Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam taksi yang akan membawaku ke rumah Revano. Perasaanku tak karuan setelah mendengar perkataan Ayah barusan, Revano beserta keluarganya datang ke rumah untuk melamarku. Lancang sekali yang dilakukannya setelah beberapa hari ini membuat pikiranku kacau. Masih dengan mengenakan baju kerja dan penampilan lecek khas pulang kerja, aku memantapkan hatiku menuju Revano. Rasa kesalnya masih sangat terasa. Di saat aku merasa hidupku paling menderita karena ditinggal tanpa berita olehnya, tiba-tiba saja dia malah datang ke Ayah dan Ibu untuk melamarku. Dikiranya aku akan memaafkannya? Aku bukan lagi merasa kesal karena tindakan yang dilakukannya tempo hari, tapi saat ini kesalnya berlipat ganda dan butuh pelampiasan. Tidak bisakah d

