Martin menghentakkan botol mirasnya dengan kasar, "b******k, wanita itu merepotkan." Martin meremas rambutnya dengan kasar, sekarang dia tak bisa keluar rumah, bisa saja dia sudah menjadi buronan, karena sudah menjadi pelaku tabrak lari. "Harusnya aku tidak bodoh, dan menerima perintahnya. Cih! Belum tentu juga anak itu anakku. w************n!" meski dia sudah memakai plat mobil palsu, lalu mengecat ulang mobil yang dia gunakan untuk menabrak Amira, tetap saja dia takut polisi mengusut kasusnya, dan tahu kalau dia pemilik mobil tersebut. "Bagaimana kalau aku di tangkap polisi," ucapnya frustasi. "Aku akan pergi ke luar kota." Martin meraih tas kusamnya lalu memasukan pakaian seperlunya lalu segera keluar dari kontrakan kecil miliknya. Namun, baru saja membuka pintu seorang berperawakan ti

