Chapter 19 TRUST

1220 Kata
Amy POV Sudah jam 3 sore, mengapa Andri belum juga kembali. Aku tidak mungkin meninggalkan kantor dan menitipkannya kepada Ryan. Seperti biasa, usai shif-nya, dia numpang ngadem di kantor kami. Meski aku yakin dia tidak akan keberatan, tetapi aku tidak mau membuatnya sibuk di jam istirahat. Pintu kantor dibuka. Seorang ibu masuk bersama anak kecil yang pakai rok tutu. Aku sudah hendak bangkit menyambut, ketika Ryan menahan bahuku. “Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa membantu,” ucapnya, lalu berdiri, “Selamat sore, Ibu. Bisa dibantu? Silahkan duduk, Bu.” Ibu itu duduk di depan Ryan, memangku anaknya. “Saya membaca penawaran paket perjalanan wisata yang kalian tawarkan. Saya tertarik. Kebetulan kami sedang menginap tiga hari di kota ini.” Ryan melayani ibu tersebut dengan baik. Ia sangat paham program-program kami. Bahkan mengoperasikan komputer untuk pelayanan dengan lancar. Lima belas menit kemudian transaksi selesai dibayar di muka untuk dua armada mobil selama dua hari. “Saya akan senang sekali kalau Mas Ryan juga yang mengawal kami jalan-jalan.” “Ah, tawaran yang sangat menarik, Ibu. Tetapi saya ada tugas lain. Maafkan saya.” Si Ibu tertawa. Ia pamit sambil membawa lembar bukti transaksi. “Oke, sekarang Amy percaya kalau OB itu serba bisa,” ucapku. Ryan tertawa. “Ingatlah sejak awal aku membantu kalian. Aku sering menunggui Andri ngerjakan ini, makanya aku lancar saja makainya. Bukan hal besar.” “Tetapi hingga deal transaksi? Mas Ryan berbakat. Kupikir aku dan Andri tidak perlu dua tahun harus tinggal di kota ini untuk membuat kantor settled.” “Apa maksudnya dua tahun?” “Kesepakatan Bos dengan Pak Tri, memberi kami waktu dua tahun untuk membangun kantor cabang ini, membuat program, dan menyiapkan lainnya. Kalau Mas Ryan sudah demikian handal, kan layak memimpin kantor ini. Amy bisa pulang.” Ryan menatapku. Lama sekali. “Tidakkah kamu senang tinggal di sini?” tanyanya. Aku terpaku. Sepasang mata Ryan meredup. “Pertimbangkanlah lagi, Am. Hidupku jadi lebih hidup saat kamu datang. Sekarang aku tahu apa bagian yang tidak lengkap.” Aku menunduk. “Amy, apakah ada yang salah denganku?” Kugelengkan kepala. “Aku melihat kamu merasakan apa yang kurasakan terhadap kita. Tetapi beberapa hari ini, kamu jaga jarak. Ada apa?” “Tidak ada apa-apa. Ehm, Mas Ryan tadi sempat mendengar penjelasan Pak Doni?” Ryan mengangguk. “Amy ngerti tarif. Sebelumnya juga sudah pengalaman ngantar rombongan ke pulau itu. Budgeting yang ditunjukkan Pak Doni aneh.” Ryan menghela nafas. Seperti ada beban yang disimpannya. “Amy, sebagai OB, aku sering berada pada situasi seperti tadi. Aku juga tidak luput melihat hari-hari pegawai di berbagai level. Tidak semua orang jujur. Ada oknum yang senang melakukan kecurangan kerja. Yakinlah, bahwa situasi ini tidak hanya ada pada kami di tempat ini, tetapi juga banyak tempat lain.” “Amy juga sering menangani budgeting layanan, Mas. Tidak pernah begini.” “Bersyukurlah jika markasmu menganut pola bersih seperti itu. Pak Tri, sejauh aku tahu juga berusaha membuat sistem yang bersih. Tetapi itu tadi, ada oknum yang suka main di bawah tangan. Jaga saja dirimu baik-baik. Niatkan bekerja dalam garis yang benar. Insya Allah akan selalu terjaga. Doakan juga masih banyak orang-orang bersih di sekitar kita.” Kutatap mata Ryan yang kembali teduh. Aku senyum. “Apa maksud senyuman itu?” tanya Ryan. Pipiku panas. “Dalam banyak hal, Mas Ryan rasanya dewasa sekali. Pintar membawa diri. Sangat pede. Dulu sekolah di mana sih? Sehari-hari makan apa?” Kami tertawa. “Aku suka membaca buku-buku tentang Human Resource dan filsafat.” Ryan menunjukkan layar HP-nya yang memuat sebuah judul buku filsafat. Kuangkat alis. “Apakah pintar merayu juga dari hasil membaca buku-buku semacam itu?” tanyaku lalu segera kututup mulut dengan tangan. Ryan menatapku intens. “Apa itu? Siapa yang kurayu?” “Eh ….” “Jujurlah, Amy. Apakah itu yang membuat kamu menjauhiku beberapa hari ini?” Kuremas jariku. Ah, kenapa kelepasan sih? “Amy mendengar obrolan gadis-gadis pekerja yang lain. Mereka melihat Mas Ryan begitu mesra dengan Bu Tri. Mereka ….” “Ah, menuduhku suka wanita tua yang sudah mapan. Aku simpanan Bu Tri, begitu?” Kuanggukkan kepala. Ryan tertawa pelan. “Amy, Bu Tri menganggap kami para OB sebagai anak angkatnya. Tidak hanya padaku, kepada yang lain juga semesra itu. Memangnya wanita seumur itu sanggup melayani kami dua belas anak muda?” “Mengapa hanya pada OB?” “Mungkin karena OB adalah level terbawah dari semua jenis pekerjaan di tempat ini?” tanya Ryan. Kuhela nafas. Aku belum pernah menyaksikan peristiwa itu. Jadi, aku tidak tahu. Yang jelas, dibandingkan dengan gadis-gadis itu, aku lebih percaya omongan Ryan. “Amy, orang-orang suka membicarakan keburukan kita. Tetapi yakinlah dengan hatimu. Lihat dengan dirimu sendiri secara obyektif. Apa kamu percaya aku bakal mencari muka atau memanfaatkan istri atasanku untuk kepentingan pribadi?” Kugelengkan kepala. “Kalau ada gadis pekerja yang mengaku kurayu, seharusnya mereka ngaca atau segera bangun dari halusinasinya. Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Aku menghormati wanita, Am. Aku tidak akan main-main dengan perasaan mereka apalagi memberi harapan kosong. Jika aku tidak memiliki kecenderungan kepadanya, aku jaga jarak.” “Jadi, gadis mana yang pernah dekat dan berpotensi menyatakan dirinya pernah Mas rayu?” tanyaku. “Ada satu gadis, tetapi aku yakin gadis itu tidak akan menyebarluaskan bagaimana kedekatan kami.” “Bagaimana Mas yakin?” “Aku mengenalnya. Karakternya itu yang menjadi alasanku dekat dengannya.” “Tetapi mereka membicarakan itu.” “Jelas, gadis itu bukan golongan mereka.” “Ow. Amy penasaran siapa dia,” ucapku. Ryan tertawa. “Mau tahu siapa dia?” tanyanya. Aku jadi tidak yakin. Apa gunanya mengenal mantan Ryan. Yang ada, mungkin malah melukainya dan diriku sendiri. Kuangkat bahu, lalu kugelengkan kepala. *Apa? Menyakiti diriku sendiri? Aku ngomong apa sih? “Karena kamu tadi sudah menunjukkan kekepoan, aku akan sebutkan namanya.” Oh no. Aku jadi tidak ingin mendengarnya. “Udah, Mas. Nggak usah. Amy nggak kepo kok,” kataku seraya mengalihkan pandangan ke layar. “Aku maksa. Namanya … Amylovea Denandra.” Aku terpaku. Aku menuduhnya main-main dengan banyak gadis, padahal akulah satu-satunya yang pernah dia dekati. Aku merasa sangat bersalah. “Maafkan Amy,” ucapku. “Never mind.” Ryan membereskan berkas-berkas di meja seolah kami tidak baru saja ngobrol serius. Ia berjongkok untuk memasukkan berkas itu ke laci yang oleh Andri sengaja disembunyikan di kolong meja. Aku kembali sibuk menyiapkan bis. Pintu terbuka. “Amy, Cantik, tolong kirim lagi file presentasimu ke nomor WA saya.” “Siap, Pak.” “Amy. Beneran. Kamu sangat cantik, apalagi saat presentasi tadi. Saya ingin mengenal kamu lebih dekat. Mau makan malam bersama saya?” “Saya sudah ada janji, Pak. Maaf.” “Oh, iya. Tidak apa-apa. Mungkin besok makan siang? Saya bisa memesan makan siang istimewa, kita makan bersama di kantor saya. Datang, ya.” “Besok siang saya ada jadwal, Pak. Maaf.” “Oh, Amy. Saya belum beruntung rupanya.” Pria itu mengedipkan sebelah mata kepadaku. Mulutnya mengerucut membentuk ciuman, pakai bunyi pula. “Aku tunggu ya, Amy.” Aku bernafas lega saat Pak Doni keluar. Tetapi tak urung badanku gemetaran. Serangan semacam ini masih terasa menakutkan. Ryan bangkit dari kolong meja. “Apa itu tadi?” Aku masih menggigil. Kurasakan tengkukku menebal, bahkan kulit lenganku ikut merinding. Ini lebih menakutkan dari kemungkinan bertemu hantu. “Ngeri. Sejak tahu nomor Amy, ia sering menelepon mengatakan rayuan-rayuan gombal. Biasanya kubiarkan bicara sendiri. Aku tinggal HP mengerjakan hal lain. Ia sering mengirim video-video tidak pantas. Mungkin saat proyek ini selesai, Amy akan blokir nomornya.” Ryan menggeser duduknya menghadapku. Tatapannya sangat intens selagi ia memutar kursi kerjaku agar aku menghadapnya. “Am, bukan aku mau menakutimu atau menjelek-jelekkan atasanku. Tetapi hati-hatilah dengan pria itu. Jaga dirimu baik-baik. Hindari berduaan saja dengannya.” Kuanggukkan kepala. Nada bicara Ryan seolah dia tahu banyak hal. Kalau dia yang bicara, aku percaya. Tetapi, apakah sebahaya itu? Aku jadi takut. Ryan memberiku senyum menenangkan, sementara tangannya menepuk puncak kepalaku. Tidak perlu dikatakan, aku tahu dia akan menjagaku sebaik-baiknya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN