Ryan pov
“Ryan, senang sekali kamu pulang,” sapa Mama sambil memelukku, “Ayo masuk. Mama masak bakso hari ini. Enak banget pastinya.”
Rasanya kikuk masih juga diperlakukan seperti ini di usia 25 tahun. Tetapi, konon bagi orangtua, anak bungsu itu tetap anak kecil, bagaimanapun wujudnya. Jadi aku berusaha bersabar dipeluk, dicubit pipi, diacak rambutku, sampai diciumi.
Selesai dengan Mama, aku mencium tangan Ayahku. Ayah hanya tersenyum tipis.
Kedua orangtuaku melangkah ke meja makan. Aku belok ke kamar depan, tempat nenekku tiduran.
“Cucu Ganteng, kenapa kamu lama tidak pulang?”
Kedua tangan keriput itu terulur meminta pelukan. Kupeluk tubuh kurusnya. Kucium pipi kanan dan kirinya yang tak lagi terasa kenyal. Tetapi hatiku selalu adem melihat tatapan mata teduhnya.
“Bulan ini kan high season, Nek. Ryan banyak pekerjaan,” kataku.
“Tidak Ayah, tidak anak. Gila kerja semua,” keluhnya.
Aku tertawa pelan. Sekitar sepuluh menit kuhabiskan untuk mengobrol dengan Nenek, sebelum Mama memanggilku. Nenek tersenyum maklum. Aku pindah ke ruang makan.
“Bagaimana? Masih betah jadi OB?” tanya Mama.
“Seru kok, Ma,” jawabku sambil menerima uluran mangkuk berisi bakso lengkap buatan rumah.
“Pendidikan kamu memungkinkan pekerjaan yang lebih baik, Ryan. Mengapa OB?”
“Selagi usia masih segini, Ryan ingin merasakan pekerjaan mulai level paling bawah. Apa itu salah?”
“Tetapi …,”
“Mama, kita sudah bahas ini setahun yang lalu. Ini bukan masalah gengsi atau kesesuaian level. Tetapi pendidikan bagi Ryan. Mama ingat itu kan?” sela Ayah.
Mama terdiam. Walau nampak jelas masih tidak terima, Mama menghentikan rayuannya agar aku mencari pekerjaan lain yang lebih baik menurut Mama. Aku tahu Mama sering diledek teman-temannya terkait statusku sebagai OB. Mahal-mahal dikuliahkan sarjana jatuhnya jadi OB itu sesuatu banget bagi mereka. Meski secara dana Mama tidak pernah mengeluarkan biaya selama aku kuliah karena aku dapat beasiswa, tetap saja Mama merasa malu di lingkungan sebayanya.
“Ryan minta maaf jika apa yang Ryan kerjakan ini membuat Mama malu. Tetapi tolong bersabar, Ma. Ryan belum dua tahun mengerjakan ini. Masih banyak hal perlu Ryan pelajari. Ijinkan Ryan mencari ilmu di dunia nyata, Ma. Lagipula, ini bukan pekerjaan haram. Ryan tidak melakukan kejahatan atau melanggar hak orang lain. Ryan bekerja dengan jujur dan lurus. Sebisa mungkin hidup Ryan bermanfaat.”
Mama mencebik menahan air mata, seraya menepuk bahuku. Mama meninggalkan kami. Aku sudah hendak bangkit mengejar Mama saat Ayah menahanku.
“Biarkan saja, Ryan. Ayah sudah meminta Mama tidak ikut arisan atau perkumpulan apa-apa kalau itu hanya menambah beban pikirannya. Tetapi Mama merasa perlu memiliki teman dan bersosialisasi. Ini efeknya. Kamu juga harus bersabar.”
Kuanggukkan kepala.
“Biasanya kamu hanya pulang kalau ada urusan. Kali ini apa?” tanya Ayah.
Aku senyum sambil mengunyah. Setelah menelan bakso dalam mulutku, baru aku angkat bicara.
“Ryan telah menemukan seorang gadis yang ingin saya nikahi, Ayah.”
“Oh, benarkah? Ini kejutan. Anak siapa? Kapan kamu ingin menikah?”
“Teman kerja di Happyland I. Pak Tri pernah mengirimkan fotonya kepada Ayah. Ryan ingin menikahinya secepatnya.”
“Ah, gadis itu. Guide?”
“Iya. Saat ini, dia dipercaya Bos Travelnya yang bekerja sama dengan Pak Tri untuk mengembangkan bisnis perjalanan wisata terpadu dengan grup Happyland.”
“Dia bekerja dengan baik?”
“Menurut Ryan, sangat baik. Kalau saja dia berkesempatan menimba ilmu manajemen lebih jauh, dia bakal cemerlang.”
“Dia lulusan ….”
“SMK Pariwisata. Tetapi percaya Ryan, Pa. Dia cakap. Kemampuan berbahasa dan komunikasinya juga bagus. Secara emosi, dia dewasa. Mungkin karena terlatih menjadi pengurus panti asuhan.”
Mama kembali bergabung dengan kami. Sorot mata Mama menunjukkan ia telah mendengar pembicaraanku dengan Papa sebelumnya. Mama mengaduk isi mangkuknya.
“Pengurus panti asuhan di usia muda? Berapa usianya sekarang?” tanya Mama tanpa memindahkan pandangan dari mangkuk.
“21, mau 22.”
“Mulia sekali. Orangtuanya pasti bukan orang sembarangan. Siapa mereka?” tanya Ayah.
“Kedua orangtuanya sudah meninggal saat dia masih kecil. Sejak saat itu ia tinggal dan tumbuh di panti asuhan.”
Ayah dan Mama terdiam.
“Ryan, Mama tidak ingin punya menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Belum lagi jika tidak ada catatan masa lalu yang baik, bisa-bisa dia hanya memanfaatkan kamu. Memanfaatkan kita. Kelak kalau kamu sudah tidak segagah ini, sudah tidak bisa memenuhi keinginannya, dia akan meninggalkan kamu. Ryan, menikah itu harus memerhatikan bibit, bebet, dan bobot calon pasangan. Jangan dikira itu omong kosong orang kuno saja, ya. Mama akui dia memang cantik, Ryan. Tetapi kecantikan tidak abadi. Ingat itu.”
Mama kembali meninggalkan meja. Ayah tidak menunjukkan ekspresi apapun.
“Ayah juga sependapat dengan Mama?”
“Ryan, Mamamu benar. Kecantikan tidak abadi. Bibit, bebet, dan bobot seseorang itu menentukan karakter dan cara hidupnya. Jangan tertipu penampilan.”
“Ryan sangat banyak diperkenalkan dengan perempuan yang menurut Mama bernilai tinggi bibit, bebet, dan bobotnya. Asal Ayah tahu saja, jaman sudah berubah. Perempuan yang dikenalkan bernilai tinggi itu bersikap dan tampil baik di depan Mama dan orangtuanya. Tetapi di luar itu, Ryan melihat banyak hal. Bahkan ada diantara mereka yang menganut pergaulan bebas,” ucapku, membuat mata mama terbelalak, “jadi sekarang Ryan berpikir bahwa ketiga komponen itu bukan bawaan lahir, pengaruh silsilah, atau banyaknya harta.”
Aku diam sejenak menanti reaksi. Zonk, jadi kulanjutkan.
“Menurut Ryan, gadis ini memiliki bibit sikap hidup yang tangguh dan baik. Suatu saat Ayah harus melihat bagaimana ia berjuang untuk kelangsungan hidup adik-adiknya di panti. Soal bebet, memang ia bukan putri pejabat, pengusaha, atau bangsawan. Tetapi ia tahu bagaimana menempatkan dirinya, menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita, sehingga dimanapun dia dihormati. Bahkan dalam lingkungan orang yang sama sekali baru. Soal bobot, Ryan yakin dia hanya perlu kesempatan lebih. Ryan minta maaf karena untuk hal ini akan memilih jalan sendiri.”
“Ryan, kamu putra bungsu Ayah. Salahkah bila Ayah berharap grup ini kelak akan menjadi tanggung jawabmu? Istrimu akan menjadi nyonya besar dari ribuan orang. Jika ia tidak layak dan tidak kompeten mendukungmu, bagaimana kamu akan mampu membawa orang-orang yang telah bekerjasama dengan kita ke arah yang lebih baik?”
“Ayah, Ryan sudah membantu Ayah sedemikian. Apakah perubahan demi perubahan yang Ryan usulkan dan kawal aplikasinya masih belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik? Ryan sepakat sekali dengan prinsip kita maju bersama. Apakah hal itu berlaku global, karena dengan apa yang Ayah katakan tentang gadis itu, seolah prinsip maju bersama itu tidak berlaku untuknya. Padahal, dia satu bidang dengan perusahaan Ayah. Sudah pasti dia kompeten. Bagaimana jika ternyata dengan Ryan bersamanya, justru kami bisa membantu lebih banyak orang lagi?”
Ayah terdiam.
Kubawa mangkuk kosongku ke dapur untuk kucuci. Setelah itu aku pamit. Bertekad tidak akan kembali selagi orangtuaku masih memegang prinsip yang demikian.