Amy POV Bagaimana rasanya masuk kerja dengan meninggalkan dua orang istimewa di rumah sakit? Tanyakanlah padaku. Akan kujawab bahwa rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku tidak bisa fokus, selalu terpikir kondisi mereka. Ditambah lagi, mereka tidak pakai gawai karena telah dirusak oleh kedua pria botak. Satu-satunya yang memberiku kabar tentang keduanya hanya Adam. Itupun jika kutanya. Aku berusaha menyibukkan diri dengan laporan bulanan, selagi transaksi sepertinya sudah tidak akan ada lagi selewat jam tiga sore begini. Juan sudah pulang setelah jatah shift-nya habis. Sendirian di kantor itu rasanya sepi sekali. Aku jadi merindukan obrolan tidak penting Ryan dan Andri bila mereka berada di sini. “Sore, Amy. Serius sekali kelihatannya?” sapa Pak Doni sambil melangkah mendekati mejaku.

