cium tuh elap dulu bibirnya! isssh!!!" seru Veranda sambil mengelap pipinya.
Itulah Gracia, sangat suka menggoda kakaknya. Sebenarnya ia hanya bermaksud menghidupkan suasana yang sepi, karena mereka hanya tinggal berdua di kontrakan sederhana ini.
"Dia? Siapa ya namanya? Kok dia tau nama aku ya?" gumam Veranda sambil membayangkan wajah Kinal.
"Dia lucu sih, hobi banget bengong. Pas deket ngga mau ngomong makasih, eh pas akunya jauh malah teriak-teriak," Veranda terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri mengingat tingkah Kinal hari minggu lalu.
"Dia baik ya ternyata, padahal belum kenal, tapi mau ngeluarin uang buat aku. Eh, kok dia tau alamat kontrakan aku ya?" Veranda masih bergumam memikirkan Kinal.
"Duh, kok aku jadi deg-degan gini sih? Apa karena mikirin dia?" Veranda memegang dadanya, merasakan debaran jantungnya yang tiba-tiba tak biasa.
"Kayaknya besok aku harus temuin dia deh. Aku harus bilang makasih secara langsung ke dia. Tapi dimana ya rumahnya? Ah, aku yakin kok pasti bakal ketemu dia lagi, entah kapan."
.....
Hari mulai menjelang malam, Veranda bersiap pergi dan berpamitan kepada adiknya.
Celana jeans, kaos biru muda, jaket hitam, serta tas ransel yang berisi dress dan sweater rajutan. Veranda melangkahkan kaki menuju halte seperti biasa. Menaiki bus dan turun di perempatan dekat club tempat ia bekerja. Veranda berjalan ke arah tempat itu. Kemudian langsung menuju ke ruangan Selly sesampainya ia di club.
Tok tok tok..
Cklek..
"Malam Mam," sapa Veranda kemudian menutup pintu dari dalam.
"Ehh kamu udah dateng say.. Sini sini duduk. Mami jelasin bentar ya," Selly menyuruh Veranda duduk di sampingnya. "Nanti yey langsung ke kamar lantai 4 ya, kamar 4B, dia udah disana nunggu yey dari tadi Ve," lanjut Selly.
"Langsung dikamar? Tumben, biasanya ketemu di floor dulu," balas Veranda sambil menaruh tasnya di sofa.
"Ya mungkin dia udah ngga tahan mau main sama yey. Oh iya, eyke lupa belum bilang, dia cewek Ve," ucap Selly santai, seketika Ve mengerutkan alis dan menoleh cepat ke Selly.
"Cewek? Kok cewek sih Mam?" protes Veranda.
"Kenapa emangnya? Yey ngga mau main sama cewek? Dia udah bayar yey mahal loh," kata Selly.
"Kenapa aku? Kenapa ngga yang lain aja? Mami sih ngga bilang kalau pelanggan baru itu cewek, makanya kemarin aku iyain deh buat hari ini," protes Veranda lagi.
"Dia sendiri yang milih yey Ve, bukan eyke yang rekom. Dia udah suka, udah jatuh cintrong sama yey. Udah lah, sama aja kok rasanya, ngga cewek ngga cowok, sama aja," balas Selly.
"Dia yang milih? Duhh gimana nih.." Veranda mulai cemas.
"Gimana apose? Udah sana ganti baju, dandan yang cucok. Ngga usah takut, palingan nanti yey juga yang di bawah, dia di atas. Tampangnya kayak cewek jagoan soalnya, tapi unyu juga sih. Pokoknya yey pasti ngga nyesel deh," Selly meyakinkan Veranda.
"Yaudah deh, dah Mam," pamit Veranda lemas.
"Tunggu Ve, eyke lupa ngasih tau. Namanya Kinal. Yaudah sana, selamat bercinta sayaang.." ucap Selly saat Veranda akan pergi dari ruangan itu.
"Iya Mam," balas Veranda, ia menuju toilet dan segera mengganti baju.
Veranda mengenakan dress hitam dan sweater biru muda malam ini. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar yang dimaksud Selly.
"Kinal? Kayaknya aku pernah denger nama Kinal deh... Cewek macam apa sih dia? Aku kan ngga pernah main sama cewek. Kalau dia yang milih aku, berarti dia lesbi dong? Duh Gimana ya?" Gumam Veranda cemas sambil menaiki anak tangga.
Kamar 4B, lantai 4 gedung ini. Kamar yang dipilih oleh Kinal untuk menemui Veranda malam ini.
"Hufftt... tenang Ve, tenang. Siapapun dia, bagaimanapun dia, kamu harus tenang. Cantik, sexy, desah, lakukan seperti biasa dan semua akan baik-baik saja," gumam Veranda meyakinkan dirinya sendiri di depan pintu kamar yang dituju.
Cklek..
Veranda membuka pintu dan melihat seorang gadis berambut sebahu sedang duduk di tepi ranjang membelakangi pintu masuk.
Cklek..
Veranda menutup pintu dari dalam.
"Hai.. kamu Kinal ya? Maaf ya, kamu lama ya nunggunya?" Veranda membuat suaranya selembut dan semanja mungkin.
Kinal menoleh dan melihat Veranda sedang berjalan ke arahnya. Seketika Veranda menghentikan langkah, tubuhnya mematung melihat wajah Kinal. Wajah dari gadis yang ia selamatkan minggu lalu. Wajah dari gadis yang telah menolongnya melunasi biaya kontrakan. Wajah dari gadis bernama Kinal yang menyewanya malam ini, kenyataan sangat tidak disangka oleh Veranda sebelumnya.
"Hai Veranda..," Kinal tersenyum, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Veranda.
"Kamu?? Kamu Kinal?" Veranda masih tidak percaya.
"Iya, salam kenal. Eh kita belum kenalan ya? Aku Kinal," Kinal mengulurkan tangan kanannya.
"Veranda," ucap Veranda datar sambil membalas jabat tangan Kinal.
Tanpa Veranda sadari, matanya sudah berkaca-kaca entah kenapa.
Nafas Veranda mulai terasa berat, dadanya sakit seolah ada yang menancapkan pisau di uluh hatinya.
"Kenapa sesesak ini? Kenapa sesakit ini? Dia, kenapa dia? Kenapa dia yang bernama Kinal?!" batin Veranda sambil memejamkan mata menahan sesak di dadanya.
"Veranda.. kamu kenapa?" tanya Kinal melihat Veranda yang diam saja.
"Kenapa kamu ngelakuin ini ke aku Kinal? Kenapa kamu nyewa aku?!" jerit batin Veranda, lalu membuka matanya.
"Ngga, nggapapa kok," balas Veranda singkat.
"Oh oke, duduk situ yuk," ajak Kinal menunjuk tempat tidur.
"Oke, kita selesaikan ini. Setelah ini, aku ngga mau kenal dia! Dia sama seperti yang lain. Ngga ada bedanya! Dia anggap aku ngga lebih dari seorang p*****r," batin Veranda.
"Duduk? Apa ngga langsung aja? Hmm?" tanya Veranda dengan senyum menggoda sambil menahan sesaknya.
Senyum ini, senyum palsu yang juga selalu Veranda pasang di bibir tipisnya ketika ia harus melayani laki-laki hidung belang yang menyewa dirinya.
"Langsung? Apanya?" tanya Kinal seolah tak berdosa.
"Ngga usah pura-pura polos deh, langsung apa lagi, kalau bukan..." Veranda menggantung kalimatnya, kemudian membuka sweater-nya lambat sambil meliuk-liukkan tubuh sexy-nya.
Glek
Kinal susah sekali menelan ludahnya melihat ke-sexy-an Veranda, kini ia menatap Veranda yang hanya memakai gaun hitam ketat tanpa lengan dan panjangnya hanya setengah paha Veranda.
"Duh, gawat nih!" batin Kinal khawatir.
*****
.
.
To be continue.