Sukses dengan program tiket online paket perjalanan wisata baru, Andri juga dilibatkan untuk tiket online Happyland I. Sementara Amy mulai merancang program persiapan guide internal, bekerja sama dengan Pak Imam dan Pak Hari. Ia sering rapat bahkan berdebat dengan keduanya. Masalahnya, kedua pria senior itu cenderung bergaya jadul dalam menjalankan tugasnya. Mana mereka mau dengan mudah meloloskan program aneh seperti guide internal.
“Itu hanya membuang waktu dan biaya, Mbak Amy. Para petugas di wahana kan sudah bisa menunjukkan jalan kepada pengunjung,” tolak Pak Imam.
Amy tersenyum.
“Tugas mereka apa, Pak?”
“Mengoperasikan wahana.”
“Itu termasuk menjaga kebersihan, mengurus kelengkapan, hingga membantu pengunjung yang mengalami kesulitan kan?”
“Iya.”
“Jadi mana sempat mereka menemani pengunjung, memberikan penjelasan pada bagian yang dipertanyakan pengunjung, hingga membuat pengunjung nyaman dan betah?”
Pak Imam dan Pak Hari akhirnya manggut-manggut. Fix, program persiapan itu akan dijalankan bulan berikutnya. Waktu sebulan itu akan digunakan Amy untuk menyiapkan detil materi dan bahan belajar, sedangkan Pak Imam dan Pak Hari menyeleksi para pegawai yang akan direkomendasikan.
Sore itu, hari kerja terakhir Amy di minggu tersebut. Besoknya ia akan libur. Andri berjanji akan mengantarnya pulang dengan pinjam motor Ryan, karena Andri ingin belanja beberapa hal. Andri tahu hari itu Amy sangat lelah setelah sehari penuh melatih calon guide lokal.
Andri tidak juga kembali ke kantor, sementara bagian depan Happyland sudah sepi dan mendekati gelap. Bagi Amy, ini mulai menakutkan. Apalagi ia sendirian. Amy memutuskan untuk mengunci kantor dan menyusul Andri ke mes. Toh, di depan mes ada gazebo. Amy bisa menunggu di sana. Amy duduk di gazebo lalu menghubungi Andri. Hingga beberapa panggilan masih tidak dijawab.
“Amy, nunggu Andri?” tanya Ryan yang sepertinya baru selesai bertugas. Peluh menetes di dahinya. Wajahnya terlihat lelah. Amy menyaksikan sendiri luasnya wilayah kerja Ryan. Tidak heran pemuda itu kelelahan ketika selesai. Amy menganggukkan kepala.
“Tunggu. Aku lihat sebentar.”
Amy mengangguk. Ryan ke kamar Andri. Tidak lama kemudian, ia keluar lagi.
“Andri sakit perut, Am. Ia minta maaf tidak bisa mengantarmu. Mm, kalau kamu tidak keberatan, aku yang antar pulang. Tetapi tunggu sekitar lima menit, aku mandi sebentar. Jika tidak, kamu bisa pingsan nanti,” gurau Ryan. Amy tertawa, “tunggu, ya.”
“Eh, Mas Ryan. Amy nunggu di musholla sebelah mes itu, ya. Sudah Maghrib,” pamit Amy. Ryan mengangguk.
Ryan melangkah ke kamarnya. Tepat lima menit kemudian, ia keluar lagi. Sudah nampak segar dan siap keluar. Ryan menyusul salat, baru kemudian mengambil motor.
“Bagaimana kalau kamu mulai belajar motoran malam ini?”
“Amy belum mandi, Mas. Takutnya Mas Ryan yang pingsan di belakang Amy.”
“Ahh, bumerang.”
Mereka tertawa.
“Sudah dua bulan di sini. Bagaimana perasaanmu?”
“Kangen soto,” ucap Amy. Soto itu menu andalan bu Ana yang juga meriah bagi anak panti.
Ryan senyum. Tanpa kata, ia membawa Amy mampir ke minimarket membelikan pesanan Andri. Setelah belanja, ia mengajak Amy ke sebuah warung soto. Soto yang di warung ini sangat berbeda dengan soto di dekat penjual bunga, tetapi justru soto ini yang mirip dengan gaya bu Ana. Amy sampai berkaca-kaca saat mencicipinya.
“Kenapa, Am?”
“Soto adalah menu istimewa di panti. Yah, hemat gitu. Dengan sedikit ayam, anak satu panti bisa makan istimewa. Yang ini sangat mirip dengan masakan bu Ana, pengasuh kami,” cerita Amy dengan mata berkaca-kaca.
Ryan tersenyum.
Sambil makan soto, Amy mengenang dan mengisahkan masa lalunya di panti. Beberapa detil yang belum sempat Ryan ketahui pada obrolan-obrolan sebelumnya meluncur. Lagipula, meski bekerja di tempat yang sama, Ryan sangat jarang bertemu Amy karena kesibukan masing-masing. Saat Ryan break, Amy biasanya sedang melayani klien, membuat pembukuan, atau ngasih training. Saat Amy break, ganti Ryan yang melaksanakan tugas. Bisa mengobrol berdua saja seperti saat itu, terasa istimewa.
“Saat baru datang dulu, Amy sempat heran kenapa sepertinya Pak Tri menyuruh-nyuruh Mas Ryan untuk segala sesuatu. Ngantar kami, angkat barang, bantu nata ruangan, kayak OB cuma satu saja.”
Ryan tertawa.
“Kelak kalau kamu sempat melihat kami di jam kerja, kamu akan tahu tidak hanya Pak Tri atau kepala divisi yang demikian. Katakanlah, kami para OB adalah orang-orang serba bisa. Bila diperlukan, kami bisa menjadi kuli angkut, kadang menggantikan resepsionis, petugas loket, penjaga wahana, bahkan satpam.”
“Jadi bisa mengoperasikan semua wahana dong.”
“Sepertinya begitu.”
“Kapan-kapan Amy pengen naik roller coaster di malam hari. Lagian, tawaran ngajak Amy keliling belum terlaksana hingga hari ini, lho.”
“Soal janjiku itu, maunya kulaksanakan. Tetapi ternyata kamu sibuk banget. Hmm, kita tutup jam lima sore. Rencana buka di malam hari masih perlu banyak persiapan, jadi sepertinya belum akan terlaksana dalam waktu dekat. Kalau roller coaster, karena kelihatan banget, kamu harus ijin Pak Tri dulu. Kalau kamu atau Andri yang minta, kupikir Pak Tri tidak akan keberatan.”
“Kenapa begitu?”
“Kalian potensial. Lagipula, kami semua tahu kamu aktif di media sosial. Instagrammu bernilai jual. Ajukan saja kerjasama seperti itu. Pekerjakan media sosialmu. Minta fee sebagai influencer.”
“Haish. Masa sama teman sendiri narik fee.”
“Kupikir itu sah saja. Toh, tugas utamamu sudah kamu kerjakan dengan baik. Kamu bisa melakukannya di hari libur.”
“I’ll think about that.”
Mata Ryan menatap gelang di tangan Amy.
“Kamu masih memakai gelang itu, Am. Terima kasih,” ucap Ryan.
Amy tersenyum.
“Sepertinya gelang ini sangat berkesan bagi yang ngasih.”
Ryan mengangkat lengan, mengusap rambutnya sambil tertawa pelan.
Amy terpaku. Paduan model rambut, wajah, lengan, bagian jaket yang terangkat, serta penampakan kaus pas badan dan tawanya itu membuat Ryan terlihat begitu wow. Amy segera menundukkan kepala.
“Itu gelang persahabat dengan teman SMA. Teman yang bersedia menemaniku tanpa syarat. Kami menjelajah setiap minggu, entah ke gunung, gowes, atau ke mana saja. Sampai sekarang, kupikir dia juga masih mengenakan gelang itu.”
“Apa maksudnya tanpa syarat?” tanya Amy.
“Yah, resiko jadi preman sekolah. Teman yang mendekat biasanya ada kepentingan pribadi.”
Amy tertawa.
“Enggak percaya kalau model Mas Ryan begini dulu preman.”
“Kenapa enggak? Masa nggak ada sisa sangar-sangarnya gitu?”
Amy masih tertawa sambil menggelengkan kepala. Ryan tersenyum.
“Premannya model gimana? Malak anak lain? Berantem? Tawuran?” tanya Amy.
Ryan menggeleng.
“Socmed Mas Ryan apa sih? Barangkali masih ada jejak sejarah?”
Ryan menggeleng lagi.
“Sekolahnya apa?”
Ryan menyebutkan nama sekolahnya tanpa pikir panjang. Amy langsung berselancar mencari informasi. Ryan segera menyesali kejujurannya.
“Ahh, ini sih bukan preman. Ini semacam oppa,” ucap Amy.
Ucapan Amy membuat Ryan tersipu sambil memalingkan muka. Bagaimana tidak? Ryan ketua OSIS di jamannya. Ia langganan setor piala ke sekolah untuk berbagai bidang kejuaraan, terutama beladiri dan basket. Kalau ada foto Ryan dengan lokasi sekolah, bisa dipastikan ia dikelilingi cewek-cewek. Nah, dengan posisi ini, wajar kalau yang berteman dengannya membawa misi pribadi alias pertemanan bersyarat.
“Mantannya yang mana nih?” tanya Amy sambil menunjukkan sebuah foto. Dalam foto itu, Ryan berfoto bersama Kepala Sekolah dan piala juara. Di sekitarnya, ada selusin lebih gadis-gadis pembawa pom pom dengan rok mini warna-warni.
“Udah digebet teman-temanku semua.”
“Masa sih nggak ada yang naksir mas Ryan?”
“Ada. Tetapi saat itu Ryan tidak pacaran.”
“Kenapa?”
“Enggak seru saja masih SMA sudah terikat. Jangan-jangan ntar cuma menghabiskan waktu jagain calon istri orang.”
Amy tertawa.
“Kalau kamu? Berapa cowok yang masuk barisan para mantan?”
“Amy sibuk banget ngurus anak panti dan kerja freelance. Kalaupun ada yang naksir, biasanya mundur teratur ketika tahu kondisi Amy. Apalagi kalau lihat Amy ngangkut beras atau keliling nyari donatur. Pernah lho Amy disuruh ngambil sembako sama donator besar. Ternyata itu rumah cowok yang nembak Amy. Amy sih tidak masalah. Tetapi dianya yang malu.”
“Kalau sahabat, punya?” tanya Ryan.
“Ada. Salah satunya Andri. Waktu ambil D1 pun dia tetap kontak Amy.”
Ryan manggut-manggut. Amy mengutak-atik gelang di tangannya.
“Kalau diserahkan kepada Amy, persahabatan itu putus dong.”
“Enggak lah. Temanku tahu alasannya. Dia juga akan melakukan hal serupa.”
Amy memiringkan kepala seraya memasang muka tidak paham.
“Kami berencana menyerahkan gelang ini kepada orang yang istimewa,” jelas Ryan.
Pipi Amy merona.
“Definisikan istimewa,” ucap Amy kemudian minum. Ia berusaha menghilangkan debar berlebihan di hatinya. Ryan tersenyum.
“Kita sudah cukup umur, Amy. Kalau statusku sebagai OB bukan masalah bagimu, sebaiknya kita tidak sekadar main-main. Kuharap kamu bersedia menjadi rumah tempatku pulang, menjadi ibu dari anak-anak kita.”
Amy terpaku.
“Sampai ketemu lagi, Amy. Selamat berlibur,” ucap Ryan di depan rumah kos.
Amy tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Sudah sana kembali ke mes,” ucap Amy ketika Ryan tidak beranjak dari tempatnya.
“Kamu muncul di balkon dulu, baru Ryan pulang,” ucap Ryan.
Amy tertawa pelan sambil mengangkat bahu. Amy berbalik, menghilang di lantai bawah, lalu muncul lagi di balkon. Di sana ia berkacak pinggang. Ryan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ryan melaju dan menghilang di jalan ujung kompleks. Amy menghela nafas. Pipinya memanas teringat obrolan akrab sepanjang petang.