Ryan POV
Tidak bisa kupungkiri, aku menyukai gadis itu. Walau usianya lebih muda beberapa tahun, tetapi kami nyambung. Aku suka karakternya. Aku suka penampilannya. Aku suka dia apa adanya. Aku berharap dialah yang akan menjadi tempatku pulang, menjadi ibu dari anak-anak kami. Hatiku terasa ringan setelah niat baikku tersampaikan.
Dia sepertinya tidak tahu aku sudah berkomunikasi dengan Bu Ana dan pamannya. Aku sudah menyelidiki latar belakang keluarganya. Bersih. Bahkan kakeknya masih memiliki gelar RM. Aku sudah pastikan pula silsilah keluarga kami yang menunjukkan kami tidak ada pertalian darah. She’s available for me. Jadi bibit, bebet, dan bobot yang bagaimana lagi yang harus kucari?
Malam itu masih terlalu dini untuk kembali ke mes. Lagipula, Andri menitip beras kencur untuk meredakan sakit perutnya. Aku tahu satu tempat yang menyediakan beras kencur dan kopi yang enak. Jadi sekalian saja aku mampir.
Aku duduk di sebuah gazebo tempat lesehan. Seorang gadis pelayan mengantar kopi dan beras kencur botol pesananku. Hari ini aku ingin kopi Vietnam, jadi sambil menunggu ekstrak kopi turun, aku membuka e-book. Tengah asyik membaca, telingaku menangkap suara yang selama ini sering kudengar ber-ah-uh pada jam istirahat dalam kantornya.
Suara itu masuk ke bilik tepat di belakangku, berbatas sebuah dinding anyaman bambu saja. Ia tidak sendiri. Sebuah suara pria lain bersamanya. Di depan gazebo mereka, ada dua pria tinggi besar dan botak berjaga. Bodyguard? Sejak kapan kepala divisi perlu pengawalan? Pak Tri saja tidak demikian.
“Aku hanya bisa menawarkan 20 persen nilai proyek kepadamu, Jak. Kamu tahulah bagaimana sulitnya atasanku.”
“Okelah. 20 persen. Soal gol, perjalanan wisata dinasku ini sudah pasti gol. Sudah ACC. Kamu tenang saja. Dua atau tiga hari lagi kita bisa bertemu di kantorku untuk kamu presentasi itinerary dan sebagainya. Jangan lupa, tulis angka yang benar. Kalau bisa, sehari sebelumnya sudah kamu kirim kepadaku. Mungkin bisa kubuat beberapa koreksi.”
“Siap, Bos Jaka. Anda bisa mengandalkan saya,” gurau Pak Doni. Mereka tertawa.
Kuangkat alat penyaring kopi. Kusesap hasil ekstraksi sambil mau tidak mau terus mendengarkan obrolan salah satu pentolan Happyland I itu. Setelah proyek deal, obrolan jadi ngalor ngidul. Sesekali, rasanya ingin kututup telinga ketika mendengar bagaimana ia mengomentari pegawai-pegawai perempuan di Happyland I.
Aku kenal teman-temanku. Aku tahu nama-nama yang dibicarakan Pak Doni itu. Selera Pak Doni standar banget, kalau tidak cantik secara wajah, ya paling tidak memiliki tubuh yang menarik. Secara aku sering menangkap basah nama-nama itu keluar dari kantor Pak Doni, aku ingat siapa dapat jatah di hari apa. Cerita Pak Doni pada temannya itu mengkonfirmasi ingatanku. Aku laki-laki normal dan paham soal seks meski secara teori, tetapi obrolan dua pria ini membuatku mual.
“Istrimu tidak pernah tahu? Jagoan.”
“Istri sih, asal jatahnya tidak berkurang, tidak ada masalah.”
“Nggak sekalian poligami saja huh?”
“Kamu pikir gampang. Lebih gampang seperti sekarang, main aman. Lagian cewek-cewek itu tidak nolak. Kadang malah terasa sekali berlomba meminta perhatianku. Kurang apa coba?”
“Dasar buaya. Bawaan bayi, sepertinya.”
Mereka tertawa.
“Ada satu cewek yang menarik sekali, tetapi masih belum tersentuh. Anak baru, datang dari luar kota. Cantik, tubuhnya bagus walau selalu ditutup dengan penampilan yang boyish, cerdas, dan attitude-nya baik. Kerjanya bagus, membuatnya semakin menarik. Aku jamin dia masih suci. Bakal berkesan sekali kalau bisa memberinya pengalaman pertama.”
Sungguh, kopi yang mestinya wahid ini menjadi hambar karena telingaku terpolusi. Aku tahu pasti siapa yang dia bicarakan. Segera kuhabiskan, lalu bangkit meninggalkan tempatku duduk. Sengaja aku bergeser ke ujung lain gazebo, sehingga tidak langsung muncul di samping para pengawal. Aku berjalan memutar sejenak melewati area lain, kemudian melangkah dari arah toilet, melewati deretan meja kursi. Harapanku, mereka tidak akan curiga aku telah mendengar obrolannya. Kedua pengawal itu tidak mengenalku walau salah satunya terasa tidak asing. Pak Doni jelas melihatku.
“Hei, Kunyuk. Kenal kafe juga kamu, ya?”
“Eh, Pak Doni. Selamat malam, Pak,” sapaku sambil menunjukkan botol-botol di tanganku, lalu kuteruskan langkah. Berlagak tenang seolah tidak tahu apa-apa. Aku keluar. Kunyuk, katanya?