Amy POV
Satu lagi hari yang sangat padat. Sejak pagi, aku melaksanakan rapat bersama Pak Doni, Pak Imam, dan Pak Hari tentang proyek perjalanan wisata bekerja sama dengan sebuah dinas. Sebagai humas, Pak Doni terlibat. Apalagi dialah yang menyambungkan Happyland I dengan dinas tersebut. Agar rapat yang lebih banyak terisi adu ego ketiga pria itu segera diakhiri, aku berjanji akan mengatur segala persiapan keperluan presentasi perjalanan itu. Nantinya, kami harus presentasi kepada Pak Tri dan pihak dinas.
“Beri saya waktu mempersiapkan, dua hari lagi kita presentasikan kepada Pak Tri.”
“Hm, bagus sekali, Nak. Sampai ketemu dua hari lagi. Kita atur presentasi jam 9 pagi di ruangan ini, ya,” ucap Pak Imam.
Kami mengangguk. Bubar. Syukurlah.
Perutku benar-benar lapar. Ini sudah jam makan siang, apalagi tadi pagi aku tidak sarapan. Kalau rapat kecil, apalagi yang mendadak dan seharusnya cukup berlangsung satu jam begitu, memang tidak disediakan minuman dan camilan. Aku mampir ke kantor travel, kemudian pamit kepada Juan, rekan baru. Kami akan bergantian makan, karena aku sudah lapar sekali. Juan mengerti.
Aku memilih menu nasi campur dan jus jambu. Tengah menikmati makananku, segerombol pegawai perempuan datang membawa bekal masing-masing. Mereka duduk di bangku yang terbatasi oleh lemari colokan listrik dariku. Aku bisa mendengar jelas obrolan mereka. Apalagi, suaranya memang rada kencang.
“Iya, menurutku dia memang ganteng. Kalau ada kontes kegantengan di tempat ini, dia juaranya. Tetapi tahu tidak sih kalau sama Bu Tri itu lho, ampun deh.”
“Kenapa dia?” beberapa suara melontarkan pertanyaan yang sama. Kekepoan langsung meningkat kalau membahas cowok ganteng. Siapa sih yang mereka bicarakan?
“Dari parkiran ke ruangan Pak Tri, dia menggandeng Bu Tri. Pandangannya itu mesra sekali. Waktu tiba di depan ruangan Pak Tri, pakai cium pipi segala. Bayangkan. Ternyata dia suka daun tua, Gaess. Apalah daya kita yang masih kencang begini.”
“Kamu tidak salah lihat?”
“Kalau bukan teman sendiri, aku tidak akan menceritakan ini. Aku tidak mau kalian terpesona olehnya, terperdaya, padahal aslinya dia membutuhkan hal lain. Kita ini perempuan, harus punya martabat. Jangan mau dipermainkan laki-laki.”
Salah satu anggota gerombolan itu terbatuk mendadak.
“Kamu kenapa, Reta?”
“Enggak. Aku beli minum dulu deh.”
Gadis yang terbatuk itu berlari ke kios minuman.
Aku mempercepat tempo makanku.
“Sayang banget, ya. Padahal aku naksir berat sama Ryan. Tetapi kalau dia lebih memilih yang sudah mapan sih, apalah daya. Aku mana level dibandingkan dengan Bu Tri.”
Mereka tertawa. Kugelengkan kepala. Ryan. Tidak ada Ryan lain di tempat ini.
Aku putar otak. Aku tidak melihat gejala seperti itu dalam family gathering. Saat itu malah Ryan sepertinya menghindari menguntit Bu Tri. Ryan juga tidak menyembunyikan muka sebal ketika Sang Ratu terlambat berkumpul. Gadis-gadis ini pasti salah.
“Aku masih heran saja sih. Cowok ganteng begitu, berada di tempat kerja dengan lautan bidadari seperti kita, kok masih sendirian saja. Dulu kupikir dia gay.”
“Ha ha ha. Ada-ada saja, kamu. Sekarang kita tahu apa yang dia tunggu. Jadi Gaess. Berhentilah mengejarnya. Berhenti cari-cari perhatian, minta digantikan, atau ngasih dia tugas ini dan itu. OB, Gaes. Biarkan dia memperbaiki nasib dengan caranya.”
“Misal dia tertarik sama kamu, kamu nolak walau kamu tahu hatinya terbagi untuk daun tua?”
“Emm…, ya …, sudah pasti aku terima sih,” jawab yang tadi berkoar.
Halah. Beda banget dengan anjurannya.
“Apa yang paling menarik dari diri Ryan?” tanya salah satu.
“Bibirnya, Mbak Bro. Menggemaskan.”
Aku terbayang senyum Ryan.
“Kalau aku lengannya. Jadi pengen bergayut di situ.”
Mereka tertawa. Aku teringat suatu momen ketika Ryan merapikan rambutnya.
“Aku suka lihat dia lari pagi.”
Aku nggak pernah lihat. Yang kuingat, punggung lebarnya saat memboncengku atau langkahnya setiap kami bertemu.
“Beneran pernah lihat?”
Tuh kan aku tidak sendiri.
“Coba deh sesekali bangun pagian. Datang ke sini sebelum jam 6. Bisa lihat dia lari pagi dengan hanya pakai boxer dan kaus buntung. Kebayang dong. Kayaknya itu perut juga kotak-kotak deh.”
“Aihhh,” pekikan aneh meluncur dari mulut mereka.
Aku pikir sudah cukup. Makanan dan minumanku juga sudah tandas. Pelan kutumpuk piring dan gelasku, kuletakkan di meja alat makan kotor. Tanpa suara aku melangkah meninggalkan kantin. Aku bergidik mengingat pembicaraan mereka. Aku lebih bergidik lagi mengingat aku pernah terpaku saat Ryan mengusap rambutnya sambil senyum. Yahh, bibir, lengan, dan d**a itu ….
Tiba di kantor, Ryan sedang asyik mengobrol dengan Juan di kursi tamu. Tanpa bisa kukendalikan, pipiku memanas. Aku masih terbayang obrolan gadis-gadis tadi dan pemandangan waktu dia mengusap rambutnya kapan hari.
“Nah, dia sudah kembali. Mas Ryan tidak makan siang?” tanya Juan.
“Aku sudah makan, Ju. Kamu saja.”
Juan melesat, sementara aku termangu di pintu. Ah, tidak. Semangatku, jangan hilang dahulu. Aku memerlukanmu untuk menyelesaikan persiapan presentasiku. Aku melangkah ke mejaku, lalu menggeser mouse.
“Ada kerjaan, Am?” tanya Ryan.
Kuanggukkan kepala.
“Semoga sukses untuk proyek pertamamu bersama klien kita. Aku ijin ngadem di sini, ya. Aku tidak akan mengganggumu.”
Kuanggukkan kepala memaklumi. Ruang istirahat OB dan mes mana ada AC.
Ryan membuka sebuah majalah wisata, lalu mulai membaca. Beberapa kali, aku melihatnya menghabiskan waktu kosong dengan membaca buku fisik, lebih sering e-book.
Aku tenggelam dalam presentasiku.
Juan dan Andri kembali bersamaan. Mereka berdiri heran menatap kami berdua saling berdiam diri.
“Kalian marahan?” tanya Andri.
Aku dan Ryan menatap Andri, lalu saling berpandangan.
“Amy ada DL, Ndri. Harus gercep dia. Mana berani aku mengganggu,” jawab Ryan.
Aku kembali menatap layar.
Andri mengangkat bahu, lalu duduk di meja komputer satunya. Juan duduk di kursi tamu, mengelus perutnya. Ryan menatapku, lalu kembali ke majalah.
“Ju, sini deh,” panggil Andri sambil melihat layar komputer di meja mereka. Juan mendekat. Lanjutlah pertengkaran harian Juan versus Andri tentang bagaimana teledornya Juan menangani email. Ryan menatap mereka sambil tersenyum. Biasanya, kalau Juan dan Andri bertengkar, Ryan menjadi penengah.
Aku suka senyum itu, tetapi aku sedang sibuk. Lagipula, entah bagaimana senyum itu mengingatkanku kepada Bu Tri.