Chapter 15 Renungan Biker

723 Kata
Ryan POV Masih jam 8 malam. Aku jalankan motor sambil merenung. Menjadi office boy memang murni pilihanku. Pekerjaan ini kupilih bukan karena aku tidak punya pilihan lain atau ini satu-satunya lowongan kerja yang bisa kuambil. Jika aku mau, tawaran menjadi model iklan masih sering mampir ke emailku. Saat kuliah, menjadi model pakaian, sepatu, atau atribut cowok lainnya menjadi salah satu sumber danaku. Awalnya iseng saja, tetapi karena hasilnya lumayan dan aku masih bisa memilih sesuai batas dan prinsipku, aku seriusi sepanjang 3,5 tahun kuliah. Setelah lulus, bahkan setelah jadi OB, beberapa kali masih kuterima dengan penawaran melalui email. Selagi tidak memeragakan produk berbahaya, aku oke saja. Aku bekerja sama dengan beberapa teman kuliah memulai bisnis kuliner dan perkopian. Ini juga menjadi passive income, karena aku sama sekali tidak bisa bergabung dalam operasional harian. Niatku sih, agar uang tabunganku tidak ngendon tanpa faedah. Ternyata hasilnya membanggakan. Meski mengijinkan aku tidak terlibat operasional, mereka tetap menuntutku menjadi brand ambassador gratisan. Biarlah. Amal. Di luar itu, aku masih punya sisa tabungan yang kugunakan untuk usaha lainnya. Diterima menjadi OB, aku fokus menjalani hari melelahkan 25 hari sebulan, dengan jatah cuti tahunan 14 hari. Syarat cuti tahunan ini, tidak boleh diambil di hari besar agama atau hari libur nasional. Orangtuaku tentu menentang absennya aku saat hari Raya, tetapi aku bisa memberikan kompensasi dengan membersamai mereka saat cuti di hari kerja. Asyik kan. Itu waktu ketika tempat wisata dan kuliner sepi, jadi kami benar-benar bisa quality time. Aku membiasakan diri tinggal di mes yang sangat sederhana. Hilangkan bayangan OB tidur di atas spring bed dengan bed cover tebal. Tempat tidur standar mes berupa tempat tidur susun dari bahan besi. Alas tidur kami kasur busa setebal 8 cm dan selimut garis seperti di rumah sakit. Meski kami boleh membawa selimut sesuai selera, tetapi ketiadaan AC membuatku memilih mempertahankan selimut garis itu. Kami memiliki almari pribadi yang imut dan muat baju lipat sekitar 15 potong. Aku masih bersyukur mes Happyland I bersih dan kami memiliki dapur dan ruang bersama. Kudengar di tempat lain, mes dan fasilitasnya jauh lebih parah. Sungguh aku menikmati hari-hariku sebagai OB. Banyak hal tentang rakyat jelata bisa kupahami karena aku mengalaminya langsung. Teman yang saling telikung demi keamanan posisi. Itu biasa. Dikadali teman yang suka mangkir kerja, itu tidak sering, tetapi tetap menyakitkan. Atasan yang sok kuasa dan merintah, banyak. Tante-tante genit pekerja yang menganggap kami juga bisa dibawa ke ranah pribadi karena umumnya OB tidak berani menolak perintah, ada. Ibu-ibu pengunjung yang jatuh cinta pada kami pada pandangan pertama, tetapi beralasan lagi nyari jodoh untuk anaknya, banyak. Berbagai masalah berhubungan dengan sampah dan kotoran, langganan. Kalau didaftar, panjang juga ternyata. Intinya, walau berat aku berusaha bertahan tetap suci dan bersih dalam situasi kerja di level bawah ini. Aku selalu mengingat niat awalku memasuki dunia kerja dari level ini. Memegang niat itu membuat hariku hidup. Sejak Amy bergabung di lingkungan Happyland I, hari-hariku terasa lebih hidup. Setiap pagi, setelah selesai tugas, aku sengaja ngadem di ruangannya yang pakai AC. Bukan buat macam-macam. Aku Cuma ngadem. Bonus menikmati pemandangan si Dia yang sedang sibuk dan serius. Sesekali Andri melibatkanku mengutak-atik aplikasi atau melayani pesanan online. Kami sering bertukar ide atau sekadar ngobrol tentang banyak hal. Mulai sepak bola sampai pecel di warung A. Tidak jarang, Amy turut bergabung dalam obrolan kami yang katanya tidak penting. Saat sore tiba, terkadang aku bisa mengantar Amy pulang ke kosnya. Itu kesempatan untuk menanyakan kenyamanannya di tempat kerja dan tempat kos. Dalam hal ini, aku punya tugas khusus dari Pak Tri agar Amy betah di tempat tinggal yang baru. Menurutku, Pak Tri punya metode yang bagus dalam menilai seseorang. Sejauh aku tahu, Pak Tri mewawancara sendiri calon pegawainya. Hasilnya, jarang sekali pekerja pilihan Pak Tri yang tidak professional pada tempatnya atau resign dalam hitungan bulan. Jika Pak Tri begitu memperjuangkan Amy agar bergabung dengan kami dalam kolaborasi bisnis ini, pasti ada yang istimewa dengan gadis ini. Armada kantor kolaborasi ada lima beserta sopir masing-masing. Di luar jam kerja armada itu, Amy belajar nyetir mobil. Ia sudah punya dasar kemampuan mengoperasikan motor cowok dan sudah pernah kuuji. Tinggal membuatnya berani turun ke jalan saja. Untuk belajar nyetir mobil, tinggal melatih kemampuan spasialnya. Hal lain, dia pembelajar cepat. Setelah empat sesi latihan, dia sudah mampu memutari area parkir kemudian parkir dengan rapi. Meski, ini belum sepenuhnya valid karena belum ada lawan. He he he.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN