Prolog: Sepotong Ingatan Masa Lalu
Masa yang paling kukhawatirkan seumur hidupku adalah masa ketika aku terjebak di antara usia anak-anak dan remaja.
Karena pada masa ini; ketika aku merasa sedih, maka aku akan merasa menjadi yang paling sengsara di dunia.
Ketika aku merasa senang, aku akan merasa menjadi yang paling bahagia di semesta.
Ketika aku menyukai seseorang, aku percaya akan mencintainya selamanya.
Dan ketika seseorang itu meninggalkanku, aku percaya bahwa hidupku berakhir saat itu juga.
###
Suara pantulan bola basket terdengar menggaung. Suara sepatu-sepatu berdecit juga seruan-seruan tertahan, meramaikan indoor sporthall yang tribunnya sepi tanpa penonton. Riuh ribuan tetes hujan yang berjatuhan di luar sana, seolah isyarat langit ikut bersorak memperhatikan pertandingan alot kedua tim yang beradu. Hawa dingin yang hujan hantarkan, seolah justru membakar api yang memanasi setiap anak manusia di ruangan luas itu.
Meski kelihatannya seluruh anggota tim saling mengabaikan peluh yang sampai membeceki kaos, tetapi salah satu gadis yang berdiri di sana terlihat biasa saja. Meski kakinya memasang kuda-kuda, tetapi dia sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Meski matanya menatap tajam setiap bola yang bergulir ke sana-sini, tetapi tangannya sama sekali belum kotor oleh debu yang melekat pada bola.
Meski dalam posisi siap menerima operan kapan saja, tetapi nyatanya pikiran gadis itu menerawang pada hal yang lain. Mulai dari teh hangat, kemudian beralih menjadi kopi, lalu bersambung pada kanvas dan seperangkat alat lukisnya, lantas berhenti pada bola futsal.
Benar. Bola futsal.
Janjian hari ini sebenarnya bertanding futsal. Hanya saja karena mendung pekat yang tak diundang, teman-temannya sepakat mengubah arah menuju indoor sporthall daripada lapangan belakang. Ingatan yang mengundang decak kesal dari bibir gadis itu. Padahal, dia sudah berhari-hari menantikan hari ini.
Tidak salah. Dia memang seorang gadis. Dan dia sedang bermain basket. Juga mengidamkan sebuah permainan bernama futsal.
Entah sejak kapan dia sadar, tetapi gadis itu memang bertenaga kuda. Mampu mengimbangi kekuatan anak-anak laki-laki di sekitarnya. Mampu mengimbangi kelincahan, dan kemampuan mereka.
Tidak, itu bukan hal yang sangat menakjubkan. Tidak sedikit anak perempuan yang mempunyai kelebihan yang sama seperti gadis itu, karena sekolah menengah pertama ini memang menonjolkan olahraga sebagai ikonnya.
Suara pantulan bola tak jauh dari tempatnya berdiri membuat gadis itu menarik kembali fokus pada kenyataan. Tetapi belum sempat dirinya mendapat kesempatan mendapat operan bola, benda bulat itu sudah kembali bergulir menjauh. Benar-benar menyebalkan menjadi orang yang mendapat posisi di belakang, menjaga area di bawah ring.
Oh, tidak-tidak. Semua posisi mempunyai peran penting. Semua pasti akan mendapatkan bagiannya masing-masing.
Gadis itu menguatkan diri, menghapus pikiran negatif yang suka sekali menyerang batin. Matanya kembali menyapu teman-teman setimnya. Ada Reis, ada Bagas, ada Tian, ada Vina, ada ... tunggu, di mana Bella?
Mata gadis itu mencari-cari sosok berambut hitam pendek yang selama ini ada di dekatnya, untuk kemudian merutuki dirinya sendiri saat mengingat sosok itu ada di tim yang berbeda kali ini. Dalam hati, gadis itu kemudian semakin merutuk, melihat Bella dan Reis kini berhadapan.
Entah bagaimana dia harus berdoa. Apakah Reis bisa melewati Bella, ataukah Bella berhasil merebut bola yang Reis bawa?
Permainan campuran yang hanya berdasarkan hom-pim-pa ini memang benar-benar menguji keberuntungan. Semoga saja ketidakberuntungan ini hanya terjadi kali ini.
Ck!
Gadis itu mengusap sebelah matanya dengan kasar. Beberapa kali terakhir, sebutir debu sepertinya memang bersarang di sana, membuatnya berkali-kali mengusap mata karena tak nyaman.
Sial, usapannya barusan sepertinya membuat butir debu tersesat semakin dalam.
Menggelengkan kepala sejenak, gadis itu akhirnya memilih menyerah. Dia butuh mencuci muka untuk mengeluarkan sang debu.
Memastikan posisi timnya sekali lagi, gadis itu akhirnya mengangguk untuk dirinya sendiri. Meski Reis sekarang dihadang tiga orang, gadis itu yakin pacarnya akan bisa menyelamatkan diri.
Ah, lagipula, ini kan hanya sebuah permainan.
Opini itu membuat sang gadis akhirnya berbalik, berniat keluar lapangan. Meski kemudian teriakan mendadak menyusup cepat menggema di rongga kepala.
"ARZAA!"
Seruan itu ditujukan untuknya. Teriakan itu menyerukan namanya. Belum lagi, suara yang terdengar memang selalu membuat sang gadis menaruh segenap perhatian padanya. Maka, kali ini pun bekerja dengan serupa.
Sang gadis yang disebut bernama Arza itu segera setengah berbalik, menatap Reis dengan pandangan terkejut, kemudian mengalihkan fokus pada bola oranye yang melayang cepat menuju tempatnya berdiri.
Arza mengerjap, panik mengembalikan kuda-kuda dan posisi siaga. Belum sempat tangannya bersiap, bola itu sudah mendarat mulus di dahinya ketika Arza mendongak.
Duakk ....
Denyut keras langsung ditanggung dahi, menjalar ke seluruh tengkorak dan isi. Pandangan Arza memburam, dunia seolah berputar. Sepertinya cahaya dalam otak sudah akan padam, terbukti tubuhnya yang semakin berat ke belakang.
Kaki Arza mundur selangkah, mencoba menahan berat tubuh dengan segenap kesadaran tersisa. Tetapi kepalanya mendadak menjadi batu; berat, dan kaku. Terjatuh cepat begitu saja karena tarikan bumi yang kasat mata. Pandangannya gelap, hanya suara teriakan Bella yang mampu telinganya tangkap. Sebelum kemudian semua benar-benar melayang hilang begitu saja.
###
Bau khas yang menyengat tajam. Papan yang keras—oh, bukan. Kasur keras yang sekeras papan, sedatar papan, dan sepadat papan. Arza tahu di mana dirinya berada sekarang.
Bola di balik kElopak matanya bergerak-gerak sebelum kElopak itu akhirnya membuka perlahan. Embusan napas lolos dari bibirnya yang sempit terbuka. Dari matanya, ia menangkap seluruh dunia yang berwarna putih, sebelum akhirnya secara perlahan bercak-bercak keabuan dapat dia lihat.
Arza tidak tahu UKS pun bisa berdebu. Bagaimana sih kerja petugas yang piket?
"Oh, Za. Masih pusing?"
Arza mengerling, menemukan seorang teman beda kelas—yang berteman dekat dengannya—menurunkan novel dan berdiri dari kursi tunggu. Teman itu menutup novel dan meletakkannya di atas meja, berganti mengambil segelas air yang sudah disiapkan, kemudian menyodorkannya pada Arza.
"Makasih. Mana Reis?" Arza berusaha bangkit, menerima gelas itu.
Sementara itu, teman berponi rata yang menemaninya, menggeret kursi tunggu mendekati ranjang Arza.
"Baru sadar aja langsung Reis gitu ya, yang dicariin?" sindir sang teman sambil memutar bola mata.
Gadis itu mengempaskan diri ke kursi tunggu, menatap Arza yang sekarang duduk bersila menghadapnya, tengah menenggak air dalam gelas hingga habis setengah.
Arza mengelap sisa air di bibir, lalu meletakkan gelas kembali ke nakas yang tak jauh dari ranjang.
"Ya mau gimana. Kan tuh orang juga yang bikin aku pingsan," balas Arza.
Teman di hadapannya menyandarkan tubuh pada punggung kursi, lalu memeluk kedua lengannya sendiri.
"Alesan! Kamu kan nyariin dia gara-gara dia pacarmu," sindir sang teman, membuat Arza cengengesan.
"Makanya, Dif. Cari pacar, kek! Jangan buku mulu yang dipacarin. Ntar juga, ada apa-apa yang kamu cariin bakalan pacar," kilah Arza.
Sang teman yang disebut Dif—diambil dari namanya yaitu Difa—hanya mendengkus mendengarnya.
"Pacar mah, urusan belakangan. Nilai masih amburadul udah pacar aja yang dipikirin," gerutu Difa. Arza spontan tertawa.
"Untuuunng aja, aku bukan salah satu dari orang pacaran yang nilainya awut-awutan," kelakar Arza.
"Iya iya. Percaya sama yang juara kelas," tukas Difa.
"Aamiiin. Rapotan masih dua hari lagi udah banyak aja yang doain jadi juara," Arza terkekeh."Eh, Reis tadi ke mana? Belum jawab kan, jadinya?"
Difa mengangkat kedua bahu,"Tadi sih, nungguin di sini. Tapi terus katanya mau pergi. Urusan penting katanya."
"Ck, astaga. Nggak bisa apa dia nungguin, seenggaknya sampe sadar gitu, kek," gerutu Arza sembari mengusap wajah.
"Salah sendiri pingsan sampe berjam-jam," dalih Difa.
"Berjam-jam? Lama amaat." Arza menatap Difa sangsi.
"Eh, seriusan. Tiga jam lho kamu pingsan." Difa menurunkan pelukan pada lengannya, menatap Arza dengan serius.
"Serius? Astaga? Jam berapa sekarang? Jam setengah lima?" tanya Arza, balas memandang Difa serius. Tiba-tiba, sang teman tergelak.
"Bercanda. Cuma dua jam, sekarang masih setengah empat." Difa menutup mulutnya yang tertawa dengan sebelah tangan, sementara Arza masygul cemberut. Meski secara tiba-tiba, Arza kembali menatap Difa serius.
"Eh, jam berapa tadi? Setengah empat? Allamak!" Arza cepat-cepat turun dari ranjang.
"E-eh! Ati-ati. Kenapa, sih?" Difa lekas berdiri, membantu Arza. Takut ada apa-apa, mengingat gadis itu baru saja sadar dari pingsannya.
"Rapat OSIS! Aduuh, persiapan buat penerimaan siswa baru," jawab Arza dengan buru-buru memakai kaos kaki dan sepatu.
"Oalah. Itu, doang. Biarin aja sih, Za. Kamu kan bahkan bukan pengurus OSIS, ngapain OSIS mengandalkan tenagamu, terus? Kapan mereka kerja, dong?" protes Difa.
Arza mengangkat wajah, menatap temannya sambil tersenyum kecut. "Udaah, nggak papa. Toh aku ada kesibukan jadinya," ujarnya."Udah ya, aku duluan!"
"Ati-ati, nggak usah lari-lari! Nggak usah pake acara ujan-ujanan. Mampir ke kantin beli teh anget biar enakan!" Suara Difa yang tadinya biasa saja semakin meninggi menyesuaikan Arza yang berjalan semakin menjauh darinya.
"Jangan khawatir, Bu Dokter!" Arza balas berseru dengan setengah badan berbalik, melambai dengan tawa terpamer begitu lebarnya.
Setelah bayangan Difa menghilang karena Arza memasuki bElokan, gadis itu mengulurkan tangan ke luar koridor, membiarkan percikan-percikan air hujan membasahi dirinya.
Siapa sih, gadis usia remaja yang tidak menyukai rintik air dari langit ini? Mungkin gadis—wanita—lanjut usia saja yang tidak menyukainya, membuat jemuran tidak bisa kering dengan segera.
Mengikuti saran dari Difa, Arza berbElok ke kantin. Segelas air hangat—yang nanti dikemas dalam plastik—memang sepertinya pilihan terbaik di udara sedingin ini. Yah setidaknya, Arza harus mendapat sedikit asupan sebelum memasuki ruang rapat nanti.
Tetapi, langkah Arza terhenti tepat saat jantungnya mendadak berdetak begitu kencang seolah akan keluar dari rongga d**a, kemudian berlanjut dengan detakan-detakan kecil yang berirama lebih cepat dari yang seharusnya. Mata Arza mengerjap melihat kembali kantin yang sepi.
Bukan, bukan kantinnya.
Tetapi pada sepasang insan yang menguasai kantin, sedang berpeluk-peluk penuh romansa tanpa malu meski ibu kantin masih tersua.
Arza sebenarnya tidak akan ambil pusing jika tak mengenali keduanya. Pun, Arza tidak akan ambil pusing jika kelakuan keduanya saat ini tak berhubungan dengannya. Tetapi masalahnya, mereka adalah sang pangeran berkuda putih dan sahabat asing yang selama ini Arza sudah anggap sebagai saudara.
Mereka, Reis dan Bella.
Tidak, Arza seharusnya tidak sakit hati. Saling menyukai adalah hak mereka.
Tetapi, Reis kan, masih mempunyai hubungan dengan Arza. Lantas, status pacar itu apa gunanya? Kalau memang mereka saling suka, seharusnya Reis tidak perlu menembak Arza.
Ah, atau kalau sukanya baru-baru ini, Reis kan bisa memutuskannya saja. Bukankah, semuanya akan lebih jelas? Dengan begitu pun, Arza sebenarnya tidak akan membawa masalah semacam ini menjadi panjang seperti orang-orang putus yang betebaran di sekitarnya.
Arza mengerutkan kening, merasa tidak bisa berpikir jernih.
Tidak. Arza tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa Reis akan jatuh cinta. Bahkan jika itu adalah Bella, Arza ikut senang jika dua orang berharganya itu bahagia.
Tetapi pengkhianatan, pengkhianatan bukan hal yang bisa ditolerir oleh seorang Arza.
Gadis itu tersentak saat melihat Bella juga terenyak menyadari kehadirannya. Setelah melebarkan sebuah senyum kaku, Arza lantas berbalik dan berderap meninggalkan kantin.
Kepala Arza terasa pusing, bukan hanya karena Reis. Tetapi juga memori masa lalu yang kembali membayangi.
Kening Arza berkerut-kerut, menahan rasa sakit dari tusukan ribuan jarum tak kasat mata yang menyerang kepalanya.
Melihat rinai hujan, Arza langsung menerobosnya tanpa pikir panjang. Dingin yang dibawa air seolah langsung meresap ke kepalanya yang seolah sudah berasap.
Arza terengah, berhenti dan mengatur napas yang terkapah-kapah. Dingin tak membuat badannya yang dibalut seragam olahraga lantas menggigil, justru membawa selenting perasaan damai dalam batinnya yang berkecamuk tak tentu arah.
Pusaran badai memori dalam kepala Arza perlahan mereda, dengan segera gadis itu gantikan dengan kenangan-kenangan manis untuk menutipi kenangan kelam yang ada.
Baru mulai bisa bernapas normal, gadis itu tersentak saat salah satu tangannya ditarik, membuatnya berbalik paksa. Detak jantung yang baru saja dikuasainya, mendadak kembali mengamuk saat mendapati wajah familiar di hadapannya. Napas yang baru saja ditaklukkannya, tiba-tiba kembali terburu begitu saja.
"Arza! Kamu denger suaraku, hah?! Biar aku jelasin dulu!"
Api dalam rongga d**a Arza agaknya menjadi tersulut mendengarnya. Arza benci pengkhianatan, dan Arza benci orang bekhianat yang membuat-buat alasan.
"Ngapain aku dengerin kamu?" Arza menyentak tangannya sendiri, melepaskan diri dari cekalan sosok di hadapannya.
"Za! Kamu 'tu salah paham!"
"Emang aku salah paham apa?!" Arza menantang. Air hujan yang menerobos matanya membuat gadis itu mengerjap beberapa kali, dan yakin matanya sudah memerah karena itu.
"Aku sama Bella nggak ada apa-apa, Za!" Sosok itu mencoba kembali meraih tangan Arza. Membuat gadis itu lama-lama merasa jijik saat bersentuhan dengannya.
"Emang kamu sama Bella aslinya ada apa-apanya?!"
Tiba-tiba, sosok itu mencengkeram bahu Arza. Membuat tubuh Arza menegang dan mata birunya terpaku kuat pada sepasang netra coklat di hadapannya. Coklat hangat yang selama ini selalu melelehkan kasih sayang Arza, dan selalu sukses membuat Arza merasa aman dalam jeratan pandangnya.
"Sumpah, Arza! Aku sama Bella 'tu nggak ada apa-apa. Iya, aku nggak bisa jelasin gimana kondisi tadi, tapi mau gimana lagi?! Bella khawatir banget kamu pingsan nggak bangun-bangun ya terpaksa aku peluk! Sumpah! Itu tadi cuma kesalahan!"
Arza meringis mengingat wajah Bella tadi sama sekali tidak sembab dan netranya juga tak menunjukkan secuil pun kesedihan.
Lagi, sebuah alasan yang dibuat-buat oleh seorang pengkhianat. Membuat bara dalam dadanya kembali menyala.
"Res, stop ngebela diri. Kamu jadi keliatan rendah, tau nggak? Udah, stop aja." Arza menggeliat, berusaha melepas bahunya dari cengekeraman Reis, yang jujur, terasa hangat.
"Kamu salah kalau njelasin abis semuanya kayak gini, Res. Denger, aku nggak pernah nuntut kamu apa-apa. Kamu jadi pacarku atau enggak pun nggak jadi masalah. Kalau kamu emang nggak mau pacaran sama aku, bilang aja. Kamu putusin aku dari awal. Aku nggak mau ngekang kamu buat nggak bahagia. Cuma satu, ijinin aku tetep di deketmu. Udah. Nggak akan kayak gini jadinya kalau kamu mau jujur dari awal," ucap Arza.
Tidak, meski d**a Arza mulai terasa bergemuruh, tetapi tetap tidak. Arza tidak ingin marah-marah. Dia tidak ingin membuat hubungannya dengan Reis semakin memburuk, meski rasa sakit dikhianati semakin menghunjam dalam ke perasaannya. Menoreh luka dengan darah tak berwujud yang mengalir jatuh dari rongga d**a, lantas menghilang di diafragma.
Namun, cengkeraman Reis pada bahunya mendadak menguat, membuat Arza kembali menatap netra coklat yang hangat meski jujur, itu hanya akan membuat Arza jatuh kembali ke dalamnya.
Tetapi, tatapan itu sama sekali tidak hangat. Sorotnya menatap Arza dengan kemarahan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rahang sosok itu—Reis—mengeras menegaskan bagaimana dia murka.
"Bilang?" Reis mendesis, membuat tengkuk Arza mendadak bergetar.
Bukan, Arza tidak kedinginan karena hujan. Arza tidak pernah kedinginan, tidak ketika hujan menjadi salah satu hal yang dicintainya.
"Lo suruh gue bilang kayak gimana, hah? Gue ngomong gue sakit aja sehari kemudian lo baru ngeh! Gue bilang gue lolos seleksi lari aja, lewat Bella lo bilang selamat! Terus gue suruh bilangnya kapan?!
Lo egois! Mentang-mentang sekarang temen lo banyak, lo ngelupain gue gitu aja! Lo temenan sama yang lain, gue diabaiin gitu aja! Lo kira gue patung?! Mondar-mandir sana-sini, gue dilewatin gitu aja! Lo kira gue angin?!
Lo ngurusin ini itu padahal bukan tanggung jawab Lo! Di sini cuma Elo yang buat-buat alasan, Arza! Lo pikir nggak capek gue ngikutin Elo ke sana-sini tapi gue sendiri nggak dihargai! Lo pikir gue nggak capek?! Muak gue ngikutin Elo! Lo nggak butuh gue lagi, kan?! Gue udah Lo anggep sampah, kan?! Habis manis, sepah Lo buang!" Reis meludah, tepat di bet nama Arza. Dan tak butuh lebih, amarah Arza ikut membara.
"Aku nggak pernah lupain Reis! Aku selalu inget Reis! Apa Bella nggak bilang aku yang nyuruh dia nengokin kamu pas kamu sakit gara-gara waktu itu aku ada urusan sama guru?! Apa Bella nggak bilang kalok aku minta maaf nggak bisa ucapin selamet langsung gara-gara ada studi banding?! Aku cuma ngelakuin semuanya sesuai porsiku, Res!
Justru aku yang kewalahan ngikutin kamu turnamen sana-sini. Aku juga capek pulang malem-malem tiap hari! Aku nggak pernah lupain Reis! Reis kasih tetep yang pertama, dan selamanya jadi yang pertama! Bukan sampah! Dan nggak akan pernah kubuang!"
Reis menatap Arza dengan sorot semakin tajam, membuat gadis itu menelan ludah.
"Nggak usah alasan. Inilah balasannya karena Lo egois. Belajar dari Bella yang apa adanya. Belajar dari Dion yang nggak cuma mikirin dirinya sendiri. Belajar dari teman-teman Lo yang sekarang segudang banyaknya.
Jangan lihat satu arah, Arza. Lo juga harus liat orang lain, belajar dari orang lain. Lihat diri Lo sendiri! Lebih baik apa Lo dari orang di sekitar Lo?" Reis berucap dengan suara rendah.
Cengkeraman tangannya di bahu Arza menguat, membuat Arza menahan ringisan rasa sakit. Cairan lengket dan hangat yang mengalir perlahan di kedua bahunya, membuat Arza yakin tangan Reis—kukunya—berhasil menembus seragam Arza. Berhasil menembus kulitnya.
Tetapi, ucapan Reis barusan membuat rasa sakit itu mendadak hilang. Amarah kembali menggelegak, membuat mata Arza kini memerah karena murka.
"Stop bikin perbandingan! Hina aja, Res! Hina aku sepuasmu! Tapi jangan pernah kamu bandingin aku sama orang lain! Kamu salah besar udah ngelakukin itu!" hardik Arza.
"Inilah kenapa kamu nggak akan berubah, Arza!" Reis melepaskan cengkeraman, berteriak frustrasi.
"Kamu nggak bisa belajar dari orang lain! Kamu egois! Kamu nggak mau lihat diri kamu sendiri! Udah, terserah! Aku nggak mau tahu lagi! Terserah kamu mau apa!
Egois terus sana, dan lihat gimana orang satu persatu pergi dari kamu." Dengan telunjuknya, Reis menunjuk diri Arza dengan ketus, lalu berbalik dan meninggalkan Arza yang kini mendadak bergetar seluruh tubuhnya.
Lihat gimana orang satu persatu pergi dari kamu ...
Lihat gimana orang satu persatu pergi dari kamu ...
Lihat gimana orang satu persatu pergi dari kamu ...
Arza menyentuh dadanya yang terasa sakit tiada terkira. Kalimat itu terus terngiang dalam rongga kepala, menimbulkan sengatan tak kasat mata yang memicu air mata meleleh membanjiri pipinya, bergelut dengan air hujan berlomba-lomba mencapai tempat seharusnya tumbuh cambang.
Lihat gimana orang satu persatu pergi dari kamu ...
Arza tergugu. Hanya satu kalimat itu saja, sukses membuat Arza merasa seolah telah kehilangan segalanya. Oksigen di sekitar Arza menipis seketika, membuatnya seolah terkena asma.
Jika yang mengatakan hal itu adalah orang lain, mungkin tak akan sebesar ini efeknya. Jika orang itu bukanlah Reis pelakunya, mungkin tak akan sedahsyat ini akibatnya.
Tetapi dia adalah Reis. Dia bukan hanya sekedar 'pacar'. Reis adalah alasan dirinya bernapas sekarang. Reis adalah alasan kenapa dia bisa hidup dengan 'normal' sekarang.
Semua ini menjadi seperti lelucon.
Ah, benar juga. Bukankah semesta memang menyukai lelucon?
Arza tertawa sementara sakit semakin mencubit perasaannya. Arza tetap tertawa meski air mata tak henti leleh dan menghangatkan wajahnya. Arza tertawa, dan sekarang Arza seperti orang gila.
Reis adalah alasan mengapa Arza hidup hingga sekarang. Tetapi dia juga yang membuat Arza merasa ingin mati saat ini juga, sembari berharap dengan begitu perasaannya yang menyiksa ikut binasa.
Tapi, tidak. Arza tidak akan mati semudah itu.
Hanya saja, laki-laki berengsek itu tidak akan pernah tahu bagaimana dia mengubah hidup Arza.
Gadis itu berbalik, segera berlari pergi meninggalkan halaman sekolah. Satu hal yang sangat diinginkannya sekarang. Rumah.
Tetapi, suara sesuatu yang saling bertabrakan dengan keras secara spontan membuat gadis itu berhenti berlari. Dia menoleh. Untuk sesaat, air matanya berhenti mengalir dari kelopak, menyisakan netra yang menatap bingung ke arah jalanan yang tampak buram karena deras hujan.
Dari tirai yang semakin tebal itu, muncul sesuatu yang bergerak cepat ke arahnya. Bersama dengan sepersekian detik selanjutnya, seluruh dunia Arza berguncang, dan berakhir dalam kegelapan.[]
###