Chapter 4 TANTANGAN BARU

1079 Kata
Ryan POV Apa gunanya selfi bagi orang yang tidak hobi bersosial media sepertiku. Yah, sebagai bagian dari pemuda 25 tahun, tidak semua harus hobi selfi kan? Kalian seharusnya bersyukur ada orang sepertiku yang bakal mengurangi kepadatan wall kalian dan membantu menghemat data. Lebih baik aku melangkah menuju kafe. Kafe ini nampak jelas sengaja dibangun pada posisi dimana orang yang duduk di dalamnya bisa leluasa melihat seluruh area sekitar. Udaranya sejuk. Aroma khas tanah segar, rumput, dan embun pagi mengisi paru-paru. Kalau saja udara ini bisa kumasukkan botol, aku akan bawa pulang. Sinar matahari yang bersinar cerah disaring oleh dedaunan rindang pada anekan pohon di sekitar kami. Aku yakin, pada jam berapapun, foto yang dihasilkan di tempat ini akan tetap bagus karena lighting alaminya. Bagiku pribadi, guide cantik yang duduk di sela kursi kayu, terlihat sangat menonjol. Aku duduk di seberang guide kami itu. Kuberikan senyum kepadanya. Tidak dapat kupungkiri, aku tertarik padanya. Sudah wajahnya enak dilihat, dia juga ramah. Tidak heran sejak bersama kami tadi pagi, kurasa sudah sepuluh kali dia diminta menjadi pacar anak atau keponakan seseorang. Tetapi bukan itu yang menjadi magnet kuat, sehingga aku yang seumur hidup seperti gunung es, kali ini melangkahkan kaki mendekat dan duduk di seberangnya. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Sebagai OB, jujur nih kalau aku merasa harus jaga jarak dengan peserta yang lain. Kupikir, ketiga teman OB yang memang ditugaskan khusus membantu peserta gathering juga merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka punya deskripsi tugas yang jelas. Sedangkan aku, mengikuti kegiatan ini karena secara adil menang undian dari sekitar 300 karyawan Happyland I. Selain memenangkan liburan gratis, aku juga berhak atas uang saku yang jumlahnya lebih besar dari gajiku dua bulan. Bayangkan. Tetapi, tetap saja aku tidak bisa menikmati perjalanan ini. Mengapa? Peserta lain adalah para kepala divisi atau mereka yang mewakili atasannya. Rata-rata usia mereka di atas 45 tahun. Mereka hadir dengan membawa keluarga masing-masing. Sebagian membawa balita. Bisa kamu bayangkan kacaunya suasana bis. Tersedia televisi dan karaoke. Menyesuaikan usia mayoritas penikmatnya, maka yang diputar adalah lagu-lagu jadul atau film kartun. Aku dan dua OB lain yang berusia sekitar 20 -25 tahun, memilih tidur sepanjang perjalanan. Saat bantuan tidak diperlukan, mereka memilih merokok di smoking area. Aku tidak merokok. “Mas Ryan tidak ikut berfoto bersama ibu-ibu di sana?” tanya Amy, guide cantik kami. Kugelengkan kepala. Jikapun aku ke sana dan tidak selfi, yang ada aku akan diminta menjadi tukang foto. Daripada membantu dengan tidak ikhlas, lebih baik kabur kan? Seorang pelayan mengantar STMJ pesananku. Amy menyeruput cappuccino-nya. Sebaris busa tertinggal di bibir atasnya. Ia terlihat manis ketika mengeluarkan sedikit lidah untuk membersihkan sisa busa itu. Bibirnya mencecap, sementara matanya kembali menatap bundel kertas di tangannya. Laporan perjalanan. “Sudah lama jadi guide?” tanyaku. “Hampir empat tahun, sejak lulus SMK.” “Sudah ke mana saja?” “Paling jauh, sepertinya Makassar dan Padang. Masih menunggu kesempatan menemani turis ke luar negeri.” Sebuah tawa renyah mengikuti impiannya. Aku senyum. “Apa bagian paling seru dari menjadi guide?” “Kebahagiaan saat berhasil memberikan layanan yang memuaskan bagi peserta perjalanan. Mereka pakai jasa guide kan biar perjalanan wisatanya efektif dan efisien.” “Oh, aku kira ketika dilamar ibu-ibu menjadi pacar anaknya?” Amy tertawa. Ia menggelengkan kepala. “Masa sih, dari mungkin ratusan perjalanan yang kamu kawal, tidak ada satupun peserta tur yang nyangkut menjadi pacar?” “Awal jadi guide, mungkin terpikir seperti itu, ya. Sayangnya, dulu saya fokus mencari pengalaman kerja. Jadi dalam perjalanan tidak pernah memikirkan dan menanggapi godaan seperti itu. Setelah semakin banyak pengalaman, saya semakin logis. Sebagai guide, paling lama menemani sebuah grup hanya seminggu. Saya pikir itu bukan waktu yang cukup panjang untuk mengenal seseorang apalagi menentukan pilihan.” Aku senyum. Kuanggukkan kepala, lalu menyeruput minumanku. “Eh, tidak ditemukan di tempat selfi, kalian malah berduaan di sini.” Aku spontan menoleh untuk mendapati Pak Tri, GM Happyland I ikut bergabung dengan kami. Amy tersenyum ramah dan berdiri mempersilahkan Pak Tri duduk. “Mau dipesankan sesuatu, Pak?” tanya Amy. “STMJ seperti punya Ryan sepertinya enak.” Amy menuju meja pesanan. Pak Tri menyenggol lenganku. “Bibit unggul, Ryan.” Aku tertawa pelan. Ada-ada saja. “Mohon ditunggu, Pak. STMJ di sini serba alami. s**u dari peternak lokal, madu dari hutan, telur dari peternak desa, dan jahe ditanam salah satu penduduk. Pemanisnya pakai gula aren yang juga dibuat penduduk.” Amy memberikan penjelasan sambil duduk. “Istimewa,” sambut Pak Tri. Amy tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya. “Mbak Amy sudah sering kemari?” “Iya, Pak. Hampir setiap minggu saya dapat klien ke desa ini.” “Oh, pantesan seperti sudah hafal di luar kepala setiap sudutnya.” Kami tertawa. Pak Tri banyak bertanya tentang agen travel tempat Amy bekerja. Tidak kaget jika pembicaraan itu ujung-ujungnya adalah penjajakan kemungkinan bekerja sama. Sebagai OB, sudah tidak asing dengan gaya Pak Tri. Sepertinya, setiap ketemu orang, ia menggali banyak hal. Penggalian itu bermuara pada kemungkinan bekerjasama. Tidak heran jika Happyland I menjadi tempat wisata yang terkenal dengan full service-nya. “Bagaimana jika tempat wisata kami bekerja sama dengan travel mbak Amy?” tanya Pak Tri. Amy tersenyum. “Saya pikir itu terbuka, Pak. Tetapi saya jelas bukan pihak yang punya hak mengambil keputusan. Jadi, lebih baik Pak Tri menghubungi atasan saya. Dengan beliaulah pembicaraan tentang bekerja sama dapat dilakukan dengan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas. Saya mah, apa atuh, Pak.” “Eh, Mbak Amy orang penting. Kalau tidak melihat performa Mbak Amy dan kru lain yang luar biasa dalam melayani kami, kami tidak akan tertarik bekerja sama. Betul kan, Ryan? Buktinya, ini Ryan yang biasanya seperti biksu sampai bisa mengobrol dengan mbak Amy.” Amy tersipu. Telingaku memanas. Pak Tri tertawa terbahak-bahak. Menjelang akhir pertemuan segitiga kami, Amy menelepon atasannya untuk meminta ijin memberikan nomor telepon. Amy memberi pengantar bahwa Pak Tri ingin bekerja sama. Selagi Amy menelepon, Pak Tri memberiku selembar uang untuk membayarkan pesanan kami bertiga. Saat kembali untuk memberikan nomor telepon, Amy terkejut karena cappuccinonya sudah terbayar. Amy berterima kasih, lalu mengajak kami kembali ke parkiran. Jam bebas sudah hampir habis. Sebagian peserta sudah siap di dalam bis. Tetapi hingga tiga puluh menit dari jam berkumpul, Bu Tri dan satu rekannya belum muncul. Panggilan sudah tiga kali dilakukan melalui pengeras suara. Ibu yang satu ini selalu saja berulah. Aku dan kedua temanku hanya bisa geleng-geleng kepala. Kami bersiap membantu mencari, tetapi Amy dan TL melarang. “Sudah, Mas. Biar kami saja.” Aku menatap Amy dan temannya melangkah kembali ke loket masuk. Tidak bisa tidak, kuamati tubuh semampai itu melangkah tergesa. Langkahnya yang lebar, kibasan rambut sepunggungnya yang di-ekor kuda dan diselipkan di lubang belakang topi kerja. Kemeja biru seragam yang dipadu dengan blue jeans dan sneaker abu-abu, terlihat sangat khas sebagai seseorang yang aktif. “Seharusnya tadi kamu ajak dia berfoto, Ryan.” Teman di kiri menyenggol lenganku sambil tertawa. Aku senyum sambil geleng-geleng kepala.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN