Chapter 5 PASAL SATU

1693 Kata
Amy POV Sepanjang karirku sebagai tour guide, aku sudah hafal bahwa dalam setiap grup wisata seperti ini selalu ada ratunya. Biasanya, sang Ratu adalah sosok yang paling suka mengatur, sekaligus paling sulit diatur. Pasal satu banget pokoknya. Giliran orang lain salah, dia paling heboh memarahi. Giliran dia yang salah, selalu ada alasan pembenaran. Uniknya lagi, sang Ratu tidak selalu pejabat tertinggi atau yang tertua dalam sebuah tim. Tidak jauh berbeda dengan ibu Tri dalam Gathering Happyland I ini. Seluruh peserta sudah duduk manis di tempat masing-masing. Bis sudah siap berjalan, ketika pak Tri sadar istrinya belum muncul. Kursi milik ibu rekan selfi bu Tri juga masih kosong. “Hadeuhh, nyangkut selfi di mana lagi istri saya itu?” gumam Pak Tri. Aku dan TL tertawa. Ke-4 OB beranjak hendak membantu kami mencari, termasuk mas OB ganteng itu. Kuhadang mereka dengan manis. “Sudah, Mas. Biar kami saja. Saya ada di grup pengelola Tanah Kebar. Insya Allah mudah mencari informasi di mana Bu Tri terlihat. Lagipula Mas-nya kan tidak hafal tempat ini. Nanti kalau nyasar malah nambah DPO-nya,” ucapku sambil senyum. Pria-pria muda itu saling berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu. Mereka sadar diri, rupanya. Aku dan TL turun bis. Dari grup WA pengelola Tanah Kebar, aku mendapat informasi bahwa Bu Tri terlihat di butik milik Bu Tika, spesialis batik ecoprint desa ini. Kami segera melangkah ke sana melalui jalan pintas di belakang rumah warga sekaligus belakang pasar. “Mbak Amy, ayo mampir. Makan nasi kuning dulu.” Aku menoleh. Kulihat Bu Mardi mengangkat piring untuk menunjukkan menu nasi kuning lengkap di dalamnya. Bagian depan rumah bu Mardi adalah warung di pasar tradisional. Bagian belakang rumahnya adalah dapur merangkap keperluan keluarga beliau. “Terima kasih, Bu. Maaf, sedang nyari klien.” “Peserta nyasar?” “Sepertinya nyangkut, Bu.” Bu Mardi tertawa. Sosok janda tujuh anak yang rambutnya telah perak 100% itu selalu memintaku mampir mencicipi masakannya. Beberapa kali ia juga menawariku menikah dengan anak laki-lakinya. *Haish. Ayo fokus. Butik Bu Tika memilih bahan bambu sebagai interior maupun eksteriornya. Bahkan manikin dan segala peralatannya menggunakan bahan yang sama. Agar lebih gaul, untuk manikin bahan bambunya dicelup cat warna-warni. Jadi tekstur dan kondisi asli bambu tetap terlihat, tetapi warnanya tidak melulu hijau, kuning, atau cokelat. Bu Tika fokus pada batik ecoprint, hanya saja belum memiliki sumber daya yang cukup untuk membuka kelas atau membuat produksi massal. Sesekali saja bu Tika mengisi acara dengan dibantu ibu-ibu PKK yang sedang tidak bertugas di divisi lain. Masalahnya, Bu Tika tinggal sendirian saja, tanpa pasangan, tanpa anak, dan tidak ingin mengadopsi. Kulihat kedua peserta tur tengah asyik mencoba kalung batik. Di lengan masing-masing tertenteng beberapa lembar kain batik terpilih. “Bu Tri, kalungnya bagus-bagus kan?” sapaku. Bu Tri dan temannya menoleh. Temannya menengok jam tangan. Keduanya berpandangan dan meringis malu. Mereka segera memilih beberapa kalung, lalu menuju kasir. Aku menelepon Pak Sopir untuk memberitahukan bahwa kedua peserta tur kami sudah ditemukan. Mohon ditunggu karena mereka masih melakukan pembayaran. Di belakang Pak Sopir kudengar gumaman kecewa berkepanjangan. Aku tutup telepon sambil senyum. Pastinya mereka mengeluh ketika sang Ratu belum muncul, tetapi yakin deh keluhan itu tidak akan pernah terucap di depan beliau, bahkan nanti ketika beliau muncul di bis. Kami arahkan beliau berdua lewat jalan pintas, walau tadinya ngotot menolak. Mereka masih ingin melewati jalur normal melalui pasar tradisional. Sudah pasti nantinya bakal nyangkut-nyangkut lagi. Pasal satu digunakan, tetapi kami tidak bisa toleransi keterlambatan lebih lama lagi. “Setelah ini kita ke toko oleh-oleh yang lebih menarik, Ibu. Produk yang dijual di pasar tradisional ini juga bisa diperoleh di sana,” jelasku. “Mbak, saya tadi belum sempat berfoto di depan kios penjual Tahu Lontong yang warna ijo itu. Warna favorit saya,” argumen Bu Tri. “Lho, berarti ibu-ibu tadi sudah ke sana, ya? Bagaimana, Bu? Sudah mencoba makanan apa saja?” tanyaku seraya menggandeng lengan Bu Tri sambil berjalan melewati papan petunjuk menuju pasar tradisional. “Ya banyak, Mbak. Sampai kenyang banget. Mbak Amy tadi ke mana? Mau diajak makan cenil sama-sama, kok malah menghilang.” “He he he. Saya tadi mengantar Pak Tri mampir ke sumber air, Bu. Beliau ingin mengisi ulang botol air.” “Lho, iya, tah. Pak Tri sudah di bis?” “Sudah dari tadi, Bu,” jawab TL. Kami tiba di dekat rumah Bu Mardi. Beliau sudah menunggu kami di belakang rumahnya. “Ya sudah. Kalau tidak sempat mampir, mbak Amy bawa pulang saja. Bisa dimakan di rumah kos.” Bu Mardi menyerahkan kantong kertas berisi dua bungkus nasi kuning dalam kemasan daun pisang. Aku berterima kasih lalu kucium tangan Bu Mardi. “Aih, tidak hanya kami yang menyukai mbak Amy. Warga desa ini juga, ternyata. Pasti banyak yang melamar juga ya, Mbak?” goda Bu Tri. Aku tertawa saja. Langkah kami tiba di parkiran. Beberapa Bapak terlihat kembali masuk bis dengan wajah cemberut. Orang yang dikirimi wajah cemberut tetap asyik dengan belanjaannya. “Baiklah. Sekarang sudah lengkap, ya. Alhamdulillah. Berarti bisa kita lanjutkan perjalanan menuju tempat yang Happyland Fam pasti suka, yaitu surga belanja di kota ini. Perlu Happyland Fam ketahui, produk unggulan toko tersebut adalah kue beras, khas kota kami. Sebagian dari Happyland Fam kelihatannya sudah melihat proses pembuatan kue beras di rumah penduduk Tanah Kebar. Nah, produk yang dijual di toko nanti adalah juga hasil produksi rumah Tanah Kebar yang tadi kita kunjungi. Tenang, Happyland Fam. Kue tersebut dibuat dari beras organik, diolah secara tradisional tanpa bahan kimia buatan, kemudian dikemas dengan alat modern sebagaimana sudah Happyland Fam saksikan. Jadi tidak perlu ragu membeli produk tersebut, karena selagi kemasan belum dibuka, masa simpan bisa mencapai satu tahun. Cocok sekali untuk oleh-oleh keluarga, baik yang tinggal di kota Happyland Fam maupun di kota lain. Eh, saya kok ngobrol terus, ya. Bapak, Ibu, dan adik-adik kan perlu istirahat biar nanti bisa semangat waktu tiba di surga belanja. Jadi, Happyland Fam bisa beristirahat selama sekitar tiga puluh menit perjalanan. Nanti kalau sudah dekat, kami akan bangunkan. Selamat beristirahat.” Kurapikan kabel mik kemudian kuletakkan pada tempatnya. Karena kursi depan penuh semua, aku melangkah ke bagian belakang bis. Ada kursi kosong di sana. Sebagian ibu yang kulewati menyempatkan tersenyum, sebagian lagi sudah terbang ke alam mimpi. Melihatku mendekat, para OB saling sikut sambil melirik-lirik mas OB Ganteng yang sedang asyik menatap bukit Kebar. “Selamat beristirahat, Mas-mas,” salamku selagi langkahku mendekati mereka. Yang tiga saling berdehem, lalu spontan berpindah tempat duduk, sehingga yang bisa kutempati hanya di samping mas OB Ganteng. Kuhela nafas sambil mengangkat telunjuk, berlagak seperti ibu guru sedang memarahi murid-murid bandelnya. Ketiganya tertawa pelan. Aku cuek saja duduk di tempat yang tersedia. Ryan langsung menoleh. Kikuk kami saling berdehem, tetapi tidak hendak mengobrol. Aku menyelesaikan novel yang kubawa, dia sibuk dengan HP. Sepertinya sedang membaca sebuah buku elektronik tentang manajemen. Saat mataku lelah, kulempat pandang ke luar bis. Tidak bisa leluasa melihat, tetapi setidaknya aku tahu kami sudah sampai mana. Dua puluh menit lagi. Saat ini, perjalanan melewati deretan rumah warga yang kini beraneka model dan warna. Kalau di masa aku kecil, rata-rata rumah di daerah ini warnanya seragam, yaitu warna kayu karena semua membuat rumah dari bahan kayu. Saat ini mungkin kondisi hidup warga sudah lebih baik. Banyak rumah gedung bergaya modern berdiri di kiri-kanan jalan. Walau banyak pula yang masih merupakan rumah bergaya lama. Melihat rumah mengingatkanku pada tempat aku dibesarkan. Ah, aku harus menelepon bu Ana nanti. “Melamun, hm?” tanya Ryan. Kututup bukuku. “Finish.” Ia memperbaiki posisi duduk, lalu menekan tombol kembali pada e-book yang tengah dibacanya. Rupanya ia pelanggan perpustakaan digital. Ia menyerahkan HP padaku. “Mungkin ada novel lain yang juga menarik di sana?” tawarnya. Kuterima HP-nya. HP sejuta umat yang kapasitasnya cukup besar untuk ukuran kelas harganya. Bagaimana aku tahu? Aku menggunakan HP yang sama. Alasanku memilih HP ini, aku seringkali harus menyimpan dan mengelola banyak foto. Aku membuka koleksi novel di e-lib itu. Ada beberapa judul yang kutaksir dan belum sempat k****a. Aku pilih salah satu. “Kalau saya baca, Mas Ryan nggak keganggu nih?” tanyaku. Ia menggeleng lalu menyandarkan kepala ke jendela kaca. Aku senyum. Yah, tentu saja. Jadi, kuhabiskan sisa waktu dengan menyelami kisah perjuangan seorang pangeran yang terbuang. Lima menit menjelang tiba di lokasi surga belanja, TL membangunkan pasukannya. Bis yang sempat senyap kembali terisi suara. Beberapa anak kecil mengeluh haus dan lapar. Maklum, ya. Tadi setelah outbond memang mereka mendapat makan siang, tetapi menu tradisional begitu mungkin tidak begitu disukai anak-anak. Kukembalikan HP kepada Ryan yang ternyata tidak tidur. “Terima kasih. Saya bertugas lagi,” pamitku. Ia mengangguk sambil senyum. OMG. Senyumnya ituhhh. Aku segera melangkah ke bagian depan bis, menerima mik dari TL. Kuceritakan beberapa keistimewaan wisata belanja itu. Tak lupa beberapa produk unggulan dan menu yang harus mereka coba. “Happyland Fam, nanti bisa berbelanja sepuasnya sampai jam 15.00. Setelah itu, kita berkumpul kembali di bis ini. Kali ini, harap tidak ada yang terlambat. Saya yakin Happyland Fam ingin tiba tepat waktu di rumah. Selamat berbelanja.” Kulepas peserta tur yang dengan penuh semangat menuju rak-rak beraneka oleh-oleh. Aku melangkah menuju kafe di lantai dua toko yang saat itu sedang sepi. Aku memesan es Jahe Merah, andalan kafe. Sambil menunggu pesanan datang, aku duduk di bagian teras kafe. Aku menatap layar HP mencari nomor bu Ana, pengasuhku di panti asuhan. “Amy, apa kabar, Sayang? Kamu di mana?” “Amy sehat, Bu. Saat ini sedang di surga belanja, ngantar rombongan. Amy kangen. Bagaimana kabar ibu dan adik-adik?” “Alhamdulillah, ibu sehat. Adik-adik yang bergantian sakit. Hari ini ada dua bayi yang harus kami bawa ke dokter karena demam tinggi.” “Masih ada dana untuk itu, Bu?” tanyaku khawatir. “Dana yang ada kami putuskan dipakai untuk pengobatan kedua bayi. Tetapi, akibatnya ….” “Beras habis?” tanyaku. Aku sudah hafal dengan situasi ini. Kebanyakan donator menyumbang berupa uang. Ada untungnya sih, kami jadi bisa membeli beras yang harganya lebih murah, sehingga bisa mendapat lebih banyak. Ketika ada anak yang sakit, otomatis dana dialihkan ke pengobatan. Beras pernah menjadi kemewahan bagi kami ketika banyak adik sedang sakit. Aku dan beberapa anak panti yang lebih besar terbiasa memanfaatkan tanah kosong di panti untuk bertanam singkong, kentang, jagung, dan ubi. Saat stok beras benar-benar menipis, kami bisa memanfaatkan bahan makanan itu. “Iya, Amy. Kamu masih ingat sekali dengan situasi seperti ini.” “Amy usahakan besok ke sana membawa beras, Bu. Semoga bertemu donator yang bisa membantu. Ibu bantu doakan, ya.” “Iya, Amy. Terima kasih.” “Begitu dulu, ya, Bu. Sampai ketemu besok, insya Allah.” “Iya, Am. Tetap sehat, ya, Nak.” Kututup telepon. Mataku rasanya penuh.  Seseorang meletakkan es Jahe Merah di depanku. Aku mendongak dan mendapati OB bernama Ryan itu sedang menatapku. Segera kupalingkan muka. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN