Ryan POV
“Mau dibantu cari oleh-oleh, Mas?” tanyanya.
Kugelengkan kepala.
“Tidak ada yang perlu kubawakan oleh-oleh, Am. Lebih baik …,” kubuka tasku. Kukeluarkan amplop uang saku yang sudah kembali kututup rapat. Kuserahkan amplop itu kepada Amy.
“Ini gaji Mas Ryan?” tanya Ami kemudian menelan ludah.
Kugelengkan kepala sambil memasang senyum.
“Tidak. Itu jatah uang saku dari Happyland Grup karena aku memenangkan undian,” ucapku.
Amy masih menatapku menanti penjelasan.
“Ini acara tahunan di tempat kerjaku. Setiap gathering khusus atasan seperti ini, ada undian yang dibuka bagi kami-kami para OB dan pegawai rendah lainnya. Hadiahnya akomodasi gratis dan uang saku. Tahun ini ada penurunan sih, hanya perjalanan sehari. Tahun lalu mereka ke Bali tiga hari lho.”
Amy tersenyum, tetapi matanya masih terlihat ragu.
Aku minum es Jahe Merah lagi, lalu menatapnya dengan intens.
“Amy, aku menang undian itu dengan adil dan jujur. Uang ini sah milikku, boleh kugunakan untuk apa saja. Jujur juga, kegiatan ini mendadak jadi aku tidak punya persiapan dan keinginan apa-apa. Kamu sudah kudongengi tadi bahwa kemarin malam aku masih bekerja hingga larut. Jadi, aku sudah menikmati refreshing di Tanah Kebar tadi. Sudah makan enak di pinggir sawah. Sudah menikmati alam yang indah. Itu sudah cukup bagiku. Yang ini, akan lebih bermanfaat bagi adik-adikmu.”
Kudorong amplop lebih dekat ke tangan Amy.
Amy menatap amplop itu.
“Apa kamu juga selalu ragu-ragu begini ketika donator menyerahkan bantuannya?”
Amy mengangkat muka. Ia menatap kedua mataku bergantian. Kupasang senyum. Perlahan, senyum Amy merekah.
“Biasanya, donator menandatangani surat pernyataan dan menerima bukti donasi.”
Amy membuka tasnya. Aku segera berdiri dan menahan tangannya. Dengan canggung, Amy menarik tangannya. Aku juga segera sadar diri.
“Kamu bantu tuliskan saja bahwa ini dari hamba Allah,” ucapku, “cukup kamu dan Allah yang tahu.”
Amy menunduk sambil memegang tangannya yang tadi kusentuh. Aku terkesiap melihatnya gemetar.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku.
Amy menarik nafas lalu segera menguasai diri kembali.
“Jadi, sebagai perwakilan dari Panti Asuhan Tunas Bangsa, Amy menerima bantuan dari hamba Allah ini bagi adik-adik penghuni panti. Allah akan mengganti ini dengan rejeki berlipat ganda dan catatan amal baik yang insya Allah menjadi pembuka pintu surga kelak. Semoga hamba Allah itu dapat bekerja dengan baik dalam profesi yang dijalankannya. Semoga tahun depan bisa naik jabatan,” ucap Amy dalam sekali tarikan nafas.
Aku pasang senyum terbaikku.
“Aamiin.”
Amy mengambil amplop di depannya. Sempat diangkat seolah menyatakan amplop itu sudah sah bakal menghuni tasnya untuk sementara. Aku mengangguk dan membuka tangan mempersilahkan.
“Seberapa menantang kehidupan di panti asuhan?” tanyaku.
“Apa ukurannya menantang?”
“Banyak cobaan, respon lingkungan, pertemanan dengan sesama penghuni panti dan teman di luar panti, sikap para pengurus, semacam itu.”
Amy menghela nafas. Matanya menerawang, seolah perlu memikirkan baik-baik apa saja yang akan dia presentasikan.
“Jika kamu keberatan, maafkan kelancanganku menanyakan hal ini.”
Amy tersenyum.
“Saat kecil, tentu Amy dibuai mimpi bahwa akan ada keluarga yang membawa Amy keluar dari sana, menyayangi dan membesarkan Amy dalam sebuah rumah yang hangat. Panti asuhan kami hangat, tetapi kan tetap saja berbeda. Lima ibu untuk hampir tiga puluh anak sepanjang Amy tinggal di sana. Itu perbandingan yang lumayan, apalagi usia anak sangat bervariasi. Bisa dibilang, sebagian dari kami dewasa lebih cepat karena menyadari ada adik-adik yang membutuhkan perhatian.”
Amy menatapku. Kuanggukkan kepala.
“Ibu-ibu pengurus sangat baik dan sayang kepada kami. Mereka rata-rata adalah janda atau wanita yang memilih tidak berkeluarga, jadi bisa sepenuhnya mengurus kami. Mereka pula yang berjuang mencarikan donasi, sehingga kebutuhan hidup kami semua tercukupi. Saat Amy mulai besar, kami diajari untuk membantu berkomunikasi dengan donator. Kami memang butuh bantuan, tetapi kami diajarkan untuk tidak mengemis menjual kesulitan hidup kami. Jadi, kami punya produk yang bisa dijual. Tentu tetap saja ada donator yang sukarela membantu. Banyak pula lembaga pendidikan yang memberikan donasi berupa sekolah gratis bagi kami. SD dan SMP Amy bisa dilalui dengan memanfaatkan beasiswa ini. Waktu SMK, baru Amy mencari donator untuk membiayai sekolah. Syukurlah ada yang bersedia.”
Kuanggukkan kepala. Kutatap wajah Amy. Ia menatapku, lalu pipinya bersemu merah.
“Kenapa melihat Amy seperti itu?” tanyanya.
Ganti pipiku yang memanas.
“Ryan berharap, kita masih bisa bertemu kembali. Boleh?”
Amy tersenyum. Mengangguk. Apa yang dilakukannya spontan menarik senyumku.
“Kamu tidak keberatan dengan status seorang OB kan?” tanyaku.
Amy tertawa pelan.
“Amy juga guide. Kalau kita telusuri silsilah perusahaan, kira-kira level kita sama. Pekerja lapangan,” ucap Amy.
Aku ikut tertawa.
“Seberapa menantang kehidupan sebagai OB?” tanyanya.
Kuangkat kedua alisku.
“Di tempat kami, OB menetap di salah satu divisi setidaknya selama satu tahun. Tahun ini, aku bertugas di kantor staf. Yah, begitu. Tiap hari harus sudah tiba di TKP jam 6 pagi, buka pintu, pegang sapu dan pel, dan mengulang pekerjaan itu di akhir shift. Terkadang, jika ada rapat, bertugas juga membuatkan minuman, lalu mengantar minuman dan camilan ke ruang rapat. Tantangannya, mungkin kepada terkadang tidak sengaja mendengar hal-hal yang tidak patut kudengar, tetapi harus tutup mulut dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa.”
Dalam kepalaku, membayang desah dan erangan dari ruang pak Doni pada jam istirahat atau setelah jam kerja usai.
“Kenapa saat menceritakan bagian akhir itu, wajah Mas Ryan jadi aneh?” tanya Amy.
Aku tertawa. Ketahuan.
“Yah, gitu deh. Di tempat kerja kita ketemu banyak macam karakter manusia. Ada yang putih banget, ada yang hitam, ada juga yang abu-abu. Bahkan ada yang di depan tampak putih, belakangnya hitam. Kalau ingin bertahan, ya harus pinter-pinter membawa diri agar tidak tercoreng warna-warna yang tidak bener.”
“Jadi curiga dengernya,” seloroh Amy.
Kami tertawa.
“Memang kalau di kantormu tidak begitu?” tanyaku.
“Mungkin beda ritme, ya. Kalau model kerja Amy kan banyak di lapangan. Paling ke markas kalau laporan, ngumpul sebelum berangkat, sama pas ada rapat saja. Lagian, selama ini sepertinya Amy tidak pernah ada hari kerja yang bolong dari jadwal nge-guide. Jadi enggak tahu bagaimana sehari-hari para petugas di belakang meja.”
“Yahh, semoga enggak harus lihat seperti apa yang aku lihat, deh.”
Amy tertawa. Ia menengok jam tangan.
“Sudah waktunya turun,” ucapnya sambil menghabiskan minuman.
“Amy,” ucapku. Kulepas gelang tali berwarna hitam yang setia menemaniku sejak SMA. Kuserahkan padanya.
“Remember me,” ucapku sambil melebarkan ukuran gelang, kupakaikan ke tangannya, lalu kukencangkan lagi secukupnya. Amy terpaku. Ia menatapku saat kuhabiskan minumanku. Aku berdiri. Kuanggukkan kepala sambil memberinya senyuman terbaikku.