Ryan turun dari bis sebagai orang terakhir. Ia menatap bangunan toko super besar dari balik kacamata hitamnya. Ryan menghela nafas.
Cowok yang satu ini memang anomali. Ia tidak hobi selfi. Ia tidak hobi belanja. Jadi, sebenarnya ngapain ikut family gathering? Sepertinya juga tidak bisa refresing, selain cuma untuk outbond bersama ibu-ibu alay, melihat sungai, memandikan kerbau, dan main layangan di sawah.
Saat peserta tur menyerbu toko oleh-oleh super besar yang katanya surga belanja ini, Ryan lebih tertarik menguntit langkah Amy. Ryan berpikir bahwa Amy sejenis dengan dirinya. Bukan dalam artian gender, ya. Tetapi dalam pola pikir terkait belanja. Selain sudah pasti Amy tidak perlu membeli oleh-oleh apapun, toh ia warga kota ini.
Setelah salat di musholla, Amy melangkah menaiki tangga di depan toko, yang bertuliskan kafe Kebar. Kaki panjangnya langsung menuju ke resepsionis, ia memesan Es Jahe Merah. Tanpa menyadari kehadiran Ryan yang menguntitnya, Amy melangkah ke bagian teras kafe. Lokasi yang tepat untuk mengawasi bis sekaligus menghirup udara segar dan menikmati pemandangan.
Ryan mengikuti teladan Amy memesan Es Jahe Merah. Ryan menunggu minuman disiapkan dengan duduk di depan meja resepsionis. Saat sudah siap disajikan, Ryan langsung mencicipi. Ternyata rasanya memang enak.
“Biar saya bawakan sekalian milik teman saya ini, Mbak.”
Ryan membawa serta pesanan Amy. Gadis yang melayani Ryan menatap kedua tamu itu bergantian, lalu tersenyum maklum.
Tiba di dekat pintu menuju tempat duduk Amy, Ryan berhenti melangkah. Ia menajamkan telinga, karena mendengar Amy berbicara melalui telepon. Suara Amy khawatir. Jelas terdengar dialog sepihak tentang beras habis, janji membawakan beras, dan doa semoga mendapat donator. Ada sesuatu dengan gadis ini. Ryan memilih tetap berdiri membawa dua gelas es, mungkin harus menunggu hingga Negara api menyerang.
Syukurlah penantian itu tidak berlangsung lama. Setelah mengakhiri hubungan telepon, Amy termenung. Setitik air nampak hampir jatuh dari sudut matanya. Ryan menggunakan kesempatan itu untuk segera meletakkan gelas es di depannya.
Amy terlonjak. Matanya melebar menatap Ryan, lalu segera memalingkan muka. Gerakannya pelan menghapus air mata.
Desau angin disertai hembusan lembut menebarkan ujung rambut Amy hingga melambai ke arah bahu kirinya. Kedua manusia nampak tidak menggubris angin itu. Suara lalu lintas di jalan depan toko bagi mereka nihil, karena yang ada hanya Ryan, Amy, dan Tuhan. Perlahan, Amy memutar kepala kembali menghadap Ryan.
“Maaf, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu,” ucap Ryan.
Amy bangun dari keterkejutannya. Ia tersenyum, walau terlihat dipaksakan. Anehnya, terlihat cantik. Ryan nampak tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah di depannya.
“Jadi, Amy tinggal di panti asuhan? Mm, maaf jika pertanyaan ini menyinggung kamu, tidak usah dijawab tidak apa-apa. Kita obrolkan hal lain saja,” kata Ryan.
“Dulu. Setelah usia Amy 18 tahun dan sudah bisa mandiri, Amy tinggal di rumah kos. Tetapi kami tetap saling kontak. Amy tetap menjalankan tugas sebagai bagian donasi. Tidak apa-apa, Mas. Amy tidak menganggap menjadi anak panti asuhan itu sebuah aib, kok. Kami bukan anak-anak tidak berguna atau anak haram.”
“Aku jelas bisa melihat itu,” ucap Ryan.
Amy tersenyum. Ia bercerita bahwa kedua orangtuanya meninggal saat ia masih TK. Amy kehilangan segalanya. Keluarga orangtuanya tidak ada yang peduli. Ada satu paman yang sebenarnya peduli, tetapi kondisi keluarganya sangat miskin. Tambahan tanggungan satu anak sangat memberatkan. Pamannya sudah tidak sanggup lagi, sehingga dengan terpaksa sang paman membawa Amy ke panti asuhan.
Ryan manggut-manggut menunjukkan bahwa ia paham jika semangat Amy untuk mandiri sudah membara sejak kecil. Selama tinggal di panti, Amy rajin membantu pengasuh, membawa dagangan ke sekolah, hingga pekerjaan lain yang sanggup dilakukan anak seusianya. Amy memilih sekolah di SMK Pariwisata agar setelah lulus ia sudah bisa disebut ahli dalam sebuah bidang kerja. Sejak PSG, Amy telah mengantongi ikatan kerja dengan travel tempat ia bernaung hingga saat ini. Dengan cara ini, Amy bisa menabung dan mulai mandiri. Tidak masalah ia pindah ke rumah kos setelah lulus ujian.
“Mungkin nanti setelah Mas Ryan dan rombongan pulang, Amy akan langsung mendatangi beberapa donator untuk mencarikan dana bagi adik-adik,” tutupnya.
Ryan menghela nafas, sementara Amy minum es melalui sedotan.
“Tidak lelah, ya, mengasuh kami berlimapuluh orang?” gurau Ryan.
Amy tertawa.
“Sudah biasa, Mas. Paling ya hanya bisa ke dua atau tiga donator. Kalau sudah sangat lelah, ya pulang. Jika kebutuhan adik-adik masih belum tercukupi, bongkar tabungan. Insya Allah ada gantinya.”
“Aamiin,” sahut Ryan.
Amy tersenyum.