Dia, yang Mantannya di mana-mana

1934 Kata
Sementara itu, Dede yang tersadar kemudian berdecih kesal untuk dirinya sendiri. "Ngapain gue nanya kaya gitu coba? Kek orang b**o aja." "Lo kan emang b**o, De," salah satu teman Dede menyeletuk, membuatnya melotot.[] ### [Pukul 22.15] Tuut ... tuut ... tuu—klik "Abil? Hey, malam! Kenapa nih?" "Gue mau ngomong sesuatu." "Mmhmm? Apa?" "Kita udahan ya." Hening sejenak. "Eh? Maksud Lo? Sekarang ini aku lagi salah memahami perkataan Lo, kan?" "Enggak, Lo nggak salah paham. Aku mau kita putus." "Tapi, Bi—" Klik. Abil melempar ponselnya ke tengah kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Cowok itu menelentangkan tubuhnya di kasur, sementara telapak kedua kakinya yang panjang masih menapak lantai. Abil memejamkan mata, lalu membukanya lagi saat bayangan seseorang tiba-tiba berkelebat di matanya. Dia kembali menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Putih. Hitam. Merah. Warna-warna lain tiba-tiba muncul di langit-langit kamar Abil yang putih bersih. Bergradasi, membentuk suatu rupa, membuat Abil termenung. Sebentar kemudian, cowok itu menyumpah serapah, membuat bayangan di langit kamarnya hilang. Kembali menjadi putih tanpa noda. Abil melirik ke meja di dekat kasurnya. Melirik ke sebuah pigura kecil di sana. Sebuah foto menampilkan seorang anak perempuan yang tersenyum lebar di antara dua anak laki-laki. Wajah salah satu anak laki-laki itu seperti wajah Abil versi mungil. Sedangkan wajah anak laki-laki satunya lagi tidak terlihat karena kaca piguranya sudah hitam dicoret-coret. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Abil. Abil menelan ludah menatap senyum lebar anak perempuan di foto itu. Bibirnya bergerak-gerak, menggumamkan sesuatu. "Kenapa kudu Abang, sih yang Lo pilih?" Tidak jadi bergumam, Abil hanya mengatakannya dalam hati. Ia kemudian naik, membetulkan posisi tidurnya, lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya. ___°^°___ "BANGUN!!! "BANGUN DASAR KUKANG MADAGASKAR!!!" Rongga kepala Abil rasanya mau meledak dipenuhi suara menggelegar itu. Dia tersentak hingga duduk dari tidurnya. Dan matanya yang masih melotot kaget menemukan seekor tuyul raksasa menduduki kedua kakinya. "s****n Lo." Abil meraih bantal dan melemparnya tepat ke wajah tuyul raksasa itu. "Ngapain bangunin gue pagi buta?" Abil kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur. "Eh, ni anak. Mata Lo rabun senja ya nggak liat ini udah siang?" Si Tuyul yang menduduki kaki Abil melemparkan kembali bantal di tangannya ke wajah Abil. "Rabun senja nggak bisa liat waktu sore, b**o. Bukannya nggak bisa liat pagi." Abil menyingkirkan bantal di wajahnya. Kembali memejamkan mata. "Wah, Elo kayanya kudu periksa mata deh, Bil! Sekarang gue kasih tau aja berhubung lo nggak bisa liat. Mau tau sekarang udah jam berapa? Jam enem jawabannya," ucap Si Tuyul sedikit sarkas. Abil kembali bangkit, menatap wajah sobatnya sambil melotot. "Jam enem?! Gila, Lo?!" Abil menarik kakinya dari tindihan sohibnya itu lalu menyingkap selimut dan loncat dari kasur, menyambar handuk, dan mengunci diri ke kamar mandi. "Elo yang gila, Men!" Si Tuyul raksasa itu berseru ke arah kamar mandi, berharap Abil mendengar suaranya. Meski sepertinya tidak. Dia turun dari kasur, lalu menuju cermin besar yang menempel di pintu lemarinya Abil. "Sip, Kribo, Lo ganteng banget pagi ini, seperti biasa," ucapnya pada pantulan dirinya sendiri. Si Tuyul itu, Kribo namanya. Dia mengangguk untuk dirinya sendiri kemudian mengusap kepalanya yang plontos tanpa rambut. Tapi namanya Kribo? Suka-suka si penulis dong kasih nama orang botak plontos dengan nama Kribo. "Bil, gue turun duluan ya," Kribo berseru. Karena tau Abil tidak bisa dengar, dia langsung turun ke ruang makan di lantai satu. "Gimana? Udah bangun?" Mamanya Abil yang terlihat sibuk membereskan meja makan, bertanya. "Beres, Nte! Kalok Abil sampe nggak bangun, wah, penghinaan buat saya." Kribo tertawa, duduk di salah satu kursi di ruang makan itu. "Kalau sampe dia nggak bangun sih, kudu diperiksa dianya. Dengan suara Lo barusan, kucing tetangga dua rumah dari sini aja bakal kebangun. Kebangetan banget kalau dia masih tahan ngorok." Nabil menyeletuk sambil menuang s**u ke gelas, kakaknya Abil yang lebih tua dua tahun. "Si Om ke mana, Tante?" Kribo mencomot sebuah gorengan. "Udah berangkat tadi, Bo. Lebih pagi," jawab mama Abil. Kribo mengangguk-angguk. Sebentar kemudian, terdengar suara Abil menuruni tangga dengan terburu-buru. Dan muncullah seorang pemuda tampan yang gagah dengan balutan seragam sekolah berwarna putih abu-abu yang bersih dan kinclong. "Cuss, Bo!" Abil melewati ruang makan begitu saja. "Abil! Sarapan dulu," seru mama Abil. "Udah telat, Mah," Abil balas berseru dari ruang tamu. Nabil hanya diam, takzim menghabiskan s**u. Diam-diam menggigit keras gelas di bibirnya. Mamanya menghela napas. Anak-anak ini, tidak bisa berada di satu tempat yang sama barang sedetiiik saja. Hanya gara-gara seorang perempuan. "Kribo, bawa ini buat Abil. Pastiin dia makan ya. Duh, Tante seneng banget kalau Kribo jadi anaknya Tante. Nurut, sih." Kribo tertawa sambil menerima kotak bekal yang disodorkan mamanya Abil. "Kamu boleh bantuin Abil makan." Mama Abil berbisik keras, mengedipkan salah satu matanya. "Wah, dengan senang hati, Tante! Saya berangkat ya, Tante. Duluan, Bang Nab." Kribo menyalami mama sobatnya dan menepuk pundak Nabil pelan sebelum meninggalkan ruang makan. Nabil tersenyum, mengangguk. Dia menatap gelasnya yang isinya sudah tandas. Apapun Bil, yang lo mau, bakal gue kasih. Asal berhenti bikin keadaan selalu awkward kayak gini. Termasuk Vanya. Lo mau dia? Sabar, gue usahain.[] ### "Asal nyelonong aje, Lo." Kribo melempar kotak makan ke pangkuan Abil. "Thanks. Gass, Pak! Ngebutt!" Setelah berterima kasih pendek pada Kribo, Abil meminta layaknya anak kecil. Sopir pribadinya nyengir, lalu mulai tancap gas sementara Abil membuka kotak bekalnya. Beberapa sandwich isinya. "Eh, Bil. Mamah lo tadi sempet bilang ntar malem lo kudu makan malem sekeluarga." Kribo membenarkan posisi duduknya. "Haha, kayak gue bakal sempet aja," respon Abil sarkatis. Sesaat sebelum Abil mengambil sandwich-nya, tangan lain sudah menyambarnya duluan. "Bukan tanggungan gue ya kalo Papah Lo bunuh Elo. Katanya makan malam resmi apalah gitu sama atasannya, atau bawahannya? Ya semacam itulah," kata Kribo sebelum dia memakan sandwich di tangannya dengan nikmat. "Gue nggak peduli." Abil memelototi sandwich miliknya yang sudah ada bekas potongan gigi Kribo dengan dramatis. Merasa diamati, Kribo menoleh. "Apa? Mamah Lo bilang gue boleh bantuin ngabisin," ucap Kribo enteng. Abil memasang wajah sinis kemudian mulai menghabiskan sarapannya yang tersisa. "Bhekhewhe, Bho. Gwuwe mhauw nyhwaarhiy yhang khe swerhatwus." Abil berkata di sela makannya. "Eh, Lo mau gue tabok ya biar makanan lo keluar lagi? Telen dulu baru ngomong," kata Kribo, menggelengkan kepalanya. Abil cepat-cepat mengunyah lalu menelan bulat-bulat makanan di mulutnya. "Gue mau cari yang keseratus," ucap Abil terang. Kribo menganga. "Pacar Lo yang baru dua minggu itu? Udah putus?" tanya Kribo. "Dia bosenin banget, sumpah. Yaudah deh, gue putusin," jawab Abil lalu melanjutkan makannya. "Anjir, padahal dia salah satu cewek most wanted dari kelas tiga. Rumor yang bilang kalo dia susah didapetin itu apa cuma omong kosong?" Kribo geleng-geleng kepala. Well, Kribo tidak salah, dan rumor itu jelas bukan omong kosong. Mantan pacar Abil barusan memang susah didapatkan, susah ketika dikejar. Tapi setelah dapat, dia ternyata tipikal perempuan yang sama seperti perempuan kebanyakan. Begitu pikir Abil, membuatnya mendengkus karena malas menjelaskan pada sohibnya. "Makin lama standar Lo makin tinggi juga, Bil. Ntar lama-lama Lo pengennya sama yang tante-tante," celetuk Kribo. Hening sejenak. Abil menolehkan kepalanya kaku. "Tante-tante, kok yang kebayang di gue si Dede, ya?" Tawa Kribo langsung meledak. "Sama anjir. Gue barusan juga mikir sama," ucap Kribo membuat Abil ikut tertawa. Tawa keduanya mereda ketika mobil mulai melambat dan kemudian berhenti di depan gerbang sebuah sekolah. "Bapak, nanti jam empat ya," ucap Abil sebelum keluar. Sopirnya mengangguk paham kemudian segera membawa mobilnya pergi setelah den muda dan sahabatnya keluar dari mobil. Keramaian menyambut hangat dua sejoli itu. Hari memang sudah cukup siang. Seperti biasa, satu dua perempuan terlihat saling berbisik atau saling senggol sewaktu melihat Abil. Abil mengabaikannya dan memilih ngobrol dengan Kribo saat mereka menaiki tangga menuju lantai dua. "Wah, mereka nggak bosen-bosennya," ucap Kribo begitu melihat seorang perempuan berikat rambut kuda dan perempuan lain berikat rambut dua sedang adu mulut. Arza menyerobot masuk dengan keren, membuat Kribo berdecak. "Seperti yang diharapkan dari ketua kelas," ucap Kribo. Abil mengangkat salah satu alisnya. "Gue nggak habis pikir, kenapa si Dede milih ngajak Arza buat jadi temen debat, atau temen bully, atau temen ribut, whatever. Perasaan cewek lain yang lebih berkelas ada deh," ucap Abil. "Maksud Lo?" tanya Kribo yang menahan tawa melihat si Dede melotot setelah dikatai temannya sendiri. "Yaa ... si Arza itu ya, nggak ada yang menarik dari dia. Satu-satunya yang bagus soal dia cuma rambutnya. Wajahnya juga pas-pasan aja. Malah mirip kutu buku. Mana judes lagi orangnya. Nggak asik, ngebosenin, tapi terlalu savage kalau mau di-bully buat jadi pesuruh atau gimana," jelas Abil. Ia langsung menelan ludah saat melihat air muka Dede berubah menyadari kedatangannya. "Pagii, Abiil." Dede menggelayut manja di lengan Abil. Ia tersenyum dan mengejap-ngejapkan matanya sok manis. Abil membalas dengan senyuman yang lebih manis. "Pagi juga. Lepasin tangan gue, dong," pinta Abil tanpa melepas senyum mautnya, dan sekarang ditambah dengan kerjapan-kerjapan lugu dari matanya. Sontak, Dede dan kawan-kawannya ngiler. Pegangan tangan Dede yang mengendur langsung Abil manfaatkan untuk melarikan diri dari tante-tante penunggu pintu kelas itu. Dia memang tahu banget bagaimana memanfaatkan wajahnya yang super ganteng. "Pelawak," sindir Kribo pelan sambil tersenyum miring. Abil mengangkat salah satu alisnya, setuju, kemudian tersenyum menyapa teman-teman sekelasnya. Lebih tepatnya ke teman-teman perempuan yang ada di kelasnya. Spontan, gumaman 'oohh' menggema pelan di ruang kelas. Dua bulan berlalu sejak pertama kali mereka mengenal Abil, tetapi masih tetap belum terbiasa dengan pesonanya yang menggiurkan. Posisi duduk teman sebangku Arza langsut melorot saat itu juga. Dia terus memperhatikan Abil—yang sekarang berjalan menuju bangkunya—sambil mesam-mesem sendiri. Setelah cukup 'sarapan' dengan menikmati asupan cogan, dia kembali menegakkan punggung. "Za, kok kamu nggak pernah kepengaruh sama pesonanya Abil, sih?" tanyanya pada Arza yang sedang membaca novel. Tampak depan, wajahnya benar sempurna tertutup novel yang hanya dipegang dengan satu tangan. Arza mengangkat bahu ringan. "Pernah ketemu yang lebih ganteng," jawabnya. Perempuan di sebelah Arza meletakkan dagunya ke kedua telapak tangan yang menumpu berdiri membentuk V di atas meja. "Abil aja ganteng, gimana sama yang lebih ganteng itu? Sayang banget Abil playboy. Kalo yang lebih ganteng itu playboy nggak, Za?" Pertanyaan itu sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena kalau di jawab pun, perempuan itu tidak bisa mendengarnya. Dia sudah tenggelam pada khayalannya. Sementara itu, tangan Arza yang memegang novel perlahan turun setengah. Yang lebih ganteng? Pikirnya. Kok yang gue bayangin Reis? .... Hello Za, otak Lo masih setengah tidur kayanya. Arza cepat-cepat mengangkat novelnya kembali, mengfokuskan dirinya ke novel untuk melupakan ingatan konyol tentang masa lalunya. "Spesies aneh," gumam Kribo melihat gerak-gerik ketua kelasnya. "Hmm? Maksud Lo?" Abil menoleh, sementara Kribo mengedikkan dagunya ke suatu arah. Abil meniti arah yang dimaksud Kribo. "Arza?" tanya Abil memastikan. "Kayanya Lo salah deh, Bil, kalo Lo bilang satu-satunya yang bagus dari Arza cuma rambutnya. Ya emang sih, dia nggak pernah lepas iket rambut, dan diliat gitupun udah bagus rambutnya. Tapi ada yang lain yang kadang bikin gue penasaran soal dia," oceh Kribo. "Ha? Ada ya yang menarik dari makhluk kek gitu?" tanya Abil tak begitu peduli. Ia mulai mengeluarkan beberapa buku dari tas dan menatanya di laci, bersiap untuk pelajaran jam pertama. Kribo menatap Abil. "Ada. Gue tertarik gimana dia nggak terpikat sama pesona Lo," jawab Kribo. Sontak, Abil tergelak. "Ngawur, Lo. Dia suka, kali. Jual mahal aja berharap dilirik gue. Sayang banget, gue nggak tertarik sama yang biasa aja," kata Abil dengan pedenya. Kribo menjitak dahi sobatnya itu. "Jangankan ngarep Lo ngelirik dia. Dianya aja ogah ngelirik Elo. Malah kadang kayanya keberadaan Lo nggak dianggep," ucap Kribo. "Iya ya?" tanya Abil sambil mengangkat salah satu alis, memasang ekspresi menyebalkan. Kribo menggelengkan kepalanya minta ampun. "Demi apa gue punya temen ganteng tapi rusak, b**o, nggak bisa diajak serius," ucap Kribo. "Nggak peka, lagi," lanjutnya. Kemudian bel masuk berbunyi.[] ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN