Sorot matanya membiusku. Aku memejamkan mata, menghindari tatapan matanya. Dia melepaskan ciumannya, selang beberapa detik kemudian melumatnya lagi, kali ini lebih dalam dan menuntut. Embusan napasnya beradu dengan napasku yang semakin cepat. Dia mulai menggila dan aku kewalahan menghadapinya. Apalagi saat lidahnya perlahan menyusup ke rongga mulutku. Aku mendorong tubuhnya perlahan, memberi tanda untuk menyudahi semuanya sebelum dia bertindak lebih jauh. Karena sepertinya dia tidak mau berhenti. "Sepertinya kita tidak boleh terlalu sering bersama. Saya takut tidak bisa menahan diri," katanya sesaat setelah melepaskan ciumannya. Wajahku terasa memanas ditambah deru jantungku yang berdetak semakin kencang. Apalagi dia tidak langsung memalingkan wajahnya dariku sehingga saat mataku terbu

