Malam itu, hari terakhir sebelum Amy mengantar rombongan dinas tur ke pulau sebelah. Ryan mengajak makan malam lalu mengantar Amy pulang. “Ryan masih menunggu jawabanmu, Am. Tolong pertimbangkan tawaran Ryan. Jangan hanya menemani Ryan selama dua tahun.” Amy menganggukkan kepala. “Mas Ryan kan tidak bisa meminta seseorang untuk menikah begitu saja. Bagaimana jika ternyata kita masih saudaraan atau ternyata punya hubungan darah?” Ryan tersenyum. “Maaf, tanpa ijinmu aku berkenalan dengan Bu Ana. Beliau mengenalkan aku dengan pamanmu. Kami sudah membicarakan keluarga kita. Bisa kupastikan kita tidak punya hubungan darah, setidaknya hingga tujuh generasi sebelum kita. Entah di atas itu. Paman dan Bu Ana mendukung, asal kamu bersedia menikah dengan OB sepertiku.” Amy menarik nafas dalam-

