Perasaan Buruk, Pertanda Buruk

1734 Kata
Arza mengencangkan dasi yang melingkar di leher, lalu menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar yang diletakkan di dekat pintu kamar. Seragam SMA sudah terpasang rapi dan kini dia siap untuk berangkat sekolah. Tapi alih-alih segera beranjak, gadis itu justru terpaku menatap penampilannya sendiri. Mata yang biru, sebiru laut. Rambut hitam legam, bergelombang, dan terlihat licin, dengan panjang hingga batas atas d**a. Bibir kecil, tipis, dan tampak merah muda dengan natural. Kulit bersih dan body goals yang menjadi kepinginan anak-anak jaman sekarang. Seharusnya deskripsi itu cukup untuk menggambarkan Arza dengan sempurna, kan? Karena Arza lupa kapan terakhir kali ia mendengar deskripsi tentang dirinya sendiri. Tangan Arza bergerak naik, menyentuh pantulan bayangannya di cermin. Rasanya, sudah lama sekali sejak dia terakhir bercermin. Perasaan Arza seolah ditikam dengan jarum besar tak kasat mata jika dia melihat pantulan dirinya sendiri, persis seperti yang dia rasakan sekarang ini. "Arza! Ayo, sarapan!" Jemari Arza tersentak, membuatnya cepat-cepat menurunkan tangan ketika mendengar suara wanita yang tidak asing baginya. Ia menoleh ke arah pintu. "Iya, Mom! Sebentar!" seru Arza. Ia menatap ke cermin sekali lagi, lalu menggeleng pelan. Bisa-bisanya dia jadi lembek setelah waktu banyak berlalu. Begitu ia pikir. Arza mengikat kuda rambutnya, membuat sisi maskulin dalam dirinya sedikit terpancar. Wajah yang cantik dengan kharisma yang dingin dan elegan, Arza tampak seperti lebih dewasa ketimbang umurnya. Tetapi, ketika dia memasangkan kacamata yang berbingkai besar, kecantikan itu seolah lenyap begitu saja. Yang tampak di cermin sekarang adalah sesosok gadis kutu buku dengan bibir yang selalu melengkung ke bawah. Bagaimana bisa? Entahlah. Mungkin apa yang membuatnya terlihat menarik berhasil ditutupi kacamata itu. Matanya misalnya. Sekarang terlihat berwarna cokelat seperti umumnya orang Indonesia. Bagaimana bisa? Entahlah. Arza sudah membayar mahal demi kacamata ajaib itu. Demi menutupi segala tentang dirinya yang membawa kesialan. Ya, mata biru itu. Entah berapa banyak kesialan yang Arza terima karena menuruni mata biru itu. Setelah memastikan kamarnya rapi, Arza mengangguk untuk dirinya sendiri dan keluar kamar. "Pagi, Mom! Pagi, Dad!" sapa Arza sambil bergerak cepat menuruni tangga. "Pagi, Arza!" balas Momnya yang sambil mengoleskan selai ke selembar roti tawar. Arza meletakkan tas ke salah satu kursi yang selama beberapa tahun terakhir selalu kosong. Setelah mencium kilas pipi mamanya, dia duduk manis di kursinya. "Haih, padahal anak Dad udah SMA, tapi kenapa masih belum mau berubah?" tegur papa Arza. Arza melirik melihat papanya yang masih sibuk dengan tablet android di tangan, entah sebenarnya sang papa itu sempat melihatnya atau hanya asal mengucapkan kalimat itu. "Emang salah ya kalau pakai kacamata model begini? Kan biar nggak mencolok gitu, Dad. Habis, mata Arza warnanya membara kaya api, kalo dibiarin ntar ngengat pada tertarik." Mulut Arza gatal sekali ingin mengucapkan itu untuk membalas ucapan papanya. Tetapi ia tahan dan hanya mengangkat bahu sebagai respon untuk sang papa. "Nggak papa kali, Dad! Arza bukan tipe cewek sombong yang suka ngumbar 'aku cantik' meski kenyataannya emang gitu." Arza mengangkat salah satu alis sembari menahan senyum. Mamanya selalu pintar mencari alasan. Papa memang tidak tau apa tepatnya yang sudah membuat Arza berubah sejak dua tahun lalu, membuat Arza kapok menjadi orang yang disegani banyak orang lain. Tapi meski begitu, Dad tidak perlu tahu segala hal untuk bisa menjadi papa yang hebat bagi Arza. Dad sudah menjadi papa yang hebat bahkan sebelum Arza mengenal dunia. Arza tersenyum tipis sembari mengaduk s**u di gelas. "Oiya, Za. Nanti kamu pulang jam berapa?" Melihat papa mengangkat pandangan dari tablet di tangan beliau, sukses membuat Arza batal minum susunya. "Nggak tahu, Dad. Arza ngikut aja sama jam sekolah," jawab Arza. Entah sejak kapan menjadi kebiasaan Arza, tetapi gadis itu memang jarang sekali memikirkan semua hal yang berhubungan dengan nanti, atau besok, atau lusa. Dia seperti membiarkan waktunya mengalir begitu saja. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Urusan masa depan, bisa dikebelakangkan. Toh dipikir tidak dipikir, masa depan pasti akan datang juga. "Nanti Dad pulang cepet, sih. Kalau Arza mau kita makan malem bareng," ucap papa Arza, otomatis membuat Arza mengerjap. Seriously? "Mom juga pulang cepet sebenernya," timpal mama Arza. Tak memberi respon, Arza hanya cepat-cepat menenggak habis susunya. "Oke, lihat aja nanti. Arza berangkat, ya. Dadah Mom, bye Dad!" Arza memakai kardigan lalu menyambar tasnya dan berjalan cepat keluar ruang makan. Ia tersenyum kecut. Biasanya, Mommy dan Daddy memberikan harapan palsu pada Arza. Entah kapan terakhir kali mereka benar-benar makan malam bersama. Entah berapa banyak janji makan malam mereka yang dibatalkan. Keduanya adalah orang tua karir yang sangat sibuk, dan Arza paham dengan baik bahwa mereka bekerja juga demi Arza. Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa sudut hati Arza masih bisa berharap. Semoga malam ini, mereka benar-benar bisa menikmati makan malam di tempat yang sama. Wajah Arza yang masam jadi bertambah masam ketika dia menemukan seorang pemuda sedang duduk di sofa di ruang tamunya. "Pagi, Za!" Pemuda itu tersenyum pada Arza yang hanya dibalas anggukan singkat yang canggung. Pemuda jangkung itu berdiri, membetulkan kacamata Harry Potter-nya, dan menarik kembali ingusnya masuk ke hidung, lalu mengikuti Arza yang sudah keluar rumah. Arza berdecak amat pelan. Dia tau ini akan terjadi, dan memang selama ini selalu terjadi, tapi entah kenapa dia tidak juga terbiasa akan kehadiran pemuda itu. "Eh, Za. Hari ini olahraganya ambil nilai futsal, kan? Inget nggak, Lo?" tanya pemuda itu dari belakang Arza. Zidni namanya. "Lo pikir gue pikun, apa?" Arza balas bertanya ketus. "Ngingetin doang kali, Za." Zidni membalas enteng, seolah terbiasa pada ketidak-ramahan Arza. "Masuk atau gue tinggal," ucap Arza sesaat sebelum menghilang masuk ke mobilnya. Zidni cepat-cepat ikut masuk ke mobil dan duduk di samping Arza di kursi penumpang. "Ayok, Pakdhe. Yang ngebut ya," kata Arza ramah ke pengemudi yang duduk di depannya. "Siap, Non." Pria paruh baya yang masih seumuran ayah Arza itu membalas dengan cengiran menyenangkan. Sebenarnya sih, hari masih pagi. Terjebak traffic puluhan kali pun Arza tidak akan terlambat sampai di sekolah. Tetapi, duduk di sebelah Zidni terlalu lama membuat Arza jengah. Sekali lagi, meski setiap pagi Arza mengalami hal yang sama, entah kenapa tak juga segera terbiasa. Sementara Arza bosan, Zidni diam-diam melirik Arza senang. Siapa sih yang tidak senang ada di dekat si doi? Zidni sudah mengenal Arza sejak TK, mereka tetangga satu kompleks. Meski baru SMA ini dia bisa berangkat bareng dengan Arza karena sekali lagi sekolah mereka sama. Dulu, sewaktu SD, mereka satu sekolah. Tetapi, Arza selalu diantar kakak perempuannya. Sewaktu SMP, mereka juga satu sekolah sampai Arza pindah sekolah di tahun keduanya gara-gara si s****n, Reis. Dan gara-gara cowok s****n itu juga, Arza jadi berubah seratus delapan puluh derajat kini. Awalnya, Zidni benar-benar kesal sampai mengutuk Reis berkali-kali karena sudah mengubah Arza. Tetapi lambat laun, dia jadi agak berterima kasih berhubung karena penampilan Arza yang berubah, tidak ada lagi lalat-lalat sok manis yang mengerumuni Arza. Tidak ada lagi cowok-cowok sok keren yang dengan pedenya caper ke Arza. Jadilah seperti Arza yang kukenal sekarang, Za. Selamanya, jadilah Arza yang kaya gini. Nggak akan kamu sakit hati lagi gara-gara orang-orang bermuka topeng nggak tau malu macam Reis. Zidni otomatis menyedot ingusnya, pilek yang tak kunjung sembuh juga. Diam-diam, Arza berdecak jijik lalu merapatkan duduknya ke pintu mobil, berusaha berada sejauh mungkin dari Zidni. Ia menatap pergelangan tangannya di mana sebuah jam tangan hitam terpasang apik, berdamping dengan sebuah gelang hijau. Harusnya nggak ada semenit lagi udah nyampe, batin Arza. Dia benar-benar sudah tidak bisa tahan lebih lama ada di satu mobil dengan domba setia-nya yang sedang terserang pilek. Prakiraan Arza tidak meleset. Sebentar kemudian, dia sudah bisa melihat bangunan sekolahnya. Mobil mengurangi kecepatan hingga berhenti. Lalu, dengan dibuntuti Zidni, Arza mantap memasuki sekolah. Arza menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua. Gadis itu mendadak mengeluh dalam hati ketika melihat seorang perempuan dengan rambut dikucir dua dan rok pendek super tinggi plus kemeja seragam ketat, sedang mengecap permen lolipop dan berdiri bersandar di pintu kelas. Dia tersenyum sinis melihat Arza, seolah memang menunggunya. "Paagii culuun." Perempuan itu menyapa dengan suara yang di imut-imutkan. Lolipopnya di gerak-gerakkan menunjuk Arza, membuat Arza memutar bola matanya jengah. Dua atau tiga teman perempuan sok imut itu terkikik, meski Arza tidak tahu apa yang lucu. Sementara seperti biasa, Zidni diam saja. Cowok kok wujudnya doang. Liat cewek dibully harusnya ngebantuin, kek. Batin Arza tambah kesal. Padahal, hari-hari sebelumnya pun Zidni memang tidak pernah turut membela Arza di situasi seperti ini. Tetapi, entahlah, mood Arza pagi ini sedang tidak bagus sejak bangun tadi. Arza akhirnya menatap perempuan sok imut di depannya yang menghalangi jalan masuk. "Pagi juga, Mak.Lam.pir?" Arza memberikan penekanan pada serangkai kata terakhir yang dia ucapkan. Si 'Mak Lampir' melotot mendengar sebutan mengesalkan yang ditujukan untuknya. Biasanya Arza tidak menyebutnya begitu. Biasanya Arza hanya bilang, 'minggir Lo'. "Eh, Culun! Kurang ajar Lo ganti-ganti nama gue seenak udel!" Perempuan lampir itu berkata sewot, tidak menyukai julukan baru untuknya pagi ini. Padahal selama ini Arza hanya diam saja ketika ia ganggu, kenapa tiba-tiba hari ini dia membalas? Kan jadi tidak seru. "Kan, Lo duluan yang ngganti-ganti nama gue seenak udel Lo," balas Arza. "Tapi gue nggak salah, dong. Kan Elo emang culun," sahut perempuan lampir itu. "Dan gue nggak salah juga dong, kan Lo emang mirip lampir," Arza membalas lagi. "Ha? Kurang ajar. Bagian mananya coba?!" Arza tersenyum miring, menggelengkan kepalanya pelan seolah mengejek. "Dede, Dede. Lo nggak pernah ngaca? Perlu gue bawain kaca? Gue kasi tau nih ya, dandanan Lo aja tuh udah kaya ajumma-ajumma di drama Korea, yang menurut gue, artinya sama dengan Mak Lampir," jelas Arza panjang, lalu berjalan melewati Dede dengan paksa, masuk ke kelas. "Anjir ya! Gue bukan tante-tante Korea dan woi, gue belum selesai ngomong! Lo siapa, berani nyelonong gitu aja masuk ke kelas?" Perempuan yang bernama Dede itu kesal mengeluarkan apa saja yang ingin dikatakannya. Tidak biasanya Arza membalas ucapannya. Biasanya Arza hanya meyentaknya atau mengabaikannya sama sekali. Salah satu teman Dede menepuk dahi, sedang dua lainnya menggeleng-gelengkan kepala pucat ketika Arza berhenti. "Gue? Siapa?" Arza hanya menolehkan kepalanya sedikit, melirik tajam ke arah Dede yang ada di belakangnya. "Gue kan ketua kelas di sini," lanjut Arza dengan suara rendah, lalu kembali berjalan menuju bangkunya. "Pagi, Za!" Teman sebangku Arza menyapa kagum. Dia selalu merasa tidak salah Arza terpilih menjadi ketua kelas dengan keberaniannya yang begitu menakutkan. Meski, Arza memang cueknya tidak ketulungan. Lihat saja, sapaannya barusan bahkan tidak menerima respon sedikit pun. Sementara itu, Dede berdecih kesal untuk dirinya sendiri. "Ngapain gue nanya kaya gitu coba? Kan kaya orang b**o aja." "Lo kan emang b**o, De," salah satu teman Dede menyeletuk, membuatnya melotot. [] ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN