Cantik itu anugerah, meski bagi sebagian orang juga ternyata menjadi luka.
POV Amy
Sepanjang hidupku, aku selalu berdoa semoga wajah yang dikaruniakan kepadaku ini menjadi berkah bagi diriku dan orang-orang di sekitarku. Candaan atau godaan sehubungan dengan wajah dan penampilanku, sudah menjadi hal yang biasa. Aku terlatih menghadapinya dengan tenang, tidak besar kepala, apalagi sombong. Aku selalu mengingat pesan bu Ana, pengasuhku di panti asuhan. Pesan itu diucapkan pada malam sebelum ulang tahunku yang ke delapan belas. Malam terakhir yang boleh kuhabiskan di panti asuhan, sebelum aku pindah ke tempat kos dan hidup mandiri.
“Amy, tiba saatnya kamu berdiri sendiri. Jadilah perempuan yang tahu apa yang terbaik bagi dirimu, percaya diri, dan yakin bahwa kamu memiliki hak atas dirimu sendiri. Jangan biarkan orang lain mengendalikan kamu, apalagi memaksakan kehendaknya kepadamu. Ibu doakan, kamu dapat menjalani hidup yang penuh tantangan, namun mampu terus bersandar kepada-Nya dalam setiap langkah. Semoga Tuhan selalu melindungi kamu. Sesekali berkunjunglah kemari. Jangan lupakan tempat kamu dibesarkan.”
Rasanya trenyuh mengingat rumah besar, dengan dua bangunan terpisah. Setiap bangunan memiliki ruang besar dan beberapa ruang kecil. Ruang besar berisi dua puluh tempat tidur yang ditinggali oleh anak-anak mulai usia 2 hingga 13 tahun. Bayi dan anak yang lebih kecil tinggal di rumah induk bersama para pengasuh. Anak yang lebih besar tidur di kamar-kamar yang lebih kecil, sehingga memiliki privasi yang dibutuhkan sesuai usia mereka. Seiring fasilitas kamar, mengalir pula tanggung jawab berupa tugas yang lebih banyak. Tugas itu untuk meringankan tugas bu Ana dan pengasuh yang lain. Kami melakukan berbagai pekerjaan, mulai bersih-bersih, mencuci, memasak, hingga mengasuh anak yang lebih kecil. Sebagian dari kami juga dipercaya mengelola keuangan panti asuhan dan berkomunikasi dengan donatur.
Aku salah satu anak yang difokuskan tugas pada urusan donatur. Bu Ana memberikan tugas ini kepadaku dan satu anak lain berusia 15 tahun karena kami mampu berkomunikasi dengan baik dan pemberani. Bukan hal aneh ketika kami berdua berboncengan sepeda menuju sebuah kantor atau rumah besar untuk mengambil dana donasi. Tak jarang kami pulang dengan mengusung sekarung beras atau bahan lain. Kami tidak malu karena sadar donasi dan sumbangan itu sangat berarti bagi kami. Pada kesempatan yang lain, kami mengetuk pintu demi pintu, berkenalan dengan orang baru, bahkan membuka kanal online untuk presentasi dan menggugah hati orang lain. syukurlah, adik-adik selalu tercukupi kebutuhannya.
Aku mendapatkan seorang donatur yang bersedia membiayai sekolahku hingga lulus. Meski beliau bersedia membiayai kuliah, aku memilih sekolah di SMK Pariwisata jurusan Usaha Perjalanan Wisata saja. Selain aku suka jalan-jalan, aku pikir kemampuanku berkomunikasi akan sangat mendukung. Lagipula, dengan kelak jadi guide, aku bisa berkunjung ke banyak tempat dengan gratis kan? Keuntungan lainnya, dengan menjadi siswi SMK, aku bisa langsung bekerja sejak tahun kedua sekolah. Donator bisa mengalihkan dananya untuk adik-adikku.
Hari ini, aku sudah menjelajahi pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Aku pernah berkunjung ke Makassar dan Padang. Semua gratis, justru mendapat honor untuk jasa dan layanan perjalanan yang kuberikan. Sebagai informasi, sejak PSG, DUDI tempatku magang memberiku kepercayaan. Di luar hari kerja magang, aku mendapat kesempatan sebagai tenaga freelance.
Aku menunggu datangnya kesempatan menjadi guide ke luar negeri. Untuk saat ini, aku menabung dan menunggu hari bebas ketika aku bisa mengurus paspor. *Hey, jangan salah. Kalau bercita-cita keluar negeri, kamu harus persiapkan paspormu dulu.
Kukembalikan fokus pada peserta tur yang sepertinya sudah tidak sabar main di kebun. Mereka sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ada Dedek yang sudah membawa pelampung bentuk bebek warna pink. Ada bapak-bapak yang mengganti sepatunya dengan sepatu boot karet. Ada ibu-ibu yang mengoleskan sunblock dan memasang topi lebar.
Bis memasuki area parkir. Beberapa bis sudah rapi parkir. Kami bukan satu-satunya hari ini. Tidak masalah. Desa wisata ini luas. Ada banyak tempat yang bisa dijelajahi. Tidak perlu risau peserta tidak mendapat cukup tempat berfoto.
“Amy, kamu cek peserta yang sudah turun. Arahkan ke depan loket. Aku tunggu di sana untuk sesi foto, ya,” kata tour leader (TL) sambil membuka pintu dan turun.
“Siap.”
Aku menyusul turun. Kubuka daftar peserta dan membuka tutup pulpen. Setiap peserta yang turun, k****a namanya pada name tag dan kutandai di lembaranku. Kuarahkan mereka menuju TL yang menunggu di depan loket.
“Mbak Amy, nanti berfoto sama putra saya di tempat yang romantis, ya.”
Ibu yang tadi menanyakan statusku masih terus berjuang. Aku tertawa saja. Putranya menarik tangan si Ibu untuk segera berlalu dari depanku. Kulihat telinga pria muda itu memerah. Kupikir, ia sepantaran denganku. Tetapi terlihat begitu pemalu dan anak mama. *Tuh, lihat. Tali sepatu aja dibeneri sama mamanya. OMG.
Setelah peserta terakhir turun, aku menutup pulpen. Sekali lagi kulihat daftar peserta. Aku tercenung. Masih ada tiga peserta yang belum turun. Aku kembali masuk bis. Pandanganku langsung tertancap pada Ratu Gathering ini, namanya Bu Tri. Bu Tri sedang berusaha menurunkan sebuah tas dari bagasi atas, dibantu seorang ibu lain.
“Perlu bantuan, Bu?” tanyaku.
Bu Tri menatapku sambil tersenyum.
“Iya, Mbak Amy. Maklum nih, saya kan semampai. Satu setengah meter tak sampai,” gurau Bu Tri, disambut tawa temannya dan pak Sopir. Aku senyum sambil membantu mengambilkan tas itu. Bu Tri menerimanya dengan sukacita.
“Ini berisi barang penting, Mbak Amy. Bisa gagal rencana mengisi feed i********: baru saya kalau tongsis dan tripod ketinggalan.”
Kedua ibu segera turun dan berlari kecil menyusul peserta lainnya. Selagi berjalan, mereka sibuk merencanakan pose yang akan dibuat. Aku geleng-geleng kepala sambil menorehkan tanda centang pada daftar. Kulanjutkan mengedarkan pandangan pada kursi-kursi kosong yang ditinggal bersama jaket dan aneka camilan. Aku melangkah melewati satu demi satu deretan kursi untuk memastikan penghuninya sudah keluar. Pada deretan paling belakang, aku menghela nafas. Seorang pria muda yang bisa kupastikan salah satu OB masih terlelap di kursinya.
“Mas,” panggilku.
Ia tidak merespon.
“Mas. Peserta yang lain sudah turun,” ulangku.
Ia masih tidak merespon. Apakah sebagai OB, hari Jumat kemarin ia begitu lelah, sehingga Sabtu pagi ini masih terlalu berat membuka mata?
“Mas,” panggilku. Kali ini kutambah dengan menyentuhkan ujung pulpenku ke lengannya. Ia terlonjak pelan, lalu membuka mata. Ia menatap parkiran, lalu mengalihkan pandangan yang sangat mengantuk itu kepadaku.
Kuberi dia senyuman.
“Yang lain sudah turun, Mas. Mas sehat? Apa perlu dipanggilkan medis?”
Ia menggeleng sambil menegakkan punggung.
“Tidak. Terima kasih.” Ia menutup mulutnya untuk menguap, “maaf,” ucapnya sambil tersipu.
“Kelihatannya lelah sekali. Kemarin lembur?”
“Saya punya Bos istimewa yang tidak bakal mengijinkan saya pergi sebelum semua tugas saya beres. Tengah malam baru saya pulang.”
“Pantas kelihatannya lelah sekali.”
Aku membuka tas pinggangku untuk mengambil tisu basah. Kutawarkan padanya. Ia mengambil selembar sambil berterima kasih. Ia gunakan tisu basah untuk mengelap muka. Ia membuka botol dan minum air. Satu menit kemudian ia berdiri dan terlihat siap. Aku minggir untuk memberinya jalan. Ia membuka tangannya.
“Lady’s first.”
Aku senyum, lalu melangkah mendahuluinya. Ia berjalan bersamaku menuju loket masuk, tempat rombongan lain sedang ambil posisi foto bersama.
“Tidak ikut berfoto?” tanyaku melihatnya santai saja berjalan.
“Itu untuk manajemen. Aku sebagai OB di sini.”
“Ow, begitu,” gumamku. *Aku heran. Di masa serba android masih saja ada kastanisasi.
TL menyerahkan megaphone kepadaku setelah sesi foto selesai. Aku gunakan untuk mengarahkan peserta ke pintu masuk. Mereka menerima gelang pengunjung yang dipasangkan petugas. Pas. 55 peserta, ditambah TL dan aku sebagai tur guide. Dalam situasi di tempat wisata, aku berada di depan peserta untuk memandu arah jalan mereka. Pertama, kuajak mereka ke kebun sayuran. Kami bertemu dengan petugas yang memberikan penjelasan tentang sistem tanam mereka yang masih mempertahankan cara tradisional, bisa dijamin sayurannya organik beneran. Dengan sabar petugas yang merupakan petani lokal itu menjawab pertanyaan kepo maupun iseng dari ibu-ibu peserta tur. Aku geli, tetapi tidak sopan juga menertawakan mereka. Klien adalah raja, begitu.
Kunjungan di kebun sayuran diakhiri dengan petik sayur, menimbang, dan membayar ke kasir. Ibu-ibu dari kota ini nampak puas menatap oleh-oleh masing-masing untuk keluarga di rumah. Semoga tetap segar sampai tiba di rumah. Lepas dari kebun sayuran, kami meninjau kebun strawberry dan kebun jambu. Sayangnya, saat itu sedang tidak berbuah.
“Tetapi tenang, Bapak-Ibu. Kami punya kejutan yang pasti membuat Bapak-Ibu bahagia. Durian kami siap dinikmati. Jadi, silahkan ikuti Amy menuju kebun durian.” Petugas lokal itu mengedipkan sebelah mata padaku. Aku anggukkan kepala dan melangkah menuju kebun durian.
Jangan heran aku hafal. Ini mungkin kunjunganku yang ke seratus kali ke desa wisata ini, sejak mereka didirikan dua tahun yang lalu. Aku pernah meminjamkan instagramku untuk membantu mereka promosi. Jadi, aku sudah akrab sekali dengan spot-spot-nya, juga sebagian besar warga. Tak jarang, saat ada acara khas desa, mereka mengundang aku dan teman-teman kantor.
Orang-orang kota ini heboh mendapat suguhan segunung durian. Kami bagi mereka dalam kelompok tiga orang, masing-masing mendapat jatah satu durian. Kami persilahkan menikmati durian dan beristirahat di kebun yang sejuk itu selama tiga puluh menit. Aku dan TL menjauh untuk mendiskusikan ketepatan jadwal kami dan memastikan kesiapan instruktur outbond.
Selanjutnya, kami arahkan peserta ke lokasi outbond. Aku tampil memberikan pengantar, lalu memperkenalkan instruktur. Kuserahkan kegiatan berikutnya kepada mereka. Aku mengamati saja dari jauh bagaimana peserta yang kebanyakan sudah berusia di atas 45 tahun itu heboh menyelesaikan berbagai tantangan. Mereka nampak tidak terpengaruh oleh matahari yang mulai terik. Mungkin udara di desa ini terasa sangat sejuk bagi mereka.
Dua jam kemudian, outbond selesai. Aku menerima kembali peserta tur yang sudah basah-basah dan belepotan tepung. Saatnya berpindah ke sungai. Mereka kembali berbasah-basahan. Bedanya kali ini hasilnya badan bersih dan segar. Beberapa anak kecil malah menolak diajak melanjutkan karena asyik main air.
Kami memberi kesempatan kepada peserta untuk berganti pakaian. Setelah itu, baru kami ajak pindah ke area selfi dan kolam renang. Area pertama, diserbu oleh ibu-ibu. Anak-anak diserahkan kepada para Bapak untuk diceburkan ke kolam renang. Asik nggak sih.
Aku memilih menunggu di sebuah kafe, tidak jauh dari kolam renang. Sementara TL pamit cari makan di warung lain.
Sesekali aku menyeruput cappuccino selagi mencicil laporan kerja. Sejak diterima menjadi guide, aku berusaha tidak menunda-nunda. Aku tidak ingin waktu di luar jam kerja, yang bisa kualokasikan untuk hal lain, terganggu. Seseorang duduk di seberangku. Kuangkat muka.
OB yang tadi kuganggu tidurnya.
“Mas … Ryan? Tidak ikut selfi?”