Chapter 12 BRANCH OFFICE

977 Kata
Hari baru bagi Andri dan Amy. Jam delapan pagi Amy sudah tiba di kantor barunya. Ia terkejut mendapati Andri, Ryan, dan satu pemuda bernama Setya sudah selesai membuka kemasan peralatan elektronik. Andri sedang sibuk setting kabel jaringan, sementara Ryan dan Setya memasang wallpaper istimewa latar belakang meja kerja untuk melayani klien. Amy bergabung menata kursi dan meja terima tamu yang didesain bongkar pasang, khas kantor mereka. Ia membuka floor plan dari kantor pusat untuk memastikan telah benar meletakkan perangkat itu. “Mas Ryan, di mana tempat beli tanaman?” tanya Amy. “Ada. Mau dibantu nyari? Saya sepenuhnya membantu kalian hari ini,” tawar Ryan. “Iya. Nanti saja setelah memasang wallpaper itu,” ucap Amy. Ryan mengangguk. Amy menyibukkan diri membuka kardus berisi buku-buku, leaflet, dan beraneka form. Amy menata leaflet di lemari kaca kecil yang terintegrasi dengan meja terima tamu. “Wah, sibuk sekali,” sapa Pak Tri dari pintu ruang kantor. Mereka mengangkat muka, kemudian memberikan salam hormat. Pak Tri tertawa. Ia melangkah mendekati Amy. “Bagaimana, Amy? Suka dengan kamar kos-mu?” “Suka, Pak. Tetapi, apa tidak berlebihan? Saya biasanya kos di kamar yang seukuran kamar mandinya.” Pak Tri tertawa. “Itu rejeki kamu, Am. Pemilik kamar saat ini sedang belum benar-benar membutuhkannya. Jadi nikmati saja.” “Tarifnya pasti mahal.” “Tidak juga. Standar. Beda di fasilitas saja. Ya sudah. Lanjutkan. Saya keliling dulu.” Pak Tri pergi. Amy menatap langkah gontai Pak Tri, sementara di kepalanya terbayang fasilitas kamar kos-nya yang seperti apartemen kelas atas. “Sudah, Am. Mau keluar sekarang?” tawar Ryan. Amy mengangguk. “Yang dibeli besar apa kecil?” tanya Ryan. “Cemara tinggi satu meter, dua pot. Sukulen kecil-kecil enam pot. Tidak banyak kurasa.” “Jadi bawa motor saja cukup ya?” “Iya,” jawab Amy. Ryan mengangguk. “Tunggu di depan,” ucap Ryan lalu melangkah. Amy meraih jaket dan tasnya. Urusan budgeting, Amy yang bertugas. Sesuai instruksi Bos, membeli tanaman adalah satu tugas yang harus dilakukannya setiba di kantor baru. Peralatan lain, semua bawa dari markas. Sebuah motor berhenti di depan pintu kantor. Pengemudinya mengenakan helm hitam menutup muka dan jaket kulit yang keren banget. Ryan mematikan mesin, lalu turun untuk menyerahkan helm kepada Amy. Helm itu bersih, wangi, dan berwarna hitam. Serasi dengan motor cowok yang digunakan Ryan. “Aku pergi dulu, Ndri.” “Iya. Ryan, hati-hati. Dia suka tertidur kalau kena angin,” goda Andri. Ryan tertawa sambil naik motor lagi, lalu menyalakannya. Amy naik sambil geleng-geleng kepala. Sehari-hari, Amy mengenakan celana sebagai pakaian kerja. Jadi naik motor cowok bukan masalah. “Kamu bisa mengendarai motor seperti ini?” tanya Ryan. “Bisa.” “Kalau kamu mau, kamu boleh pakai motor ini pulang pergi kerja. Motor ini banyak nganggurnya di parkiran mes.” “Kalau Mas Ryan mau pulang?” “Kan tinggal bilang ke kamu,” jawab Ryan, “lagipula, aku pulang paling dua atau tiga bulan sekali.” “Kenapa?” “Tidak apa-apa,” jawab Ryan. Amy tidak bertanya lebih jauh. Mereka baru kenal, ia menahan diri untuk tidak sekepo itu. “Jadinya, kamu masak sendiri atau ikut Ibu Kos?” “Amy tidak tahu gaji Amy setelah di tempat tugas baru ini berapa. Terlalu beresiko kalau langsung berlangganan makan tiga kali sehari. Lagian di siang hari kan Amy di kantor. Jadi, untuk sementara, Amy langganan sarapan saja. Sebut saja kenalan dengan masakan Ibu Kos. Urusan makan siang dan malam, lihat pola kerja seminggu ini dulu. Minggu depan baru evaluasi lagi.” “Sangat taktis huh?” tanya Ryan. Amy tertawa. “Oh, iya, Mas. Amy hampir lupa. Beberapa Mbak kos nitip salam buat Mas Ryan.” “Salam apaan?” “Salam aja. Nggak ngerti.” “He he he. Tidak ada salam balik. Takut mereka kegeeran.” Mereka tertawa. Ryan membelokkan motor ke sebuah jalan yang tidak terlalu lebar. Di tempat itu, rumah di kanan dan kirinya semua berjualan tanaman. Sinar matahari tengah di atas kepala, membuat tanaman apapun yang dipajang terlihat jelas. “Aku akan pelan. Kalau melihat tanaman yang kamu cari, bilang saja.” “Iya.” Amy menatap sekitarnya. Pada rumah ke sepuluh, ia melihatnya. “Itu,” ucapnya. Ryan menekan rem, lalu menoleh ke rumah yang ditunjuk Amy. Amy turun motor, langsung melangkah mendekati penjual. Tak lama, Ryan ikut menyusul. Mereka bernegosiasi sejenak, lalu penjual mengemas tanaman yang mereka beli. “Amy, aku lapar. Makan dulu di situ, ya,” ajak Ryan menunjuk sebuah warung soto. Amy tidak tega. Bisa saja anak mes tidak sempat sarapan. Saat ia datang, sepertinya mereka sudah mengerjakan banyak hal. Amy mengangguk, mendampingi langkah Ryan menuju warung di seberang jalan. Namanya soto, makanan cepat saji kalau membeli di warung yang tepat. Warung itu salah satunya. Tidak sampai lima menit, dua mangkuk soto sudah terhidang. “Ini yang nasi separo, ini yang utuh. Monggo. Selamat menikmati,” kata Bapak penjualnya. Amy dan Ryan mengucapkan terima kasih. Ryan mengaduk sotonya. Sementara Amy mencicip kuah terlebih dahulu. “Bagaimana reaksi adik-adik panti saat kamu pergi?” “Banyak yang nangis. Tetapi ada hal yang Amy tinggalkan, yakin deh bakal menenangkan mereka.” “Apa itu?” “Cokelat,” jawab Amy. Mereka tertawa. Sama-sama teringat bahwa Ryan semalam juga meninggalkan cokelat untuk menenangkan Amy di kamar barunya. Amy tidur nyenyak, tanpa gangguan. “Amy belum mengucapkan terima kasih atas cokelat yang ditinggalkan di atas tempat tidur. Terima kasih.” “Never mind.” “Waktu di mobil sudah ngasih cokelat. Setelah itu ngasih lagi. Gudang cokelat?” “Sebut saja, habis beli cokelat diskonan sekilo, gitu.” Mereka tertawa. “Tadi pagi mulai jam berapa?” “Habis jamaah Subuh. Bebas tugas, aku dan Setya rasanya gabut. Jadi kami paksa Andri bangun, kemudian segera mulai. Lagipula, kalau kantor itu bisa segera siap, kami juga bisa segera beristirahat lagi hingga tiba waktu kerja besok pagi. Kalau sore sudah selesai, mau keliling Happyland I?” tawar Ryan. “Kurasa kami ada budget untuk membeli tiket,” ucap Amy. Ryan tersenyum. Keakraban mereka terjalin dan berlanjut dalam hari-hari kerja selanjutnya. Amy menolak meminjam motor Ryan untuk pulang pergi kerja, karena melihat lalu lintas di kota itu, ia merasa perlu perkenalan dulu. Jadi untuk sementara, Amy menggunakan ojol. Saat libur kerja, Ryan membantu Amy dan Andri di kantor mereka. Sore itu, satu bulan kantor baru berjalan. Amy dan Andri sudah menjelajah kota barunya untuk merintis kerjasama-kerjasama baru sesuai arahan kerja dari Pak Tri dan Bos. Mereka sudah mendapatkan satu karyawan baru yang bisa bergantian dengan keduanya untuk standby di kantor, sehingga sepanjang minggu selalu ada orang di kantor itu pada jam buka Happyland I. Nyatanya, tidak ada yang mulus dalam sebuah pencapaian.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN